Menahan Perih

2255 Kata
Kecewa adalah hal yang manusiawi. Ini jalan yang Allah tentukan. Aku tidak berhak untuk kecewa meski aku merasakannya. *** Aku baru saja selesai mengikuti salat berjamaah di masjid sekolah, bersama teman-teman yang lain. Zahra sudah pergi lebih dulu, karena dia adalah panitia, sehingga tidak bisa terlalu lama meninggalkan acara. Sementara aku masih ingin berlama-lama di sini. Semasa sekolah aku bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Setiap ada acara keagamaan seperti saat bulan ramadan, aku dan teman-teman selalu memilih duduk di luar. Selain agar bebas mengobrol bisa lebih gampang pula untuk kabur. Rasa yang menyesakkan d**a itu pada akhirnya tak lagi bisa aku tahan. Cairan yang sedari tadi berusaha untuk kubendung, akhirnya tumpah juga; mengalir deras membasahi pipi. Oh, Allah, aku pikir masa lalu itu telah berlalu. Namun, ternyata masih meninggalkan pilu. Aku telah merelakannya. Namun, mengapa aku masih merasakan sakit yang luar biasa ketika berhadapan dengannya? Tangisanku pecah, tatkala ingatan itu kembali muncul. Berada di antara mereka dan di tempat yang mengingatkan semua kisah masa lalu, sungguh menyakitkan. Aku tertunduk dengan air mata yang tak henti mengalir. Tanganku menopang kepala dengan menutup kedua mata. Perlahan kepalaku bergerak, terangkat, dan menyandarkan kepala di antara dinding masjid, dengan masih membiarkan air bening itu mengalir bebas. Hanya kepada-Nya aku mengembalikan rasa. Hanya Dia sang pemilik rasa yang sesungguhnya. Di tempat ini aku menyepi; mencari ketenangan untuk hati yang sebelumnya dipenuhi sesak, bahkan sulit untuk sekadar bernapas .Tanpa sadar, masjid sudah kosong tanpa seorang pun di dalamnya selain aku. Terdengar suara nyaring dari dalam tas, segera kuusap kedua pipi. Satu pesan dari Alfian masuk. Dia rupanya mencariku. Bergegas aku merapikan diri dan menyamarkan bekas tangisan, lalu beranjak pergi dari sana. Di luar Masjid aku melihat seseorang tengah berdiri tegap. Matanya menatap ke arahku. Begitu tajam, namun tampak kosong. Membuat sekujur tubuhku bergetar. "Bisa kita bicara sebentar," katanya dengan tak henti menatapku. "Ada apa, No?" "Kamu kenapa nangis, Zi?" Dia bertanya tanpa basa-basi. Sungguh, mataku rasanya panas. Cairan ini rasanya ingin kembali menerobos mata. Aku berusaha tetap tenang, sembari menstabilkan detak jantung yang membuat sesak luar biasa. Dia masih menunggu jawaban, tetapi aku tetap diam. Ingin rasanya berteriak dan memeluknya. Namun, itu tidak mungkin. "Aku minta maaf, Zi ...!" lirih terdengar suaranya. "Untuk apa?" tanyaku menatapnya kosong. "Untukku dan Melisa." Terlihat ada sesal dalam sorot matanya. Aku menarik napas perlahan; mencoba untuk menenangkan irama jantung yang sejak tadi tidak bisa berkompromi. "Tidak ada yang salah untuk hubungan kalian. Jadi kenapa harus minta maaf?" "Karena dia sahabatmu. Mungkin kamu kecewa?" Aku berusaha untuk mengulas senyum. "Kecewa adalah hal yang manusiawi. Ini jalan yang Allah tentukan. Aku tidak berhak untuk kecewa meski aku merasakannya." Sungguh mataku rasanya semakin panas. Berpura-pura itu sungguh membuatku lelah. Kami masih berdiri saling berhadapan dan kakiku rasanya sulit untuk beranjak pergi. "Kamu ikhlas, Zi?" Tiba-tiba saja dia bertanya seperti itu. Pertanyaan itu seakan menusuk jantungku. Ikhlas? Mau tidak mau aku harus mengikhlaskannya, karena itu sudah menjadi keharusan. Namun, sekali lagi logika dan hatiku selalu bertolak belakang. Aku pun menatapnya, getir. Cairan bening ini tergenang di pelupuk mata, dalam sesaat satu tetesnya terjatuh juga. Aku harap dia tak melihatnya,. Dia masih diam, menatapku; menunggu aku kembali bersuara. "Tidak, No! Aku sungguh tidak ikhlas. Aku masih sangat mencintaimu!" Ingin rasanya aku mengatakan itu semua. Namun, nyatanya semua hanya bisa terucap dalam hati saja. "Zi ...." "Apa yang menjadi ketentuan Allah, itulah yang terbaik, No. Tentu saja aku ikhlas. Bukankah kita juga sudah lama berpisah? Lalu, apa ada alasan untukku tidak mengikhlaskanmu?" Aku benci diriku sendiri, tetapi untuk kali ini menjadi munafik mungkin lebih baik. Dibandingkan harus jujur, lalu merusak segalanya. "Lalu kenapa kamu menangis?" Jantungku seketika kembali berdetak kencang. Rasanya seperti ada yang menyayat hati ini; perih yang luar biasa. "Aku tahu, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku harap kamu akan bahagia. Tapi, saat melihatmu menangis. Aku tidak tahan, Zi," suaranya terdengar lemah. "Kamu juga pasti bahagia dengan pilihanmu, No. Aku juga baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas. Permisi, assalamualaikum." Langkah kakiku mulai berjalan menjauh darinya. Pertahanan itu akhirnya roboh. Cairan bening itu pun berhasil menerobos keluar dari mataku sepanjang jalan. Meski berulang-kali kuseka, air itu tetap tak henti mengalir. "Kamu baik-baik saja, 'kan, Zi?" Alfian tiba-tiba ada di hadapanku. Segera kuseka air mata itu, lalu tersenyum, dan berharap Alfian tidak melihatku bersama Reno tadi. "Aku cari kamu sejak tadi. Maaf aku sibuk sebagai panitia. Sampai lupa kalau aku harus menjagamu." "Apaan, sih, Al?" Aku tertawa pelan, "aku bukan anak kecil, Alfian." "Mamamu sudah berpesan agar aku menjagamu, Annisa Fauziah." Aku terkekeh melihatnya. Dia ternyata malah ikut tertawa. Kami akhirnya kembali ke acara dan bergabung dengan teman-teman. Alfian langsung ikut bergabung dalam obrolan Andri dan lainnya. Reno ternyata belum kembali. Ada kegelisahan dalam raut wajah Melisa. "Mel ... kenapa?" Aku bertanya, seraya menyentuh lembut bahunya. "Enggak, Zi." Dia menggeleng pelan. "Cari Reno?" tebakku. "Aku di sini, honey! Kenapa?" Tiba-tiba terdengar suara berat milik laki-laki itu dengan diakhiri bertanya. "Kamu dari mana? Kenapa lama?" Melisa terlihat bertingkah posesif, padahal setahuku Reno tidak suka diperlakukan seperti itu. "Kenapa, sih? Aku ke warung dulu tadi. Pingin ngopi." Dia berbohong. Reno menatapku. Langsung saja aku memalingkan pandangan darinya. Mungkin berbohong itu lebih baik. Bagaimana jadinya jika Melisa tahu Reno menemuiku? Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang harus dia rasakan. "Hay guys! Sepertinya kalian sudah mulai bosan." Suara cempreng Zahra terdengar berasal dari atas panggung. Kepalaku terangkat, menatap lurus ke depan. "Eitsss tunggu dulu! Jangan dulu kemana-mana. Kalian pasti rindu masa-masa kita masih mengenakan seragam putih abu, bukan? Di mana kita semua masih nakal dan mencari jati diri. Oke! Tidak perlu menunggu lama lagi. Kami punya kejutan untuk kalian semua. Taraaa ... selamat menyaksikan!" sambungnya lagi dengan nada ceria. Kami semua dan juga para guru tampak terkejut saat semua lampu mati dan layar besar menyala. Sesaat kemudian riuh terdengar suara tepuk tangan. 'Terjebak Nostalgia dalam Ruang Rindu.' Tulisan itu muncul dalam kata per kata. Seluruh alumni menyambutnya dengan teriakan antusias. Lagu berjudul 'Semua Tentang Kita' milik grub band Peterpan menjadi musik pengiringnya. Petikan gitar dari alunan musik itu membuat suasana terasa begitu haru. Waktu seakan berjalan mundur. Memutar kenangan masa remaja yang penuh cerita. Diawali dengan beberapa potret guru-guru dilengkapi catatan kecil ucapan terima kasih, yang terangkai dalam kalimat yang indah. Membuat kami kembali mengingat masa-masa menyenangkan hingga menegangkan di dalam kelas, saat mereka mengajar. Riuh canda tawa mulai terdengar saat layar berganti menjadi potret Pak Agung, guru paling galak yang tampak sedang memarahi Yana, salah satu anak laki-laki yang selalu datang terlambat; rambutnya gondrong, pakaiannya tidak rapi. Dalam potret dia tampak tertunduk pasrah. Yana memang terkenal tukang terlambat. Dia sering sekali mendapat hukuman dari setiap guru piket. Aku sedikit tersenyum melihat potretnya yang masih tampak polos. Teman-teman mulai tertawa mengejeknya. Kemudian layar itu menghitam. Tiba-tiba potret Reno yang terjatuh ketika bermain basket, muncul secara perlahan. Seperti sengaja diberi efek slow motion. Semua kembali tertawa, terutama Andri cs. Mereka begitu puas menertawai si kapten basket yang terkenal dengan parasnya yang rupawan. Bukan hanya mereka. Aku pun menahan tawa, merasa geli melihat ekspresinya. Aku menoleh, wajah Reno mulai memerah menahan malu dan teman-temannya mulai menggoda laki-laki itu. Aku jadi ingat, saat itu lapangan dalam keadaan becek. Sementara Reno selalu gatal, jika melihat bola nganggur di hadapannya. Aku sudah memperingatkannya, tapi dia tetap tidak mau mendengar. Dia tetap memasuki lapangan dengan sedikit sombong menunjukkan kebolehannya dalam bermain basket. Nahasnya, dia terpeleset hingga akhirnya jatuh. Entah siapa yang berhasil mengabadikan moment langka itu. "Anjrittt kapten basket gantengnya full kalau lagi jatuh kaya gitu," ujar Andri di akhiri tawa renyah sampai terpingkal-pingkal. "Kurang ajar ngerusak pamor gue aja. Woy pindahin buruan!" Reno berteriak. "No, sumpah ... ekspresi lo kagak nahan gue lihatnya." Ratna ikut mengomentari dan tertawa. "Ganti woy! Ganti!! Anjirrrr ngerusak pamor gue ini mah! Sengaja amat pake dipaus segala!" teriaknya lagi, mengundang gelak tawa seisi lapangan. "Santai, No! Masih banyak kejutan lainnya," ujar Leo dari atas depan. Senyumku tiba-tiba lenyap, giliran potretku yang berada di balik layar. Dalam potret itu aku sedang mendapat hukuman dengan sepatu putih yang tergantung dileher, karena hari senin nekad memakai sepatu putih dan rok yang pendek. Entah siapa yang mengambil gambar itu. Aku benar-benar malu melihat tubuh yang menjadi tontonan banyak orang. Sebagian pasang mata kompak menatapku, ada yang tersenyum sinis, bahkan ada yang tertawa terbahak. "Itu bagian dari perjalananmu. Semua orang memiliki cacat dalam hidupnya." Alfian yang sejak tadi duduk di sampingku, berbisik seakan mengerti apa yang aku pikirkan. Aku kembali menatap pada layar. Lagi, potretku yang berada di dalam sana. Kali ini tidak sendiri. Ada Anggi juga bersamaku. Dalam potret itu kami sedang tertidur pulas di kelas dengan mulut yang sedikit terbuka. "Zizi makin seksi kalau tidur kaya gitu. Bibirnya itu, lho," ujar seseorang dengan nada nakal. "Jaga bacot, lo!" Reno berdiri dan berteriak pada lelaki itu dengan mengarahkan telunjuk. Aku terkejut melihat pembelaannya. Pun dengan teman-teman lainnya, terutama Melisa. Dia tampak kesal melihat reaksi Reno. Suasana akhirnya menjadi tidak nyaman. Aku menulikan telingaku. Seperti yang diucapkan Alfian. Meski aku rasanya ingin menangis. Tak kuasa menahan malu. Layar terus berputar, potret demi potret silih berganti. Mereka masih tertawa melihat potret konyolnya di balik layar secara bergantian. Kini giliran potret kemenangan tim basket yang muncul pada layar besar itu. Di sana tampak Reno dan anggota tim lainnya sedang berbahagia dengan senyum yang terlukis sempurna. Bukan itu yang membuatku terkejut. Namun, ada aku di antara mereka. Reno tampak merangkulku dari samping. Sementara satu tangannya memegang bangga piala kemenangan, dikelilingi anggota tim yang lain. Saat melirik Melisa, dia tampak memalingkan pandangan. Sungguh aku merasa serba salah. "Wihhh, ada gula ada semut. Ada Zizi ada Reno," ujar seorang di depan sana. Aku kembali menoleh, Melisa terlihat semakin kesal. Dia terlihat mendelik dengan wajah menahan amarah. Aku juga melihat dia mengepalkan tangan. "Woy, itu cuma foto! Cuma masa lalu. Enggak usah lebay," ujar Ratna memberi pembelaan untuk Melisa. Jujur, aku terkejut mendengar pembelaan Ratna. Meski sebenarnya itu hal yang wajar. Namun, kenapa rasanya aku sakit mendengar pembelaan Ratna? Kenapa rasanya dia hanya peduli akan perasaan Melisa? Kenapa rasanya aku asing berada di tengah-tengah mereka? Apa dia tidak ingin tahu, tidak ingin peduli terhadap perasaanku? Entah perasaan macam apa ini? Tidak seharusnya berpikir seperti itu. Aku segera menepis semua pikiran buruk yang tiba-tiba muncul. Layar tiba-tiba berhenti. Hanya ada potret sebagian wajah dari seseorang dengan tampilan sebelah mata dan hidung. Aku menatapnya lamat-lamat. "Oke! Sekarang kita mengadakan kuis." Leo yang bicara. "Kami sudah menyediakan hadiah untuk siapa pun yang berhasil menebak sosok di balik foto ini. Ada yang tahu siapa dia?" Leo terus mengulang pertanyaannya, hingga beberapa kali. Aku fokus mengamati potret tersebut. Sepertinya itu aku. Rambut itu, hanya aku yang sering mengenakan bandana, dan itu pemberian Reno. Jeda beberapa detik seseorang mengacungkan tangannya. Menyebut nama Sarah. Namun, ternyata salah. Jelas-jelas itu aku. Setelah itu seseorang kembali mengacungkan tangannya dan menyebut nama Fajar. Jelas itu salah besar. Di situ sudah jelas bahwa sosok itu seorang wanita. "Iya, Reno Alamsyah? Siapa dia?" Aku kembali menoleh ke arahnya. Apa dia masih mengingatnya? Dia pun menatapku, lalu menjawab, "Annisa Fauziah." Suasana kembali tegang antara aku dan Melisa. Ratna juga menatap sinis ke arahku. Kepalaku kembali menatap ke depan. Layar itu terbuka dan benar saja itu aku dengan mulut terbuka lebar hendak memasukkan makanan. "Wiiih si kapten belum move-on rupanya," celetuk seseorang disambung gelak tawa Andri dan lainnya. Aku tidak lagi berani melirik pada Melisa. Dia pasti semakin kesal. Wajar saja semua tentang aku dan Reno seperti sengaja dikorek malam ini. Layar terus berputar. Aku menatap layar sembari menahan tangis. Entah kenapa dibandingkan yang lain, fotoku lebih banyak dipajang dan semuanya sangat memalukan. Kali ini fotoku dengan seragam yang super ketat dengan pose alay. "Aduh, Zi ... ukuran seragam anak SD itu mah," teriak seorang teman laki-laki. "Posenya menggoda banget, wow!" sambung yang lain. "Ukhti sebelum hijrah, masya Allah sekali. Body-nya aduhai." Mereka saling melempar komentar dengan nada mengejek, bahkan terkesan melecehkan. Foto-foto itu hanya ada di f*******: lamaku, yang sudah tidak bisa lagi dibuka. Aku lupa password-nya. Rasanya benar-benar menyesal pernah mengunggah, tanpa sempat menghapusnya. "Aku mau pulang, Al," kataku, tidak tahan lagi. Aku benar-benar merasa seperti sedang dipermalukan. Segera aku bangkit dan pamit pada ketiga temanku. "Kamu pulang sama siapa, Zi? Suamimu sudah jemput?" tanya Reno terlihat ragu. "Suami? Zizi belum kiwin Reno Alamsyah," ucap Anggi. Reno langsung melebarkan mata, menatapku. Ternyata dia juga mengira aku sudah menikah. Biarlah, aku tak memiliki waktu untuk menjelaskan, lagipula tidak harus juga. "Yuk, Zi," ajak Alfian, aku pun mengangguk. Semuanya kompak menatap kami, terutama Reno. Jelas keterkejutan terlukis dari raut wajahnya. Bagaimana tidak? Semua orang tahu seperti apa hubunganku dengan Alfian. Wajar, jika mereka merasa heran. Namun, aku tidak peduli. Lagipula itu terjadi saat sekolah dulu. Sekarang kami sudah sama-sama dewasa; tidak ada lagi alasan untuk tetap bermusuhan. Sebelum pulang, Alfian mengajakku bertemu Zahra. Aku yang memintanya. Kami berpamitan. Perempuan itu terlihat tak enak hati, berulang kali mengatakan maaf. "Tidan masalah, Ra ... santai saja." Aku tersenyum paksa. Usai berpamitan, lekas aku dan Alfian meninggalkan sekolah. Saat baru sampai di dalam mobil, Tiba-tiba Alfian menyerukan namaku. "Maafkan aku, Zi," ujarnya sama seperti yang dikatakan Zahra. "Aku benar-benar tidak tahu tentang foto-foto itu." Alfian terlihat merasa bersalah, karena bagaimanapun dia adalah ketua dari acara reuni ini. "Sudahlah, Al ... tidak usah dibahas," ujarku menahan kecewa. Hari ini rasanya benar-benar campur aduk. Aku tidak ingin lagi bertemu dengan mereka, benar-benar tidak ingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN