Aku tak ingin lagi menggantungkan harapan pada manusia, karena dengan menggantungkan harapan pada manusia, itu berarti harus siap kecewa dan terluka.
***
Sejak dua hari yang lalu, aku hanya bisa terbaring tak berdaya di atas tempat tidur; lambung rasanya perih; untuk bangun saja rasanya sakit; salat pun hanya bisa dilakukan di atas tempat tidur.
Sungguh, sehat itu nikmat yang luar biasa dan tiada duanya. Lama-lama aku merasa bosan hanya terbaring di atas tempat tidur. Namun, untuk beranjak tubuh rasanya masih belum kuat.
Perlahan tanganku bergerak; berusaha meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas untuk melepas rasa bosan. Sejak sakit benda pipih itu tidak pernah kusentuh. Ternyata banyak pesan dan notifikasi masuk begitu ponselku menyala.
Sesaat kemudian rasa sakitku semakin menjadi, menjalar ke seluruh bagian tubuh. Bibirku rasanya kelu. Seseorang memamerkan kebahagiaannya dengan mengunggah foto seorang bayi kecil berjenis kelamin laki-laki di sosial media miliknya.
'My second son! Baby boy. Thank u my wife. Love u so much.'
Tulisan itu menyertai foto yang terunggah, lengkap dengan emoticon hati di akhir kalimatnya. Seketika pipiku basah dan ponsel itu terjatuh dari genggaman.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mama yang baru saja datang.
Wanita itu langsung mendekat, kulihat Mama cemas. Tangannya kemudian menyeka air mata putrinya ini. Aku hanya bisa terdiam dengan mulut yang terkunci rapat.
Wanita yang telah melahirkanku itu kemudian memungut ponsel yang berada tepat di atas d**a. Dia kemudian menatapku, air matanya turut terjatuh. Sesaat kemudian dia usap sudut matanya, lalu jemarinya bergerak menghapus sisa air mataku.
"Kamu harus sembuh. Sekarang makan ini, ya. Sebentar lagi Zuhur. Kamu salat, minum obat terus istirahat," ujarnya, seperti sengaja mengalihkan perhatianku.
Mama, dia adalah wanita hebat. Pantas, jika Papa begitu sangat mencintainya. Mama selalu menjadi alasanku untuk kuat dan bertahan hingga saat ini.
"Terima kasih, ya, Ma ...!" lirihku, kembali menjatuhkan butiran bening dari sepasang netra.
Wanita beralis tipis itu tersenyum. "Kamu adalah putri Mama. Apa yang Mama lakukan sudah menjadi tugas seorang ibu. Cepat sembuh, ya, Sayang."
Satu kecupan mendarat di kening. Mama kemudian pamit, katanya siang ini dia harus ke kafe. Aku menghela napas berat, setelah mama keluar dari kamar.
Entah sampai kapan semua akan berakhir. Kadang aku merasa putus asa dan ingin menyerah saja; seperti tak memiliki harapan lagi; ditambah lagi setelah bertemu kembali dengan Reno dan tahu dia akan menikahi Melisa. Sungguh luka ini semakin pekat dan sakitnya semakin menjadi.
"Teh, sudah diminum obatnya?" tanya Bi Darmi yang tiba-tiba saja datang.
"Sudah, Bi," jawabku lemah.
Bi Darmi duduk di sampingku. Dia memberikan pijatan pada kakiku secara bergantian. Dia pasti disuruh Mama untuk menemaniku.
"Nanti kalau Teh Nisa sudah menikah, Bibi pasti kangen pijat Teteh seperti ini," katanya yang berhasil membuat mataku panas.
"Teteh, harus sembuh dan harus semangat. Banyak yang sayang sama Teteh. Bibi juga sayang sekali sama Teh Nisa. Kalau Teh Nisa sedih, Bibi dan semuanya juga ikutan sedih atuh," lanjutnya lagi.
Kini pijatannya beralih ke kepala, otomatis aku bersandar di bahunya dengan masih menutup mulut. Bi Darmi itu sudah seperti ibuku sendiri, dia paham segala rasa sakitku, sama seperti Mama. Nasihatnya itu selalu mengandung kebaikan dan memberikan energi positif sehingga aku merasa tenang dan semakin dicintai. Perlahan tangan Bi Darmi mengusap lembut kepala, membuatku tanpa sadar terlelap.
***
"Astagfirullahaladzim! Kenapa enggak kasih tahu Bibi kalau mau turun, Teh?" Lekas Bi Darmi membantuku untuk turun.
"Aku udah baikan, Bi. Antar aku ke teras, ya," pintaku dan Bibi langsung menuntunku ke sana.
Ini sudah hari ke empat, rasanya bosan terus berada di dalam kamar. Setidaknya aku butuh angin segar. Mungkin bersantai di teras sembari menikmati pemandangan dari tanaman-tanaman Mama, bisa membuat pikiranku lebih relaks. Sekalian menunggu Mama pulang juga.
"Teh, mau dibawain apa buat cemilan?" tanya Bibi setelah sampai di teras.
"Teh tawar hangat aja, Bi."
Bibi segera pergi dan kembali dalam beberapa saat. Aku sedang ingin sendiri, itu sebabnya langsung memintanya untuk pergi.
Kini aku duduk sendiri, menikmati langit sore yang masih terlihat cerah. Badanku masih terasa lemas. Namun, sudah sedikit lebih baik.
Tiba-tiba saja aku melihat ada mobil berhenti tepat di depan rumah dan seseorang baru saja keluar dari mobil silver itu. Dia tampak berjalan menuju ke arah rumahku. Penglihatanku sedikit kabur, mungkin efek pusing yang belum juga hilang.
Semakin dekat aku dapat melihatnya dengan jelas. Kedatangannya membuatku melebarkan mata. Reno? Iya, dia Reno. Ada apa dia kemari? Hati ini mulai cemas melihat laki-laki itu lagi.
"Assalamualaikum, Zi." Dia mengucap salam.
Aku menatapnya gusar.
"Wa'alaikumsalam, No. Ada apa?"
"Aku ketemu Tante Siska tadi, katanya kamu sakit."
Mendengar penjelasannya aku langsung memalingkan wajah. "Aku sudah lebih baik sekarang."
"Duduk, No."
Aku setengah berteriak memanggil Bi Darmi. Dia datang setengah berlari. Mungkin takut terjadi apa-apa padaku. Begitu sampai, Bibi tampak terkejut melihat Reno. Sudah lama sejak kami putus, Reno tidak pernah lagi main kemari.
"Tolong, buatkan minum buat Reno, ya, Bi," pintaku dan Bibi balas dengan mengangguk.
Tidak ada obrolan antara kami, selain keheningan. Jujur, aku bingung untuk memulai obrolan. Reno pun hanya diam. Mungkin dia sama sepertiku. Perasaan canggung ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kami berdua mendadak menjelma menjadi seperti orang asing.
Entah apa maksud Allah pertemukan kami lagi, di saat aku mulai terbiasa dengan kehilangan. Padahal dulu aku selalu meminta untuk bisa kembali bertemu dan bersatu dengannya, tetapi itu tidak pernah terjadi. Lantas kenapa baru saat ini pertemuan itu terjadi? Sementara dia sebentar lagi akan menjadi milik Melisa, sahabatku.
Dalam beberapa saat Bibi kembali dengan minuman untuk Reno. Ternyata wanita paruh baya itu masih hafal minuman kesukaan laki-laki yang dulu hampir setiap hari berkunjung ke rumahku.
"Teh campur s**u dengan sedikit es batu. Silakan diminum." Bibi menaruhnya di atas meja.
"Terima kasih, Bi. Terima kasih juga masih ingat minuman kesukaanku." Reno tersenyum dan Bibi pamit pergi untuk kembali bekerja.
Pekerjaan Bibi banyak yang tertunda, karena harus merawatku. Namun, dia tak pernah mengeluh dan selalu bilang, 'Yang penting Teteh sehat dulu saja. Masalah kerjaan, Bibi masih bisa urus.'
"Aku bertemu Tante Siska. Dia sedikit bercerita tentangmu." Reno mulai bicara dan aku menoleh.
"Tentang hubunganmu dengan Fahri," lanjutnya.
Mendengar nama itu, hatiku mulai bergejolak dan langsung memalingkan wajah; tangan terkepal dan dingin mulai menjalari tubuh.
Entahlah, perasaan apa yang aku miliki untuk Fahri. Aku berusaha untuk tidak membenci, apalagi dendam terhadapnya. Namun, setiap kali mengingatnya atau sekadar mendengar namanya disebut hatiku rasanya sakit luar biasa; d**a rasanya sesak.
"Zi, seandainya aku tahu lebih dulu tentang kamu dan Fahri. Mungkin aku akan melamarmu bukan Melisa," lirih suaranya terdengar.
Aku tak percaya kalimat itu akan keluar dari mulutnya dan langsung memandangnya sengit. Reno menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Kalimatnya seolah memberikan sebuah harapan padaku. Namun, apa yang bisa diharapkan darinya?
"Tolong, jangan pernah bermain-main dengan perasaan seorang wanita, No." Aku mulai menanggapi.
"Jujur, aku pikir semua akan biasa saja setelah bertemu denganmu lagi. Aku sudah berusaha semampuku untuk melupakan semuanya ... tapi tidak bisa. Aku tidak bisa, Zi ...!" Reno terlihat frustrasi, matanya basah menatapku.
"Kita hanyalah masa lalu, biarkan semuanya tetap menjadi masa lalu. Jalani hidupmu dengan semestinya. Bahagiakan wanita yang telah kamu minta kepada kedua orang tuanya. Jaga dia juga perasaannya, No." Sungguh aku berat mengatakan semua itu.
"Bagaimana dengan perasaanku dan perasaanmu?" Dia bertanya dengan menatapku sangat dalam. Tatapan itu rasanya masih sama seperti dulu.
"Perasaan apa yang kamu maksud?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Bertanyalah pada hatimu, karena itulah yang aku rasakan saat kedua mata kita saling menatap," ucapnya dengan tetap memandang ke depan.
"Berhentilah untuk berpura-pura, Zi. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Tante Siska sudah menceritakan semuanya," lanjutnya lagi, membuatku bertanya-tanya.
"Cerita apa yang kamu maksud?" Aku langsung bertanya.
Reno mulai bercerita bagaimana dia tidak sengaja bertemu dengan Mama. Saat itu dia datang ke kafe dan Mama ada di sana. Reno juga tidak tahu kalau itu kafe milik Mama. Katanya, kemudian mereka saling bicara dan Mama ceritakan semua tentang batalnya pernikahanku dengan Fahri dua tahun yang lalu.
Aku kembali teringat momen menyakitkan itu, saat seharusnya pernikahan menjadi momentum bahagia untuk setiap pasangan. Namun, saat itu semua berubah menjadi seperti mimpi buruk. Calon suamiku menghancurkan semuanya. Dia berhasil memorak-porandakan kehidupanku.
Butiran kristal ini kembali terjatuh, mengingatnya aku kembali merasakan sakit yang tak bertepi. Luka itu masih abadi dalam hatiku sampai detik ini.
"Beri aku kesempatan untuk membuatmu pulih kembali, Zi," ujarnya setelah bercerita.
"Apa yang dikatakan Mama itu terlalu berlebihan. Aku sungguh baik-baik saja."
"Jangan membohongiku, Zi."
Tatapannya serius sekali. Napasnya terlihat naik turun. Kenapa Allah pertemukan kami lagi, jika akhirnya seperti ini?
"Apa Melisa tahu kamu datang menemuiku, No?"
"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan, Zi."
"Jawab, No!" tegasku.
Reno memalingkan wajahnya.
"Tidak! Aku tidak ingin menyakitinya."
"Dengan seperti ini, sama saja kamu menyakitinya."
"Dia tidak akan tahu, Zi. Sudahlah." Reno berusaha mengelak.
"Tapi, Allah maha tahu."
"Tolong, jangan bahas tentang Melisa kali ini," tegasnya, menatap tajam.
"Dia adalah calon masa depanmu, Reno Alamsyah!" tegasku penuh penekanan.
Dia semakin serius menatapku. "Semua bisa berubah dengan kehendak Allah, Zi."
Dada ini rasanya semakin sesak. Jantungku berdetak di luar batas normalnya. Rencana apa lagi yang sedang Allah persiapkan? Kenapa rasanya derita ini seolah tak berujung. Apa harus aku bahagia dengan merebut kebahagiaan sahabatku sendiri?
Seseorang membuatku hancur dengan pengkhianatan. Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu. Segera aku menyadarkan diri.
"Bagaimana jika pada akhirnya Allah menakdirkan aku denganmu bukan Melisa?" Reno terus mengatakan sesuatu yang membuatku dilema.
Pertanyaan itu seolah menamparku. Bagaimana bisa ia berpikir demikian? Omong kosong macam apa ini? Reno sungguh keterlaluan.
"Jaga ucapanmu, No. Kamu sudah meminta Melisa pada kedua orang tuanya. Aku mohon, jangan pernah menyakitinya."
"Aku tidak berniat untuk menyakiti Melisa, apalagi menyakiti perasaanmu, tapi ...." Reno terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.
"Masalah perasaanku, biarlah menjadi urusanku. Allah maha membolak-balikkan hati. Perkara mudah untuk Allah menghapusmu dalam hidupku, No." Aku beranjak, berniat untuk masuk. Namun, dia langsung menghalangi dengan berdiri di hadapanku.
"Bagaimana dengan perasaanmu terhadap Fahri?"
"Dia sudah menikah dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Aku pun akan bahagia dengan hidup yang saat ini aku jalani tanpa harus memikirkannya," jawabku tegas.
"Fahri sudah menikah, dia tidak mungkin kembali padamu. Sementara aku ... masih ada kesempatan untuk bisa bersamamu. Aku mohon, Zi."
Tanganku terkepal mendengar kalimatnya. Reno benar-benar gila. Berani sekali mengatakan itu semua tanpa memikirkan perasaan Melisa. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan dan dikhianati, mana mungkin aku membiarkan Melisa merasakan semua kepahitan itu.
Reno terus bicara dan secara otomatis tanganku bergerak, mendarat di pipi kanannya. Tatapanku tajam mengarah kepadanya.
"Hentikan omong kosong itu Reno! Jangan melewati batasanmu! Kamu sudah mengkhitbah wanita lain yang juga sahabatku!" tegasku.
"Fahri meninggalkanmu dan menikahi wanita lain setelah semua kebutuhan pernikahan kalian siapkan. Sementara aku baru melamar Melisa. Kami belum melakukan persiapan apa pun, Zi."
"Jadi kamu ingin menjadi seperti dia? Menjadi laki-laki yang kubenci? Perihal pernikahan bukanlah hal yang main-main. Tolong pikirkan perasaan Melisa dan keluarganya, jika mengetahui semua ini! Lebih baik sekarang kamu pergi dan jangan pernah menggangguku lagi!" usirku dengan kasar.
Aku menyeka air mata dan pergi meninggalkannya. Kepalaku rasanya semakin sakit mengingat semua obrolan dengan Reno. Jangan sampai aku terpengaruh dengan ucapan Reno. Meski rasa ini masih untuknya. Aku tidak ingin merusak kebahagian orang lain demi ego sendiri.
Tangisanku kembali pecah setelah tiba di dalam kamar. Rasanya berat dan sesak. Kepala rasanya semakin sakit. Bibi juga cemas, karena dia sempat menyaksikan pertengkaranku dengan Reno. Ditambah lagi pecahnya gelas yang tidak sengaja tersenggol.
Aku sudah pernah merasakan pahitnya dikhianati oleh seorang yang aku pikir akan menjadi masa depanku. Jangan sampai Melisa merasakan hal yang sama. Aku tidak ingin menjadi jahat karena merusak kebahagiaan orang lain.
"Teh Nisa kenapa? Buka pintunya, tolong! Jangan buat Bibi cemas!" teriak Bibi dari balik pintu dan aku tidak peduli.