Aku tahu Allah menguji, karena Dia sayang pada hamba-Nya. Dia merindukan dan ingin selalu dekat dengan hamba-Nya. Kadang manusia lupa diri dan bahkan tidak pernah sadar diri dengan kasih sayang dari-Nya.
***
Satu bulan berada di Surabaya membuatku rindu suasana rumah dan kafe. Sengaja mengasingkan diri ke sana untuk mencari ketenangan, sekalian menjenguk Nenek.
Siang ini aku baru saja tiba dari Surabaya, beberapa jam yang lalu bersama dengan Papa. Tidak menunggu lama, segera aku pergi untuk menemui Mama di kafe, sekaligus ingin memberikan kejutan untuknya. Rasanya rindu sekali ingin memeluk Mama. Setiap hari wanita itu selalu bertanya, 'Kapan aku akan pulang? Bagaimana kondisiku sekarang? Apa aku tidur dengan nyenyak?' Semua itu menjadi pertanyaan wajib setiap kali kami berbicara via telepon.
Hari ini perasaan sudah berangsur pulih. Semoga tidak akan ada lagi duka yang menghampiri. Aku tahu Allah menguji, karena Dia sayang pada hamba-Nya. Dia merindukan dan ingin selalu dekat dengan hamba-Nya. Kadang manusia lupa diri dan bahkan tidak pernah sadar diri dengan kasih sayang dari-Nya. Merasa diri tak pernah membutuhkan Allah, seperti aku misalnya.
Setibanya di kafe, pandangan terhenti saat ekor mata menangkap sosok yang selalu memenuhi pikiran akhir-akhir ini. Pertemuan itu kembali terjadi. Baru saja perasaan ini pulih, Allah pertemukan lagi kami. Semoga pertemuan kali ini, tak akan meninggalkan bekas luka. Segera kaki ini melangkah untuk masuk. Berusaha mengacuhkannya. Namun, pandangan kami saling beradu. Dia tersenyum dan aku segera berpaling.
"Hai, Zi." Dia menyapaku, seperti tak pernah terjadi apa pun.
"Assalamualaikum," sindirku.
"Maaf ... Waalaikumsallam." Dia tersenyum malu, sembari menggaruk kepalanya yang sudah pasti tidak gatal.
Langsung saja aku pergi; tak ingin mempedulikannya dan biar saja pertemuan itu meninggalkan kesan yang tak berarti.
"Aku mau ketemu klien. Sebenarnya tadi dia sempat menolak untuk ketemu di sini, tapi aku keburu sampai dan akhirnya dia setuju untuk ketemu di sini," jelasnya, menyusulku.
Padahal aku tak butuh penjelasan apa pun. Terserah dia mah ada keperluan apa di sini. Aku juga tidak ingin tahu, sedang apa dia di sini.
Aku mempercepat langkah, segera berlalu dengan perasaan yang tidak menentu. Rasanya sakit harus bersikap acuh padanya. Namun, memang harus seperti itu menyikapinya. Kalau tidak, dia akan bertindak seperti waktu itu.
Langkahku berjalan menuju ruangan Mama. Namun, sesampainya di sana Mama ternyata tidak ada. Sebentar aku menenangkan diri; memulihkan detak jantung yang selalu tidak beraturan, setiap kali bertemu dengannya. Aku pikir kami tidak akan bertemu lagi. Allah pasti punya rencana lain dan aku tidak mengerti rencana apa lagi yang Allah siapkan untukku.
Setelah merasa lebih baik, segera aku pergi menemui Siti di meja kasir. Dia rupanya terlihat sedang sibuk.
"Teh, ini bisa tolong di cek. Aku bingung di mana yang salahnya, ya? Udah beberapa kali di cek, tapi tetep gak nemu letak yang salahnya. Kemarin Teteh enggak ada, aku bingung ngurus laporan sendiri," ujar Siti mengeluhkan pekerjaannya begitu aku sampai.
"Lho, Aneu ke mana?" Aku bertanya, karena mengurus laporan juga tugasnya Aneu.
"Dia sakit udah hampir satu minggu dirawat di klinik dekat rumahnya. Tadi pagi baru pulang."
"Astagfirullahaladzim! Kenapa?" Aku terkejut mendengarnya dan bertanya di akhir kalimat.
"Jelasnya kenapa aku juga gak tahu, Teh."
"Udah jenguk?"
Siti mengangguk. "Udah sama Ibu."
"Syukurlah," ucapku dan segera memeriksa laporan tersebut.
Bolak-balik aku mengeceknya dan akhirnya menemukan juga letak kesalahannya. Mengurus laporan memang harus sangat teliti. Kalau tidak akan pusing sendiri.
"Eh, Mama di mana, ya?" tanyaku kemudian.
"Ibu katanya mau arisan, Teh. Tadi dijemput temannya."
Sedikit kecewa saat aku tahu Mama ternyata tak ada. Menyesal datang kemari, kalau tahu seperti ini mungkin aku tidak harus bertemu lagi dengan Reno.
Siti kembali melanjutkan pekerjaannya dan aku pun turut memulai aktivitas. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan Syarif yang hendak mengantar pesanan.
"Ini buat meja mana?" tanyaku kepadanya.
"Meja dua sembilan, Teh," sahut Syarif.
"Teteh saja yang antar." Langsung aku mengambil alih pesanan tersebut.
Langkahku kemudian terhenti. Rupanya itu adalah pesanan untuk meja Reno. Sungguh rasanya menyesal telah mengambil alih tugas Syarif. Langkahku kembali maju dan ternyata dia tidak sendiri. Orang yang dia maksud ternyata sudah datang.
Reno yang menyadari kedatanganku, langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Pesanan segera aku taruh di atas meja, dengan berlagak tidak mengenalnya. Laki-laki itu pun hanya menatap.
"Ini beneran kamu, Ca?"
Aku sontak terkejut dan langsung melihat ke arah sumber suara. Fahri? Bagaimana bisa dia bersama dengan Reno? Dia berulang kali mengucek matanya. Tubuh rasanya kaku saat dia memandangku seperti tak percaya. Tenggorokanku pun mendadak kering dan sulit untuk berucap.
"Makin cantik aja kamu!" Dia memuji dengan tak melepaskan tatapannya.
Napasku memburu tak menentu melihat caranya menatap; tangan mulai berkeringat dan perlahan terkepal. Dia kemudian mengumbar senyum dan seketika pelupuk mataku menghangat.
"Benar kata orang, kalau sudah jadi mantan seseorang itu selalu tampak lebih berkilau. Jadi nyesel aku, Ca," ucapnya diselingi tawa kecil.
Fahri terus menatapku dengan melempar senyuman menjijikkan. Senyuman yang sungguh membuatku ingin melayangkan tamparan di pipinya.
"Mantan?" Reno kemudian merespons.
"Kalau ada yang dibutuhkan, bisa panggil kami. Terima kasih, selamat menikmati!"
Segera aku pergi, tak ingin memberikan penjelasan.
"Tunggu, Ca! Hei, Ca!" Laki-laki itu menyerukan nama panggilannya untukku.
Tanpa menghiraukan panggilannya, aku terus melenggang pergi menjauh dengan mempercepat langkah. Air bening sudah tergenang di pelupuk mata sejak tadi dan sudah siap untuk terjun bebas.
"Ca, tunggu!" Laki-laki bermata tajam itu berhasil mencekal tanganku, hingga mengundang perhatian para karyawan yang juga menatap terkejut kepadanya.
"Lepas!" tegasku.
"Kenapa? Kita sudah lama, lho, enggak ketemu. Jangan judes-judes gitu. Aku cuma mau kita ngobrol sebentar."
"Maaf ... aku sama sekali tidak tertarik untuk bicara denganmu!" tegasku sekali lagi penuh dengan penekanan.
Jangankan untuk bicara, untuk sekadar melihatnya sudah muak. Aku masih berusaha untuk menjauhkan tangan darinya. Tiba-tiba saja Reno mendekat, lalu membantu menjauhkannya dariku.
"Masuk, Zi," pintanya yang kini berdiri di depanku.
"Eh, tunggu!" Fahri berhasil kembali mencekal pergelangan tangaku
"b*****t!"
Aku terkejut tiba-tiba Reno menghajarnya sampai terpental. Dia menyeret Fahri untuk keluar kafe. Aku lekas mengejarnya, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Reno pasti tidak akan memberinya ampun.
Benar saja, laki-laki itu menyeretnya sangat kasar dengan wajah yang memerah menahan amarah. Aku berteriak meminta dia untuk melepaskannya. Namun, dia tak mengindahkan teriakanku.
"Lo kenapa sih, No? Kita mau bicarakan bisnis. Kenapa malah kaya gini? Lepasin gue!" pekik Fahri.
"No, aku mohon lepaskan dia!" teriakku sekali lagi.
Sesaat kemudian mataku melebar dengan tangan menutup mulut. Satu pukulan Reno layangkan di pipi kanan laki-laki itu. Mantan kekasihku itu seperti sedang kesetanan, dia tak memberikan ampun pada mantan tunanganku dan Fahri pun tidak tinggal diam. Mereka kini terlibat baku hantam.
Tangisku tak lagi tertahankan. Semua orang berkerumun dan berusaha untuk melerainya. Namun, percuma saja keduanya sama-sama tidak mau mengalah.
Sekali lagi bogem mentah Reno mendarat di pipinya. Aku menjerit bersamaan dengan pukulan yang kembali dilayangkan Reno. Kini tepat di pipi sebelah kiri. Fahri meringis kesakitan. Darah keluar dari kedua ujung bibirnya. Dia berusaha untuk membalas dan darah segar mengalir dari hidung Reno.
"Bagaimana ini, Teh?" tanya Siti Panik.
"Reno! Hentikan!" Aku berteriak, tetapi tak sekali pun didengarnya.
Para pengunjung tidak ada lagi yang berani mendekat lagi, karena tadi pun ada yang tak sengaja terkena pukul oleh salah satunya.
Keduanya sudah sama-sama babak belur. Aku tak bisa tinggal diam, segera melenggang menuju kran dengan selang panjang yang menempel, kemudian mengarahkannya pada mereka. Air mulai mengalir menyiram keduanya. Seperti kucing yang sedang bertengkar, setelah disiram air baru mereka berhenti.
Aku menatap mereka kecewa dengan napas yang tak beraturan.
"Kalian ikut aku sekarang!"
Basah kuyup mereka masuk ke ruangan Mama, dengan wajah penuh dengan luka. Reno menatap penuh penyesalan. Emosi membuatnya gila. Sementara Fahri masih terlihat kilatan amarah dalam sorot matanya.
"Kalian sadar tidak ... apa yang kalian lakukan itu merugikan orang lain?" Aku tak bisa lagi mengendalikan diri untuk tidak marah.
"Maaf ...!" ucap Reno lirih.
Di sisi lain laki-laki itu memandang sinis penuh keangkuhan. Pandangan kami saling beradu. Ternyata dia masih tak berubah; masih saja angkuh.
"Kamu tahu, 'kan? Bukan aku yang mulai," respons Fahri masih dengan wajah yang tanpa dosa.
"Aku yang salah, Zi. Maaf ...!" Sekali lagi Reno mengucap maaf, terlihat dia menitikkan air mata.
"Baik dulu atau sekarang, aku tidak bisa terima siapa pun menyakitimu, Zi ... termasuk dia!
Reno mengarahkan telunjuknya pada Fahri yang langsung menepisnya dalam sekejap. Dia tidak pernah suka, jika ada seseorang yang merendahkannya.
Aku terduduk lemas dengan satu tangan menopang kepala. Laki-laki itu mendekat. Spontan aku langsung memundurkan kursi, dengan tetap menatapnya iba sekaligus kecewa. Paras tampannya kini tertutup darah dan luka di beberapa bagian wajah.
Reno berlutut di hadapanku. Sementara Fahri masih pada posisinya dengan menatap penuh kebencian pada laki-laki yang tiba-tiba menyerangnya.
"Aku minta maaf, Zi. Aku salah ...! Aku akan mengganti semua kerugian kafe ini."
"Ini bukan masalah ganti rugi, Reno Alamsyah!"
"Tunggu, Reno Alamsyah?" Fahri memotong; aku dan Reno kompak menatapnya.
"Jadi dia ini mantanmu, Ca?" sambungnya lagi.
Fahri kemudian berjalan mendekat. "Gue enggak tahu ... kenapa lo nyerang gue? Tapi mungkin lo masih cinta sama dia."
Reno kembali berdiri; keduanya saling berhadapan dan menatap tajam. Fahri tersenyum, mencibir.
"Seharusnya kalau lo masih cinta, ngomong sama gue. Lo tenang aja ... gue enggak akan pernah rebut dia, kok." Fahri mengusap pundak Reno dengan senyumnya yang menyebalkan, "bagi gue mantan itu sampah dan harus dibuang!"
Kalimat itu sungguh melukai hatiku, sekaligus kembali memancing emosi Reno yang hampir melayangkan tangannya yang terkepal. Namun, kali ini dia hanya memandangnya tajam dan tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Perlahan kepalan tangannya turun.
"Kenapa enggak jadi? Pukul saja ... gue persilakan," ujar Fahri menyebalkan dengan mendekatkan pipinya.
Laki-laki pengecut itu kemudian tertawa, sekilas menatapku yang juga menatapnya penuh kebencian.
"Lo seharusnya tidak perlu seperti ini. Lo bakal menyesal nantinya." Fahri kemudian kembali melirikku, "dia itu sampah!"
Seketika hatiku hancur mendengar hinaannya. Bukankah dia yang sudah menyakitiku? Tapi, kenapa dia bersikap seolah-olah aku yang telah menyakitinya? Ironi sekali.
Kembali Reno mencengkeram kerah kemejanya. Dia tersenyum menantang. Di dorongnya Fahri hingga tersungkur.
"Reno, hentikan!" Aku mendekat, berusaha menariknya. Namun, dia terlalu kuat.
"Berani lo ngomong sesuatu hal yang buruk tentang Zizi! Gue mampusin lo sekarang juga!" ancamnya.
Fahri menertawakannya, membuat Reno semakin naik darah. Dia mencengkram leher dan mengunci tangan Fahri setelah melayangkan pukulan padanya. Sehingga dia tidak bisa bernapas dan bergerak.
"Breng—sek lo, No," ujarnya dengan susah payah.
"Reno, kamu bisa bunuh dia kalau begini caranya. Istigfar, Reno! Istighfar! Lepasin dia!" Aku berusaha menjauhkannya
"Biarin dia mati! Dia sudah membuatmu hampir mati! Sekarang giliran dia yang menanggung semuanya!"
Fahri terus berusaha untuk melepaskan dirinya, tetapi gagal. Hingga dia terbatuk-batuk. Sembari sesegukan aku berusaha menghentikan ulah Reno. Aku benar-benar takut melihatnya seperti itu.
"No, tolong jangan seperti ini," ujarku terisak.
Reno menoleh, aku menatapnya berlinang air mata. Melihatku, perlahan cengkeramannya terlepas.
"Ca ... mantanmu b******k," ujarnya setelah lepas dari Reno.
"Jaga ucapanmu! Kamu lebih b******k dari apa yang dilakukan Reno!"
Fahri kemudian tertawa sumbang. "Annisa ... Annisa! Aku sudah dua tahun menikah dan kamu masih belum beranjak dari masa lalu. Ternyata kamu masih belum bisa menerima kenyataan dan sepertinya kamu tidak bisa melupakanku."
Setelah menyakiti dan melukaiku, bukannya minta maaf, laki-laki itu malah menambah dalamnya lukaku.
"Aku tidak akan lupa dengan apa yang telah kamu lakukan, Mas!" Sengit, aku memandangnya.
"Jelas kamu tidak akan pernah bisa melupakanku, Ca," ujarnya dengan tatapan kurang ajar.
Spontan aku menamparnya. "Pergi! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Fahri mengelus pelan pipinya dan tersenyum, lalu pergi. Aku kembali menjatuhkan tubuh pada kursi. Tangis pun pecah dan Reno langsung menghampiri; berusaha untuk membuatku tenang.
"Zi," ujarnya pelan. Ia sampai berlutut
Aku menghiraukannya. Setelah susah payah berusaha menyembuhkan luka, Fahri datang menambah luka itu menjadi semakin dalam. Meski pertemuan kami bukanlah sebuah kesengajaan. Rasanya perih dan sungguh ini benar-benar sakit bahkan jauh lebih sakit dibandingkan dulu.
"Zi ... Im sorry!" Reno berkata pelan.
Bersamaan dengan itu ponselnya berdering, Reno langsung mematikannya. Sesaat kemudian ponsel itu kembali berdering. Lagi-lagi Reno mematikannya. Untuk ketiga kalinya ponsel itu berdering.
"Angkat teleponnya. Itu pasti penting, No."
Reno malah menatapku sangat lama. Ia sedikit ragu, kemudian menjauh untuk menerima telepon tersebut.
"Hallo, Mel!"
Ternyata itu panggilan dari Melisa. Satu lagi daftar lukaku bertambah.
[...]
"Biasakan bertanya itu satu-satu! Biarkan aku menjawab dulu baru kamu tanya lagi!" Reno terdengar meninggikan suaranya.
[...]
"Nanti kita bicara lagi. Aku ke rumah kamu nanti!"
Tak lama ia kembali dengan wajah frustrasi. Mungkin mereka habis bertengkar.
"Kamu pergi, No! Melisa membutuhkanmu pasti!"
"Tidak, Zi! Kamu lebih membutuhkan ku saat ini!"
"Pulanglah! Obati lukamu. Aku juga mau pulang."
"Kalau begitu aku antar kamu sampai ke rumah. Biar aku tahu kamu baik-baik saja!" katanya memaksa.
Reno tak pernah berubah, selalu saja mencemaskanku. Oh, Allah, kenapa harus seperti ini? Rasanya aku lemah melihat caranya memperlakukanku.
"Aku baik-baik saja! Kamu tidak perlu khawatir." Aku pun pergi dan dia menyusul.
"Zi ...."
"No, please!"
Reno akhirnya menyerah, lalu. Aku pikir rasa sakit ini telah berakhir. Namun, tidak. Engkau justru menambah rasa sakit ini. Aku terdiam, menatap nanar kepergiannya.