Surat Undangan

1845 Kata
Semua yang telah terjadi hanyalah ujian. Hanya manusia luar biasa yang Allah uji. Bukan karena Dia tak sayang, bukan. Itu semua bukti cinta Allah untuk hamba-Nya. Allah tidak pernah merenggut apa pun dari hamba-Nya. Allah hanya inginkan hamba-Nya mendekat. Dia cemburu, karena sering kali hamba-Nya lupa akan keberadaan-Nya. Dia cemburu, karena hambaNya lebih mencintai makhluk-Nya dibandingkan Dia yang menciptakan semua makhluk. Jika saat ini Allah uji dengan kehilangan, Dia hanya ingin hamba-Nya tahu, bahwasanya Dia telah persiapkan pengganti yang jauh lebih baik. Tentunya Dia ridai. Air mata itu kembali terjun bebas. Kalimat-kalimat itu diucapkan untuk menjadi penguat. Diri ini lemah, tetapi jangan sampai iman pun ikut lemah. Aku punya Allah sebagai sumber kekuatan. Mungkin inilah sebabnya Allah kembali hancurkan hatiku. Agar diri ini sadar, bahwa segala yang terjadi pada manusia bergantung pada-Nya. Terimakasih untuk luka yang Engkau titipkan. Terima kasih untuk hati yang selalu Engkau kuatkan. Sekali lagi cairan bening ini merambah turun basahi pipi, segera aku menyekanya; kemudian menarik napas dan segera mengubah mimik wajah. Rumah ramai hari ini. Bang Fauzan dan istri serta si kembar pulang. Mama membuat banyak sekali makanan favorit putra, menantu dan juga cucu-cucunya. Selalu seperti itu setiap kali mereka akan datang. Maklum saja, rumah selalu sepi. Kedatangan mereka setidaknya membawa kehangatan dalam rumah ini. Papa juga terlihat bahagia bermain dengan si kembar. Seperti tak mengenal lelah. Syukurlah, aku masih bisa menikmati tawa bahagia mereka. Meski bukan aku yang menjadi alasan mereka bahagia. "Zi, mau kuenya?" Kak Prita datang menawarkan kue yang baru saja dia bawa dari dapur. Aku menggeleng; dia tersenyum tipis. Pandanganku kembali tertuju pada Papa yang sedang menikmati waktu bersama cucu kembarnya. Kini Mama ikut bergabung. Faza iseng meminta kakeknya untuk menjadi kuda, kemudian dia naik di atas punggungnya. Bergantian dengan Fuzi, saudara kembarnya. "Zi, kamu gak seneng, yah, Abang pulang?" Aku menoleh. Kini Bang Fauzan yang duduk di sampingku. Entah kapan Kak Prita menggeser tubuhnya. "Padahal Abang pulang sengaja buat ketemu kamu. Abang rindu sama kamu, tapi kamu malah cuekin Abang seperti ini." Bang Fauzan merajuk, aku langsung memeluknya dari samping. "Apalagi yang membuatmu sedih, hmmm?" Tiba-tiba saja dia bertanya seperti itu, padahal sudah aku sembunyikan kesedihan itu. "Siapa bilang Zizi sedih? Dia hanya sedang lelah." Kak Prita mengambil alih untuk menjawab. Dia berikan penghiburan; selalu seperti itu. Kakak ipar yang sudah seperti kakak kandungku sendiri. Dia selalu mengerti setiap kondisi adiknya. Tiba-tiba saja dia melengos. "Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Bang Fauzan sedikit berteriak; kepalanya berputar menatap kepergian istrinya. "Buatkan kalian minuman segar!" balas sang istri juga sedikit berteriak. "Aku kira kamu cemburu, Zizi peluk aku kaya gini," kelakarnya, membuatku tertawa pelan. Aku hendak melepas pelukan itu. Namun, Bang Fauzan mencegahnya. Berada dalam pelukannya benar-benar membuatku tenang; hangat terasa. "Abang sayang sekali sama kamu, Zi. Jangan sedih lagi, ya. Kalau kamu sedih, Abang juga ikut sedih." Kalimat yang diucapkannya berhasil menembus hatiku yang paling dalam. Betapa beruntungnya aku memiliki kakak sepertinya. Dia adalah kakakku satu-satunya. Kakak yang selalu memahami adiknya dengan sangat baik. Selain itu aku juga beruntung memiliki ipar seperti Kak Prita. Di saat mentalku jatuh, dia selalu berusaha untuk menguatkan aku. "Ini spesial buat kalian." Kak Prita kembali dan menaruh jus mangga segar favoritku, di atas meja. Dia kemudian kembali duduk di sampingku. Bang Fauzan lepas pelukannya; lalu meraih gelas tersebut dan langsung meminumnya. Di ruang tengah, kami terlibat obrolan hangat. Aku senang, rasanya beban dalam hati sekilas sirna. Kedatangan mereka membuat pikiran ini teralihkan. Ditambah ketika melihat senyum Papa dan Mama yang masih asyik bermain dengan si kembar. Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Kak Prita langsung beranjak untuk membuka pintu. Tidak lama dia kembali. "Ada temanmu datang. Katanya namanya Anggi," ujar Kak Prita memberitahu. Perasaanku mulai kembali tidak karuan. Ada apa lagi ini? Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun. Kenapa harus datang hari ini? Kejadian hari itu kembali mengganggu pikiranku; gelisah dan cemas mulai kembali menyerang. "Zi, bertemu teman mungkin bisa membuatmu lebih baik. Pergilah ... temui dia," saran Kak Prita. Kak Prita sepertinya belum tahu, jika kondisiku kembali down setelah bertemu teman-teman. Kutaruh gelas berisi jus mangga, di atas meja. Kemudian beranjak dengan langkah ragu untuk menemui Anggi. Raut wajahnya terlihat tidak baik. Dia menatapku sendu sejak dari jauh. "Apa kabar, Zi?" tanyanya mengawali obrolan. "Aku baik. Ngobrol di kamar saja, ya." Mungkin ada sesuatu yang ingin Anggi sampaikan. Akan lebih baik, jika bicara di sana. Lekas aku mengajaknya pergi menuju kamar. Disapanya Papa, Mama dan semua dengan gaya khasnya yang ceria. Mereka bicara sebentar, karena Mama sempat menahannya; mungkin rindu. Biasanya hampir setiap hari teman-teman datang ke rumah. Tak jarang Anggi sampai menginap. Kuminta dia untuk menyusul. Aku akan menunggunya di atas. Mengendalikan diri menjadi hal yang sulit selama beberapa tahun terakhir. Terkadang aku lemah sampai tidak berdaya; nyaris kehilangan semangat. Beruntung aku memiliki keluarga yang begitu peduli. Itulah alasan kenapa setiap kali mengalami kondisi seperti ini, aku membatasi diri untuk bertemu orang lain, karena mereka tidak akan pernah bisa memahami seperti kemarin misalnya. Derap langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat. Itu pasti Anggi. Benar saja, pintu terbuka menampilkan tubuh tingginya. Dia segera menghampiri menuju tempat tidur. "Sorry, ya, masalah kemarin." Anggi langsung mengatakan itu. Aku bergeming; tak ingin membahas apa yang sudah terjadi, biarlah semua itu berlalu. Jika terus diungkit, kondisiku akan semakin buruk. Anggi tiba-tiba terdiam. Menatapku, lalu menunduk. Aku bingung, langsung saja aku tanya, "Ada apa, Gi? Tumben datang tidak memberi kabar dulu." "Gue ganggu, ya?" Ingin sekali aku mengatakan 'Ya'. Namun, tidak seharusnya aku kesal pada Anggi. Bukankah dia sama sekali tidak bersalah? Aku pun akhirnya menggeleng. "Bukan seperti itu, hanya saja aneh tiba-tiba datang tanpa mengabari." "Sebenarnya aku ke sini ...." Kalimatnya menggantung. Kuperhatikan wajahnya tegang dan penuh keraguan. Dia kemudian meraih sesuatu dari dalam tasnya. "Ini ada titipan dari Reno, Zi." Anggi serahkan secarik surat undangan berwarna silver atas nama Reno dan Melisa. Jantung rasanya seperti berhenti memompa. Aku masih belum menerimanya. Anggi meraih tanganku untuk segera meraihnya, dia pun memberikan sesuatu berbentuk persegi panjang yang juga titipan dari Reno. Dengan hati-hati jemari menyobek kertas kado yang dijadikan bungkusnya. Bingkai foto berukuran A2 atau sekitar 40 x 60 cm berisi beberapa potretku yang sudah diedit dengan sangat apik. Reno mengambilnya secara diam-diam saat acara Reuni. Kulirik kembali surat undangan miliknya. Aku tidak sedang bermimpi. Nama Reno dan Melisa tertera dalam undangan itu. Kerongkongan mendadak kering. Air mataku hampir saja jatuh. "Pernikahan Reno Melisa dipercepat jadi lusa, Zi. Karena kondisi Melisa sempat menurun lagi sejak beberapa hari yang lalu." "Bukannya Melisa sudah mendapatkan donor, Gi?" Aku mulai cemas mendengar kabar Melisa. "Meskipun sudah mendapat donor, kondisinya tetap tidak akan pulih seratus persen, Zi. Itu yang dikatakan dokter. Maaf, kita gak kasih tahu. Gue gak mau melihat Ratna terus menjadikan, lo, sebagai kambing hitam atas kondisi Mel." "Sekarang, Mel dimana?" Aku tidak peduli lagi tentang sikap Ratna. Saat ini aku hanya ingin memastikan Melisa baik-baik saja. Anggi menurunkan tubuhku, kembali duduk. "Dia sudah pulang sekarang, tapi masih harus bed rest." "Kita ke sana sekarang." "Zi!" Anggi menarik tanganku; meminta untuk tetap tenang. Dia meyakinkan, kalau Melisa sudah jauh lebih baik dan hanya perlu istirahat. "Lo gimana, Zi? Baik lo atau pun Mel sama-sama temen gue. Gue gak bisa lihat salah satu dari kalian sakit." Anggi menggenggam tanganku erat. Ada ketulusan dari mata lentiknya. Dia adalah sahabat yang baik meski sering kali konyol, menyebalkan dan selalu bertingkah seperti anak kecil. "Saat ini Melisa lebih penting dari segalanya, Gi." Aku berusaha untuk tidak egois. "Terus perasaan, lo juga Reno?" Seketika aku terdiam tak bisa mengatakan sepatah kata pun. Berulang kali aku menelan saliva dengan susah payah. Jika harus jujur, mungkin sakit. Namun, Allah telah berkehendak lain. Dia tak inginkan aku bahagia dengannya. "Gue tahu perasaan kalian masih sama. Terlebih Reno." Anggi diam dan tatapannya sendu. Aku bingung menghadapinya. Untuk menghadapi diri sendiri saja aku tak kuasa, apalagi menghadapi orang lain. "Gue justru takut, Reno gak bisa mencintai Mel," sambungnya. "Allah yang memiliki hati manusia. Dia maha membolak-balikkan hati. Kamu tidak perlu cemas, Gi." "Reno sangat mencintai lo, Zi. Lo tahu, dia sampai menggunakan nama depan kalian buat studio fotonya. RF studio. Itu punya dia." Mata Anggi berkaca-kaca menatapku. Aku tercengang mendengar itu semua; tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Bagaimana bisa? Mungkin Anggi sedang bergurau. "Reno membangun studio fotonya sejak zaman kuliah. Studio itu bukti cintanya dia sama lo, Zi. Dia hobi motret dan lo hobi foto." Anggi memberi jeda pada kalimatnya. "Mel juga tahu dan dia tidak masalah soal itu. Asal Reno mau menikahinya." Anggi mendengkus dan berdiri menuju balkon. Aku langsung mengekorinya. Kami berdiri saling berdampingan. Tatapan Anggi lurus, kulihat kosong dan sendu. "Siang itu, Reno sibuk untuk mempersiapkan pameran foto. Dia sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, dia harus membagi waktunya untuk pameran itu." Anggi mulai bercerita. "Selain menjadi atlet basket, lo tahu, kan? Mimpi Reno juga ingin menjadi seorang fotografer. Waktu itu gue dan Ratna datang menemuinya. Karena dia tiba-tiba menghubungi Ratna dan mengajak untuk bertemu," lanjutnya lagi. Aku hanya menjadi pendengar. Anggi bercerita, siang itu dia dan Ratna pergi menemui Reno di mini studio miliknya. Reno meminta Ratna untuk menghubungiku, dia ingin aku menjadi model utama dalam pameran fotonya. Namun, Ratna menolak. Dia menyarankan agar Melisa saja yang menjadi modelnya. "Lo, tahu dia jawab apa ... waktu Ratna bilang dia enggak bisa move on?" "'Urusan hati enggak bisa ditawar.' Itu yang dia bilang, Zi," sambungnya lagi. Anggi lanjutkan ceritanya dan betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa laki-laki itu sempat mencari dan menghubungiku. Namun, saat itu nomorku di pegang Fahri dan kebetulan saat dia menelepon mantan tunanganku itu yang terima. "Waktu dia tahu kalau lo udah ada cowok, dia langsung galau, Zi. Dia pun urungkan niatnya untuk mengikuti pameran itu." Aku masih terdiam. Sampai detik ini aku tidak tahu kalau dia sempat menghubungi dan Fahri tidak pernah bercerita, jika ada seorang yang menghubungi untuk menawari aku menjadi modelnya. Saat itu Fahri mengambil alih semuanya. Bahkan kami kerap bertukar ponsel, karena Fahri selalu menaruh curiga terhadapku. Aku tertunduk lemas. Kenapa semua selalu datang terlambat? Kenapa baru kali ini aku mengetahuinya? Penyesalan itu lagi-lagi menyiksaku. Terdengar dering ponsel dari dalam kamar. Aku membiarkannya, meski terus berdering berulang kali. Anggi hentikan ceritanya. "Angkat teleponnya dulu, Zi ... siapa tahu penting." Lekas kaki melangkah masuk dan meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Belum sempat mengangkatnya, panggilan sudah terputus. Aku lihat di balik layar, Reno yang menghubungi. Aku menghela napas dalam-dalam seraya palingkan wajah. Tidak berselang lama, satu pesan masuk; masih dari orang yang sama, yaitu Reno. [Jalanku buntu untuk menujumu. Kondisi Melisa kembali jatuh. Aku akan menikahinya seperti katamu. Aku harap kamu bahagia. Aku sayang kamu, Zi.] Aku kembali menaruhnya dan duduk di tepi ranjang. Anggi menghampiri dan langsung memelukku, seolah tahu apa yang sedang aku rasakan. Setiap manusia memiliki jalan takdirnya masing-masing. Apa pun yang terjadi, jika takdir berjalan tak sesuai harapannya, ikhlas sudah menjadi keharusan. Aku tahu itu. Namun, apakah kali ini aku bisa ikhlas menerima ketetapan-Nya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN