Saling mencintai saja itu tidak cukup. Jika Allah tidak meridai, bagaimana bisa dua orang yang saling mencintai itu berjodoh?
***
Hari ini akhirnya tiba. Reno akan mengucapkan ikrar sucinya di hadapan Allah untuk Melisa. Kedua kalinya aku merasakan pahit mencintai. Ternyata dia pun tak ditakdirkan untukku. Jangan bertanya bagaimana rasanya, karena sudah pasti lebih dari sekadar patah hati.
Mataku tak lepas memandang Melisa yang tampak anggun dalam balutan kebaya Sunda putih dengan siger yang tersemat di atas kepala. Pipinya tampak merona. Bukan karena polesan blush-on. Namun, mungkin rasa bahagia yang menjadi penyebabnya. Bagaimana tidak, dia akan dipersunting pria yang dicintainya. Hanya butuh waktu beberapa saat lagi, untuknya resmi menyandang status sebagai nyonya Alamsyah.
Riuh terdengar dari luar. Ternyata rombongan calon pengantin pria telah datang. Bersama Ratna dan Anggi, aku kembali bergabung dengan pihak keluarga dari Melisa. Panitia tampak sibuk mengecek lokasi untuk akad nikah yang akan digelar di taman belakang. Dekorasi hanya dipasang seperlunya, sesuai kebutuhan. Lebih difokuskan pada pelaminan yang didominasi warna putih, karena taman itu sendiri sudah memberikan kesan romantis dengan ditumbuhi bunga warna-warni di sekitarnya.
Pihak keluarga Melisa menyambut kedatangan keluarga besar Reno, dengan penuh suka cita. Kalung bunga melati dilingkarkan di lehernya oleh calon ibu mertuanya. Dia tampak gagah dan tampan dengan dibalut pakaian khas pengantin pria Sunda, memakai bendo bermotif sama dengan kain sido mukti yang dipakainya. Lengkap dengan bros yang terpasang di bendo tersebut. Juga terdapat keris dibagian pinggang sebelah kirinya. Dia pun berjalan dengan diapit kedua orang tuanya menuju lokasi akad nikah.
Pandangan kami pun beradu. Dia sepertinya memang sengaja menatapku seperti itu. Kulukiskan seulas senyum untuknya. Sebagai ucapan terima kasih, karena sudah mau berkorban demi Melisa. Melihatku tersenyum, lantas dia memalingkan muka menatap lurus ke depan.
Dia kini duduk menghadap seluruh tamu undangan, di tempat untuk pelaksanaan akad nikah. Kembali dia mengarahkan pandangannya kepadaku. Berulang kali kutarik napas dalam-dalam, untuk memulihkan kondisi hati yang mulai berantakan.
Giliran pihak keluarga Reno yang memberikan sambutan. Seorang berpakaian batik dengan peci hitam berdiri dan memulai kata sambutannya dengan menggunakan bahasa Sunda yang kental. Suasana terasa begitu sakral.
"Dina kiwari wanci anu mustari, mugia ayeuna nincak kana mangsa anu sampurna. Simkuring ngadeg di ieu patempatan kapeto ku Bapa Hamdani, sinareng Ibu Ambar."
Anggi mengeratkan genggaman tangannya. Aku melirik dia sembari mengulas senyum palsu. Cemas terlihat di wajahnya. Aku berusaha untuk kembali kuatkan diri. Jangan sampai mentalku kembali jatuh di hadapan semua orang.
Semoga Allah selalu berikan keluasan hati, agar aku tetap bisa menyaksikan akad nikah Reno dan sahabatku sampai selesai.
"Insya Allah badé nyumponan pasini jangji anu saati, mayar kedal carita anu baheula dina wanci mimiti panggih, antawis Cép Reno Alamsyah sareng Néng Melisa Putriani Hidayat."
Aku mendengkus, begitu nama Reno dan Melisa disebut. Tidak bisa dimungkiri, saat ini aku hanya sedang berusaha baik-baik saja. Berusaha menguatkan hati dan diri agar tetap tenang.
Tiba saatnya untuk akad nikah digelar. Semua mata kini tertuju pada Melisa yang berjalan bersama kedua saudara perempuannya, mengarah menuju meja akad nikah. Dia masih sangat lemah, tetapi kebahagiaannya berhasil membuat dia tampak baik-baik saja. Senyumnya terus mengembang, sepanjang langkahnya yang anggun. Mereka akhirnya duduk saling berdampingan. Dia tatap calon suaminya. Reno menoleh dan membalas menatapnya, lalu keduanya saling melempar senyum.
Seperti pernikahan pada umumnya, sebelum akad nikah dimulai penghulu menyampaikan khotbah terlebih dahulu. Kemudian barulah ia arahkan Reno untuk menjabat tangan calon ayah mertuanya. Pandanganku lurus menatapnya dengan suasana hati yang porak poranda.
"Silakan dimulai!" Sang penghulu berikan instruksi.
Bismillahirrahmanirrahim ....
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Reno Alamsyah bin Hamdani Alamsyah dengan putri kandungku, Melisa Putriani Hidayat binti Adi Hidayat dengan mas kawin emas dua puluh lima gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai."
Suara lantang Om Adi membuat d**a semakin sesak. Detik-detik menegangkan dimulai. Wajah sang pengantin pria terlihat tegang, berulang kali dia terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum mengucap ijab kabulnya.
"Saya terima nikahnya Melisa Annisa ...." Suaranya memelan di akhir kalimat yang seketika terhenti.
Semua orang tampak saling berbisik. Melisa melirikku. Gurat kecewa tampak dari wajahnya. Jelas saja, ini hari pernikahannya. Bagaimana bisa calon suami salah menyebut nama calon istrinya.
"Tenang, jangan gugup! Tarik napas. Bismillah. Ingat Me-lisa Putri-ani Hi-dayat," ujar penghulu dengan mengejanya.
Awan gelap masih menyelimuti wajah Melisa. Dia pasti belum tenang, sampai ijab kabul itu selesai. Bukan hanya Melisa, aku pun merasa tak tenang. Semoga Allah luruskan niatnya. Jangan sampai dia keliru untuk kedua kalinya.
"Sekali lagi, ya. Tenang, jangan buru-buru! Silakan, Pak Adi!"
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Reno Alamsyah bin Hamdani Alamsyah dengan putri kandungku, Melisa Putriani Hidayat binti Adi Hidayat dengan mas kawin emas dua puluh lima gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai."
Berdebar jantungku melihat wajah tegang Reno. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Melisa Putriani Hidayat binti Adi Hidayat dengan mas kawin emas dua puluh lima gram dan seperangkat alat salat dibayar TUNAI!"
Alhamdulillah ....
SAH ....
Ucap syukur riuh terdengar saat Reno berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan sempurna. Meski dia harus mengulang. Kini mereka telah resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama. Aku merasa lega meski harus merasa terluka.
Saling mencintai saja itu tidak cukup. Jika Allah tidak meridai, bagaimana bisa dua orang yang saling mencintai itu berjodoh? Aku berusaha untuk menenangkan diri dengan berulang kali menghela napas; menstabilkan kembali detak jantung yang berdebar semakin tak beraturan.
Kepala Melisa bergerak hendak mencium punggung tangan suaminya, lalu Reno membalas dengan memberikan kecupan pada kening perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya. Bahagia terpancar dari wajah Melisa, ketika sang suami melingkarkan cincin di jari manisnya.
Keduanya kemudian berdiri, sang fotografer mengambil gambar mereka yang tengah mengacungkan buku nikah. Senyum Reno terlihat kaku. Lain halnya dengan Melisa yang tersenyum sangat lebar, menampilkan deretan gigi putihnya.
Beberapa ritual adat dilakukan setelahnya. Suasana berubah haru ketika prosesi sungkem. Air mata kedua orang tua mereka luruh seketika. Restu telah diberikan untuk anak-anaknya.
"Baik, A' Reno sama Teh Melisa sekarang boleh kembali duduk di kursinya."
Keduanya menuruti instruksi. Wanita paruh baya itu kemudian memberitahu prosesi adat selanjutnya, yaitu huap lingkung.
"Dalam huap lingkung ini melambangkan keharmonisan suami-istri yang selalu dipenuhi kerinduan, saling cinta-mencintai, saling butuh-membutuhkan," ujarnya menjelaskan.
"Bapak sama Ibu silakan berdiri di samping putra-putrinya. Ibu dulu yang kasih suapan, ya. Setelah itu baru Bapak," lanjutnya lagi seraya menyerahkan baki berisi nasi yang sudah dikepal-kepal.
"Pelan-pelan, ya, Bu."
Suapan meluncur masuk ke dalam mulut mereka, diiringi kalimat-kalimat wejangan dari wanita paruh baya tersebut.
"Waktu kecil Aa sama Teteh makan disuapi Ibu. Sekarang pun sama. Adat ini sekaligus untuk mengingatkan betapa kasih sayang orang tua itu sepanjang masa."
"Sekarang giliran Bapak." sambungnya, mempersilakan mereka bergeser, tukar posisi dengan sang istri.
"Ini pun sama, waktu kecil mungkin Bapak jarang atau bahkan tidak bisa menyuapi Aa dan Teteh, tapi tangan inilah yang bekerja keras untuk mendapatkan sesuap nasi, agar Aa dan Teteh tidak kelaparan. Betapa mulianya orang tua. Cinta dan kasih sayangnya murni, abadi dan tak akan pernah bisa terbayar dengan seisi dunia sekalipun. Alhamdulillah selesai."
Mereka kini diminta untuk berdiri di atas pelaminan. Masih ada acara adat lainnya, yaitu sawer. Semua orang berhamburan maju ke depan. Sejumlah uang dilempar dan para tamu yang sudah berkerumun di depan berhamburan mengumpulkan uang saweran. Kidung sawer panganten mengiringi prosesi adat tersebut. Dalam Islam semua itu memang tidak diperlukan, hanya saja sebagian masyarakat menggunakan sebagai adat untuk meramaikan acara. Kondisi Melisa benar-benar membaik. Allah jadikan Reno sebagai obat. Syukurlah, semoga dia selalu baik-baik saja. Aamiin.
"Zi, kita kasih ucapan selamat dulu, yuk." Anggi menatap ragu.
Aku hanya mengangguk, lalu berdiri. Tiba-tiba saja Andri dan beberapa teman lelaki lainnya menghampiri kami. Arah pandang mereka tertuju padaku. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak terlihat lemah.
"Cinta sejati itu tidak selalu harus bersama, Zi. Lo tahu, kan, Rose dan Jack di film Titanic? Mereka tidak bisa bersama, tapi cintanya abadi. Lo, punya tempat tersendiri dalam hatinya Reno." Andri tersenyum.
"Udah, ya. Enggak usah berlebihan. Reno itu udah jadi milik Melisa, jadi enggak usah kasih harapan apa pun sama perempuan lain," ucap Ratna pedas sekali.
Mataku perih setelah mendengar kalimat menyakitkan itu. Usai mengatakannya, Ratna pergi lebih dulu. Kurasakan tangan Anggi mengelus punggung dan Andri serta teman-teman yang lain memberikan dukungan.
"Enggak usah didengar, Zi. Mending ke sana sekarang, yuk," ujar Andri.
Langkah kami pun beriringan menuju pelaminan. Senyum tak luput dari bibir Melisa. Dia pasti sangat bahagia hari ini. Namun, tidak dengan suaminya. Wajah laki-laki itu terlihat masam, menatap padaku. Bergantian kami memberikan ucapan selamat. Hingga tiba giliranku.
Aku memeluk Melisa beberapa saat. "Selamat, ya, Mel. Semoga Allah memberikan kebahagiaan serta keberkahan untuk keluarga kecil kalian. Semoga Allah segera titipkan malaikat kecil untuk menyempurnakan keluarga kalian."
Melisa memelukku lagi, sembari mengucapkan terima kasih. Anggi menyadarkan kami, hingga dia lepaskan pelukannya. Sepertinya dia memang sengaja, agar aku bisa segera turun dan menjauh dari mereka. Sejak acara belum dimulai, Anggi sangat gelisah. Dia mencemaskanku.
Sebelum turun kami sempatkan mengambil foto bersama. Perasaanku campur aduk hingga turun dari pelaminan. Benar-benar seperti mimpi. Namun nyatanya bukan mimpi.
Tiba-tiba saja Ratna menarikku untuk menepi. Aku sampai tersentak mendengar isak tangisnya, seraya menggenggam sangat erat.
"Zi, maafin gue ...! Gue tahu perasaan kalian. Tapi, Melisa jauh lebih membutuhkan Reno. Maafin gue karena gue selalu saja memihak Melisa." Ratna tertunduk, suaranya bergetar.
Kupeluk Ratna agar dia tak lagi menyalahkan dirinya. Sungguh aku ikhlas. Meski hati merasakan sakit yang luar biasa. Bukankah itu manusiawi? Ratna masih terisak sembari mengeratkan pelukannya. Dia ternyata juga peduli padaku. Hanya saja aku memandangnya dalam sudut yang salah.
"Semoga secepatnya, lo dipertemukan dengan laki-laki yang luar biasa keren, kaya supermen. Aamiin!" ujarnya membuatku tertawa kecil di tengah tangis.
Anggi tiba-tiba ikut memeluk. Cara bicaranya membuatku sedikit terhibur. Inilah yang aku butuhkan, dukungan dari orang-orang terdekat. Setidaknya aku tidak lagi merasa sendiri, karena ternyata masih banyak yang peduli; bersyukur sekali rasanya bisa kembali bertemu mereka.
"Hai."
Pelukan kami otomatis terlepas. Pandangan kompak menatap seseorang yang baru saja menyapa.
"Hai, Al." Anggi membalas sapaannya dengan begitu hangat.
Alfian datang bersama dengan seorang perempuan cantik berambut panjang, dia menatapku seraya tersenyum. Aku pun membalas dengan tersenyum ramah.
"Apa kabar, Zi?" Alfian kemudian menyapa.
Aku tidak tahu pertanyaan itu maksudnya apa. Sekadar basa-basi atau benar-benar ingin tahu bagaimana perasaanku setelah menyaksikan pernikahan Reno dan Melisa.
"Alhamdulillah, kabarku baik, Al."
Aku kembali melirik seorang di sampingnya. Alfian juga, tetapi dia tetap diam; tidak mengenalkannya pada kami.
"Zi, bisa Tante bicara sama kamu sebentar?"
Tiba-tiba saja Tante Ambar menghampiriku. Semua terkejut dengan kedatangannya. Aku menatap Anggi dan Ratna. Mereka kompak mengangguk pelan. Sekilas aku pun melirik ke arah Alfian. Sama seperti kedua sahabatku. Ia juga memberi isyarat dengan menaik-turunkan kepala.