Awan sedang mengemasi meja ketika Dita masuk ruangan tanpa mengetuk. “Kamu nggak apa-apa, Mas? Si Bima itu ngapain ke sini? Cari gara-gara lagi?” cecarnya.
Awan yang tiba-tiba mendengar gaduh menoleh sembari tersenyum geli. “Lo belom pulang?”
“Aku yang duluan nanya, jadi jawab dulu baru tanya balik.”
“Gue nggak apa-apa. Si Bima nuduh gue nyogok buat menangin tender yang sebenarnya gue yakin itu alasan aja. Kalau gue nggak ngapa-ngapain dituduh sembarangan lo pikir aja sendiri, itu cari gara-gara apa bukan.”
“Mas nggak ditinju lagi kan?”
“Kelihatannya?”
Detik berikutnya Awan menyesali yang baru saja diucapkan. Dita mendekat dan memeriksa seluruh tubuhnya, mencari dengan saksama adakah luka atau lebam di tubuhnya.
“Gue baik-baik aja, Dit,” tepis Awan akhirnya.
Dita mencebik, merasa belum selesai memeriksa keadaan saudaranya. “Itu kenapa sih, si Bima modelnya begitu? Kayak kurang kerjaan.”
“Efek samping bucin ditambah obsesi kayaknya.”
“Hah?” Dita melongo.
Awan pun menjelaskan bahwa sebenarnya Bima menyukai Keina. Dia nenceritakan kedekatan di antara mereka yang sudah terjalin dari ketika mendiang saudara Keina masih hidup. Dita mengnagguk-angguk sekaligus merasa tidak ikhlas kakaknya dipukuli dan direndahkan.
“Harusnya, kalau kalah saing, ya usaha, jangan cari gara-gara. Lagian, dia nggak mampu kenapa jadi menyalahkan kepandaian orang lain?” gerutu Dita.
“Udah nggak perlu ngomel-ngmel gitu,” potong Awan sambil mengacak lembut rambut adiknya.
Dita terkejut dan menoleh. Ditatap sang adik, Awan tersadar dia bersikap seperti dirinya barusan. Detik berikutnya, Awan menoyor kepala Dita. “Kesambet ni anak.”
Wajah Dita cemberut kala mengusap kepalanya. “Udah tua masih nggak berubah!”
“Biarin!”
“Oh iya, Kak, main ke rumah, yuk!” ajaknya tiba-tiba.
“Tumben baik.”
Dita mencebik. “Udahlah, nggak usah banyak protes. Ikut aja!”
Dita menarik Awan, tidak peduli akan penolakan atau sejenisnya. Awan bahkan tergopoh mengambil jas karena Dita tidak mau melepaskan tangan, terus menariknya ke luar.
“Ini gue ditarik-tarik gini, awas aja kalau nggak dijamu dengan baik.”
“Cerewet!”
Namun, Awan tetap mengikuti kemauan adiknya itu. Dia membiarkan Dita menyeretnya. Perempuan berambut lurus dalam balutan setelan kerja berwarna khaki itu dengan santainya memerintah Yoko yang dilihatnya mendekat kala mereka berada di depan ruangan. Dengan sigap Yoko menerima perintah setelah mendapat anggukan dari Awam. mengambil tas kerja Awan, lalu menyiapkan mobil untuk mengantar mereka ke rumah Dita.
“Nolan mana?” tanya Awan ketika mobil sudah mulai jalan, keluar dari area parkir kantor.
“Katanya mau lembur.”
“Jadi, lo ngundang gue karena kesepian?”
Dita menatap tajam, disambut gelak tawa Awan. Dia kemudian bersedekap, memasang wajah cemberut.
Biasanya, di saat seperti ini, ketika Dita merasa kesal dengan Elang, Awan akan menjadi penyelamat yang membujuknya dan mendamaikan mereka berdua. Karena kali ini dia harus bersikap seperti Elang, Awan tidak bisa melakukannya.
“Cemberut gitu, apa berarti nggak jadi ngundang ke rumah? Malesin juga sih kalau tuan rumahnya jutek!”
Dita melirik tajam sambil mengatur napas. Dalam hati, sebenarnya dia tidak benar-benar marah. Dia dan Elang memang seperti itu sejak dulu, terlihat tidak akur padahal saling menyayangi dan peduli.
“Kapan ya, Mas Awan bisa main ke sini? Kangen juga rasanya.”
“Kenapa nggak kita aja yang main ke sana?”
Mata Dita berbinar mendengar ucapan Elang. “Bener juga ya. Tumben bener ngasi ide,” ledeknya.
“Tapi nggak bisa sekarang-sekarang juga. Gue sibuk.”
“Cih! Emang nggak bisa dipuji nih, orang.”
“Gue juga nggak minta dipuji, kok!”
Bibir Dita kembali mengerucut. Selebihnya, dia diam dalam perjalanan. Awan menghanyutkan diri dalam lamunan, melihat ke arah jalan tetapi tidak memperhatikan apapun.
Sesampainya di rumah, Dita menyajikan tiramisu dan es moka, memanggil rasa ngilu di gigi Awan. Namun, dia tidak bisa meminta minuman segar favoritnya.
“Udah dengar rapat dewan direksi dimundurin?” tanya Dita.
Dia duduk di sebelah Awan, mengambil piring kuenya dan memasukkan ke mulut dalam potongan kecil. Awan mengangguk. Dia bersyukur akan hal ini. Pemunduran waktu memberi saudara kembarnya kesempatan untuk hadir dalam rapat tersebut. Dia yang tidak pernah beambisi memimpin perusahana keluarga tentu akan memiliki pemikiran dan sikap sangat berbeda selama rapat. Elang harus hadir di sana.
“Aku ganti baju dulu, ya. Mas santai-santai aja.”
Sepeninggalan Dita, Awan melihat-lihat pajangan. Dia memberi perhatian khusus pada barang-barang berbahan kayu. Ketika melihat tumpukan album, Awan mengambil beberapa dan membawanya ke meja.
Di sana, terdapat album khusus keluarga mereka. Foto-foto dari masa kecil mereka bertebaran. Awan tersenyum geli karena tidak banyak foto yang menampilkan keluarga harmonis seperti foto yangh dipajang di ruang tamu dalam ukuran besar. Rata-rata foto tersebut menampilkan pertengkaran kecil Dita dan Elang. Dalam banyak foto, Elang terlihat menjahili Dita dan membuatnya marah. Sebagian kecil menampilkan Dita tersenyum jahil atau tertawa lepas karena bisa membalas Elang.
Sementara dirinya, selalu menjadi orang yang terbahak melihat ulah keduanya atau penengah di beberapa potongan gambar.
Dita kembali ketika Awan masih senyam-senyum melihat foto mereka. “Lihatin apa sih, segitu lucunya?” tanyanya ketika sudah duduk di sebelah Awan.
“Pantesan ya, Mama kesulitan milih foto buat dipajang. Setelah kulihat-lihat, foto kita banyakan nggak benernya.”
“Ya, itu kan karena Mas, kenapa jahil nggak ada habisnya?”
“Ini nih. Lihat! Kamu jelek banget rambutnya berantakan.”
Dita memukul lengan saudaranya, Awan terbahak menatap foto yang walau sudah dipaksakan orang tua mereka untuk diambil di studio tetap saja tidak menjamin hasilnya akan bagus.
“Kamu juga, culun banget. Tiap hari pakai bando besar begitu ke mana-mana,” tunjuk Awan pada slah satu foto.
“Eh, tapi, Mas, bahas culun, ada yang lebih culun lho, dari aku.”
Dita memeriksa tumpukan yang berada di atas meja. Tidak menemukan yang dicari, dia menuju rak yang menyimpan album foto.
“Nih, culun kan?” Dita datang dan memperlihatkan sebuah foto di buku tahunan.
Tanpa perlu Awan tanya, Dita sudah menjelaskan bahwa itu Nolan. Awan mendengarkan cerita Dita sembari membuka-buka halaman buku tersebut.
Di sana, ditampilkan berbagi macam foto, dari kegiatan serius seperti ekskul hingga foto-foto santai dan lucu yang menampilkan keakraban siswa-siswa. Ketika melihat-lihat, mata Awan bersirobok pada sosok yang terlihat familiar. Dia memperhatikan dengan saksama.
Dalam benaknya, Awan merasa mengenali sosok tersebut.