Petunjuk?

1020 Kata
Awan memperhatikan foto dengan teliti sembari berusaha mengingat-ingat kenapa wajah itu terlihat amat familiar. Dia yakin mengenali pemilik rambut pendek dan wajah tirus di foto itu. Lama Awan menatap sampai tidak menyadari Dita sudah kembali duduk di sebelahnya. “Kenapa sih, Mas, serius amat?” Awan menyodorkan buku tahunan pada Dita, menunjuk foto yang baru saja menarik perhatiannya. “Kita kenal nggak sama orang ini?” Dita menggeleng. “Seingatku kita nggak pernah gaul sama anak sekolahnya Nolan waktu zaman sekolah. Lagian, beda Angkatan juga kan?” “Yakin? Aku kok ngerasa nggak asing sama muka ini. Kayak pernah ketemu di mana gitu.” Dita ikut memperhatikan foto tersebut lebih teliti. “Bentar, kita cek halaman data siswa.” Dita membuka halaman yang menampilkan data siswa beserta pas foto. Di sana terdapat data umum seperti nama, tanggal lahir, alamat, kelas, juga terdapat tambahan seperti moto atau pesan buat sesama teman seangkatan atau adik tingkat. Dita membolak-balik halaman data, membandingkannya satu per satu dengan foto yang tadi mereka perhatikan. Pada sebuah foto, perempuan itu berhenti, berkali-kali membandingkan. Dia memberikan kembali buku tahunan setelah yakin itu merupakan orang yang sama. “Ini, Mas. Kayaknya ini, nih, orangnya.” Awan memperhatikan foto tersebut. Wajah tirus yang sama dengan potongan rambut sedikit lebih pendek dibandingkan foto sebelumnya. Dia sama yakinnya dengan Dita, itu merupakan orang yang sama. Awan membaca sekilas data. Di sana tertulis datanya seperti yang lain ditambah sebuah pesan cinta. Pria tersebut menuliskan kata manis dan harapan selalu bersama untuk orang yang menjadi kekasihnya kala itu. Andre Murdiansyah, nama yang tertera pada datanya. Seketika, Awan ingat kenapa wajah ini familiar sekaligus asing. Pria di foto itu kini sudah tidak sekurus itu. wajah tirus di dalam foto sudah lebih bulat. Rambut lurusnya tidak lagi terlihat jelas karena potongan cepak yang dimiliki di video rekaman yang Awan lihat. Ya, dia merupakan orang yang berada dalam salah satu video rekaman yang dilihatnya di kantor polisi beberapa hari lalu. Namun, Awan tidak mau bertindak gegabah. “Kenal Mas?” tanya Dita yang melihat Awan terdiam. Awan menggeleng. “Nggak yakin sih. Udahlah, mungkin aku salah ingat orang.” Agar tidak menimbulkan kecurigaan, dia mengirimkan pesan pada Yoko untuk menghubungi Dex, mengecek pria bernama Andre Murdiansyah tersebut. Setelah mengirim pesan, Awan kembali mengobrol dengan Dita seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak lama kemudian, Nolan kembali. Dita menyambut hangat, memeluk dan mengambil tas yang berada di tangan sang suami. “Aku antar ini bentar ya, Mas,” ujarnya seraya menaikkan sedikit tas. Nolan melemparkan senyum, mengikuti langkah istrinya. Ketika Dita kembali menemui Awan, dia tidak langsung ke ruang keluarga. Dita menyampaikan jika Nolan ingin mandi terlebih dahulu. Awan mengangguk sekilas. Dia membuka album foto lain, sengaja menaruh buku tahunan Nolan di tumpukan paling atas. Ketika sedang mengomentari foto ketika dia dan saudaranya masih kecil, Nolan datang. Dita meninggalkan Awan dengan Nolan karena ingin mengambilkan minuman juga kudapan untuk suaminya. Awan sengaja tidak memulai pembicaraan, bersikap sibuk memperhatikan album. “Udah lama?” Nolan memulai percakapan. “Nggak juga. Ini baru album ketiga.” Awan sengaja menyebut kata album agar Nolan melihat tumpukan di meja. Pancingannya berhasil, Nolan memang langsung melihat tumpukan yang Awan maksud. Awan melirik memperhatikan Nolan sambil berpura-pura melihat album yang dia pegang. Nolan yang tadinya santai tiba-tiba mematung menatap buku tahunannya, wajahnya berubah serius untuk sesaat, tetapi kemudian dia segera menetralkan kembali mimik wajahnya. “Ini kenapa ada di sini?” Suara Nolan terdengar sedikit gugup. “Aku yang nunjukin ke Mas Elang,” seloroh Dita yang berjalan mendekat. “Mau lilhatin muka culun kamu.” “Kamu bikin malu aku aja.” “Sama Mas Elang juga.” Dita menepuk paha Nolan setelah mengambil tempat di sebelah suaminya. “Cocok. Sama-sama mantan anak culun,” sahut Awan. “Please deh, Mas.” Awan ingin mengambil buku tahunan, tetapi Nolan sudah lebih dulu menyambarnya. “Ini aib banget. Kayaknya lebih baik aku simpan.” Dita tergelak melihat suaminya yang salah tingkah, menaruh kembali buku tahunan di rak. Meskipun sikap Nolan terlihat wajar bagi Dita, Awan mengartikan sebaliknya. Dia merasa Nolan sengaja menjauhkan buku tahunan darinya. Sungguh demikian, Awan masih tidak memiliki kecurigaan berarti terhadap Nolan. Selain itu, dia belum bisa memastikan apakah pria dalam foto buku tahunan Nolan memang orang yang berada dalam video rekaman polisi yang dilihatnya Jumat lalu. “Kenapa malu sih? Itu kan memang kamu.” Dita beranjak, ingin mengambil kembali buku tahunan. Nolan menghalangi dengan cara merangkul istrinya. “Bukannya lebih baik lihat aku yang sekarang?” “Kayaknya gue ganggu. Balik, ya,” potong Awan sembari berdiri. “Lho, Mas, kok pulang? Makan malam dulu di sini.” “Lain kali aja. Kasihan juga Yoko, dia pasti mau istirahat,” tolak Awan sambil menunjuk ke arah depan. Pria yang dimaksud memang berada di teras sedari tadi. Dita sudah menyuruh pelayan menjamu Yoko di luar karena dia tidak mau masuk ketika ditawarkan. “Mau makan di mana? Kalau di apartemen kan sendirian, mending di sini bareng kita.” “Udahlah, Sayang,” cegah Nolan. “Belum tentu juga Mas Elang makan sendirian, mana tahu dia ada janji sama Keina.” “Gitu, Mas?” Awan tidak memberikan jawaban apapun, membiarkan Dita menginterpretasikan sendiri apakah dia sebenarnya memiliki janji dengan Keina atau tidak. “Ya udah deh. Hati-hati ya, Mas. Lain kali ajak Kei makan ke sini.” Awan mengangguk. Sebelum keluar, dia menyempatkan diri menatap lekat Nolan. Awalnya Nolan tersenyum, tetapi kemudian senyum itu perlahan menghilang ketika Awan tidak membalas. Serta-merta, kegugupan menghampiri Nolan. Dia mempererat rangkulannya pada Dita, membuat istrinya menoleh. “Kamu kenapa? Sakit? Apa grogi dilihatin Mas Elang?” Dita menahan tawa ketika dilihatnya Nolan tersenyum kecut. “Kamu mau sampai kapan gugup gitu kalau dilihatin Mas Elang? kayak nggak tahu aja kalau emang mukanya suka sok garang gitu.” Nolan menimpali dengan senyum canggung. “Masih ngeri,” kilahnya. Ketika sudah berada di mobil, Awan menceritakan gelagat aneh Nolan pada Yoko. “Pak Nolan memang sering begitu sih, Pak. Dia seperti takut sama Pak Elang.” “Tapi tadi kayaknya beda, seperti ada yang berusaha dia sembunyikan,” tukas Elang. Apa memang ada yang Nolan sembunyikan? Awan membatin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN