“Kira-kira, kapan kita akan dapat kabar dari Dex?”
Dari balik kemudi, Yoko menjawab, “Dia bilang akan mengusahakan secepatnya. Dia akan menghubungi Bapak jika sudah mendapatkan informasi.”
Rasanya, waktu berjalan lambat karena kini Awan memiliki rasa penasaran yang besar terhadap Nolan. Adik iparnya telah berbohong padanya, memberi informasi berbeda dalam penyidikan dari yang dia ceritakan di kantor. Barusan, sikapnya juga sangat aneh.
Kala Dex menelepon sekitar pukul sebelas, Awan masih terjaga. Dengan sigap dia mengangkat telepon setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel. Sesuai dugaan, itu memang nama supir yang menabrak Elang.
“Dia merupakan teman seangkatan Nolan. Ketika SMA, mereka tidak akrab. Mohon maaf, saya kurang teliti karena informasi yang saya berikan sebelumnya hanya sampai orang-orang terdekatnya saja.”
“Jika begitu, berarti Nolan tahu bahwa temannya yang sudah menabrak Elang?”
“Kalau ini, akan saya cari tahu lebih lanjut. Saya akan mengabari Bapak jika sudah mendapatkan info yang akurat.”
“Kali ini, cari sedetail mungkin. Jangan tinggalkan informasi sekecil apapun.”
Ketika sambungan sudah ditutup, Awan menjadi tidak tenang. Dalam kepalanya, tiba-tiba terpikirkan hal buruk. Perlahan, titik-titik yang selama ini membuatnya bingung terangkai.
Sifat aneh Nolan yang tiba-tiba berusaha mengakrabkan diri pada Elang, panik saat melihatnya masuk kantor pertama kali, kebohongannya, juga kegugupan yang selama ini Awan lihat. Awalnya, dia berpikir Nolan memang merasa canggung dan agak takut pada Elang.
Kini, Awan memiliki pemikiran berbeda, pemikiran yang membuatnya gusar. Dia merasa Nolan terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Elang.
“Pantas saja selama ini tidak pernah ada bukti yang mengarah ke Bima. Sejak awal, memang bukan dia pelakunya.”
Awan mengenang kembali pertemuan pertama mereka ketika dia mulai menggantikan Elang. Hari itu, Nolan mengunjunginya ketika dia baru saja tiba di kantor. Adik iparnya terlihat gugup dan merasa bersalah. Dia baru sadar kalau itu terlihat berlebihan, Nolan menunggunya datang hanya untuk mengucap maaf.
Sekonyong-kongyong Awan teringat kala itu Nolan menyebut nama Bima. Fakta ini menohoknya, tanpa disadari dia telah terbawa opini Nolan untuk mencurigai Bima.
Pikiran Awan seketika tercerahkan, seolah ada pintu terkunci yang baru saja terbuka. Dia mereka kembali kejadian nahas itu berdasarkan semua informasi yang telah didapat, mengingat setiap percakapan bekaitan dengan orang-orang dicurigai juga mengingat gestur mereka ketika bertemu. Awan tertampar kembali ketika teringat sikap Nolan tetapi tidak pernah menganggapnya serius.
Perenungan kali ini memberikan pandangan baru. Namun, Awan tidak mau cepat mengambil kesimpulan. Terlebih, yang dicurigainya kini adalah adik iparnya sendiri. Jika memang Nolan pelakunya, dia harus lebih berhati-hati. Bukan hanya perusahaan, tetapi keuarganya akan terlibat lebih dalam di sini.
Keesokan harinya, ketika jam kerja sudah hampir selesai, Yoko masuk membawa beberapa data. Di sana, terdapat foto Andre yang Awan lihat dalam buku tahunan di rumah Dita. Selain itu, juga terdapat foto dengan latar ruangan polos. Awan ingat bahwa itu merupakan ruangan dan pakaian yang sama yang dia lihat dalam rekaman polisi.
Tidak lama berselang, telepon dari Dex masuk menanyakan data yang dia kirim. “Sebagai info tambahan, Pak. Andre sempat bertemu Nolan di kantor polisi tetapi mereka tidak saling sapa. Mereka bersikap seperti tidak saling kenal atau seperti tidak melihat satu sama lain.”
Menarik. Awan semakin penasaran kenapa mereka harus bersikap seperti itu. Mungkin memang mereka tidak saling kenal karena sudah mengalami perubahan penampilan, tetapi bukankah aneh jika merasa tidak kenal sama sekali? Apalagi, Awan lihat Nolan tidak punya masalah dalam bergaul.
Awan terpikir untuk meneliti kembali sikap Nolan. Namun, dia bingung bagaimana harus melakukannya. Terlalu aneh jika dia datang kembali ke sana.
Awan lalu teringat Keina dan undangan makan malam dari Dita. Dia yakin Keina tidak akan menolak jika diajak menemui Dita. Awan pun menghubungi Dita dan menanyakan apakah undangan makan malamnya masih berlaku.
“Tumben, Mas?”
“Jadi, nggak jadi ngundang, nih?”
“Ya nggak gitu. Cuma aneh aja. Mas biasanya nggak menawarkan diri kayak begini.”
“Mungkin kamu mau lebih akrab sama Keina,” tandasnya.
“Kalau itu sudah jelas. Aku penasaran kenapa dia sampai sekarang betah sama Mas.”
“Tanya aja sendiri nanti. Jadi, malam ini ya?”
Awan menutup telepon ketika Dita memastikan malam ini bisa menerima kedatangannnya dan Keina. Dia kemudian mengirimkan pesan pada Keina.
Malam ini diundang Dita makan malam di rumahnya. Mau?
Tidak sampai sepuluh menit jawaban sudah masuk ke ponsel Awan. Dita menerima ajakan tersebut, berkata akan ke kantor sepulang kerja. Awan melarang dan berkata akan menjemputnya. Pesan pun penuh dengan stiker percakapan bernuansa penuh cinta.
Awan tidak punya pilihan lain sekarang. Melibatkan Keina merupakan cara tercepat masuk kembali ke rumah Dita tanpa dicurigai.
Pukul lima Dita menanyakan kapan Awan akan menjemput. Setelah membalas pesan, Awan menyampaikan pada Yoko untuk mengambil mobil dan menjemput Keina. Dia juga meminta kemeja cadangan dari pria tersebut.
Telepon berbunyi menampilkan nama Keina ketika Awan akan turun. Dia tampil cantik dengan gaun bahu terbuka.
“Cantik,” komentar Awan ketika Keina menanyakan pendapatnya. “Tapi bisa ganti nggak dengan yang lebih tertutup?”
“Dulu-dulu juga nggak pernah protes. Kakak kenapa sih?”
“Malam ini dingin,” tukas Awan.
Keina tersungut sembari berjanji akan memilih pakaian lain. Ketika sambungan telepon video putus, Yoko mengabari sudah menunggu di pintu depan kantor.
“Sepertinya, senang tidak senang, aku memang harus mencurigai Nolan,” celetuk Awan dalam perjalanan menjemput Keina. “Kita lihat dulu responsnya malam ini melihat kita kembali. Jika Nolan menunjukkan gelagat aneh, kita harus mencari tahu lebih dalam.”
Awan bermain-main dengan pikirannya selama sisa perjalanan. Dia memikirkan kemungkinan sejauh mana Nolan terlibat. Jika memang dia, apakah adik iparnya itu bekeja sendiri atau mengikuti perintah orang lain.
Dalam hati, Awan berharap itu merupakan perintah orang lain meskipun kemungkinan Nolan otak dari semuanya tetap ada. Setelah kesalahan karena terlalu memaksakan menunjuk pelaku, kini Awan merasa harus membuka diri untuk segala kemungkinan, suka atau tidak dengan fakta yang ada.
Namun, terlepas dari semua hal, dia menerka-nerka apa sebenarnya motif Nolan melakukan hal tersebut. Selama ini, hubungan mereka baik-baik saja. Pertengkaran kecil antar saudara pasti terjadi, tetapi baik dia, Elang, maupun Dita selalu berbaikan setelah selisih paham. Seharusnya, itu tidak menjadi alasan Nolan sengaja mencelakai Elang.
Satu pertanyaan menggantung selama perjalanan. Sebenarnya, apa yang membuat Nolan akhirnya berbuat seperti itu?