Tertangkap?

2048 Kata
Ketika tiba di rumah Keina, gadis itu menyambut Awan riang. Pakaiannya sudah berganti dengan gaun mini kerah kimono berpotongan A-line. Awan masih dapat melihat belahan dari garis kerah yang rendah, tetapi dia harus menghargai Keina yang sudah berganti pakaian untuknya. “Kenapa?” Keina menyadari Awan memperhatikannya. “Ini udah yang paling panjang lho, bawahannya,” tambah Keina. Awan memperhatikan bagian bawah rok. Keina benar, ini memang bawahan paling panjang selama Awan bertemu dengannya, sekitar lima sentimeter di atas lutut. Dia mengangguk pelan lalu mempersilakan Keina masuk ke mobil. “Ada acara apa, Kak?” “Dita ngundang makan malam. Mau lebih akrab sama kamu, katanya.” Keina menatap Awan lekat. Matanya berbinar. “Kak, kamu akhir-akhir ini kenapa jadi manis gini ya?” “Ko, kita putar balik aja,” perintah Awan tiba-tiba. “NO! jangan!” Keina mendelik Awan tajam. “Aku bukannya nggak suka, tapi Kakak baik gini nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku kan? Atau jangan-jangan Kakak tiba-tiba mau putusin pertunangan kita?” Wajah Keina kontan berubah khawatir. Dia menggigit bibir, menunggu jawaban dari pria di sebelahnya. Awan pura-pura tidak mendengar pertanyaan Keina. “Kak, jawab dong!” Gadis itu menggoyang-goyangkan lengan Awan. “Nggak ada, nggak.” “Bener ya?” “Ko−” “Nggak, nggak. Aku nggak pelu nanya lagi. Udah jelas.” Diam-diam Awan tersenyum geli. Terkadang, mengerjai Keina bisa sangat menghibur. Apa ini salah satu yang membuat Elang menahan Kei tetap di sisinya? Gadis ini, walau kesal, tetap tidak beranjak dari sisi Elang. Dita dan Nolan menyambut hangat kedatangan Keina di kediaman mereka. Dita memberikan pelukan hangat dan mereka langsung akrab ketika mengobrol dan menunggu asisten rumah tangga menyiapkan meja. “Aku udah lama banget pengin ketemu langsung buat ngobrol kayak gini sama kamu. Sayang,” Dita menunjuk Awan dengan dagu, “ada orang yang banyak alasan tiap aku minta ajak kamu ke sini.” “Iya, Mbak. Aku juga masih nggak percaya, tiba-tiba Kak Elang kirim pesan bilang Mbak ajak ke mari.” Dita protes karena Keina terus memanggilnya Mbak. “Panggil pakai nama aja.” “Tapi kan Mbak Dita memang lebih tua dari aku.” “Tapi nantinya kamu bakal jadi kakak iparku. Masa iya adik ipar panggil aku Mbak.” “Ya udah kalau gitu. Tapi bener ini nggak apa-apa kupanggil Dita?” “Kan aku yang minta.” Awan memperhatikan interaksi antara Keina dan Dita. Dia melihat gambaran tersebut akan sempurna jika ditambah ibu mereka dan istrinya. Awan berharap dia bisa hadir sebagai Awan agar bisa membawa Liana dan bercengkerama bersama. Dita mengajak Awan dan Keina ke meja makan ketika salah seorang asisten rumah tangga menyampaikan meja telah siap. Dia juga memanggil Nolan yang tadi pamit sebentar ke ruang kerjanya. “Btw, Kei, kamu kenapa betah sih, sama Mas Elang? jutek gitu!” ketus Dita. Awan mendelik, pura-pura marah. Melihat saudaranya, Dita malah terkekeh. “Tuh, kamu lihat. Gurau dikit aja langsung emosi.” “Kenapa ya? Suka aja, sih.” “Baiknya apa sih? Sama adik sendiri aja kejam gitu.” “Ada dehhh. Nanti aku cerita kalau nggak ada orangnya.” Awan tiba-tiba berdiri, membuat Keina blingsatan. Ketika gadis itu menahan tangan Awan, dengan santai dia berkata, “Aku mau ke toilet.” Wajah Keina tiba-tiba merah karena malu, sementara Dita tertawa lepas. “Bilang aja kesel, tapi nggak mau ngaku,” teriaknya. Selama makan malam Awan membiarkan para wanita mendominasi percakapan. Sepertinya, dia dan Nolan memiliki telepati. Pria di depannya juga melakukan hal yang sama, tidak menginterupsi atau mencampuri percakapan jika tidak ditanya. Namun, selama makan malam berlangsung, Awan sengaja menunjukkan pada Nolan kalau dia memberikan perhatian lebih pada adik iparnya itu. Nolan jadi serba salah. “Tendernya kapan akann ditandatangani?” tanyanya. Suara Nolan terdengar bergetar. “Minum dulu,” putus Dita. Dia menyerahkan gelas air putih pada suaminya. “Kalau nggak ada hambatan, minggu depan.” Nolan mengangguk, lalu menekuri makanannya. Ketika Awan bertanya mengenai barang di gudang setelah memberikan jeda beberapa detik, Nolan kaget. Dia menjatuhkan garpu. Semua orang menatap Nolan. Dita menggenggam lembut tangannya. “Kamu nggak apa-apa? Kalau nggak enak badan, habis ini langsung istirahat aja.” Awan menggeleng pelan pada istrinya, kemudian menoleh ke arah Awan. “Stok gudang aman.” “Siap-siap memasok lebih banyak bahan mentah. Nanti aku mau cek kualitas karena kerja sama ini penting. Bisa jadi kerja sama jangka panjang kalau kita memberikan yang terbaik.” Awan kembali diam, menekuri makan malam, sesekali memberikan komentar atau menjawab pertanyaan Dita dan Keina. Namun, dalam diam, dia merasakan kegelisahan Nolan. Kala dia melayangkan pandangan ke arah adik iparnya itu, Nolan sering kali menunduk, sesekali dia akan menoleh ke istrinya atau menenggak minumannya. “Lihat kan? Kakakku yang satu ini tuh, kalau nggak kaku, ya menyebalkan.” Lagi-lagi, Dita berkomentar melihat Awan kembali diam dalam jangka waktu yang menurutnya lama setelah berbicara seadanya dengan Nolan. “Kalau aku jadi kamu, pasti lebih pilih Mas Awan ketimbang Mas Elang. Toh, mukanya sama.” “Emang Mas Awan orangnya kayak gimana? Aku belum pernah ketemu. Kak Elang juga nggak banyak bahas itu.” “Mas Elang nggak pernah cerita tentang Mas Awan?” Mata Dita membulat tidak percaya. “Pernah, tapi nggak banyak. Kamu sendiri pasti tahu gimana susahnya dapat cerita panjang dari Kak Elang.” Keina melirik Awan, kemudian merangkulnya. “Tapi aku suka, kok. Nggak apa-apa. Nanti juga aku bakal tahu lebih banyak. Iya kan, Kak?” Kerlingan manja Dita Awan timpali dengan senyum sekilas, memancing Dita semakin berkomentar. “Tuh, kayak gitu emang dia. Sayangnya, Mas Awan udah nikah. Kalau aku mesti sodorin saudara ke orang, ogah ngenalin yang ini.” “Gue bukan barang,” celetuk Awan. “Disodorin juga nggak ada yang mau, kok,” cibir Dita. “Perlu gue buktiin?” tantang Awan dengan gaya khas saudara kembarnya. “Jangan! Oke, udah ya. Kalau Kakak tebar pesona terus ada yang naksir nanti aku yang sedih,” keluh Keina. Refleks, Awan tersenyum lalu mengacak rambut Keina. Dita melongo. Dia yakin tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Elang. saudara tertuanya itu selalu menggunakan cara yang terkesan kasar, bahkan ketika menunjukkan bahwa dia peduli. Berbeda dengan Awan yang bisa mengekspresikan dengan cara lembut yang membuat orang di sekitarnya nyaman. Dita menggeleng. Pikirnya, itu pasti perlakuan spesial karena Keina merupakan tunangannya. Dari sana, dia menyimpulkan bahwa sebenarnya Elang juga menyukai Keina. Otak jahilnya kembali bekerja. “Kei, Mas Elang nggak pernah bilang sayang atau apa gitu?” Keina menaikkan bola mata, berusaha mengingat, lalu menggeleng. “Tapi nggak apa-apa sih, yang penting Kak Elang masih sama aku.” “Nggak kepikiran kenapa masih betah sama kamu?” “Iya ya? Kenapa, Kak?” Keina menatap Awan. Pria yang ditatap bingung harus berkata apa. Meskipun berhasil menebak perasaan Elang yang sesungguhnya terhadap gadis yang sedang menatapnya, Awan tidak yakin kalimat yang dia ucapkan kali ini akan mewakili Elang. “Kalau dipikir-pikir, selama ini Kakak biarin aku bersikap sesukanya. Jadi, aku berkesimpulan Kakak nggak keberatan.” “Sayang,” celetuk Dita. Awan dan Keina menoleh padanya. Mata Dita berkilat jahil menatap Awan. Dia tersenyum manis pada Keina, membuat gadis itu memiringkan kepala karena penasaran. “Mas Elang sayang sama kamu, Kei. Walau nggak ngomong, aku yakin. Kamu sukses bikin dia betah sama kamu.” “Masa sih? Berarti bukan cuma aku dong, yang nggak mau kehilangan?” Dita melemparkan senyum manis. “Kalau nggak percaya, coba aja cari gebetan baru.” “Jangan kasi Kei ide aneh,” geram Awan. “Tuh, lihat kan?” Dita terbahak, merasa menang karena menemukan kelemahan Elang. Dia mendekati Keina, melingkarkan tangan ke bahu gadis itu. “Aku yakin seratus persen Mas Elang sayang sama kamu. Kalau ada apa-apa, merasa ragu dan perlu bantuan, cari aja aku. Kalau sekadar mau curhat-curhat aja juga boleh. Aku pasti bantu.” Keina menoleh Dita lalu Awan. Dia merasa bahagia menemukan teman yang bisa membantunya menghadapi pria yang dicintai, tetapi dia juga memiliki keraguan itu akan semakin mendekatkan dirinya dan Elang. Selama ini, meskipun Elang pasif, dia tidak pernah merasa kecewa berlebihan pada tunangannya. “Akrab silakan, tapi lebih baik nggak minta saran dari Dita,” jawab Awan yang memahami makna tatapan Keina. Dita yang merasa mendapatkan jackpot semakin bersemangat. Begitu makan malam usai, dia menarik Keina ke ruang keluarga untuk mengobrol lebih akrab. Nolan dan Awan mengikuti langkah mereka. Awan sempat melihat keraguan tergambar dari sikap adik iparnya itu. Nolan menatapnya dan Dita bergantian, dia juga sempat terlihat akan melangkah ke kamar, tetapi akhirnya mengekor sang istri ke ruang keluarga. Di ruang keluarga, Nolan mengambil tempat di kursi ottoman yang terletak di dekat Dita. Awan duduk di sofa tunggal yang letaknya berseberangan dengan kursi ottoman tersebut. Apabila Nolan duduk menghadap meja, mereka akan saling berhadapan. “Mau lihat foto aib Mas Elang nggak?” tawar Dita. Dia dengan bersemangat mengambil asal beberapa album di rak. Awan melihat buku tahunan terselip di antaranya. Ketika Dita meletakkan di meja, dia tahu bahwa Nolan juga menyadari hal tersebut. Awan pura-pura tidak tertarik pada sikap Nolan yang melihat buku tahunan, membalas ocehan-ocehan Dita kala menjelaskan kenapa foto keluarga mereka lebih banyak jelek daripada bagus. “Lihat nggak kuncirku tinggi sebelah? Itu karena ditarik sama Mas Elang.” Bibir Dita mengerucut. “Lagian, ngapain sih, bikin kuncir-kuncir tinggi gitu. Sok imut banget.” “Tapi emang kelihatan imut, Kak, rambutnya dikuncir dua tinggi begitu,” bela Keina. Awan melirik Nolan yang senyum-senyum melihat mereka. Sungguh demikian, kegugupan Nolan terbaca oleh Awan. Wajahnya tidak terlihat rileks ketika tersenyum. Pria berkaca mata itu terlihat berkali-kali menggosokkan tangan ke paha. Awan tiba-tiba teringat sudah beberapa kali melihat Nolan memainkan kampuh celananya. Berarti, kala itu dia gugup, simpul Awan dalam hati. Nolan sepertinya sudah tidak bisa menutupi diri. Dia pamit pada Dita dan yang lain dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaan ke ruang kerja. “Gue mau cek stok sebelum pesanan baru kita datang. Nanti bakal datang banyak, takutnya kecampur karena gudang penuh dan gue malah bingung,” dalihnya. Awan mengangguk, tidak melepaskan pandangan dari Nolan. Dita tersenyum lembut, memuji suaminya yang rajin. “Nanti aku panggil kalau Mas Elang sama Keina mau pulang,” timpal Dita. “Ini aku ambil, ya. Nanti kamu malah buka aibku, bukan Mas Elang.” Dita tertawa melihat Nolan mengambil buku tahunan dan membawanya ke ruang kerja. “Padahal, aku nggak kepikiran tadi. Kenapa dia malah kasi ide? Tapi, bukunya udah dibawa. Lain kali aku tunjukin, ya,” jelas Dita pada Keina. Dalam pandangan Dita dan Keina perilaku Nolan sangat wajar, dia memberikan alasan tepat untuk menyingkirkan buku tersebut dari meja. Namun, bagi Awan itu merupakan tanda bahwa Nolan merasa khawatir. dia sengaja membawa buku tahunan agar Awan tidak bisa membukanya lagi, seperti sebelumnya. “Kita pulang?” tanya Awan tiba-tiba. Nolan masih seperempat perjalanan menuju ruang kerja. “Lho, kok buru-buru? Masih banyak yang bisa aku lihatin,” protes Dita. “Nanti kamu kehabisan bahan kalau malam ini ditunjukin semua,” kelit Awan. “Bener juga.” Dita lalu menatap Keina. “Main-main lagi ke sini, ya. Bobroknya Mas Elang dan saat ini cuma aku saksinya. Jadi, kalau mau tahu banyak sering-sering ke sini.” Nolan masih setengah perjalanan sampai ke depan pintu ruang kerja ketika Dita memanggilnya. “Kerjanya pending sebentar, ya. Mas Elang sama Keina udah mau pulang.” “Sebentar.” Nolan bergegas memasuki ruang kerja, keluar beberapa saat kemudian tanpa buku tahunan. Sekali lagi, gelagatnya menjauhkan buku tahunan terbaca oleh Awan. Sudut bibir Awan naik sebelah, merasa lucu dengan sikap Nolan yang kini mudah terbaca. Ketika Nolan sudah dekat, Awan berdiri. Keina dengan sigap merangkul lengannya. “Kita pulang dulu,” ujar Awan pada Dita dan Nolan. “Terima kasih undangan makan malamnya. Jangan jera undang aku,” tambah Keina. Dita membalas dengan anggukan kecil penuh semangat. Dia kemudian merangkul Keina seraya berkata senang bisa akrab. Tidak lupa, Dita menambahkan dia merasa akan bisa cocok bersahabat dengan Keina, menimbulkan ide untuk sesekali minum bersama yang disambut antusias oleh Keina. “Jangan lupa, lain kali tunjukin b****k laki lo, jangan gue,” usul Awan. “Nanti lo malah dikira fans, bukan saudara.” “Dih, kepedean!” tegas Dita. Awan melirik ke arah Nolan, sempat menangkap gertur tidak nyaman ketika dia menyinggung kebobrokannya yang secara tidak langsung membahas buku tahunan. Awan semakin yakin Nolan menyembunyikan sesuatu darinya, dalam hal ini Elang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN