Tiga Pilar

2052 Kata
“Kak, terima kasih ya malam ini. Kakak tahu? Ini tuh, momen berharga buat aku, bisa akrab sama anggota keluarga Kakak.” Awan asal mengangguk. Pikirannya masih terfokus pada gelagat Nolan selama makan malam. Dilihat sekilas, memang terlihat wajar, tetapi apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh, terlihat respons-repons tidak sesuai. Awan membuka percakapan dengan Yoko ketika Keina sudah tidak ada lagi di mobil. “Harus kuakui, Nolan mencurigakan. Aku selama ini kurang memperhatikan karena lebih fokus pada Bima hanya karena motifnya cocok dengan gambaran di kepala.” “Mau gimana lagi, Pak, melihat yang memang mau dilihat memang lebih mudah daripada melihat sekitar tanpa tahu tujuan jelas apa yang mau dilihat.” Yoko benar. Selama ini gerak-gerik Bima lebih terlihat mencurigakan karena Awan menduga dia adalah dalang dibalik kecelakaan Elang. Padahal, Nolan juga menunjukkan polah yang sama, tetapi luput dari pandangan karena dia merasa tidak perlu memberi perhatian lebih pada gelagat adik iparnya itu. “Yang paling terlihat dari semuanya adalah sikap Nolan dalam melindungi buku tahunannya. Kalau dipikir-pikir, dia tidak tahu apa yang kubahas dengan Dita kemarin. Tapi, begitu sadar kami membuka buku tahunan, dia bersikap protektif.” Dari sana Awan yakin ada yang berusaha dia tutupi. Jika merasa Awan belum menemukannya, Nolan pasti berusaha agar Awan tidak tahu apapun, itulah yang Awan pikirkan. Awan menyesal telah membuang banyak waktu menghabiskan kecurigaan yang salah pada Bima. Jika dia membuka mata dan telinga dari awal, pencariannnya saat ini pasti sudah jauh berkembang. “Sudah ada kabar terbaru dari detektif kita?” Yoko menggeleng sembari meyakinkan akan segera ada informasi lebih lanjut dari orang yang dimaksud. “Dari informasi yang saya dapat, Dex tidak pernah mengecewakan. Dia selalu bisa mendapatkan data yang dibutuhkan.” “Aku percayakan ini padamu. Kita beruntung karena rapat direksi diundur, semoga tambahan waktu ini cukup.” Hingga matahari menjelang, Awan masih belum mendapatkan kabar dari Dex, secara langsung maupun melalui Yoko. Dia berangkat dengan perasaan kurang bersemangat sekaligus harap cemas karena kali ini menanti jawaban yang akan memberikan efek berbeda jika memang kenyataan berkata demikian. Awan menyibukkan otaknya dengan pekerjaan. Ketika matahari sudah meninggi, ponselnya berdering menampilkan nama Gantari di layar. “Halo, Ma?” ucapnya lesu. “Wan, Mama barusan dapat telepon dari rumah sakit kalau Elang sudah siuman.” Kesuraman yang tadinya meliputi langsung sirna. Awan berbahagia, selain karena akhirnya saudaranya siuman dia juga bisa mendapatkan informasi akurat jika Elang sudah bisa ditanyai. “Mama sore ini mau ke sana? Kamu ikut?” “Jumat aja deh, Ma, aku ke sana. Sekalian nemenin Elang di akhir pekan. Kabar Papa gimana?” Awan mendengar desah berat di seberang sambungan. “Sebenarnya terapi Papamu berjalan baik, tapi karena memang kondisi fisiknya mulai menurun nggak bisa juga dibilang ada kemajuan.” “Wan, Dita mau ikut jenguk Papa. Gimana ya ini? Kalau dilarang nanti dia mikir aneh-aneh.” “Nanti aku coba hubungi deh, Ma. Kalau Dita maksa ikut, nggak usah jenguk Elang dulu, terus cepat pulang. Gitu aja. Daripada dia ngambek.” “Ya udah deh. Mama kemas-kemas dulu.” Awan menghubungi Dita, menjadikan pekejaan alasan untuk menyibukkan adiknya. Dia pura-pura tidak tahu jika Gantari menghubungi. “Gue butuh masukan dari lo,” jelas Awan di telepon. “Tumben-tumbenan.” “Kalau ada apa-apa sama gue, kan lo yang bakal gantiin.” “Mas, ngeri amat kalimatnya?” “Apanya yang ngeri sih?” tanya Awan bingung. “Kayak orang mau mati!” “Astaga! Misalkan gue nggak lagi di posisi sekarang, pasti banyak alasannya kan. Nggak cuma mati.” “Habisnya, belum lama kecelakaan lalu ngomong kayak gini, kan ngeri.” Dita meminta maaf karena sudah berpikiran buruk. Dia berjanji akan menemui Awan ketika semua pekerjaannya selesai. Awan menyampaikan hal tersebut pada Gantari dan mendapat balasan jika adiknya tersebut sudah menghubungi sang Mama dan membatallkan keikutsertaannya untuk menjenguk Ayah mereka. Sesuai janji, Dita menemui Awan sore harinya. Dia membawa beberapa kudapan manis untuk saudaranya. Awan mengernyit melihatnya. “Aku nggak secara khusus beli buat Mas, kok. Sekalian buat aku ini,” kilahnya ketika Awan menggoda sikapnya yang tumben-tumbenan baik padanya, sebagai Elang tentu. Awan tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang memiliki hal untuk dibicarakan dengan Dita terkait pekerjaan. Tidak terlalu penting, tetapi cukup untuk dijadikan alasan. Setelah diskusi mereka selesai, Dita menawarkan kudapan yang tadi dia bawa. Awan mengeluarkan piring dan sendok plastik dari laci, Dita meletakkan pastel daging dari dalam kotak, mengisi satu ke piringnya, dua ke piring Awan. Awan ingin bersyukur karena Dita sudah memilih penganan asin dan merasa giginya akan terselamatkan. Sayang, doanya tidak terkabul seratus persen. Dita mengeluarkan segelas plastik besar kopi hazelnut dingin dengan banyak krim di atasnya. “Gulanya udah ditambahin.” Kalimat tersebut bagai petir yang menyambar di siang bolong. Dengan menahan ngilu, Awan meminumnya. Manis yang memenuhi seluruh mulut membuatnya tidak tahan. Awan memaksakan diri meminum setengah isinya selama Dita berada di kantor. “Kayaknya lo nggak salah pilih pasangan,” celetuk Awan ketika sudah tidak sanggup meminum kopi dingin tersebut. Dia tahu bahasan tersebut akan menarik perhatian adiknya, membuat perempuan itu melupakan hal lain yang tadinya dia perhatikan. Benar saja, begitu mendengar kalimat Awan, wajah Dita berseri. Matanya memancarkan kebahagiaan dan semangat untuk membagi cerita. “Aku juga merasa gitu.” Awan tersenyum simpul mendapati perempuan berambut panjang itu berusaha menjawab dengan penuh wibawa. “Biasa aja kali sama gue.” Dita terkekeh, merasa malu dengan sikap sok dewasanya barusan. “Yang jelas, aku merasa beruntung ketemu dia, Mas. Rasanya, nggak sia-sia usahaku meyakinkan Papa kalau menikah dengan orang yang financially di bawah kita nggak selamanya merugikan dan hanya mau manfaatin kita.” Dita menceritakan kembali alasannya hingga yakin dan berjuang untuk bisa bersama Nolan. “Lihat sendiri kan, Mas? Dia selalu ada dan selalu dukung aku. Aku juga bisa pastikan kalau dia setia. No one is perfect, tapi dia buat hidupku terasa sempurna dengan hadirnya.” Awan pura-pura mual. “Nyesal gue nanya.” Dita membalas dengan pura-pura marah, memukuli lengan Awan. “Nanya-nanya aku, sama Kei kapan? Masih belum yakin?” “Nanti. Tunggu momen yang pas.” “Sok-sok cari momen pas. Nanti dia kabur, lho.” Awan mengedikkan bahu, bersikap tidak peduli. Bukannya tidak mau tahu, dia sendiri tidak tahu rencana apa yang Elang punya untuk gadis itu. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Karena itu, Awan hanya bisa bersikap seolah tidak peduli, seperti Elang yang sering kali terlihat santai padahal sudah memiliki rencana matang. Ketika Dita pulang, Awan kembali menyibukkan diri dengan urusan kantor. Setelah berpikir kembali, dia merasa perlu segera menemui Elang. Awan pun memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar bisa segera menemui saudara kembarnya. Malamnya, Awan menghubungi Liana. Dia menyampaikan rencananya tersebut apabila keesokan harinya belum ada kabar dari Dex. “Waktuku semakin sempit. Elang juga udah membaik. Semoga aja, sampai sana nanti Elang sudah bisa diajak komunikasi.” “Hati-hati, Kak.” Liana melihat raut wajah Awan. Meskipun suaminya diam, dia tahu itu adalah mimik yang biasa dia lihat ketika Awan sedang banyak pikiran. “Lagi mumet ya? Ada yang mau dibagi sama aku?” Liana bertanya dengan lembut. Awan mendesah. “Sepertinya, pelakunya Nolan, Li. Aku pengin masalah ini cepat selesai, tapi juga khawatir kalau ternyata memang benar. Dita bakal sedih nanti.” “Lalu, Kakak mau mundur kalau memang benar? Justru, kalau sayang Dita sama Nolan, Kakak harus ingatkan mereka kalau salah.” “Kamu benar, Li.” Awan mengacak rambutnya. “Aku serahkan ke Elang aja kali ya, nantinya gimana. Mau diselesaikan secara kekeluargaan atau hukum, biar dia yang tentukan.” Liana mengangguk setuju. “Kakak jangan terlalu banyak pikiran. Semua bakal baik-baik aja.” “Kayaknya, besok aku mau terbang ke sana aja dulu baru temui Elang,” kelakar Awan yang setengahnya merupakan isi hati. “Selesaikan dulu urusannya biar tenang pulang.” “I miss you,” ujar Awan kemudian. “I know. Ya udah, Kakak istirahat aja dulu. Semoga besok ada kabar baik.” Setelah mengangguk, Awan menutup sambungan sambil meng-amin-kan doa Liana. Semoga besok memang kabar baik yang menantinya. Paginya, ketika Yoko mengantarkan sarapan, Awan memberitahukan bahwa Elang sudah siuman. “Aku akan selesaikan pekerjaan minggu ini hari ini. Nanti malam aku berangkat ke sana. Jika ada hal mendesak, hubungi Bu Dita.” Awan tidak lupa menyampaikan pada sang Mama jika dia akan berangkat malam ini, meminta wanita itu menunggunya. Di kantor, Awan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Dia memanggil sekretaris, memastikan tidak ada jadwal penting yang mengharuskan kehadirannya besok. “Semua jadwal ini tidak mendesak kan?” tanya Awan ketika melihat jadwalnya besok. “Nggak, Pak. Yang ini hanya pemeriksaan rutin, yang satu lagi juga bisa dikonfirmasi ke klien jika Bapak punya urusan penting.” “Kalau gitu re-schedule semua. Yang ini,” tunjuknya pada salah satu jadwal, “aku bisa luangkan waktu hari ini kalau mereka siap bertemu.” “Baik, Pak, akan segera saya cek.” Ketika berita Awan akan pergi karena urusan mendesak sampai ke telinga sang adik, Dita menemuinya. Awan tidak menemukan alasan, jadi dia jujur mengatakan kalau ingin menyusul Gantari. Dita ingin ikut, tetapi Awan menolaknya. “Aku kan mau lihat Papa juga, Mas.” “Lo ke sana tunggu gue balik. Kalau pergi bareng, siapa yang berwenang yang bisa dihubungi di sini kalau ada apa-apa?” “Kalau gitu, aku duluan. Mas tunggu aku balik baru berangkat.” Awan tidak bisa menjelaskan kenapa urusannya lebih mendesak. Karena itu, dia mencari cara untuk membujuk Dita agar mau mengalah. “Kalau lo pergi sekarang, nggak bisa bareng Nolan, dia pasti ada kerjaan juga,” sanggah Awan ketika menemukan alasan tepat. “Mau dikatain nepotisme? Mentang-mentang suami, boleh izin seenaknya?” Dita terdiam dan berpikir. Awan mengambil kesempatan tersebut untuk membujuk adik perempuan semata wayangnya. “Kalau kalian pergi weekend, kan aman. Nggak perlu izin. Lo juga bisa sempetin refreshing ama Nolan di sana. Anggap aja honeymoon singkat.” Melihat wajah Dita melunak, Awan menambahkan, “Meskipun tiap hari berdua di rumah, pasti beda sama di luar.” Pancingan Awan berhasil. Dita yang tadinya ingin marah kini semringah. Wanita itu pun membiarkan kakaknya berangkat duluan, sementara dia menunggu besok atau pekan depan agar tidak mengganggu jam kerja. “Gitu, dong.” Awan mengacak rambut Dita yang kontan mendapat protes dari sang adik. “Rambutku jadi berantakan. Ini kan, di kantor.” “Mana ada yang berani protes sih?” “Protes sih, nggak, tapi bakal diomongin, jadi bahan gosip,” kilah Dita. “Emang penting? Mau diomongin apa juga, yang penting kan kualitas kamu.” “Mas kayak nggak paham aja.” Tentu Awan paham. Elang dan Dita, di mata sebagian orang, merupakan anak manja yang mendapat hak istimewa karena merupakan anak dari perintis Mahantari Group. Mereka dianggap menduduki jabatan sekarang karena lahir dengan menggenggam sendok perak. Padahal, perjuangan Elang dan Dita untuk sampai pada posisinya sekarang juga tidak mudah. Mereka kuliah di jurusan yang sesuai, dituntut memiliki nilai baik dan selesai tepat waktu. Dita bahkan membuang impian awalnya menjadi penyiar. Sedangkan Elang, dari kecil sudah dipersiapkan untuk ini. Syukurnya, Elang memang memiliki keinginan yang sama sehingga tidak perlu mengorbankan mimpi seperti Dita. Untuk hal ini, Awan sangat bersyukur bisa menjalani mimpinya. Karena sudah ada Elang yang meneruskan bisnis keluarga, dia diberi kelonggaran sebebas-bebasnya. Apalagi setelah Dita memutuskan untuk bergabung, kekhawatiran Wirya tentang usaha yang harus diserahkan pada orang luar semakin berkurang. “Mau orang ngomong apa juga, kemampuan lo nggak bisa diragukan. Dan lo udah berusaha keras untuk sampai ke sini.” “Mereka nggak akan mau tahu tentang itu.” “Mereka juga nggak perlu tahu kan? Yang penting, usaha lo sesuai. Lo mungkin dapat jabatan lo sekarang dengan berbagai kemudahan, tapi lo juga nggak seenaknya mentang-mentang dapat semua ini lebih mudah dari yang lain. Lo juga berkorban untuk ini.” “Tumben Mas, kalimatnya menghibur banget. Kayak Mas Awan aja,” celetuk Dita. Awan sempat tercekat, kemudian berusaha menetralkan suasana. “Kadang gue merasa lo cuma sayang sama Awan. Dia baik dipuji, giliran gue diginiin.” “Siapa bilang? Aku sayang semua, lah. Cuma emang Mas Awan lebih perhatian, nggak kayak Mas Elang yang hobi jahil.” Sekali lagi Awan mengacak rambut Dita, membuatnya setengah berteriak, “Tuh, kan. Mas Elang rese! Rambutku berantakan ini.” Mereka kemudian tertawa bersama. “Aku jadi rindu Mas Awan. Kapan ya, kita bisa kumpul bareng?” “Segera, Dit. Tunggu aja,” jawab Awan penuh keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN