Pukul sepuluh malam, Awan menginjakkan kaki di Changi Airport. Dia langsung menyusul Gantari dan menemaninya di rumah sakit. Ketika sampai, dia melihat sang Mama sedang tertidur di samping kasur Papanya. Awan merebahkan diri di sofa yang tersedia di kamar tersebut setelah menyelimuti Gantari dengan kemejanya. Dia sengaja tidak ingin membangunkan wanita yang pasti sedang lelah tersebut. Sementara Wirya, tampak tua dan lemah walau tidurnya nyenyak. Awan tidak sadar kapan dia terlelap. Kala mentari pagi menggelitik dan dia membukan mata, di meja sudah tersedia sarapan. Pasti Mama, batinnya sambil tersenyum. “Mama bangun jam berapa?” tanya Awan kala melihat Gantari keluar dari kamar mandi. “Cukuplah buat cari sarapan.” Gantari duduk di samping Awan. “Mandi gih, pasti semalam datang kamu la

