“Kamu yakin, Wan?” Nada resah mengambang di pertanyaan Gantari. “Sementara ini, Ma. Elang yakin hari itu dia cuma minum kopi yang dibeli Yoko dalam perjalanan menuju kantor, kopi dari Nolan waktu mau berangkat makan siang, selebihnya air putih.” “Bukan cuma Nolan kan yang kasi gelas kopi ke Elang?” “Memang. Tapi tingkah Nolan juga mencurigakan, Ma. Dia sering gugup dan seperti takut selama ketemu aku, artinya dia takut sama Elang kan. Dia juga menjauhkan buku tahunan sekolahnya tiap kali aku ke sana. Di sana, ada nama supir yang nabrak Elang.” Wajah Gantari terlihat gelisah. “Kalau memang benar, Wan …” Kalimat Gantari menggantung begitu saja. Awan sangat memahami kegalauan Ibunya. Di satu sisi anak lelakinya terluka, merupakan korban. Namun, apabila benar, ini bisa menyakiti anaknya y

