Kecelakaan yang Disengaja

1157 Kata
Kekuasaan bukanlah hal yang diinginkan pria bernama lengkap Enzio Wiryawan Pradana, apalagi jika didapatkan dari orangtua yang merupakan pendiri PT. Mahantari Pradana Jaya Tbk atau yang lebih dikenal dengan nama Mahantari grup, perusahaan dengan bisnis utama penyedia bahan kimia industri terbesar di Indonesia dan sudah merambah pasar Asia Tenggara.  Awan sudah bertahun-tahun meninggalkan rumah, memulai hidup di kota kelahiran istrinya, Makassar. Dengan bantuan modal dari orangtua, dia membangun ELWE Furniture karena memiliki kecintaan pada produk berbahan kayu, sementara Liana, sang istri, membuka jasa desain interior bernama ELWE Design.  Sibuk mengembangkan bisnis, Awan belum memikirkan untuk segera mengunjungi orangtuanya di Jakarta, meskipun diketahui Papa sudah sakit hampir setahun. Namun, dia rajin menghubungi keluarganya agar tidak kehilangan kontak, terutama Mama dan Elang, saudara kembarnya.  Meski sederhana, Awan merasa beruntung bisa memulai hidupnya sendiri. Orangtuanya tidak memaksa untuk terjun dalam bisnis keluarga, membiarkannya memilih jalan hidup yang dikehendaki, memasuki jurusan desain furnitur yang mempertemukannya dengan istri tercinta di kampus.  Dia dan Liana baru saja membicarakan tentang keluarganya ketika dering ponsel berbunyi, sebuah panggilan video dari Mama.  “Wan, kamu bisa pulang? Sebentar juga nggak apa-apa.” Kekhawatiran tergambar di antara keriput wanita yang masih terlihat cantik itu.  “Ada apa, Ma?” tanya Awan tenang. Sesekali dia menoleh sang istri yang duduk di samping.  “Elang kecelakaan tadi siang. Ini Mama baru aja selesai urus administrasi di rumah sakit. Mana dua minggu lagi akan ada rapat direksi karena Papamu masih belum bisa aktif di perusahaan.”  Desahan berat Mama membuat Awan merasakan beban di pundak. “Aku bicarakan dulu sama Lili ya, Ma. Dita udah tahu Elang masuk rumah sakit?”  “Adikmu sudah Mama beri tahu, dia sedang dalam perjalanan ke sini.”  “Mama jangan panik, ya. Aku bakal segera kasi kabar.”  Awan mengembuskan napas berat ketika menyandarkan tubuh ke sofa, kemudian menatap Liana yang masih menungguinya. Wanita yang sudah tujuh tahun menemani dalam mahligai rumah tangga itu memberikan senyum lembut dan tatapan penuh pengertian.  “Pergilah, Kak. Keluargamu membutuhkanmu.”  “Toko gimana?”  “Kan ada Onel. Selama Kakak pergi, biar dia yang urus.”  Awan membaringkan diri di pangkuan istrinya, sementara Liana mengusap lembut rambut sang suami. Usapan lembut dan kenyamanan yang dirasakan membuat Awan sempat tertidur.  “Maaf, lagi mikir malah ketiduran.”  Setelah berdiskusi, Awan mencari penerbangan pertama yang bisa didapat untuk keesokan harinya. Liana mengemasi barang-barangnya, memastikan tidak ada barang penting tertinggal. Esoknya, pada pukul tiga sore, pria itu sudah menginjakkan kakinya di Jakarta, langsung menemui Mama di rumah sakit.  Wanita berambut hitam disanggul itu menyambut Awan dengan pelukan hangat, bebanding terbalik dengan wajah kuyunya yang penuh kekhawatiran.  “Mama nungguin Elang kenapa masih sanggulan, sih? Bukannya susah kalau mau istirahat?”  “Kamu, udah lama nggak ketemu Mama, bukannya bilang rindu, malah komentari sanggul.”  Awan tertawa renyah malihat wajah sewot Mama. Dia memeluk ibunya erat, membuat wajah cemberut Mama seketika menjadi cerah. Mereka memasuki kamar rawat inap Elang sambil saling merangkul.  “Ap kata dokter, Ma?” tanya Awan saat melihat saudara kembar identiknya itu.  “Luka fisik nggak ada yang parah, organ vital juga bagus. Tapi karena Elang masih belum bangun sampai sekarang, masih akan terus dipantau.”  “Kejadiannya gimana, Ma?”  “Elang habis makan siang di Kelapa Gading. Pulangnya, ketabrak truk kontainer. Ada pengendara motor yang ugal-ugalan, supir truk mau menghindari motor malah nabrak mobil Elang.”  Awan menatap saudaranya yang terbaring dibatu alat pernapasan, tidak tampak tanda-tanda cedera berat dari tubuhnya yang tertutup piyama rumah sakit. Awan mendekat, mengambil tempat di samping brankar Elang.  “Ada-ada aja sih, lu, Bro. Kantor di Kebayoran, makan siang ke Kelapa Gading. Kalau emang kurang jauh, maksi ke Aussie kek.”  “Hush! Kamu ini. Saudara lagi sakit malah diledekin,” seloroh Mama, disambut cengiran Awan.  Pria itu kembali memperhatikan Elang sambil memutar cincin di jari telunjuk. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Awan memperhatikan dengan saksama seluruh jari Elang. Tidak menemukan yang dicari, dia memeriksa leher Elang.  “Ma, pakaian Elang waktu dibawa ke rumah sakit di mana?”  “Sudah Mama bawa pulang. Palingan juga sudah dicuci sama Mbok Warni.”  “Mama ada nemu cincin nggak?”  Mama menggeleng ragu. “Sebentar, Mama tanya Mbok Warni dulu.”  Mama meraih ponsel, menghubungi rumah. Setelah tersambung dengan Mbok Warni dia menanyakan perihal pakaian dan barang-barang Elang sewaktu kecelakaan.  “Mbok yakin nggak ada perhiasan atau semacamnya?” tanya Mama. “Ya sudah, Mbok. Terima kasih.”  Mama menatap Awan seraya menggeleng pelan. “Cincin apa sih yang kamu maksud?”  “Cincin ini, Ma.” Awan mengangkat tangan kirinya. “Mama inget kan? Waktu mau kuliah aku pesan cincin ini sepasang, buat aku sama Elang.”  “Yang Dita ngambek karena nggak dikasi itu ya?” Mama manggut-manggut setelah mengingat kejadian tersebut.  “Iya, Ma. Aku sama Elang janji untuk selalau pakai cincin ini.”  Kenangan Awan kembali pada masa sebelas tahun silam, saat pertama kali membawa pulang sepasang cincin titanium hitam polos dengan grafir inisial nama masing-masing beserta tulisan ‘fraternitas omnia vincit’ di bagian dalam.  “Apaan nih, kayak mau couple-an. Norak!” pungkas Elang saat Awan menyodorkan cincin tersebut.  “Pakai aja, lah. Anggap aja hadiah perpisahan.”  “Ya ampun! Kita mau kuliah, Wan, bukan mau gimana-gimana.” Elang tertawa meledek.  “Who knows. Terima aja kenapa sih?”  “Mas Elang nggak mau? Buat Dita aja!” sergah gadis berusia lima belas tahun berambut hitam lurus.  Dengan cepat Elang memasukkan cincin ke jari, kemudian mengepalkan tangan saat adik perempuannya berusaha menggapai cincin. Dita cemberut karena gagal mendapatkan cincin tersebut. Tidak lama, dia berbalik menatap Awan seraya menengadahkan tangan.  “Punya Dita mana?”  “Punya lo nggak ada!” sambar Elang sambil menekankan tangannya di kepala Dita.  “Ih, kok gitu?”  “Maaf ya, Dit, Punya Dita nggak ada. Nanti kalau Dita udah lulus SMA, Mas beliin cincin sebagai hadiah kelulusan.” Awan tersenyum manis sambil mencubit lembut pipi adiknya.  “Yang sama ya?” Dita menatap penuh harap. “Sori, yang kembar kita berdua. Lo nggak masuk hitungan,” putus Elang sambil merangkul Awan.  Awan, Mama, dan Papa tertawa melihat Elang yang terus menggoda adiknya, sementara Dita semakin merengut, merajuk. Beruntungnya, Awan bisa membujuk adik manisnya itu meskipun tidak bisa menjanjikan cincin yang sama.  “Thanks, Bro,” ucap Elang ketika mereka sudah berada di kamar pada malam harinya. “Sori, gue nggak siapin apa-apa buat lo.”  “Nggak usah. Cincinnya aja, dipake terus.”  “Lo bikin gue merinding, kayak pacar yang takut diputusin.” Gelak Elang memenuhi kamar. Awan mengedikkan bahu dan tersenyum. “Lo tenang aja, Bro, pasti gue pake. Kalau ntar lo nggak lihat gue pake cincin ini, berarti ada sesuatu yang salah.”   Sejak ‘janji’ itu, Awan tidak pernah melepaskan cincinnya, begitu pula Elang. Karena itu, kali ini Awan tidak ingin percaya begitu saja bahwa saudara kembarnya mengalami kecelakaan.  “Ma, aku rasa Elang bukan kecelakaan, tetapi ada yang sengaja mencelakainya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN