Awan dan Elang

1164 Kata
“Maksud kamu, Wan?” Kening Mama berkerut.   “Aku nggak yakin Elang kecelakaan. Elang udah janji akan selalu pakai cincin ini, Ma. Pasti sesuatu terjadi sama Elang.”  “Kamu jangan berlebihan deh, Wan. Bikin Mama ngeri.”  “Tapi aku khawatir, Ma. Gini deh, kita tanya asisten Elang untuk memastikan gimana. Kalau ternyata selama ini Elang nggak pernah lepasin cincinnya, aku harus mengusut ini lebih jauh. Tapi kalau ternyata emang nggak dipake sama Elang, ya, artinya memang aku berlebihan.”  Setelah diam beberapa saat, Mama mengangguk. Wanita itu menelepon Yoko, asisten pribadi Elang, agar segera ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Yoko langsung ditanyai perihal cincin titanium tersebut.  “Pak Elang selalu memakainya, Bu, dikalungkan,” jawabnya pasti.  Awan meminta Yoko menunggu sebentar di luar karena ada yang ingin didiskusikan dengan ibunya. Dia mengulang kembali kalimat Elang saat menerima cincin itu dan fakta bahwa Elang Pakih menggunakannya.  “Jadi, rencanamu apa?”  “Berapa persen kita bisa percaya asisten Elang, Ma?”  “Selama ini kinerjanya bagus dan Elang nggak pernah punya komplain aneh terkait Wiyoko. Mama rasa dia bisa dipercaya.”  Awan terpekur di sofa tamu rumah sakit, memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk mengusut perihal kecelakaan Elang. Saat tiba-tiba dia tersadar, Awan memanggil Yoko untuk segera bergabung.  “Ko, menurut kamu, bedanya aku sama Pak Elang di mana?”  “Rambut, Pak. Rambut Pak Elang lebih pendek dan rapi.” Yoko memperhatikan Awan dari ujung kepala sampai kaki juga melihat sisi wajahnya. “Kalau boleh tahu tinggi Bapak berapa ya?”  Setelah Awan menjawab, Yoko menjelaskan tingginya beda dua senti meter, tetapi tidak terlalu kentara dilihat secara kasat mata. “Satu lagi, Pak. Pak Elang ada andeng-andeng di daun telinga kiri.”  Awan manggut-manggut mendengarkan penjelasan Yoko.  “Kamu kenapa sih, Wan?” Mama bertanya keheranan.  “Gini, Ma, kalau memang ada orang yang sengaja mencelakai Elang, dia pasti berharap hal buruk terjadi. Kalau orang tersebut melihat Elang baik-baik saja, kemungkinan dia bakal panik atau melakukan serangan lanjutan. Intinya, dia akan menampakkan diri atau gelagatnya akan kelihatan. Jadi, aku akan menggantikan Elang selama dia sakit sambil menacri tahu siapa pelaku yang mencelakai Elang.”  “Kalau memang Elang sengaja dicelakai orang, kamu menggantikan Elang bukannya malah bahaya?”  “Bisa aja, Ma. Tapi lebih bahaya mana dibanding kita nggak pernah tahu siapa dalang semua ini? Kalau nanti dia diam-diam mencelakai Elang lagi gimana?”  “Tapi, Wan … Papa masih sakit, Elang juga belum pulih, kalau kamu juga kenapa-kenapa, gimana?”  Awan membujuk Mama agar menyetujui rencananya. Setelah penjelasan panjang, dengan berat hati Mama memberi izin. Mama ingin memberitahu Dita kedatangan Awan sekaligus memperingatkan anak perempuannya karena bisa saja bahaya juga mengintai, tetapi Awan meminta Mama merahasiakannya.  “Sebaiknya jangan kasi tahu Dita, Ma. Kalau sampai Dita keceplosan, bisa-bisa rencanaku gagal. Lagipula, kita belum ada petunjuk sama sekali, pelakunya bisa siapa saja.”  Mama akhirnya pasrah dengan keputusan Awan. Setelah memastikan anaknya berjanji akan selalu waspada dan berhati-hati, Mama membiarkan Awan Menyusun rencana. Tidak lupa Awan meminta Mama memindahkan Elang ke rumah sakit di luar negeri agar tidak ada yang mencium keberadaan Elang selama Awan memainkan perannya. Malam itu, setelah berpamitan dengan Mama, Awan pulang ke apartemen Elang ditemani Yoko. Mama pun segera menghubungi dokter yang menangani Elang untuk memindahkan anaknya dan bersikap seolah Elang keluar karena sudah sembuh.  Dalam tiga hari, Awan mempelajari semua hal terkait Elang, kebiasaan, gestur dan gaya bicara, orang-orang yang sering berhubungan dengannya juga bagaimana dia merespons mereka. Awan juga memotong rambutnya agar mirip Elang, dengan model sedikit lebih tinggi untuk menyamarkan perbedaan tinggi badan.  “Pak,” Yoko mengulurkan sebuah profil. “Ini Mbak Kei, tunangan Pak Elang.”  Awan menatap foto gadis cantik berwajah oval terbingkai rambut gelombang berwarna tembaga. Hidungnya lancip diapit tulang pipi timbul yang membuat wajahnya terlihat lancip dan mungil. Keinara Adyatama adalah nama lengkap gadis yang ternyata biasa dipanggil Kei atau Keina itu.  “Sudah berapa lama mereka bertunangan?” Awan bertanya sambil menatap Yoko yang berdiri di depannya.  “Hampir dua tahun.”  “Perjodohan bisnis, ya?” tanya Awan setelah membaca profil tersebut.  “Iya, tapi Mbak Kei cinta sama Pak Elang.”  Yoko juga menjelaskan interaksi yang sering terjadi antara Elang dan Keina. Elang disebut tidak menunjukkan sikap romantis atau ketertarikan terhadap Keina, tetapi sebulan sekali mereka pasti makan bersama. Sesekali Keina juga mengunjungi Elang di kantor, sekadar membawakan kopi atau kudapan.  Sejauh yang Yoko lihat, Elang memberikan Keina ruang untuk bersikap layaknya tunangan meski dia tidak pernah membalas perasaan gadis itu. Keina bisa dengan santai menggandeng Elang di depan umum juga bersikap manja di kantornya, disaksikan oleh Yoko.  “Oke. Sepertinya ini agak susah. Apa mereka sudah makan siang bersama bulan ini?”  Saat Yoko menggeleng, Awan tahu dia harus mempersiapkan kemungkinan makan siang itu terjadi di saat dia masih menjadi Elang.  “Biasanya, Mbak Kei yang menentukan karena Pak Elang tidak pernah berinisiatif untuk membuka percakapan atau semacamnya.”  “Baiklah, sementara ini cukup. Kamu boleh pulang. Saya akan mempelajari lebih lanjut semua file yang ada. Jika bingung, saya akan menghubungi kamu. Persiapan Senin nanti sudah?”  “Sudah, Pak.”  Setelah Yoko pamit, Awan kembali memperlajari berkas yang menumpuk di depannya selama beberapa jam. Tanpa disadari dia tertidur di ruang tamu apartemen Elang dengan salah satu berkas tertangkup di d**a. Awan terkejut saat ponselnya berbunyi, menampilkan nama istri tercinta di layar.  “Kamu udah tidur, Kak?” tanya Liana saat melihat wajah bantal suaminya.  “Ketiduran,” jawab Elang sambil tersenyum malu, kemudian menunjukkan berkas yang masih dipegang.  “Kebiasaan, deh. Jangan telat makan dan jaga kesehatan. Kalau kamu sakit, nanti malah repot.”  “Aku harus sehat, di sini nggak ada yang ngerawat kalau aku sakit.” Awan menunjukkan wajah sedih yang mengundang senyum manis sang istri.  “I miss you,” ucapnya lembut. Kali ini, senyum terkembang di wajah Liana.  “Gitu aja? Kamu nggak kangen sama aku?” Liana memberikan senyum sebagai jawaban. “Udah jauh gini masih pelit bilang rindu,” protes Awan.  Usai melakukan panggilan video bersama sang istri, Awan kembali menekuri berkas-berkas yang ditinggalkan Yoko. Dia kemudian pergi ke walk-in-closet milik Elang, meneliti barang-barang kembarannya lalu teringat sesuatu.  Ko, bisa kirim foto-foto Elang? Dari tampilan formal sampai casual.  Dia hampir lupa, salah satu hal penting untuk meyakinkan semua orang adalah gaya berpakaian. Jangan sampai berpakaian di luar kebiasaan Elang, bisa-bisa dia ketahuan di hari pertama memainkan peran. Awan harus meninggalkan kesan sesedikit mungkin agar tidak dicurigai.  Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari, perut Awan keroncongan. Dia membuka lemari pantri, tetapi tidak ada apa-apa. Saat beralih ke lemari pendingin, Awan hanya menemukan buah-buahan. Dia berdecak kecewa lalu mengambil beberapa buah untuk mengganjal perutnya yang lapar.  “Aku perlu belanja jika ingin hidup di sini,” ujarnya sambil menutup lemari pendingin.  Sekali lagi Awan menekuri bekas-berkas yang bertumpuk di meja ruang tamu. Waktunya tidak banyak untuk mempelajari kebiasaan saudara kembarnya. Sambil membuka beberapa berkas bergantian, pertanyaan berkelebat dalam benak.  Apa yang sebenarnya terjadi pada Elang? Kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN