'Elang' Baru

1131 Kata
“Ko, hari ini cari detektif swasta untuk kasus Elang, sepertinya kita akan butuh.” Pagi-pagi Awan sudah menghubungi asisten tersebut. “Sama tolong belikan bubur ayam dan jeruk.”  Awan sudah selesai mandi ketika Yoko sampai di apartemen. Dia mengambil beberapa buah jeruk dan memerasnya. Sambil sarapan, Yoko memberikan data beberapa detektif swasta dengan track record bagus.  “Yang ini saja, sepertinya oke.” Awan menunjuk profil dengan nama panggilan Dexter.  Awan juga menanyakan kembali rekap kejadian sebelum kecelakaan. Yoko menjelaskan hari itu dia tidak menemani Elang karena Nolan, suami Dita, mengatakan ada urusan dengan Elang dan akan bersamanya selama makan siang. Jadi, siang itu Yoko berada di kantor hingga jam pulang. Selama seminggu terakhir, Elang melakukan aktivitas seperti biasa, dia juga sempat bertemu Bima, CEO PT. Bimalaga, minggu lalu.  “Minta Dex mencari info lebih lanjut terkait Bima ini,” perintah Awan. “Tolong kamu juga kumpulkan data-data dewan direksi. Kita harus mempertimbangkan kemungkinan perebutan kursi direktur utama mengingat rapat dewan akan dilaksanakan sebentar lagi.”  Awan menerima panggilan dari Mama, menjelaskan jika Awan sudah berada di Singapura, tepatnya di rumah sakit yang sama dengan Papa. Mama juga sudah memastikan pihak rumah sakit akan menyembunyikan keberadaan Elang. “Mama bisa sekalian melihat Elang kalau jengukin Papa.”  Hari Minggu Awan habiskan dengan bermain peran sebagai Elang. Dia meminta Yoko memperhatikan setaip gerak-gerik dan detail, jangan sampai ada yang terlewat. Latihan usai setelah Yoko mengatakan Awan sudah hampir menyerupai kembarannya.  “Nggak akan ada yang sadar kalau nggak memperhatikan detail, Pak,” tegas Yoko.  “Dengan alasan apa pun, kamu harus terus mendampingi saya,” titah Awan pada Yoko. “Kalau ada orang yang memaksa kamu untuk meninggalkan saya, pastikan Dex menyelidikinya dengan saksama, bisa jadi orang itu pelakunya.” Ketika Senin tiba. Awan sudah siap sebelum waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dia mengenakan setelan jas abu-abu dilengkapi dasi berwarna biru dongker serta jam di tangan kiri. Terasa aneh karena dia biasa mengenakan jam di tangan kanan, tetapi Awan harus membiasakan diri. “Pak, sarapannya sudah siap.” Yoko mendekati Awan. “Gimana? Sudah seperti Elang?” Awan berputar perlahan. “Andeng-andengnya, Pak,” sahut Yoko sembari menunjuk telinga kirinya. Awan mencari-cari peralatan yang bisa digunakan untuk membuat andeng-andeng palsu. Sayang, pencariannya nihil. “Kita beli spidol saja, Ko.” Yoko segera pergi membeli spidol ketika Awan sarapan. Dengan sigap dia membuat titik kecil di telinga kiri Awan dari spidol permanen yang baru saja dibeli. Sebelum berangkat, Awan sekali lagi berdiri di hadapan Yoko dengan tas kerja dan pakaian lengkap. Setelah mendapat anggukan mantap dari sang asisten, Awan pun mengangguk, memberi tanda agar mereka segera berangkat. Sesampainya di kantor, Awan mendapat anggukan penuh segan dari pegawai yang berpapasan dengannya. “Mengangguk saja, Pak. jangan senyum,” bisik Yoko pelan di telinganya. Awan yang tadinya ingin tersenyum segera memberikan ekspresi datar. Ketika mendekati lift, dilihatnya semua pegawai yang berada di depan pintu lift menjauh, bahkan beberapa orang yang sudah berada di dalam lift keluar. Awan kembali menoleh pada Yoko. “Pak Elang nggak suka satu lift sama pegawai kecuali ada hal mendesak dan dia tidak punya banyak waktu.” Kembali Awan mengangguk melewati semua pegawai sembari memasuki lift. “Elang semembosankan ini ternyata di kantor,” dengungnya. “Sama kamu gitu juga, Ko?” “Seringnya sih begitu, Pak.” “Nggak asik banget nih, Elang.” Yoko tersenyum mendengar kalimat Elang. Baru saja awan tiba di kantor Elang, seseorang tiba-tiba menerobos masuk. Awan menatap sosok di depannya sambil memicingkan sebelah mata. “Sori, sekretaris lo bilang lo baru aja datang. Lagi nggak sibuk dan nggak ada tamu kan? Kalau ganggu, gue bisa keluar dulu,” ucap Nolan. “Ada apa?” “Gue mau minta maaf sama lo. Kalau aja waktu itu gue nggak ninggalin lo, mungkin kecelakaan itu nggak terjadi.” Terdengar kegugupan dari kalimat yang dikeluarkan Nolan. Awan memperhatikan adik ipar yang baru kali ini ditemuinya langsung, saat akad dan resepsi beberapa tahun lalu dia tidak sempat berbicara dengan lelaki itu. Selama ini, perbincangan singkat mereka terjadi hanya melalui melalui sambungan telepon video, pun hanya terjadi beberapa kali karena Dita jarang menghubungi semenjak dia berumah tangga. “It’s okay.” Awan menjawab dengan singkat dan cepat. “Gue benar-benar minta maaf, Lang. Tapi lo beneran udah baik-baik aja? Nggak ada hal serius?” “Yang lo lihat?”  “Kayaknya lo baik-baik aja, sih,” tutur Nolan. Tangan kirinya terlihat sibuk menggosok-gosok kampuh celana. Karena ragu bagaimana Elang biasa memperlakukan Nolan, Awan memilih diam sambil terus menatap adik iparnya.  “Lo lama ngobrol sama Bima?” tanya Nolan kemudian.  Awan terkejut, tetapi dengan cepat dia menetralkan ekspresi wajah dan menggeleng. Untuk beberapa saat, mereka saling menatap.  “Karena lo benar-benar sehat, gue pamit,” timpal Nolan seraya mundur. Nolan kemudian berhenti dan berbalik. “Gue senang lo baik-baik aja.”  Setelah Nolan meninggalkan ruangan, Awan menatap Yoko. “Elang akrab sama Nolan?”  Yoko menjelaskan bahwa Elang terkadang mengunjungi Dita, sehingga ada interaksi antara dia dan Nolan walau sedikit. Namun, tidak bisa dibilang akrab karena Elang tidak pernah melibatkan sang adik ipar di luar deskripsi pekerjaannya. Meskipun demikian, Elang tidak menolak tawaran-tawaran Nolan seperti mengantarnya atau makan siang untuk mengakrabkan diri jika dia senggang.  “Lalu, minggu lalu Nolan ke mana ninggalin Elang?”  Yoko menyampaikan bahwa hari itu Nolan mendapatkan telepon mendadak dari gudang. Dia sudah memastikan kebenaran telepon tersebut dengan pengawas gudang yang melakukan panggilan. “Pak Nolan dikabarkan meninggalkan gudang sekitar pukul lima sore.”  Awan mengangguk-angguk. “Kalau gitu, minta Dex mengecek keberadaan Bima sejam sebelum sampai sesudah kecelakaan. Aku juga mau informasi pembicaraan mereka.” Yoko pergi meninggalkan Awan setelah mendapat instruksi lengkap langkah selanjutnya. Awan kemudian mempelajari berkas laporan di meja. Beberapa berkas perlu ditandangani, membuatnya teringat bahwa dia belum mempelajari tanda tangan saudara kembarnya.  Awan mencari berkas yang sudah dibubuhkan tanda tangan Elang di laci, kemudian sibuk mempelajari tanda tangan tersebut sampai tidak menyadari sekretaris yang mengetuk pintu. Sekretaris yang tinggi semampai itu sampai harus mengetuk meja agar mendapat perhatian Elang. “Maaf, tangan saya agak kaku,” kilahnya saat menyadari Mayra, sang sekretaris, sempat melihat kertas yang tercoret tanda tangan. “Ini Pak, proposal untuk tender kita minggu depan,” jelas Mayra sembari menyerahkan berkas yang dimaksud. Dia juga menyorongkan sebuah tablet. “Ini jadwal Bapak seminggu ini, mohon dicek, Pak.” “Untuk jadwal saya minggu ini tolong kirimkan ke Yoko, nanti akan saya review. Jika memerlukan perubahan akan segera saya infokan.” Awan mengembalikan tablet pada Mayra. “Untuk proposal akan saya cek sekarang.” Awan mempelajari proposal tender yang diberikan juga beberapa urusan Elang yang tertunda. Yoko yang sudah kembali membantunya memahami berkas-berkas juga keputusan-keputusan yang biasa diambil Elang untuk mempermudahnya. “Jangan lupa malam ini minta Dex menghubungi, apa pun data yang didapat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN