Rapat usai sekitar pukul sebelas. Awan yang baru saja sampai di ruang kerja sebagai Elang, duduk beristirahat di sofa tamu. Dia duduk setengah berbaring, menjadikan sandaran sofa sebagai penopang tengkuk. Tidak lama, pintu diketuk.
“Bapak mau makan siang di luar atau saya pesankan?” tanya sekretaris yang sudah berdiri di dekat Awan.
Awan belum memberikan jawaban apa-apa ketika sesosok manusia kembali memasuki ruangan setelah sekali lagi terdengar bunyi ketukan di pintu. Kali ini, sang adik ipar yang datang.
Awan pun berkata dia akan menginfokan lebih lanjut pada sang sekretaris sambil menyuruhnya keluar. Setelah sang sekretaris keluar, Awan menatap adik iparnya dalam geming. Dia yang tadinya bersandar di sofa sudah duduk sambil menopang tangan ke paha.
Nolan yang berdiri dekat sofa tiba-tiba menjadi gugup. Tangan kirinya sibuk menggosok-gosok kampuh celana kerja hitamnya. Dia membetulkan kacamata sambil menunduk beberapa saat.
“Kenapa?” tanya Awan singkat dan datar.
“Hmmm, itu. Gue mau ajak lo makan siang bareng lagi. Mau?” Sebelum Awan memberikan respons, Nolan kembali berkata, “Kalau takut ada kejadian seperti yang lalu, kita makan di resto bawah juga nggak apa-apa.”
“Lo ada urusan sama gue?”
Nolan menggeleng. “Anggap aja ini untuk nebus rasa bersalah gue kemarin karena udah ninggalin lo sampai terjadi kecelakaan.”
Awan melemparkan senyum simpul. Dalam hati, dia sebenarnya merasa geli. Nolan yang merasa bersalah membuatnya kembali teringat Dita serta bagaimana cara adiknya itu mengkhawatirkannya.
Pasangan itu memang saling melengkapi dan biasanya ada kemiripan meskipun memiliki watak tolak belakang. Hal tersebut sangat jelas terlihat dalam diri Dita dan Nolan. Awan menganggap mereka khawatir berlebih. Baginya, kecelakaan yang menimpa Elang tidak ada hubungannya antara dengan keberadaan adik juga adik iparnya kala itu.
Awan menggeleng pelan, menimbulkan kebingungan dalam diri Nolan. “Lo kenapa, Lang?”
Sekali lagi, Awan menatap lekat sang adik ipar. Merasa ditatap, Nolan lalu menunduk. Tangannya kembali memainkan kampuh celana. Sikap gugupnya itu membuat Awan ingin menjahili, tetapi terbentur pada fakta dia berada di sini sebagai Elang. Jika saudaranya yang kaku itu tiba-tiba berkelakar atau semacamnyam, tentu akan menimbulkan kecurigaan.
Setelah menimbang-nimbang, Awan akhirnya menjawab, “Kita makan di bawah aja.”
Awan mengemaskan meja sambil menelopn sang sekretaris mengunakan pelantang, menyampaikan dia akan makan siang dengan Nolan di restoran bawah. Selain menginfokan pada sekretaris, Awan juga mengirim pesan pada Yoko, memintanya segera menyusul ke sana.
Mereka pun berjalan beriringanmenuju lift. Sesampai di lift, Nolaan mengambil jarak, agak ke belakang, tahu Elang tidak suka ada yang sejajar dengannya di area sempit.
Sesampainya di restoran Awan memilih meja yang langsung terlihat dari pintu masuk. Mereka memesan dua set menu seafood. Awan meneliti Nolan yang duduk di depannya. Pria itu lalu pura-pura merapikan pakaian.
Tidak ada perbincangan selama makan. Sajian menu datang satu per satu hingga menu peutup tiba.
“Jadi, lo kenapa?” Awan memulai percakapan karena pria dalam setelan monokrom di depannya tidak juga bicara.
“Gue masih merasa bersalah sama lo.”
Ya Tuhan! Ini lagi. Benak Awan bersuara.
“I’m fine, good, okay. Aku baik-baik aja. Lo lihat sendiri kan?” Awan pura-pura tidak sabar.
Tangan Nolan yang tadinya di atas meja ketika makan, sudah turun. Awan yakin dia kembali memainkan bagian tepi celananya.
“Perawatan lo di rumah sakit nggak menunjukkan tanda-tanda membahayakan, kan?”
“Nggak.”
“Tapi kayaknya lo masih nggak ingat detail waktu kecelakaan. Nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Lan.”
Nolan masih terus menanyai Awan ini itu terkait kecelakaan yang menimpanya. Namun, dia lelah meladeni iparnya yang ternyata juga betah banyak tanya. Ujung-ujungnya, Awan memanggil Dita, mengatakan bahwa dia sedang bersama Nolan. Dita terdengar girang di saluran telepon.
Selang beberapa belas menit kemudian, adik permpuan satu-satunya Awan itu langusng mengambil tempat di samping Nolan. Dita melingkarkan lemgan dan tersenyum manis.
“Kok nggak kasi tahu sih, Sayang, mau makan sama Mas Elang?”
“Boys talk,” sambar Awan.
Dita memberikan pandangan kebencian. Awan ingin tertawa karena Dita masih sama sekali tidak berubah. Dulu, Elang suka menjahilinya dengan hal-hal seperti ini. Tidak melibatkannya dalam pembicaraan, memotong perkataannya, atau menyambar menjawab pertanyaan yang ditujukan pada orang lain.
Setelahnya, Dita dan Elang akan bertengkar. Amarah Dita akan naik ke ubun-ubun karena Elang semakin menggodanya jika marah. Sedangkan Awan adalah penonton setia perkelahian mereka.
“Udah tua masih nggak berubah,” omel Dita.
“Bukannya sama aja?” Awan sengaja bersikap sewot.
“Udah deh, aku nggak mau kelahi.”
“Siapa yang ngajakin?”
“Mas, please. Jangan buat aku emosi di sini.”
“Iya. Gue tinggal ya. Lan, lo lanjut sama Dita, gue masih ada urusan.”
Setelah beberapa langkah meninggalkan restoran, Awan menyadari keberadaan orang lain di dekatnya. Yoko.
“Seingat saya kamu bilang Elang tidak dekat dengan Nolan.” Awan berjalan sambil sekilas menoleh Yoko. Pria di sebelahnya menyambut dengan anggukan. “Mungkin dia sudah ketularan Dita, jadi terlalu mengkhawatirkan orang lain. Karena takut pada Elang, dia begitu.”
“Tapi, Pak.” Kalimat Yoko terhenti, dia ragu-ragu. Awan berhenti melangkah, menoleh pada Yoko. “Mohon maaf sebelumnya jika saya terkesan mencampuri urusan keluarga.”
“Katakan,” jawab Elang pendek.
“Selama ini, selain tidak dekat, hampir tidak ada interaksi antara Pak Elang dan Pak Nolan di kantor. Mereka seperti tidak berada di satu gedung. Interaksi hanya terjadi jika ada urusan atau ada Bu Dita di antara mereka seperti tadi. Jadi, menurut pandangan saya, Pak Nolan kali ini terlalu beramah tamah. Dia bersikap di luar kebiasaannya.”
“Oya?”
Yoko mengangguk lagi. Awan jadi menerka-nerka, apa yang membuat Nolan begitu. Dia kembali berjalan, diikuti oleh Yoko.
“Dia aneh sejak kapan?”
“Pertama kalinya waktu makan siang yang dia bilang mau menggantikan saya menemani Pak Elang.”
Awan kembali berpikir. dia melangkah pelan, seperti orang yang sedang membawa berang berharga dan takut terjadi sesuatu jika berjalan cepat. Ketika sampai di depan lift, bunyi ting seperti memicu otaknya. Tepat setelah bunyi lilft terdengar, Awan bertanya,
“Kapan pertama kali desas-desus mengenai rapat direksi terdengar?”
“Kalau tidak salah sekitar dua minggu sebelum Pak Elang kecelakaan.”
Awan mengangguk. “Timingnya pas sekali.”