Wangi masakan memanggil ketika Awan sedang berpakaian. Aromanya menggelitik hidung, membuatnya menyegerakan berpakaian agar bisa turun ke bawah, menemui sang Mama dan menyantap sarapannya.
Gantari sedang menata nasi goreng, meletakkan telur mata sapi di atasnya ketika Awan memasuki dapur. Dia mengambil duduk di bangku kosong. Ibunya meletakkan piring yang baru saja ditata ke hadapan Awan. Sebelum menyendok nasinya, dia menatap Gantari yang masih sibuk di pantri.
“Mama nggak makan?”
“Sebentar,” jawab sang Mama. Tidak lama kemudian, Gantari membawa sebuah piring nasi goreng dan segelas orange squash. Dia meletakkan piring di bangku depan Awan dan minuman di dekat piring Awan.
Sang anak mengucapkan terima kasih dengan semringah lebar, membuat Gantari teringat akan wajah kecilnya yang begitu bahagia saat pertama kali merasakan minuma tersebut dan langsung menyukainya.
“Sudah ada perkembangan terkait Elang?” tanya ibunda ketika sudah duduk di hadapan Awan. Wanita itu kemudian menyendokkan nasi goreng ke mulut.
Pria yang ditanyai menggeleng. “Masih gini-gini aja, Ma. Tapi semoga aja segera ada petunjuk.”
Awan kembali menyendok nasi goreng setelah memotong sedikit telur di piring. Setelah mengunyah, dia bertanya, “Ma, Seno itu orangnya seperti apa?”
“Seno? Dia ramah dan menyenangkan sebenarnya, meskipun sering kaku dan kikuk jika bertemu dengan orang yang lebih tua.” Bola mata Gantari menoleh ke atas. “Tapi kalau soal pekerjaan menurut Mama kurang efisien, sih. Sedikit lambat. Tapi bagusnya dia, anaknya mau belajar.”
Awan mengangguk-anguk sambil mengunyah sarapan. “Menurut Mama dia bakal jadi kandidat nggak dalam rapat direksi?”
“Bisa aja sih. Tapi walaupun jadi kandidat, belum tentu terpilih.”
“Kenapa, Ma?”
“Pendukungnya nggak banyak. Public speaking-nya juga kurang untuk jadi pemimpin,” imbuh Gantari. “Kamu mencurigai Seno?”
“Kita harus memikirkan segala kemungkinan, kan, Ma. Dalam kasus-kasus seperti ini, banyak yang ternyata dilakukan oleh orang dekat.”
“Kamu sekarang rajin nonton berita dan dokumentasi kriminal apa gimana? Jadi curigaan begitu.”
“Anggap aja sedang dalam mode detektif, Ma,” kelakarnya.
Kemudian Gantari menyanggah pendapat Awan. Jika menilik kepribadian Seno, wanita itu meragukan keberaniannya mencelakai seseorang demi kedudukan. Sepupu yang Awan bicarakan itu bukan tipe pria nekat atau yang bertindak dalam diam.
“Tapi …”
Kalimat Gantari yang menggantung membuat Awan penasaran. Dia menatap wajah sang ibunda, terlihat ragu sekaligus berpikir keras, Awan menunggu sang Mama melanjutkannya.
“Kalau ada orang di sekitar Seno yang mencurigakan, itu pasti Papanya. Mas Mahen itu sebenarnya orang yang ambisius. Sayang, kemampuannya tidak terlalu mumpuni. Perusahaan kita kan Papamu yang merintis. Tapi, karena percaya sama kakaknya, dia melibatkan Mas Mahen.”
Awan menandai kata ‘pasti’ dalam kalimat Mamanya. Gantari bukanlah wanita yang gampang menyimpulkan. Jika sang Mama memiliki keyakinan besar terhadap sesuatu, itu karena ada pertimbangan matang atau sudah melihat banyak dari hal yang disimpulkan.
“Mas Mahen itu sudah sering berusaha mendominasi dewan, tapi gagal karena pendukungnya sedikit. Jajaran atas lebih percaya sama Papa karena memang terlihat siapa yang bekerja selama ini. Dia ada di dewan komisaris yak arena sahamnya yang memang lumayan. Tapi, kalau dia hanya mengandalkan suara sendiri ya tetap kalah.”
“Selama ini pernah Om Mahen berusaha menaikkan Seno, Ma?”
“Menaikkan sampai jadi direktur sih, nggak. Tapi, jabatan Seno sekarang juga didapat karena dia terus mendesak supaya anaknya mendapat peran.”
Awan menghabiskan makanannya setelah pembicaraan dengan Gantari usai. Dia memasukkan nama Mahendra Pradana dalam daftar orang yang harus dilihat kembali latar belakang dan kemungkinannya terkait kasus Elang.
Setelah menghabiskan makanan dan tidak ada lagi yang ingin ditanyakan kepada sang Mama, dia pamit sambil berkata kalau nanti akan langsung pulang ke apartemen.
“Aku kunjungi Mama lagi akhir pekan,” lanjutnya kala menangkap kesedihan di sorot mata Gantari.
Awan mengecup lembut pipi Gantari. Dia menatap dan melambai ketika sang Mama mengantarnya hingga ke depan pintu. Pria itu sadar, berat menjadi Mamanya saat ini. Suami dan salah satu anaknya berada di rumah sakit, ada kemungkinan anaknya sengaja dicelakai, lalu untuk mengetahui hal ini dia harus menyembunyikan kebenaran dari anaknya yang lain. Namun, Mamanya wanita kuat. Dia selalu tersenyum dan bersikap seolah tidak terbebani dengan masalah yang terus datang.
Dalam perjalanan, Awan mengingat-ingat profil Om Mahen. Dia belum pernah berbicara langsung selama menjadi Elang, tetapi ketika masih sekolah dia beberapa kali bertemu karena Papa sering mengajak keluarganya makan bersama keluarga Om Mahen. Bukan hanya Om Mahen sebenarnya. Papa selalu berusaha mengajak semua saudaranya berkumpul. Om Mahen anak tertua, Papa si tengah, dan Tante Mela sebagai anak bungsu.
Awan gagal mengingat momen yang ingin digali karena setelah mengenang kembali, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Elang ketika keluarga Papa atau Mama mereke berkumpul. Hanya Dita yang wara-wiri ke sana ke mari, mencari teman seumuran dan mengajak mereka bicara. Untuk hal ini, adiknya itu persis seperti Papa, selalu menjadi tali yang menyatukan keluarga.
Awan sesekali mengikuti Dita dan menyapa para sepupu. Namun, lebih banyak menemani Elang karena saudaranya itu tidak menyukai hal ramah-tamah yang menurutnya tidak penting itu. “Acara ini tuh diadakan cuma buat dua aja, cari muka atau pamer,” kilahnya setiap Awan mengajak bersilaturahmi.
Awan tersenyum geli mengingat momen itu sekaligus menyesal karena tidak berusaha mengenali Om-Tante juga para sepupu. Kini, dia tidak tahu mana keluarga yang tulus dan mana yang pantas dicurigai.
Ketika sampai di kantor, Awan meminta Yoko segera menemuinya setelah sekretaris masuk dan mengingatkan hal-hal penting yang tidak boleh dilewatkan hari ini. Pria kurus berkaca mata dengan rambut klimis masuk tidak lama setelah snag sekretaris keluar.
“Ko, tolong bantu cek kembali Om Mahen. Beri data yang lebih lengkap selain yang sudah kamu berikan tempo lalu. Kalau Mama merasa dia lebih mencurigakan ketimbang Seno, kita harus mencari tahu. Tapi, semoga saja tidak ada keterlibatan anggota keluarga dalam hal ini.”
Yoko dengan cepat mencatat semua instruksi dari Awan. Dia juga menyampaikan hasil dari Dex yang menyatakan Seno bersih, sama sekali tidak tidak ada bukti yang mengaitkannya dengan kecelakaan Elang. Seno melakukan aktivitas seperti biasa, sesuai dengan kebiasaannya selama ini.
“Terkait hambatan dan kendala yang Bapak minta diselidiki juga tidak ada hal mencurigakan. Semua terjadi karena memang begitu adanya, tidak ada unsur disengaja selain yang pernah saya sebutkan sebelumnya” lapor Yoko.
“Oke. Tolong cari lebih lanjut mengenai Om Mahen,” tukas Awan. “Terkait Bima bagaimana?”
“Kalau Pak Bima cukup mencurigakan, Pak.”
Awan menegakkan duduk, memberi perhatian lebih pada apa yang ingin Yoko sampaikan.
“Pak Bima, selain dari berada pada hari Pak Elang kecelakaan, juga terlihat bersinggungan dengan Pak Elang di beberapa tempat. Mereka bertemu tidak sengaja, tetapi terlalu mencurigakan karena intensitasnya cukup sering.”
Yoko membeberkan laporan dari Dex yang mendapati Bima pernah menelepon sebagai orang lain untuk mengetahui jadwal Elang.
“Bukan dalam artian meminta langsung jadwal, tetapi seperti orang yang memaksa ingin bertemu sehingga sekretaris harus menjelaskan kesibukan Pak Elang selama beberapa hari karena terus didesak untuk menyediakan waktu bertemu.”
Tidak hanya itu. Yoko juga menjelaskan bahwa Bima sempat bertemu Elang sebelum kecelakaan terjadi, tepatnya seminggu sebelumnya. Dia meminta bertemu di luar jam kantor.
“Setelah bertemu, ternyata Pak Bima meminta Pak Elang untuk mundur dalam tender kali ini. Saya rasa, Pak Bima sendiri merasa perusahaannya akan kalah dari kita, karena itu dia meminta Pak Elang mau bekerja sama.”
Yoko jadi teringat Elang pernah menanyainya tentang keuntungan mengalah dari sebuah proyek. Kala itu Elang bertanya padanya, bagaimana jika dia ditawari keuntungan dari mundur dari sesuatu.
“Kala itu Pak Elang mengibaratkannya sebuah lomba. Dia menanyai saya, bagaimana jika dalam sebuah lomba, salah satu saingan saya meminta saya mengalah. Dia akan memberikan sebagian hadiah jika saya membiarkannya menang.”
“Lalu?”
“Tentu saja saya menjawab saya tidak akan mengalah. Jika memang saya bisa menang dan mendapatkan semua hadiah, kenapa saya harus mengalah dan mendapatkan sebagian? Itu jelas-jelas bukan keuntungan. Banyak sedikitnya usaha saya juga sama, bedanya hanya tidak berusaha di saat terakhir. Jika saya, tentu akan menyesal karena sudah berusaha keras tetapi tidak berjuang sampai akhir.”
Yoko juga beralasan menang lomba bisa menjadi catatan baik untuknya di masa depan. Dia mendapatkan riwayat penghargaan yang pasti akan dipandang kelak.
“Misalkan saya anak SMA yang menang lomba, lalu mau mendaftar beasiswa. Riwayat menang, jika lombanya sesuai dengan jurusan yang saya ambil, tentu berpengaruh pada penilaian bagi institut penyelenggara beasiswa.”
Yoko menjelaskan panjang lebar dengan semangat berapi-api seperti. Saat ini dia terlihat seperti calon mahasiswa yang berusaha maksimal dalam sesi wawancara beasiswa.
“Kamu bicara sepanjang itu sama Elang?” Yoko mengangguk ketika ditanya oleh Awan. “Elang mendengarkan semuanya tanpa protes?”
Yoko kembali memberikan anggukan sebagai jawaban. Awan bertepuk tangan, membuat Yoko bingung.
“Elang pasti sayang dan percaya sama kamu. Dia jarang mau mendengarkan orang yang bicara terlalu banyak. Dia akan senang jika seseorang bicara langsung pada inti dan seperlunya.”
Pujian dari Awan membuat Yoko tersipu. “Mungkin karena saya sudah beberapa tahun bersama Pak Elang, jadi dia mau mendengarkan saya.”
“Berarti selain aku dan Mama, ada kamu dan Keina yang dia maklumi kalau banyak bicara. Hmmm.”
Awan mengangguk-angguk sembari tersenyum. Yoko tidak memahami makna dari senyuman yang baru saja dilihatnya.
“Baiklah!” Wajah Awan tiba-tiba berubah serius. “Kita balik lagi ke kasus Elang. Jadi, si Bima ini sering berpapasan dengan Elang, pernah menawarkan Elang untuk mundur dalam tender, lalu terlihat berinteraksi dengan Elang pada hari kecelakaan,” simpul Awan yang dibalas dengan anggukan oleh Yoko.
“Sepertinya kita menemukan tersangkanya, Ko. Minta Dex gali-gali lagi kemungkinan adanya sabotase terhadap mobil Elang. Bima sempat lama natap mobil Elang kan di hari kecelakaan?”
Yoko mengangguk lagi. Awan juga meminta informasi mengenai supir truk yang menabrak Elang. “Lihat juga, apakah dia memiliki hubungan sama Bima.”
Yoko pamit setelah mencatat semua instruksi. Sebelum keluar, Awan memanggilnya untuk memberi instruksi terkahir. “Minta Dex bergegas. Jika bisa, saya mau informasinya malam ini.”
Kepala Awan berat, tetapi ada sedikit kelegaan dalam hati. Dia merasa kasus ini sebentar lagi akan selesai. Awan berpindah dari kursi putar ke sofa tamu. Dia duduk bersandar dan meregangkan tubuh, Otot-ototnya terasa lelah seperti baru saja selesai lari marathon.
Awan kemudian membaringkan tubuhnya di sofa, memberikan waktu kepada tubuhnya untuk beristirahat sejenak, kemudian tertidur.
Awan bermimpi bertemu Elang. Mereka sedang berada di sebuah kafe yang nyaman dengan suasanya homey. Aroma kopi menguar dari cangkir mereka yang mengepulkan asap. Musik pop Indonesia terbaru mengalun, menghibur para pengunjung.
Dia bahagia melilhat Elang yang terlihat sehat. Mereka bertukar cerita, mengisi kembali cangkir-cangkir keakraban yang sempat kosong karena kesibukan masing-masing. Sesekali Awan berucap sinis, tetapi kemudian tertawa. Mereka juga saling mengejek seperti yang dulu sering dilakukan.
Elang mengetuk-ngetuk meja, sebuah kebiasaan yang Awan tidak tahu dia punya. Ketukan terus berulang sampai tiba-tiba tubuhnya terasa berguncang.
“Pak, Bapak ada rapat akhir persiapan untuk tender setengah jam lagi,” ucap sang sekretaris.
Awan memijat matanya yang masih terpejam kemudian mengangguk. “Baiklah. Tolong bawakan saya secangkir kopi. Gulanya dipisah.”
Tender ini adalah tender yang dimaksudkan Bima agar Elang mundur. Awan tidak mau mengalah. Apakah karena ini Bima akhirnya mencelakai Elang, Awan memang belum tahu pasti. Tetapi dia tidak mau memberikan Bima apa yang dimau. Awan bertekad untuk memenangkan tender ini, demi Elang.
Rapat diadakan tepat setengah jam kemudian. Awan memberi instruksi akhir persiapan, mengecek kembali nominal yang mereka tawarkan serta keuntungan-keuntungan yang didapt jika memilih bekerja sama dengan perusahaan mereka.
Setelah yakin semua persiapan aman, Awan menutup rapat. Dia mengingatkan tim bahwa tender akan dilaksanakan Senin ini.
“Jangan sampai ada yang terlambat.”
Dia juga mengingatkan tim untuk memperbaiki hal-hal yang menjadi catatannya. “Nanti langsung dilaporkan saja ke saya. Jika sesuai dan tidak ada perubahan lagi, berarti sudah aman. Jika memang masih ada yang perlu kita matangkan, kita akan rapat sekali lagi.”
Awan mengingatkan anggota tim untuk selalu berada dalam jangkauan karena dia bisa menelepon kapan saja. Ponsel masing-masing harus bisa dihubungi kapan dan di mana pun mereka, bahkan ketika akhir pekan. Awan tidak memaksa mereka untuk hadir jika saat diadakan rapat dadakan para anggota tim tender sedang jauh dari kantor, tetapi dia ingin mereka tetap hadir, meskipun secara virtual.
Aku harus memenangkan tender ini, ucap Awan dalam hati.