Kepala Awan masih pusing dan sedang memikirkan bagaimana menjelaskan pada tunangan kembarannya agar gadis itu bisa mengerti tanpa memberitahukan bahwa dia bukan Elang ketika Yoko mengetuk pintu. Awan mengangguk, membiarkan Yoko masuk. “Pak, terkait pesan saya tadi, ummm,” ucap Yoko ragu-ragu. “Kenapa sih, Ko?” “Gosip di luar tadi beredar sangat cepat, Pak. Ada yang mendengar Mbak Kei bilang Bapak selingkuh, jadi saat ini sedang terjadi pro dan kontra tentang hubungan Bapak dan Mbak Kei.” Awan mengembuskan napas berat. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Masalah dengan Keina belum beres, sudah ada masalah lain lagi. Pria yang masih duduk di sofa tamu itu mengurut alis. “Nggak mungkin kamu datang hanya bawa berita itu aja. Ada apa sebenarnya?” “Sepertinya berita ini sudah sampai ke Pak Mahen

