Intermeso

2741 Kata

“Kayaknya aku datang di saat nggak tepat,” tembak Liana setelah Awan menutup pintu. “Nggak tepat gimana, aku senang kamu datang.” Awan memegang kedua punggung Liana, menuntunnya masuk ke tempat menaruh alas kaki. Dia membantu Liana membawa koper, menaruhnya di samping sofa, lalu memeluk istrinya. “Aku kanget banget sama kamu. Kok, nggak bilang-bilang mau ke sini?” “Supaya aku nggak lihat kejadian barusan?” ujar Liana seraya melepaskan pelukan. Liana menunjukkan senyum manis yang sangat diketahui sang suami bahwa itu adalah sindiran. Perempuan itu tidak pernah menunjukkan emosinya dengan cara meledak-ledak kala cemburu. Dia senang memilih cara elegan atau setidaknya berbentuk sindiran, selalu begitu sejak pertama mereka dekat dan tidak berubah sampai sekarang. Dulu, ketika mereka baru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN