(Masih) Intermeso

1008 Kata

Minggu pagi ini terasa mewah bagi Awan. Masih ada sisa hangat tubuh manusia di bagian kasur di sebelahnya yang kini kosong, juga wangi kopi yang memanggil untuk segera bangkit. Di pantri, Liana terlihat sibuk. Awan mendekat, mengambil duduk di meja makan. Tidak lama, semangkuk bubur ayam tersaji di meja. “Maaf, isiannya seadanya. Apa yang ada di kulkas aja.” Awan mengangguk sambil tersenyum. Menikmati waktu bersama Liana menjadi pelepas penat paling berharga untuknya. Sang istri datang di saat yang tepat, ketika perasaannya sedang tidak baik dan gamang. “Sekarang kami masih melacak keberadaan teman-temen Nolan beserta supir yang menabrak Elang,” kisah Awan sembari menyuap sesendok bubur ayam. “Semoga teman-teman Nolan mau bekerja sama.” Awan menyampaikan kesedihannya apabila Nolan ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN