Kesal atau cemburu?

1025 Kata
Andara menjauhkan spidol di jepitan jari-jari dari kalender duduk yang bertengger di meja, ia baru saja menandai angka-angka di kalender tersebut sembari menghela napas. Sudah empat hari, ia bergumam sendiri sembari memperhatikan angka-angka yang sudah disilang sebelumnya. Dibasahinya bibir bawah dan kembali membuang napas. Baru empat hari, tetapi rasanya mengapa sangat lama? Bisakah perputaran waktu dipercepat agar segera melewati masa-masa sulit ini? Andara mengerucutkan bibir memindahkan atensi pada kaki-kaki telanjangnya di lantai, lalu tersenyum masam. Kapan hutangnya lunas dsn ia terbebaskan dari tempat ini? Tak lama, ia perhatian sekeliling, di sana para pelayan sudah tidur nyenyak di ranjang masing-masing. Sungguh pemandangan yang membuatnya begitu iri, mengapa mereka bisa menjalani hari-hari tanpa beban seperti ini? Bahkan untuk memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikiran pun mereka semua tampak begitu mudah, sangat bertolak belakang dengan dirinya sulit terpejam. Awalnya ia merasa kualitas tidurnya membaik daripada tinggal di ruang kontrakan, tetapi lambat laun, setelah semakin tahu bagaimana Ernest bersikap seenaknya, membuat Andara mengubah sudut pandang itu. Kedua tangannya terangkat, merentang guna meregangkan tubuh yang kaku. Seharian bekerja, tenaganya benar-benar terkuras habis, tetapi kendati begitu, ia belum bisa tidur. Kepalanya terangkat menatap jam dinding, padahal jam sudah menunjukkan pukul satu malam, dan Andara belum sama sekali ada minat untuk tidur. Ia berpikir keras, ini tidak boleh dibiarkan, Andara harus berusaha untuk segera tidur agar tidak bangun terlambat dan dalam keadaan lemas esok paginya. Setelah banyak memikirkan cara bagaimana mengatasi insomnia yang melandanya, ia bangkit dari posisinya. Sekarang ia harus pergi ke dapur untuk membuat sesuatu. Tangannya terulur menyentuh saklar dan menyalakan lampu dapur. Hingga keadaan yang semula gelap gulita berubah terang benderang. Ia kembali melangkah ke arah lemari pendingin dan mengambil satu kotak s**u UHT. Tetapi ketika hendak menuang s**u itu ke dalam gelas, telinganya mendengar suara sliding door terbuka, buru-buru tangan itu menutup pintu lemari pendingin dan pergi menjauh, ia perlu memastikan siapa yang membuka sliding door menuju balkon tengah malam begini. Samar-samar, kedua netranya menangkap sekelebat bayangan tinggi dari dinding. Dengan langkah penuh hati-hati, Andara menghampiri sosok itu alih-alih takut mendekatinya. Begitu sosoknya berada tak jauh dari sosok yang dituju, Andara menghela napas panjang. Ada kelegaan di dalam hatinya sebab pikirannya yang buruk tak terbukti sama sekali. "Kenapa, Dar?" "Tidak apa-apa, Pak. Saya kira tadi siapa. Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam." Baru saja memutar tubuh, Miko berujar membuat langkah yang hendak berayun pun urung seketika. "Kenapa belum tidur?" Andara memejamkan mata, sungguh kondisi jantungnya mendadak tidak sehat diajak berkomunikasi seperti ini. Apakah itu karena pertemuan pertama mereka kemarin, Andara sudah menjatuhkan kekaguman pada sosok asisten dari Tuan mudanya itu? Ah, yang benar saja! Andara menggeleng pelan. "Saya sulit tidur, Pak." "Kalau begitu sama. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar? Mana tahu setelah itu kita bisa tidur." Andara lekas memutar kembali tubuhnya menghadap pada sosok yang sedari tadi dipunggungi, ia tersenyum kemudian mengangguk setuju. "Apa Pak Miko sering begadang?" "Tidak juga, hanya beberapa kali. Oh, ya. Kalau bisa jangan panggil saya Bapak, panggil Miko saja. Usia saya masih muda, baru tiga puluh tahun. Belum pantas dipanggil 'Pak' karena belum berkeluarga." Andara terkekeh, ternyata laki-laki ini cukup humble, dilihat dari banyaknya kosa kata yang digunakan dalam berbicara. "Oke, Miko. Eh..." Andara mengigit ujung lidahnya. "Kenapa?" "Kok rasanya aneh kalau saya manggil, Pak Miko dengan sebutan Miko saja." "Jadi?" "Hmm, bagaimana kalau saya panggilnya pakai embel-embel mas?" Miko tertawa sebentar sebelum akhirnya tawa renyah itu surut. "Bagus juga, tidak apa-apa kalau panggilan itu nyaman untuk kamu, 'Mas' nggak begitu buruk dibanding dipanggil 'Pak'." Andara mengangguk setuju dengan ucapan Miko. Pada akhirnya mereka mengobrol santai di lantai balkon, banyak hal yang mereka bicarakan hingga tiba-tiba salah satu di antara mereka memutuskan menyudahi interaksi dini hari tersebut. ***** "Selamat pagi, Tuan. Bagaimana tidur Anda semalam? Apakah nyenyak? Apakah mimpi indah?" Andara bergerak menyibak tirai di kamar besar itu. Ernest yang sedari tadi sudah bangun dan menyandarkan tubuh di punggung ranjang pun berdecak melihat tingkah aneh Andara pagi ini. Gadis itu terlihat lebih energik dan cekatan dari pada empat hari berturut-turut. Aneh memang, dan Ernest mengira ia tahu apa yang membuat gadis itu tiba-tiba menjadi sangat periang pagi ini. "Setelah memandikan saya, kamu turun untuk buatkan saya sarapan. Ingat! Jangan suruh Bi Ririn yang membuatnya. Saya maunya kamu! Paham!" Andara menoleh ke belakang dan tersenyum, selagi tangannya sibuk mengikat tirai, ia pun menyahut. "Baik, Tuan. Memangnya Tuan minta sarapan apa? Saya akan berupaya membuat sarapat lezat itu untuk Anda," ujarnya penuh semangat. Ernest kembali berdecak, melihat Andara dalam mode seperti ini justru jauh lebih menjijikkan dibanding memamerkan kekeruhan "Kamu ini kenapa? Bisa berhenti bersikap menggelikan? Dasar!" Meskipun mendapat protes dari Ernest, tak ayal membuat Andara termakan emosi. Ia tetap tersenyum sembari menyiapkan sabun yang hendak dipakai oleh Ernest. "Tuan tahu? Semalam saya habis belajar dari internet, saya baru tahu ternyata kalau banyak-banyak tersenyum dan bahagia itu cukup mampu menunda penuaan dini." "Oh ..." Tidak aaa tanggapan lain setelah mengatakan kata singkat itu. Dan ia pun membiarkan tubuhnya dipapah pergi ke kamar mandi. Ernest merasa kepalanya pusing karena mendadak bangun dari tidurnya. Mimpi aneh kembali datang membuatnya menjadi susah memejamkan mata kembali. Ia meraih kursi roda dan memindahkan tubuhnya dengan susah payah, setelah berhasil berada di kursi roda, ia membawa kursi roda itu keluar dari kamar. Tujuannya hendak pergi ke dapur. Meski bisa saja meminta siapapun untuk membantunya. Tetapi, Ernest tidak ingin membuat mereka terbebani oleh pekerjaan mendadak yang diberikan tengah malam begini. Ernest tahu, mereka sudah berkerja keras di siang hari. Begitu kursi yang ia gerakkan dengan tangan sendiri kini tiba di ruang tengah, kedua indera pendengaran menangkap sesuatu yang asing, yakni suara gelak tawa dari arah luar, yang selama ini tak pernah didengar di dalam rumah ini. Kira-kira suara siapa itu? Kepalanya menoleh spontan mengikuti arah suara-suara tersebut. Di sana, tampak jelas dua punggung orang dewasa yang tampak asik mengobrol. Miko dan Andara, Ernest menggeleng pelan. Bisa-bisanya mereka berkencan di tengah malam begini, di rumahnya pula. Apakah ia harus memberikan teguran saat ini juga? Awalnya Ernest memiliki inisiatif seperti itu, tetapi niatnya buru-buru dipadamkan karena baginya urusan mereka tidak penting. Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke dapur dan mengambil sesuatu yang dibutuhkan. Mengabaikan suara-suara obrolan asyik mereka meski membuat telinganya mendadak sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN