Membuat Andara kesal

1012 Kata
Andara baru saja menyelesaikan tugasnya dengan baik, setelah seluruh tugas mengurus Ernest tuntas dan kini ia kembali ke dapur untuk menyimpan troli, tiba-tiba Miko muncul di belakang punggungnya. Andara terkejut, hingga membuat air keran yang dipakai membasuh tangan memercik ke arah Miko. "Astaga ..." Andara memekik tertahan, tangannya sempat terukir menutup mulut sebelum akhirnya bergerak ke depan. "Maaf, maaf banget, Mas, aku nggak sengaja. Sumpah," ujarnya panik, tangannya yang bergerak spontan tadi masih sibuk menggerayangi kemeja Miko. Alih-alih bersih, kemeja itu justru kian basah. Sungguh dalam kasus ini, Andara merasa bersalah. "Tidak apa-apa, Dara. Sudah berhenti!" Dengan cekatan Miko menangkup pergelangan tangan Andara agar berhenti bergerak di permukaan d**a bidangnya. Sepersekian detik berlalu, keduanya masih sama-sama terpaku. Dengan posisi tangan saling bersinggungan, hingga ketegangan itu berakhir setelah mendapat intrupsi dari Ernest. "Masih banyak waktu untuk berkencan, sekarang waktunya kita berangkat bekerja, tunda dulu kegiatan kalian ini," ucapan Ernest yang sedikit pedas berhasil menyentil perasan Miko seketika itu. Padahal di sini, sebetulnya Ernest hanya keliru menanggapi insiden yang terjadi antara dirinya dengan Andara. Tidak ada kegiatan berkencan, tujuan datang ke dapur ini adalah Miko ingin mengambil Tumbler kopi bekas semalam, tetapi sesuatu yang tak diinginkan terjadi hingga menimbulkan salah paham. "Andara! Kamu juga ikut saya ke kantor!" Setelah memberikan sebuah teguran yang sedikit menyudutkan, kini tatap mata itu mengarah pada gadis di sebelah Miko dan berujar semau hatinya. Tak peduli bagaimana keadaan Andara yang belum menyiapkan diri, masih terlihat sedikit acak-acakan karena baru saja selesai melayani Ernest. "Tapi–" "Jangan ada bantahan!" Ernest menatap sengit perempuan yang hendak melayangkan protes, lalu setelahnya pergi menuju pintu utama bersama dengan Miko yang sekarang sudah berpindah posisi mendorong kursi roda. "Atas kejadian tadi saya minta maaf, Tuan." Entah atas dasar apa Miko harus mengatakan hal demikian, tetapi tak ayal membuat Ernest lekas merespon. Bibirnya setia untuk bungkam hingga keduanya kini berakhir dalam mobil. Seharusnya Ernest menjawab, "Ini bukan masalah besar." Tetapi, kerongkongan tercekat ketika ingin melontarkan kalimat itu. Entah karena dia merasa kesal atau karena hal lain? Ernest belum bisa memastikan dengan baik alasannya kenapa dia memilih diam. Tidak berselang lama, Andara muncul, perempuan itu berlari cepat dan menyusul masuk dalam mobil. Karena sedikit memiliki kecerobohan, alih-alih duduk di kursi belakang menemani Ernest, Andara tanpa rasa bersalah justru memilih duduk di samping Miko. "Dara, duduk di belakang!" Andara yang hendak memasang safety belt berhenti sejenak dan menoleh ketika suara dingin itu memberikan perintah. "Ini hanya soal duduk?" "Bisa berhenti protes?" Suara Ernest meningkat beberapa oktaf. Dan dari sana seharusnya Andara paham, jika Ernest sedang benar-benar marah. "Dara ... lebih baik pindah! Jangan bikin Tuan marah!" Suara Miko terdengar berbisik, menjamah tepat di telinga Andara, meminta agar Andara lebih baik tutup mulut, dan melakukan perintah Ernest walaupun tidak suka. "Oke. Saya pindah sekarang." Andara mendorong keras pintu mobil keluar, dsn ia pun beralih posisi duduk tepat di sebelah Ernest. Seperti apa yang diinginkan Ernest. Percayalah, sekarang yang terjadi adalah suasana begitu mencekam. Biasanya Miko akan mengoceh mengenai perkembangan perusahaan atau tentang saham-saham relasi bisnis yang masih bagus. Tetapi, kali ini Miko diam. Dia seakan tahu bagaimana suasana tuan mudanya pagi ini. Daripada ucapannya menjadi pemicu kemarahan, lebih baik ia bungkam sementara waktu. ***** Setibanya di perusahaan pribadi milik Ernest–perusahaan yang saat ini tengah berkembang pesat karena kerja keras pria itu– Andara terus saja merengut sepanjang mendorong kursi roda milik Ernest, ekspresi wajahnya begitu konsisten ketika melewati lorong panjang lobby menuju pintu elevator. Tak ada raut wajah ramah yang ditampilkan termasuk pada orang orang yang berlalu lalang sekitarnya. Mimik wajah Ernest pun serupa, tegas dan dingin–seperti biasa. Tetapi, ia tak keberatan jika harus menarik otot-otot pipinya ke atas ketika ada beberapa orang menyapanya. Ernest bukan seorang otoriter jika menyangkut pekerjanya, dia bukan tipe pemimpin yang suka menekan hingga membuat mereka semua tidak betah berada dalam ruang lingkup pekerjaan ini. Semua orang menyambut kedatangan Ernest, bahkan yang tengah sibuk mencetak berkas pun menyempatkan diri guna membungkuk hormat. Andara bisa merasakan, betapa Ernest sangat dijunjung tinggi oleh mereka semua. Kendatipun begitu, tak lantas membuat Andara berinisiatif mengubah ekspresi. Dia tetap memasang wajah kesal tanpa terganggu sedikitpun oleh tatapan tajam yang di tujukan oleh mereka kepadanya. Mereka berdua kini hilang di balik hiruk pikuk kebisingan di lantai utama, ketika sudah berada dalam elevator menuju lantai atas. "Jangan menatap saya seperti itu, Dar!" Andara buru-buru membuang muka ke arah langit-langit lift. Sebetulnya ia tak berminat menatap Ernest, hanya saja kedua mata mereka tak sengaja bertemu di pantulan kaca. "Setelah sampai di ruangan nanti, saya izin pulang, Tuan. Saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah." "Tidak perlu! Tugasmu melayani saya 'kan? Fokuslah hanya pada saya dan perintah saya. Jangan kerjakan yang lain jika itu di luar job desk." Andara meniup napas ke udara, terlihat jika suasana hatinya semakin kesal. Dan Ernest yang bisa melihatnya di balik kaca, enggan peduli. Ia jutsru tersenyum miring karena berhasil membuat gadis itu keki setengah mati. Jujur saja, semenjak Andara tinggal dan menjadi pelayan untuknya pribadi, banyak kejanggalan yang dirasakannya. Mulai dari kedatangannya yang dibawa langsung oleh Maria, kemudian sikapnya yang sedikit menyebalkan karena seringnya membantah, dan bersikap sedikit bar-bar. Tidak anggun seperti pelayan sebelum ini..Sangat mustahil jika sekadar berltar belakang hutang, Ernest yakin ada kontasi lain di balik semua ini. "Kita terjebak, Tuan." Andara menjerit panik ketika tiba-tiba pergerakan lift mendadak stuck dan lampu berkedip-kedip sebelum akhirnya mati. Hanya Andara yang panik, tetapi tidak dengan Ernest yang terbiasa menghadapi kegelapan dan situasi menegangkan. Melihat Andara yang histeris membuat, Ernest terpaksa menarik ke depan gadis itu, dan memaksanya untuk berjongkok tepat di depannya. "Diam! Suara kamu nyaris merusak gendang telinga saya." Andara menelan saliva, bukan karena jarak wajah mereka yang dekat, tetapi karena ketakutan sedang merajainya sekarang. "Saya ... saya takut gelap, Tuan." Bisa Ernest rasakan tubuh gadis itu gemetar dan dingin ketika bersinggungan kulit. Ernest mengulurkan tangannya menyentuh punggung gadis itu dan mengusapnya pelan. "Jangan khawatir, sebentar lagi liftnya akan berfungsi dengan normal." Suaranya berbeda dengan biasanya. Ini lebih manusiawi, dan penuh kelembutan. Sampai Andara lupa jika laki-laki di depannya ini adalah seorang Ernest si pria berhati batu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN