Usai kejadian di dalam lift beberapa jam lalu, sanubari Ernest masih merasa ada yang janggal. Ia merasa Dejavu, tetapi lupa di mana pernah merasakan itu semua. Di dalam ruangannya pun ia hanya terpaku, membiarkan ekor matanya terus memerhatikan Andara yang sibuk membuang muka ke luar jendela. Mengamati jalanan dari atas gedung, tepat di ruangan pribadinya.
Ernest menggeleng pelan, ia yakin Andara bukan orang yang dia kenal atau pernah ditemui, mungkin saat ini Ernest hanya sedang berprasangka.
Perputaran jarum jam mengubah siang menjadi petang, Ernest bergegas mengutip beberapa lembar berkas untuk dimasukkan ke dalam tas, setelah menutup rapat zipper, tangganya segera terulur menyentuh tombol intercom meminta Miko agar segera datang ke ruangannya saat ini juga.
Mereka pulang bersama, sebagaimana mestinya ketika berangkat kerja.
Setibanya di rumah, Ernest langsung memasuki elevator, menolak Andara yang hendak mendorong kursi rodanya. Andara merasa ada yang aneh dengan sikap pria itu.
Jujur saja, awal kedatangannya minggu lalu, Andara memang memiliki rasa takut berhadapan langsung dengan Ernest. Karena menurut yang didengar dari pemberitaan, laki-laki itu merupakan sosok arogan, otoriter, ditambah lagi ketegasan dalam tingkat cukup akut, sangat disiplin waktu dan masih banyak hal lain yang melengkapi paripurna pria tersebut.
Namun, setelah Andara merasakan sendiri bagaimana sensasi menjadi pelayannya, gadis itu mengubah pola pikirnya mengenai Ernest Atmajaya.
Baginya, sosok pria berpostur tinggi dan memiliki bisep yang bagus, tak ubahnya seorang pria menyebalkan dan sangat membosankan dengan segala perintah di luar nalar.
Rasa takut itu lenyap bersamaan dengan datangnya kejengkelan yang pria itu ciptakan dalam keseharian Andara. Tetapi, petang ini, melihat diamnya Ernest usai kejadian yang menimpa mereka tadi siang membuat Andara rikuh, apa penyebab perubahan Ernest?
"Saya sudah mununggumu sejak tadi, Andara." Tungkai kaki yang baru menginjak lantai rumah utama berhenti seketika usai mendengar suara yang tak asing di telinga.
"Madam?" Andara langsung mengangguk hormat sebelum akhirnya mengumbar senyum tipis, menyembunyikan raut masam yang sedari tadi terpatri di wajah cantiknya.
"Saya tidak tahu, maaf." Andara mendekat, berdiri tak jauh dari posisi Maria di sofa panjang.
"Duduk di sini, rasanya aneh jika kita bicara dalam posisi berjauhan."
Andara belum bergerak, tetapi tangan Maria bergerak cepat menyahut pergelangannya.
"Disuruh duduk saja susah sekali." Andara melempar cengiran khas, kemudian menundukkan kepala. Tangannya saling bertaut di atas paha sembari bergerak random.
"Andara ..." Kepala yang sedari tadi hanya sibuk menatap permainan jari-jari kini terangkat.
"Ya, Madam."
"Bagaimana impresif selama seminggu bekerja di sini? Apa ada keluhan yang ingin kamu sampaikan? Katakan saja! Tidak usah sungkan." Mendapatkan kesempatan untuk mengadukan nasibnya selama tinggal, tentu adalah kesempatan emas baginya. Tetapi, apakah setelah mengeluh ini itu akan ada solusi yang meringankan? Bagaimana jika Maria hanya sekadar ingin mendengar tanpa memberikan solusi apa-apa?
"Dara ..."
"Semuanya terasa berat untuk bisa saya lalui, Madam."
"Dia menyulitkanmu, ya?" Andara menatap wajah cantik Maria yang terlihat masih elastis meski usianya sudah menginjak puluhan tahun.
"Iya, sangat. Banyak hal yang beliau minta termasuk pekerjaan yang dulunya tidak pernah dilimpahkan pada pelayan pribadinya.".
Seulas senyum terbit dari kedua sudut bibir Maria–nyaris tidak terlihat lantaran terlalu samar–mendengar penuturan tanpa hambatan dari mulut mungil Elina.
"Bersabarlah. Itu artinya, dia sedang menguji kesabaran kamu, Dara."
"Tetapi kenapa hanya saya, Madam? Kenapa tidak dengan pelayan lain? Terkadang hati dan pikiran saya selalu berperang terkait ini semua. Di satu sisi ingin menyerah, tetapi di sisi lain meminta untuk tetap kuat bertahan demi hutang."
"Ya, kamu memang harus bertahan karena di sini, kamu tidak ada pilihan, Andara. Ingat perjanjian kita bukan?"
Andara mengangguk, menghela napas panjang sembari mnurunkan kedua bahu, lemas.
Sekarang yang terjadi, ia seperti sedang makan buah simalakama.
"Jangan pernah berpikir untuk mundur, Dara. Pintu penjara terbuka lebar jika kamu ingkar dengan perjanjian resmi kita," ancam Maria seolah mampu membaca pikiran Andara yang kacau.
"Saya tidak berpikir untuk itu, Madam."
"Bagus."
****
Andara membawa langkah gontainya menuju kamar Ernest. Setengah jam berbincang-bincang dengan Maria, banyak hal yang menggelayut di dalam rongga d**a. Dia pikir, setelah meluapkan keluh kesahnya pada ibu sambung dari majikannya itu, semua masalah akan teratasi, tetapi alih-alih mendapatkan jalan keluar, Andara justru mendapatkan beban lain–perintah mutlak–yang tidak bisa diganggu gugat.
Keberadaan Andara disadari oleh Ernest, pria itu segera menyimpan bukunya di atas nakas, melepas kaca mata yang bertengger di mata.
"Dara." Dara yang semula memiliki tatapan kosong, bergegas menoleh ke arah suara yang menyerukan nama. Tangannya yang memegang teh herbal, bergegas meletakkannya di atas nakas persis sebelah buku.
"Ada apa sama kamu?"
"Tidak apa-apa, Tuan."
"Sejak ketemu sama Mama, kamu banyak melamun seperti ini?" protes Ernest tak suka melihat perubahan sikap Andara.
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Kepalanya menunduk membuat Ernest mengerutkan kening.
Ada yang aneh pada gadis ini?
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu sama saya kan?" Pria itu bertanya demi menjaga kewaspadaan.
"Saya tidak ada niat apapun, Tuan. Saya bekerja di sini benar benar karena butuh uang."
"Lantas hubungan kamu dengan Mama Maria sejauh apa?" Telisik Ernest, memindai dari atas hingga bawah sosok Andara yang mematung. Ini kesempatan emas untuk menginterogasi Andara setelah beberapa hari tinggal, ia sama sekali belum banyak mendalami tentang gadis tersebut.
"Hanya sebatas debitur dan kreditur saja. Saya bekerja di sini murni karena ada hutang dengan Madam. Mungkin Tuan sudah mendengar alasan ini dari beliau, dan itu memang benar adanya."
"Kamu betah kerja di sini?"
Andara melipat bibir ke dalam, gamang. Apa yang harus dijawab atas pertanyaan menjebak ini? Dibilang betah tapi nyatanya dia tidak betah.
Jika berkata jujur bahwa dia tidak betah, bagaimana jika Andara memecatnya, bisa bisa hancur nanti masa depan yang sudah suram tanpa cahaya.
"Betah, Tuan."
"Walaupun saya banyak memberimu pekerjaan?"
Kepalanya mengangguk pelan tanpa menjawab.
Dalam situasi ini, Ernest menjadi penasaran ke mana perginya sifat pembangkang gadis ini?
"Baiklah, kamu boleh pergi keluar sekarang. Istirahat lah, ini sudah malam."
"Tuan?"
"Ya...?"
Keduanya saling memandang satu sama lain, buru-buru Andara menggigit bibir bawah, merasa bingung hendak dari mana ia mengutarakan apa yang menjadi beban dipundaknya.
"Katakan saja!" Perintah Ernest membuatnya melepas gigitan itu lantas menghela napas.
"Saya diminta oleh Madam Maria untuk mencegah Anda membawa masuk para wanita berbeda ke rumah ini," aku Andara diplomatis.
Ernest tidak menjawab, tetapi hal itu justru membuat Andara memejamkan erat matanya merasa takut.
"Maaf, Tuan."
"Dengarkan ini baik-baik, saya tidak bisa menghilangkan apa yang sudah menjadi hobi saya, katakan padanya besok, dan kamu pergi tidur sekarang!" sahut Ernest sedikit ketus, usai mengatakan hal demikian, ia membanting tubuhnya ke ranjang lantas memunggungi Andara.
Andara bergeming, menelan saliva getir dan penuh susah payah. Mengapa Maria tega sekali memberikan tugas seberat ini padanya? Apa karena hutang dua ratus jutanya itu?
Membuat Ernest berubah dari tabiat buruk bukan perkara gampang, apalagi dirinya baru saja masuk dalam lingkar kehidupan pria lumpuh itu.
"Buat Ernest jatuh cinta, agar apa yang kamu inginkan darinya, ia mengabulkan tanpa banyak pertimbangan termasuk bermain-main perempuan.
Kalau kamu tidak berhasil, maka utang itu saya anggap tidak akan pernah lunas."