Obrolan tengah malam

1043 Kata
Andara tidak mampu menutup mata meski nyatanya jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, pusat pikirannya masih berkelana seolah sukar dihentikan. Kapan ia bisa tenang? Setiap hari ada saja sesuatu yang tak pernah luput untuk mendapatkan perhatian. Segala masalah seakan tak pernah berhenti hinggap untuk menggoyahkan ketenangan batin. Membawa matanya agar bisa memejam tidak semudah itu meski gadis tersebut telah memaksimalkan usahanya. Lagi dan lagi, ia harus terjebak dalam situasi ini, terlihat gelisah di antara orang-orang yang sudah lelap menggapai mimpi indah mereka. Kapan Andara bisa melakukannya? Ia ingin tidur tenang, tanpa hambatan seperti yah dirasakan hati-hati terakhir ini. Bingung dan gelisah, hanya itu yang menjadi beban dalam benak saat ini, berputar tanpa henti bak bumi di kepalanya. Ternyata, mengemban tanggung jawab yang tidak mudah dan terlalu rumit untuk direaliasikan membuatnya terasa pening berkepanjangan. Meski memiliki kurun waktu yang panjang, tetap saja membuat Andara berada dalam kendalinya tidak mudah. Apakah ia harus memiliki rencana membuat Tuan Ernest jatuh cinta? Astaga, siapa yang berani melakukan itu? Andara pun tak berani. Karena takut dengan segala konsekuensi di masa depan. Bosan berada dalam kamar, Andara memilih bangkit dari pembaringan lalu menekan tuas pintu, menarik pintu itu hingga terbuka lebar. Gadis itu berjalan santai menuju pantry, saat ini sedang memerlukan coklat panas untuk merelaksasi pikiran yang berserabut. Dari jarak yang jauh, pantulan cahaya lampu dari pantry menimbul tanya dalam hati. "Lampu pantry nyala?Apa bibi lupa matikan?" tanya Elina dama gumaman lirih sambil terus maju mendekat memasuki area pantry. "Lho, Mas Miko?" langkah kakinya berhenti saat melihat dengan jelas sosok Asisten tampan sedang berjibaku dengan sebuah alat di sana. Saat namanya disebut oleh seseorang, lantas membuat pria yang tengah memasukkan bubuk kopi kedalam coffe maker menoleh seraya mengulas senyum. "Lagi buat kopi, ya?" tanya Andara basi-basi. "Iya, kamu sendiri bagaimana ?" "Mau buat minum," sahut Andara sembari menipiskan bibir. Menarik dua sudut bibirnya ke atas, membentuk senyum manis hingga kedua cekungan di pipi terlihat indah. "Oh, bagaimana kalau saya buatin kopi?" "Saya lagi butuh coklat panas sebenernya, tapi boleh deh, kalau Mas nggak keberatan berbagi kopi. Tapi, setelah minum kopi begini, bukannya tidur, malah makin sulit tidur." Keduanya tertawa bersama, sebelum akhirnya surut usai menyadari jika ini sudah lewat tengah malam. "Oke, sebentar, saya buat dua cangkir," Miko kembali memfokuskan tatapan pada benda di hadapannya. Dalam diam, Andara memerhatikan keterampilan Miko yang meracik kopi. Bagi gadis itu, kemahiran Miko tak kalah dengan barista profesional saat menyajikan pesanan untuk pelanggan. Bolehkan ia merasa takjub? Tanpa terasa ia mengulas senyum saat masih lekat memandang Miko yang masih berkutat. "Jangan melihat seperti itu, nanti kalau suka, saya tidak bisa tanggung jawab." Reflek dua mata dengan bulu-bulu lentik itu mengerjap, lalu membuang muka, Jangan ditanya warna wajahnya seperti apa. "Mas bisa saja bercandanya." "Sudah jadi, ini untukmu." Tangan Miko mengulurkan satu cangkir di tangan kanan. "Terima kasih," sahut Andara sembari tersenyum, ia angkat cangkir tersebut, kemudian mendekatkannya ke hidung. "Sama sama," sahut Miko, lalu mengambil cangkir satu lagi untuk dirinya. "Harum banget, aromanya bener-bener bikin tenang," ujar Andara setelah menghirup puas aroma sedap yang dihasilkan oleh kepulan asap. "Mas ahli sekali dalam menyajikan kopi, mirip seperti barista profesional." Mendapatkan pujian seperti itu, Miko menguarkan kekehan singkat. Menyembunyikan raut merona karena sempat mendapatkan pujian dari gadis yang beberapa hari menarik perhatiannya itu. "Jangan berlebihan, Dara. Ini hanya sekadar kopi, dan siapapun ahli untuk membuatnya." "Tapi, dari beberapa kopi yang pernah saya nikmati, ini paling enak, rasanya beda," sahut Andara tidak mau kalah, kembali menyesap pinggiran cangkir keramik guna menikmati pekatnya minuman berkafein tersebut. "Oh ya? Bedanya apa? Apa kopi buatan saya rasa jeruk?" Miko terkekeh pelan usia menggoda Andara. "Tekstur kopinya kental dan tingkat pahitnya kopi juga pas." "Oh, kamu suka minum kopi?" "Tidak terlalu, hanya sesekali saja kalau lagi stress." Andara menyimpan piring kecil itu di atas meja. "Boleh saya bertanya sesuatu?" imbuh Andara. Secara tiba-tiba, ada dorongan dalam dirinya untuk mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu. Tetapi entah mengapa bibirnya yang begitu lancang justru mengatakan hal ini. "Apa itu?" "Tentang Tuan Ernest, saya ingin bertanya tentang beliau." Kening Miko berkerut membentuk gelombang. "Apa yang mau kamu tahu tentang Ernest" "Begini, sebagai pelayan pribadi tentu saya harus mengenal lebih jauh bagaimana majikan saya. Jadi, saya mau tau sedikit ada info tentang beliau. Apa beliau seorang eum...pria kelebihan hormon?" Tanpa rasa ragu, ia melontarkan pertanyaan yang cenderung sangat intim. Ya, mau bagaimana lagi, sudah terlanjur juga, dan Andara tak berminat untuk mundur dari pertanyaan tersebut. "Kenapa kamu tanya begitu?" "Saya cuma penasaran ,apa hobi beliau yang suka bergonta-ganti wanita ada kaitannya sama kelainan dalam dirinya?" Miko membuang napas, mengedarkan pandangan ke udara pekat dan dingin. Ia menoleh sekilas pada Andara yang terlihat cantik meski dalam keadaan minum cahaya. "Ernest memang maniak, ada kelainan sejak dia berusia remaja, dari sebelum menikah hingga bercerai dan sampai lumpuh pun sama tidak berubah. Hanya dia pernah mengalami kejadian pahit, saat itu terpuruk hingga nyaris putus asa setelah banyak bermain wanita. Tapi, alih-alih kapok, justru Ernest semakin menggila." "Oh begitu? Tetapi, saya masih belum mengerti, apakah lumpuh bisa melakukan seks?" "Kenapa tidak? Yang lumpuh kakinya ,Dara. Bukan alat vitalnya." "Yang perlu kamu tahu, masalah hidup Tuan kamu itu terlalu complicated, tidak bisa dijelaskan secara mendetail dan menyeluruh seperti yang kamu ingin. Cukup satu hal yang kamu tahu, dia tidak bisa jauh dari perempuan." "Kenapa?" "Wanita baginya tak ubahnya sebuah kebutuhan. Jadi, meksi bagaimanapun kamu berusaha membuat Ernest berhenti, kamu tidak akan pernah bisa berhasil. Ernest bukan tipe laki-laki yang mudah dihalangi segala keinginannya." "Kamu ... tau sesuatu, Mas? Tentang aku–" Andara menatap penuh kecemasan pada pria yang masih mengenakan pakaian formal di sampingnya. "Apa kamu lupa posisi saya di sini sebagai apa?Telinga dan mata saya bisa mengawasi semua yang terjadi di rumah ini.Termasuk perbincangan antara kamu dengan Nyonya besar." Elina ternganga. Dalam pikirannya yang kacau dan berakar banyak, ia pun bertanya-tanya, di dialog bagian mana Miko mendengar percakapan mereka berdua? Miko mengakhiri perbincangan mereka, membawa cangkir kopi yang sudah kosong pergi menjauh dari Andara. Andara tak melakukan hal serupa, ia tetap bergeming di posisi semula. Bagaimana jika Miko berpikir, ia ada niat jahat? Padahal sebetulnya ia pun tak pernah punya niat apa-apa di sini. Jika saja hutang dua ratus jutanya lunas, siapa yang mau bertahan lebih lama dengan misi gila yang diciptakan oleh Maria?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN