Perlahan membalas

1031 Kata
Ernest tersenyum senang menatap amplop coklat berisi selembar sertifikat dari sebuah club yang kini telah berhasil bergeser menjadi atas namanya. Ia terkekeh, sedikit membanggakan diri dengan pongah. Lihat! Kekuasaan raksasa miliknya benar-benar mampu mendorong siapa pun para musuh turun dari kursi kebesaran yang diduduki mereka, merelakan kursi kebanggaan itu lepas dan di genggam oleh Ernest. Tak sia-sia siasat yang selama ini dipakainya secara diam-diam, Ernest benar-benar mewujudkan mimpinya merebut paksa club tersebut. Topstar Club ,salah satu club ternama dan terbesar yang terletak pada pusat kota menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Ernest, entah memang karena latar belakangnya atau lantaran pemiliknya ada masalah dengannya. Teka lepas dari pengamatan, club itu cukup terkenal di kalangan para kelas atas. Pundi rupiah yang dihasilkan pertahun pun selalu meningkat signifikan. "Kerja bagus! Saya puas dengan kerja maximal kalian!" ujar Ernest sambil memasang senyum manis pada ketiga orang kepercayaan yang kini berdiri tegap di depannya, berjajar rapi dengan posisi sama rata. "Kalian bisa keluar dan panggil Miko masuk kesini!" Ketiganya serempak keluar dari ruangan itu, meninggalkan Ernest yang masih menyinggung senyum. "Satu aset berhargamu sudah jatuh ke genggamanku. Tidak usah cemas, kawan. Hanya menunggu waktu, semua yang ada padamu akan berakhir ke tanganku. Dan takkan pernah luput dari rencanaku, bahwa tentu seumur hidupmu akan kubuat menderita." Ernest menyimpan secara kasar benda yang semula di dalam genggamannya di atas meja kerja. Tak dapat dipungkiri, dendam masih tersimpan rapi dan utuh hingga saat ini pada Riko Anggara, salah satu sahabat Ernest yang sengaja menusuk dari belakang dengan membuat Ernest celaka sampai menyebabkan laki-laki itu kehilangan fungsi kakinya terhitung sejak setahun lamanya. Ia tak mau semudah itu melupakan tindakan kejahatan yang dibuat secara sadar, apalagi dengan tujuan yang begitu piciknya. Mengatasi mobil miliknya, lalu merebut Savannah–istri Ernest. Apakah kekejian itu bisa dimaafkan? Oh, hanya orang gila yang mungkin akan tetap membiarkannya. Ingatannya tiba-tiba terlempar pada bulan-bulan yang sudah terlewati penuh kelam. Dulu, pantas saja Savannah kekeh tidak ingin dinikahi secara resmi–pernikahan mereka terjadi hanya di bawah tangan lantaran ada alasan tertentu–rupanya hal itu ada kaitannya rasa nyaman antara istri dengan sahabat dekatnya tersebut. Hati siapa yang tak sakit? Apalagi perselingkuhan itu memicu keinginan untuk membunuhnya. Benar-benar tidak waras. Ingat pula kemarahannya memuncak ketika sepasang kekasih gelap itu selingkuh itu sengaja mempertontonkan kemesraan mereka di publik tepat pada hari ulang tahun Savannah. Rupanya insiden itu merupakan sebagian intrik dari mereka, karena mereka tahu, Ernest yang telah menyaksikan itu semua pasti akan berakhir pergi dalam keadaan emosi. Tak sampai di sana, kehilangan Savannah beserta fungsi sepasang kaki. Tetapi, rentetan masalah datang setelah dirinya bangun dari koma selama berhari har–mulai dari kehilangan fungsi pada salah satu kakinya, mengalami kerugian besar karena proyek mendadak mangkrak lantaran termakan isu tidak jelas, hingga terakhir beberapa relasi bisnisnya memutus kontrak kerja sama dengan perusahaan raksasa miliknya secara sepihak sampai menyebabkan semua rencana yang telah disusun rapi hancur berantakan dalam sekejap. Datangnya sekian banyak masalah, jelas membuat Ernest mengalami gangguan pada psikisnya. Tetapi, itu dulu! Tidak dengan sekarang yang berada dalam posisi lebih baik dari kesuksesannya di masa lalu sebelum terjun jatuh ke dalam jurang penderitaan. Dan dalam keadaan sekarang ini juga, ia akan membalas segalanya secara brutal tanpa ampun. Hanya memerlukan waktu enam bulan tenggelam dan menutup akses agar tidak tercium media setelah berita kelumpuhannya menyebar luas, juga sengaja rehat sejenak dari permukaan demi menyusun sebuah siasat, dia kembali muncul membawa serta bom yang siap di ledakkan setelah enam bulan lamanya di rancang sedemikian rupa. Membuat semua pengusaha yang sempat meragukan dan memilih memutus sepihak kerja sama itu jatuh rata menjadi gelandangan, tercengang dan menyesal pada akhirnya. Hingga pembalasan terakhirnya membidik pada Zico–sasaran utama. "Anda memanggil saya, Tuan?" "Yup, bagaimana dengan Savannah? Kamu belum memberikan laporannya hari ini," tanya Sean setelah Miko baru saja tiba memasuki ruangannya. "Baru saja ingin menyampaikan ini pada Anda setelah makan siang." Miko bergegas membuka tab yang dibawa. "Karen kabar mengejutkan hari ini datang tanpa diduga, bertepatan dengan rencana perayaan hari ulang tahun Nyonya Savannah sendiri, beliau mengalami stress berat. Beliau masih belum percaya kalau Club sebesar itu bisa di ambil alih oleh orang lain apalagi tanpa adanya tanda-tanda," papar Miko memberikan penjelasan secara terperinci. Ernest tertawa puas, bagaimana tidak langsung stres? Bukankah sumber penghasilan terbesar mereka terletak pada Club itu? Tidak salah jika Ernest menjadikan kehancuran mereka dimulai dari merebut aset terbesar tersebut. "Sedang dimana sekarang?" "Masih di rawat jalan di rumahnya, Tuan." "Siapa dokter yang menangani?" "Menurut informasi yang saya dapat, Zico masih mencarikan dokter psikiater untuk nyonya Savannah. Meminimalisir keterlambatan dan menjadi impact besar di masa mendatang." "Kamu kirimkan satu orang dokter ahli kejiwaan yang akan merawat Savannah. Suruh dokter itu menemui Zico dulu untuk proses ACC." "Apa setelah menghancurkannya ,Tuan akan menolongnya?"tanya Miko mengernyitkan kening. Mengira apa yang dilakukan Ernest merupakan bagian dari belas kasih, padahal tidak sama sekali. "Tentu saja tidak, dokter yang saya utus nanti akan membuat kondisi Savannah semakin memburuk, dan ya...Zico semakin tersiksa akan hal itu. Siapa yang sanggup, melihat istri tercintanya berada dalam ancaman dan mungkin akan berakhir mengenaskan setelah mengalami overdosis obat nanti. **** Andara mengamati setiap sisi ruangan yang teramat apik memanjakan mata, arsitek rumah ini pasti sangat profesional saat menggunakan seninya ketika mendesain sketsa ruang kerja milik Ernest. Terbukti ruangan yang memiliki luas yang entah berapa karena elina belum menghitungnya sangat menarik dengan arsitektur modern dan elegan. "Oh yaampun, aku kemari karena diminta untuk ambil map. Bukan malah cuci mata." Andara menepuk kening sendiri usai sadar atas tindakan lalainya. Beberapa menit terlewati, benda yang dicari dengan susah payah itu akhirnya ditemukan dan diantar pada sang Tuan. "Ini, Tuan." Andara mengulurkan tangan, menyerahkan map tersebut, seketika itu juga Ernest merampasnya kasar . "Kamu boleh keluar sekarang!" titah Ernest membuat Andara mengembuskan napas, lalu melangkahkan kaki hendak keluar. Seperti biasa, Ernest tidak ada sama sekali inisial berterima kasih padanya. "Sebentar! Saya lupa sesuatu." "Apa itu?" "Buatkan saya kopi! Pasti sudah mahir membuat kopi setelah dua hari lalu belajar di pantry?"Andara sedikit tersinggung dengan ucapan Ernest yang jelas-jelas menyindir. Tetapi, apa boleh buat? Pura-pura saja abai daripada keki. "Baik, Tuan." Andara tak membantah, kakinya langsung beranjak keluar dari kamar. Tetapi, hati tak bisa diam, terus menggerutu sampai ia tiba di pantry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN