Perintah mutlak

912 Kata
Secangkir kopi berhasil dibuat, berbekal mengamati Miko ketika membuat kopi ketika malam itu, alhasil ia bisa mengoperasikan benda yang bertengger di pantry dengan baik. Tersaji secangkir kopi di dalam cangkir tebal khusus milik Ernest, dan beberapa buah cookies sebagai pelengkap. Andara membawa baki tersebut ke dalam kamar Ernest, dan menyimpannya tepat di meja kaca. "Sudah, Tuan. Silakan Anda cicipi." Andara hendak berbalik badan, meninggalkan Ernest yang belum menimpali apa pun ucapannya barusan. Tetapi, belum sempat berhasil meraih gagang pintu, ia lebih dulu distraksi oleh permintaan Ernest yang sedikit–tidak, bukan sedikit, tetapi sangat terkejut. Bagaimana tidak, Ernest bicara dengan enteng sekali, memerintah Andara agar mulai malam ini tidur di kamar ini. "Anda jangan bercanda." "Sejak kapan ucapan saya kamu anggap candaan? Saya Tidka pernah memberikan perintah main-main, Dara," tukas Ernest cukup tegas. Dari sana, Andara langsung menela air liurnya kelat, dia tak pernah terbiasa tidur dalam satu kamar bersama orang asing, walau tahu di dalam kamar Ernest ini sangatlah luas dan dia bisa memilih tempat di mana pun untuk beristirahat. Tetap saja rasanya akan sangat aneh. Malam-malam biasanya ia akan terlelap di antara teman-teman seperjuangan, tetapi malam ini ia terlelap di dalam kamar milik Tuannya. Ah, tidak-tidak, Andara harus menolak perintah konyol ini, ia harus menolak karena demi mempertahankan harga diri sebagai seorang wanita. "Tapi, saya tidak bisa, Tuan." "Alasan tidak bisa?" Ernest menyimpan cangkir di atas meja, tatapannya naik ke arah Andara yang berdiri cukup jauh darinya. "Saya ... bagaimana tanggapan yang lain kalau saya tinggal di kamar ini? Pasti mereka–" "Kamu memikirkan perasaan mereka? Memikirkan sudut pandang mereka padamu, sementara kamu tahu tidak satupun di antara mereka yang berkontribusi apa pun padamu." Andara menghela napas, ia menjilat bibir bawahnya bingung. "Baiklah, jika kamu terlihat berat mengikuti kemauan saya, pergilah kembali ke belakang, tetapi jangan salahkan saya apabila mulai besok, mereka saya berhentikan serempak dan keluar dari rumah ini." Mendengar ancaman itu kontan membuat kedua mata Andara mendelik, ia buru-buru berlari mendekat kepada Ernest di sofa. "Jangan, Tuan. Mereka semua menggantungkan hidup pada pekerjaan ini." Andara menatap penuh permohonan. "Itu bukan urusan saya, pergilah!" Andara merasa sangat bingung, bak berdiri di tepi jurang yang curam. Harus langkah mana yang dipilih? "Bangun dan keluar dari sini, Dara." "Saya bersedia, Tuan. Saya bersedia jika mulai malam ini tidur di sini." Sesungging senyum dari sebelah bibir Ernest terbit. Tidak usah susah payah membujuk Andara, Ernest sudah tahu kelemahannya di mana. Alasan mengapa Ernest meminta Andara menetap di kamarnya adalah, agar Andara segan pergi keluar kamar tengah malam dsn berakhir mengobrol dengan Miko. Ernest tidak senang, melihat kedekatan yang terjalin di antara mereka, tanpa alasan. Karena Ernest tidak tahu apa alasannya. **** "Jadi, begitu ceritanya?" Andara mengangguk, kedua bahunya terlihat lemas meski masih pagi. Sekumpulan para maid yang berkumpul sebelum memulai pekerjaan di sana pun turut prihatin. "Ya sudah, asal kamu jaga diri saja, Dara. Karena jujur, kami mencemaskanmu. Kamu terlalu baik jika harus menjadi mainan Tuan Ernest." "Husst, jangan asal bicara! Tuan Ernest juga akan berpikir panjang jika menjadikan Dara sebagai mainan barunya. Dara tidak cukup menarik," timpal yang lain. Alih-alih tersinggung, Andara justru mengangguk setuju dengan ucapan yang disampaikan Yuniar. "Selamat berpisah Andara, kita tidak bisa bercanda lagi sebelum tidur, tidak bisa berbagi cerita seperti malam-malam sebelumnya." Raut kesedihan tercetak jelas di mata jernih Ayla–bagian laundry. "Maafkan aku semuanya." "Tidak apa-apa, kamu memang berhak berada di kamar itu sebab kedatanganmu di sini memang ditugaskan sebagai pelayan pribadi Tuan. Tidak salah jika beliau meminta kamu tetap tinggal di kamar itu guna mempermudah Tuan meminta bantuan ketika tengah malam membutuhkan." Kata-kata bijak itu keluar dari bibir Ririn. Sejak awal kedatangan Andara ke dalam rumah ini, Ririn langsung jatuh hati pada paras dan perangai gadis itu. Tidak hanya baik, tetapi Andara juga sangat tulus. Tepukan di bahunya sedikit membuat Andara merasa tenang. Ia mengangguk kemudian tersenyum meski sedikit terpaksa. "Ya sudah, kita bubar sekarang! Kita mulai bekerja." Semua yang semua merapat pun kita bergegas beranjak, mereka mengambil tugas masing-masing dan meninggalkan Ririn yang masih bersama Andara. "Pergilah ke kamar Tuan Ernest, sebelum beliau bangun dan mencarimu. Jangan lagi kamu keluyuran seperti ini." "Bagaimana kalau aku kangen, Bi?" Ririn tersenyum dan mengusap pelan rambut panjang Andara yang diikat rapi. "Kamu pasti punya kesempatan untuk bertemu kami di kamar seperti biasa." Andara mengangguk, ia pun berpamitan pergi ke kamar Ernest. Setidaknya ia sudah mengatakan pada teman-teman yang lain terkait sesuatu yang mengganggunya sejak semalam. Setibanya di dalam kamar, ia melihat Ernest masih terlelap. Dalam posisi terlentang, tangan kanannya bertengger di dahi sedangkan tangan kiri memeluk ponsel. Buru-buru Andara mendekat, ponsel berada di atas tubuh sedikit berbahaya jika dibiarkan. Ia pun memindahkan ponsel itu dan menyimpannya di atas nakas. Tetapi setelahnya, Andara tidak segera beranjak, dipandanginya wajah tersebut dengan cukup seksama. Alis tebal tetapi beraturan, hidung mancung, dan bibir bertekstur sedikit tebal dan berwarna pink. Pantas saja perempuan manapun tergila-gila pada pria itu, ternyata tak dapat dipungkiri jika Ernest sangat tampan rupawan. "Mulai terpesona?" Andara segera menyurutkan senyum. Ia langsung membuang muka, kenapa Ernest harus memergokinya begini? Duh ... "Bagaimana? Enak kan tidur di sini? Bisa melihat wajah saya kapan pun dan sepuas kamu? Jika tidak tinggal di kamar ini, tentu saja kamu tidak bisa melihat saya dalam keadaan tidur." "Ma-maaf." Andara segera beranjak memasuki kamar mandi, menyiapkan segala kebutuhan mandi sebelum ia membantu Ernest memasuki kamar mandi tersebut. Menyimpan wajah merahnya karena harus ketahuan. Lagi pula mengapa ia sangat bodoh? Mengapa dia membiarkan dirinya memaku dan jutsru asyik menatap wajah bos killer itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN