Karena ini merupakan hari libur, maka, kesibukan Ernest sedikit menyurut–tidak pergi ke kantor. Dan dalam kesempatan ini pun Andara menggunakannya untuk berkumpul bersama teman-teman yang lain, kapan lagi mereka bisa berbincang? Karena tidur pun mereka tak berada dalam satu ruang yang sama.
"Andara, bukakan pintu utama untuk tamu saya." Perintah itu terdengar menggema di seluruh ruang. Tentu saja pelakunya adalah pemilik rumah besar berlantai lapis tersebut.
Kegiatan Andara yang tengah berbincang-bincang pun terdistraksi. Andara bangkit bersama dengkusan kesal, tak lama kembali berbunyi sound, "Berhenti mendengkus, Andara."
Suara itu berhasil membuat beberapa di antara mereka terkekeh.
Andara menoleh ke belakang, dan memutar jengah bola matanya.
"Iya, Tuan, iya," ujarnya kemudian bergegas pergi.
Membutuhkan kurang lebih lima menit untuk bisa mencapai pintu utama.
Begitu berhasil membuka keylock, daun pintu terbuka dengan sendirinya.
"Silakan, Masuk!" Andara sedikit membeku ketika seseorang yang berdiri di depan pintu tadi adalah seorang perempuan. Tatap matanya lantas turun mengamati kaki jenjang hingga kepala.
"Oke." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, kedua kaki berbalut heels itu pun melangkah masuk, seakan sudah hafal dengn seluk beluk rumah berukuran raksasa ini, perempuan tersebut langsung menuju tujuan utama tanpa mau digiring.
Perempuan itu hilang di balik pintu ruang kerja milik Ernest. Seketika itu, Andara mendadak dilandsh gundah gulana.
Ia bingung bagaimana jika Maria tiba-tiba datang dan mengetahui di balik pintu ruang kerja Ernest ada wanita asing yang bahkan ia tak tahu siapa namanya.
Andara tak lantas berbalik badan dan kembali ke tempat di mana semula ia berkumpul bersama pelayan lain. Tetapi, justru mondar mandir tidak menentu sembari menyimpan tangannya di bawah dagu.
"Eh, Mas. Mas Miko mau kemana?" Gerakannya berhenti, tangannya langsung sigap mencegah lengan Miko agar tidak melanjutkan perjalanannya menuju ruang yang kini tertutup rapat.
"Bertemu, Tuan. Ponselnya tidak aktif sejak tadi, dan ada hal penting yang mau saya sampaikan." Andara mengangguk paham, tetapi tidak dengan tangan yang masih setia bertengger di lengan kekar pria lajang tersebut.
"Bisa tolong dilepas tangannya, Dara?"
"Tuan Ernest sedang kedatangan tamu, Mas. Jangan sekarang, ya?"
"Tamu?" Dahi Miko lantas mengerut, sebab setahunya di hari bebas seperti ini, Ernest tidak berkenan menerima tamu di luar konteks perkejaan kecuali...
"Perempuan?"
"Iya, Mas. Tapi, tapi tolong jaga rahasia ini, ya! Jangan sampai Madam tahu." Wajah itu terlihat benar-benar ketakutan, memohon agar Miko berada dipijaknya kali ini, sebab kedatangan perempuan asing itu sungguh di luar kendalinya.
"Siapa perempuan itu?"
"Aku juga kurang tahu, Mas. Sejak aku berkerja di sini, aku baru pertama kali melihatnya datang."
"Jika kedatangannya ke sini tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu sama saya itu artinya dia adalah teman dekat Tuan Ernest. Karena perempuan itu pasti menghubungi Ernest secara langsung."
Andara menghela napas, tidak peduli apa dan siapa status perempuan itu untuk Ernest yang jelas, yang ditakutkan adalah kedatangan perempuan itu menjadi bumerang baginya karena dianggap lalai menjalankan perintah dari Maria.
"Jangan cemas! Saya jaga rahasia kok."
"Terima kasih."
"Sama-sama. Omong-omong kamu sudah makan?"
"Sudah, Mas. Sama teman-teman yang lain."
"Oh, oke. Kenapa tidak kembali ke belakang?" Pertanyaan Miko membuat ia kembali memikirkan kecemasannya.
"Aku sedang memikirkan Madam Maria. Aku takut."
"Percaya sama saya, untuk hari ini semua akan baik-baik saja, karena saya tahu Nyonya besar tidak akan mendatangi rumah ini di hari libur."
"Mas yakin?"
"Yakin. Sudah ya. Jangan dipikirkan." Miko mengulurkan tangannya mengusap pelan poni Andara. Membuat gadis itu memaku untuk sepersekian detiknya.
***
"Hari ini saya mandi sendiri."
Andara menegakkan tubuh lalu mengangguk, meninggalkan kamar mandi dan tak lupa menutup pintu.
Tetapi belum lama berada di luar, jeritan dari dalam lantas terdengar gaduh di gendang telinga.
"Mana shampo saya?" Andara mengembuskan napas, ia kembali memutar tubuh dan menekan pintu kamar mandi.
"Saya sengaja tidak menyiapkannya, karena ini sudah sore. Tuan tidak mungkin keramas sore-sore begini kan?" celoteh gadis itu.
"Kata siapa tidak mungkin? Buktinya saya mau keramas."
Andara berdecak, mengambil shampo yang berada dalam lemari kaca, lemari yang letaknya tidak jauh dari tempat di mana Ernest berada sekarang.
"Ini! Saya tidak akan tanggung jawab kalau sampai Anda demam karena hal ini," ujar Andara diiringi raut wajah.
Seketika itu juga Ernest menukikkan sebelah alis. "Sudah mulai berani mengancam? Berani sekali kamu."
"Bu-bukan begitu maksud saya ,Tuan."
"Jadi, bagaimana maksudnya?" Tangan Ernest menarik paksa pergelangan Andara hingga perempuan itu memekik kaget. Posisi keduanya sangat dekat, hingga aroma mint dari embus napas Ernest tercium jelas di hidungnya.
"Saya khawatir Tuan sakit."
"Khawatir?" Andara mengangguk, berharap dengan sangat supaya Ernest berhenti menggenggam erat pergelangan tangannya dan ia bisa menjauh.
"Bukan karena takut pekerjaan kamu semakin banyak kalau saya sakit?"
"Oke. Saya tidak akan keramas jika kamu memang mencemaskan saya. Kalau begitu, mandikan saya!"
"Tadi katanya?"
"Saya berubah pikiran, Andara. Ayo ..."
Perasaan Andara mendadak buruk, melihat senyum berbeda dari bibir pria di hadapannya, bulu kuduknya meremang seperti hendak memasuki rumah hantu.
"Andara ..."
"I-iya, saya akan melakukannya."
"Melakukan apa?"
"Memandikan Anda."
"Tidak ingin mencoba yang lain? Hmm?"
"Maksudnya apa?" Andara tanpa sengaja memukul kepala Ernest menggunakan botol sabun ketika pinggangnya ditarik mendekat. Bayangkan saja, dalam kondisi tubuh Ernest yang hanya dibalut boxer, pria itu mengikis jarak dengan Andara. Tentu saja hal tersebut membuat Andara panik dan spontan memukul kening Ernest hingga pria itu menggeram marah.
****
"Saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Andara berkali-kali mengatakan hal itu sampai pekerjaan membalut luka Ernest pun usai.
"Dan kamu pikir saya akan memaafkan kamu?"
Andara tertunduk, ia tahu bagaimana rasanya nyeri pada kening yang kini terlihat memar dan dsn terdapat luka juga di sana.
"Saya minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Asal–"
"Asal apa?"
"Anda berjanji tidak akan bertindak seperti tadi. Jujur saya takut, makanya saya refleks memukul kepala Anda."
"Ck, kalau kamu mau tahu, tadi saya hanya menggoda kamu saja. Tidak ada niat lain, lagi pula siapa yang berminat sama kamu. Terlalu kecil."
Andara merasa tidak terima diremehkan seperti itu. Ia lantas bergegas menimpali.
"Tidak masalah, saya justru merasa aman kalau semua orang berpikiran seperti Anda."
"Cih, terlalu idealis. Berapa usiamu?"
"Dua puluh tiga," sahut Andara masih dalam mode kesal.
"Masih belum pernah kencan?"
"Mendadak Anda menginterogasi saya?"
Ernest mencebikkan bibir, kedua tangannya pun terangkat sebelum akhirnya meminta Andara pergi dari hadapannya.