Oh, namanya Naya.

1008 Kata
"Namanya Naya." Andara yang tengah sibuk berjibaku dengan beragam tanaman dan pupuk di halaman menoleh kasar ke belakang. Tangannya bergegas mengusap dahi yang terdapat beberapa bulir keringat sebesar biji jagung. Andara menyimpan sekop di samping pot dan bangkit dari posisinya. "Maksud Mas Miko?" "Minum dulu!" Miko mengulurkan sebotol minuman dingin pada wanita itu. Seakan tahu, Andara sangat haus karena banyak menguras energi di bawah sinar matahari sore. "Terima kasih, Mas." "Iya, sama-sama. Habiskan!" Tanpa disuruh pun, Andara akan menghabiskan minuman dingin itu dalam sekejap, pasalnya ia sudah haus sejak tadi hanya saja untuk pergi mengambil minum ke belakang, ia sedikit malas. Karena jarak dari halaman ke dapur cukup jauh. "Lanjut, Mas. Mas Miko tadi bicara soal siapa?" Ia menurunkan botol minumnya kemudian membuang ke tempat sampah setelah isinya sudah habis. "Oh, itu ... perempuan yang ke sini kemarin, namanya Naya. Kamu penasaran kan? Makanya saya kasih tahu." Andara mengangguk sembari membulatkan bibir. " Mas tahu dari mana?" Andara melepas sarung tangan karet dan menyimpannya di atas tanah. Ia sadar bahwa sarung tangannya cukup kotor. Karena tidak ingin kegiatan berbincangnya terganggu, maka dari itu ia melepaskannya. "Saya tanya ke Tuan ketika kami punya kesempatan mengobrol tadi." "Oh God ..." Andara membulatkan mata, ia segera menutup rapat bibirnya menggunakan jari-jari lentik dan berkulit bersih tersebut. "Kenapa kaget gitu?" "Mas kenapa tanya? Astaga ... bagaimana kalau Tuan berpikir aku mengadu sampai Mas pada akhirnya bertanya-tanya seperti itu? Masalahnya yang tahu tentang tamu Tuan hanya aku, Mas." Wajah Andara mendadak panik. "Andara, pikiran kamu terlalu jauh untuk sampai ke sana. Saya tidak mengatakan apa-apa tentang kamu, saya cuma bilang kalau kemarin ke sini, tetapi Tuan sedang sibuk. Lalu dia bilang sedang kedatangan tamu." Miko menyimpan tangannya dalam saku celana bahan berwarna abu-abu. Langsung melanjutkan kalimatnya yang sekejap terjeda, "Dari sana saya tanya, siapa tamunya dan beliau memberikan jawaban." "Oh, begitu ceritanya. Ya sudah. Syukurlah, sebab aku malas kalau harus ditanya banyak hal ini dan itu." "Kenapa harus malas? Wajar kalau seorang bos bertanya pada pekerjanya." "Memang lazim. Tapi, bagiku berinteraksi sama Tuan itu selalu membuatku sedikit naik darah. Makanya lebih baik jangan ada komunikasi di antara kami." Andara kembali berjongkok, memungut sarung tangan yang semula dihempas sembarangan dan kembali memakainya. Kegiatan mengeksekusi bunga dalam pot belum usai, maka dari itu ia akan melanjutkannya kembali sebelum hari semakin sore. "Kamu sudah makan?" tanya Miko disela-sela kesibukan perempuan itu. Andara kembali menengadah, sepertinya pertanyaan seperti itu sudah akan terbiasa didengar mengingat ini sudah ke dua kali Miko bertanya seperti ini. "Sudah, Mas sendiri sudah makan?" "Sudah juga, saya sudah makan saat ada acara meeting tadi. Omong-omong pekerjaan kamu masih banyak, ya?" Ekor mata Miko meliar mengamati jajaran pot yang belum selesai dieksekusi. "Masih, makanya aku agak sedikit buru-buru." "Bagaimana kalau saya bantu? Kebetulan saya senggang sekarang." "Seriusan?" Kedua bola mata Andara berbinar, ia tentu saja senang diberi tawaran demikian. Apalagi oleh pria yang dikagumi. "Iya. Kalau tidak ada pekerjaan, kenapa Mas Miko kemari?" "Ya karena tujuan saya cuma ingin ke kamu saja." Andara melipat bibir, ia menyembunyikan rona merah pada kedua pipi, lalu menundukkan pandangan. Lebih baik menatap tanah dalam pot dari pada harus deg-degan menatap wajah pria tampan yang sekarang menyamai posisinya. "Sebentar, aku ambil sarung tangan baru, ya." Miko mengangguk, membiarkan Andara beranjak. Mereka berdua menghabiskan waktu berbincang-bincang sembari menanam. Alhasil, karena kerja sama kedua belah pihak, bunga-bunga yang harus ditanam dan dipupuk itu akhirnya selesai dikerjakan. "Terima kasih banyak, Mas. Madam pasti senang melihat bunga-bunga ini sudah berada di tempatnya." Andara berujar sembari merapikan alat-alat menanam. "Punya Madam?" "Iya, beliau menelpon Bi Ririn agar aku membeli bunga dan menanamnya di pot. Mungkin beliau akan memeriksa ini besok. Terima kasih banyak sekali lagi, Mas." "Sama-sama, Dara." Tangan yang sudah bersih itu dengan ringannya meraba permukaan kepala Andara dan mengusapnya pelan. Tahukan apa efek yang dirasakan dari perbuatan sepele ini? Jantung Andara berdebar tidak menentu, ada desiran berbeda ketika dia diperlakukan selembut ini oleh sepasang pria dewasa. "Ya sudah, kalau gitu saya pulang, ya. Ini sudah sore. Kamu cepat-cepat masuk dan bersihkan diri, sebentar lagi harus mengurus Ernest kan?" "Iya, Mas. Benar." "Ya sudah, saya permisi dulu." Keduanya berpisah, selagi memandangi punggung Miko yang menjauh menuju pintu gerbang. Senyum itu tak berhenti terukir. ***** "Bagaimana progressnya?" "Sudah selesai saya kerjakan, Madam. Sesuai permintaan Anda. Bunga-bunga itu saya simpan di halaman," tutur Andara dengan rasa antusias yang tinggi. Alih-alih mendapatkan apresiasi, sosok di sana justru berdecak. "Bukan itu maksud saya. Tapi ini tentang Ernest." Bungkam. Andara terdiam seribu bahasa. Kepalanya menoleh ke samping, tepat di mana Ernest tertidur dengan posisi miring. Dia kembali menarik kembali lehernya yang berputar agar berada dalam posisi semula. "Masih butuh waktu, Madam. Tapi setidaknya saya sudah berada dalam kamar Tuan Ernest dan tinggal di dalam sini." "Oh ya? Benarkah?" Andara mengangguk, ia sedikit menyesal mengapa harus mengakui hal itu, padahal Andara sangat benci tinggal di kamar ini. Terkurung dan tak punya kebebasan seperti sebelum Ernest menurunkan perintah padanya. "Sepertinya strategi kita akan berjalan mulus, Dara. Jika Ernest memintamu tinggal di kamarnya, itu artinya sedikit demi sedikit ia sudah menaruh hati padamu. Lanjutkan, buat dia semakin dalam terkesima sama kamu." Andara memejamkan mata, membawa punggungnya bersandar pada bantalan sofa. Helaan napas terdengar begitu berat, Andara tak pernah berminat ada dalam posisi ini. Membuat seorang Ernest jatuh dalam pesonanya, jauh dari pandangan dan khayalan. Meski pada hakikatnya banyak wanita yang berebut berada di posisi ini, tetapi Andara tak ingin jika bukan karena sebuah keterpaksaan. "Ya sudah. Saya bisa tidur nyenyak malam ini. Terima kasih, Andara." Panggilan ditutup sepihak. Bersamaan dengan itu, Andara menurunkan ponsel dari daun telinga, kemudian membawanya ke d**a. Ia kembali menyandarkan kepala dan memejamkan mata penuh keputusasaan. Sejuta maaf terucap dari hati kecilnya kepada sang ayah karena harus melakukan hal serendah ini. Menjerat Ernest? Terlihat mudah, tetapi tidak pernah mudah bagi Andara yang tak pernah bermimpi untuk melakukannya. Hatinya sudah jatuh pada sosok Miko, asisten tampan yang bekerja pada Ernest. Meski belum tahu apakah laki-laki itu juga menaruh hati, yang jelas mendapatkan perhatian dari Miko membuatnya sedikit berbunga-bunga. Tetapi, apakah bahagia sekecil itu pun harus hilang dari hidupnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN