"Kabar baik apa yang kamu bawa untukku?" tanya Maria, pada seorang asisten pribadinya. Laki-laki muda berkompeten, yang diselamatkan dari jeratan hutang pada lintah darat tujuh tahun silam. Laki-laki yang diminta mengabdi untuk keluarganya dan terpilih menjadi orang terpercaya.
"Ini tentang Tuan Ernest, Nyonya." Seulas senyum terpatri dari bibir bergincu merah merona tersebut, kemudian kursinya berbalik menghadap pada Rendi–sosok aspri-nya.
"Katakan!"
"Saya mendengar kabar kalau beliau baru saja berhasil merebut satu satunya aset terbesar milik tuan Zico. Usut punya usut ini hanya sekadar shock terapi saja. Karena sebetulnya ada kejutan lebih besar dari sekadar mengambil alih aset tersebut."
"Anak itu, setahuku terhitung baru beberapa bulan dia melancarkan aksi balas dendamnya, sekarang sudah menuai hasil memuaskan. Hebat!" sanjungnya penuh rasa bangga, Maria tidak bercanda dalam memberikan apresiasi terhadap Ernest, meski keberadaannya selalu diabaikan oleh anak semata wayang suaminya itu, tak membuat Maria surut memberikan perhatian penuh.
"Ada lagi tidak?" Seakan tidak puas dengan satu kabar baik yang menjamah telinga, ia ingin mendapatkan kabar lebih dari ini.
"Ada, Nyonya."
"Apa itu?"
"Tuan Ernest mengutus seorang dokter ahli kejiwaan untuk dikirim ke rumah besar pasangan suami istri tersebut."
"Untuk apa?"
"Menurut informasi yang saya rangkum, dokter itu akan bekerja sesuai perintah Tuan Ernest, guna memperburuk kondisi kejiwaan Nyonya Savannah, membuat Nyonya Savannah menderita Skizofrenia akut setelah berada dalam masa perawatan medis dokter utusan Tuan Ernest."
"Hmm, apakah sekarang Savannah dalam kondisi tidak sehat?"
"Tidak, Nyonya. Beliau sedang mengalami guncangan psikis usia dinyatakan kehilangan aset."
"Oh, bagus juga strategi Ernest. Dia tidak hanya mencabut rumput, tetapi membasmi sekaligus sampai ke akar." Maria tersenyum penuh kelegaan. Dia pikir, Ernest tidak akan tega melakukan hal itu karena belum masih menyimpan rasa pada wanitanya.
"Tolong kamu jelaskan, apa penyakit skizofrenia itu?"
"Penyakit dimana seseorang akan mengalami halusinasi sepanjang hidupnya."
Maria kembali tersenyum puas, tindakan yang diambil Sean cukup berbahaya ,apalagi ini menyangkut psikis seseorang.
Apakah sebenci itu putra sambungnya pada Savannah, sehingga tak tanggung tanggung-tanggung ingin membuat mantan istrinya itu hancur tak bersisa demi membalas semua rasa sakit hati karena perbuatan di masa lalu?
Tidak ingatkah dulu dia sangat mengemis hingga tunduk patuh demi membuat wanita iblis itu tetap berada disisinya?
Mungkin saja, kebencian Ernest sudah mendarah daging sejak insiden pengkhianatan itu, sehingga lupa pengorbanan apa yang pernah dia lakukan untuk mempertahankan Savannah di sisinya tujuh tahun silam.
Akhirnya dengan tangannya sendiri, putra sambungnya tersebut membalas kejahatan wanita yang dia benci keberadaannya sejak dulu, sejak keponakannya menjadi sasaran keegoisan orang tuanya.
"Jujur, kabar kamu ini cukup menjadi tambahan imun untuk saya. Saya sangat senang mendapatkan kabar membahagiakan ini," tukas Maria.
Jangan lupakan!
Dulu Maria turut andil membantu Ernest memulihkan semua kekacauan yang dialami dari jarak jauh, wanita itu membantu lebih effort ketika Ernest berada dalam titik terendah–mengalami keterpurukan yang sangat dahsyat pasca kecelakaan.
Semua ia lakukan karena rasa kecewa dan sakit sebagai seorang ibu sempat dirasakan ketika melihat anaknya dipermainkan sedalam ini oleh istri dan sahabatnya sendiri. Maria benar-benar bersimpati atas Kemalangan nasib anaknya.
Meski sebetulnya Maria memiliki kuasa untuk membalas kedua pengkhianat itu hingga hancur lebur, tapi wanita ia tidak ingin melakukan apa pun.
Memberi kesempatan pada Ernest untuk membalas semua perbuatan keji mereka dengan tangannya sendiri.
"Saya juga senang, Nyonya. Laporan saya tutup."
"Oke, tapi sebelum kamu keluar dari sini, saya ingin mendiskusikan sesuatu terkait Ernest pun Andara."
"Nona Andara?"
"Ya, perempuan lugu yang saya bawa ke rumah Ernest dan saya minta untuk menjadi pelayan pribadi Ernest."
"Apa rencana Anda tentang itu?"
"Ernest sudah mencapai keberhasilan meski baru seperempat, sekarang giliran Andara. Dia berhak mendapatkan kemenangannya setara apa yang didapat Ernest dengan membuat anak semata wayang ku jatuh ke dalam pesona Andara, itu adalah langkah awal Andara mencapai kemenangan."
"Mengapa Anda tidak katakan saja sejujurnya pada Andara mengenai tujuan sebenarnya? Mengapa harus mengatakan dengan alasan lain?" tanya Rendy yang masih dirundung rasa penasaran terkait permainan ini.
"Tidak sekarang ,Ren. Andara tipe gadis yang sensitif, aku sangat mengenalnya dengan baik. Jika dia tau tujuanku membawanya datang kesini untuk apa. Maka, bisa kupastikan dia akan pergi begitu saja sebelum dia berhasil menjerat Ernest. Kamu tahu kan akibatnya apa? Semua rencanaku akan kacau balau." Rendy mengangguk paham.
"Mengapa Anda ingin sekali membuat Tuan Ernest jatuh dalam belenggu Nona Andara?"
Mendapat pertanyaan demikian dari sang asisten, Maria lantas mengangkat sebelah bibirnya.
"Biar Ernest tahu bagaimana rasanya menyesali perbuatan kejamnya selama seumur hidup setelah akan pergi membawa kebencian yang mendalam di hatinya."
****
"Sudah melakukan apa yang saya suruh, Miko?"
"Sudah, Tuan. Kemarin saya ingin membahas tentang ini. Namun, saat saya ingin mendatangi ruangan anda Andara mencegahnya"
"Kenapa memangnya?"
"Anda sedang menerima tamu di dalam ruang kerja. Ini sudah terjadi sebanyak dua kali." Tatapan Miko memicing ke arah Ernest.
"Jangan berpikir aneh-aneh. Saya tahu apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang."
"Maaf, Tuan. Terus terang saja, saya tidak bisa menyangkal pikiran buruk itu terhadap Anda dan Nona Naya."
"Ck, padahal saya cuma ngobrol biasa. Dia teman masa kecil. Mana mungkin saya memanfaatkannya begitu saja."
"Mau percaya, tetapi itu Anda." Miko menimpali secara terang-terangan. Kontan saja Ernest melempar tatapan tajam yang justru disambut senyuman manis Miko tanpa rasa bersalah telah berkata satire.
"Sekarang kembali ke topik awal. Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Dokter Daryl sudah bertemu dengan Tuan Zico kemarin. Dan mulai minggu depan dokter Daryl mulai menjalankan tugasnya."
"Hmm, pekerjaan yang cukup bagus. Kamu pastikan dengn sangat baik, jangan sampai ada yang tahu rencana ini." Miko mengangguk beberapa kali.
"Tentang rencana Anda ini, apakah tidak ingin membicarakan sedikit saja dengan Nyonya?" Ernest mengerucutkan bibirnya, mempertimbangkan ucapan Miko yang tak dapat ditampik jika itu sedikit benar. Karena walau bagaimanapun, Maria telah bnyak berjasa dalam hidupnya selama ini.
"Saya rasa tidak perlu, tanpa bicara padanya pun, dia akan mengetahui taktik ini."
"Omong-omong terkait masalah ini, apa Anda sudah memikirkan matang matang soal keputusan Anda? Tidak hanya kehancuran bisnisnya, Anda juga sedang dalam tahap merusak kewarasan Nyonya Savannah."
"Sudah saya pikir matang-matang. Karena sejak dulu, ide ini sudah melintas di sini." Tunjuknya pada kepala sendiri.
"Tidak ada balasan yang lebih menyakitkan selain membuat Savannah gila sebelum akhirnya dia mati mengenaskan," sambung pria itu kejam.
Miko menghela napas, rasa cinta yang pernah menjalar melingkupi hati Ernest, dsn membuat pria itu menjadi sangat mendamba, kini berubah menjadi bola api yang kian membara akibat percikan dendam dan benci dalam waktu bersama.
Siapa yang mengira cinta yang teramat besar untuk Savannah kini menjadi bumerang bagi wanita itu?
Hah ... memikirkannya saja Miko terlalu pusing.