Tragedi di masa lalu

1016 Kata
"Silakan, Tuan." Dengan gerakan hati-hati, Andara meletakkan secangkir kecil minuman hangat yang baru dibuat. Bukan tanpa alasan ia membuat sesuatu atas inisiatif sendiri alih-alih diperintah seperti biasa. Andara punya misi tertentu untuk ini. "Apa ini?" tanya Ernest, tatap matanya bergeser pada benda yang mengeluarkan asap di sana. "s**u jahe, Tuan. Minuman yang dipercaya dapat menghangatkan tubuh sekaligus meningkatkan imunitas," sahut Andara, sebelum akhirnya menerbitkan senyum singkat. Ternyata aneh memang, pasalnya selama ini ia tak pernah bersikap ramah-tamah pada Ernest, wajah yang selalu ditampakkan kusut masai seperti baju belum digosok, tetapi sekarang justru bersifat kontradiksi "Oh, oke. Terima kasih," ujar Ernest, kembali memindahkan tatapan pada titik fokus sebelumnya. Ernest tidak sedang memikirkan apa rencana Andara, dibiarkan saja gadis itu melakukan apa pun–tanpa rasa curiga. Merasa terabaikan, keberadaannya seperti tak kasat mata, Andara memilih memutar badan meninggalkan tempat. "Mau kemana kamu?" Buru-buru Ernest menginterupsi usai sadar jika sosok di depannya hendak beranjak. "Mau keluar." "Sangat tidak sopan jika berniat meninggalkan majikan yang masih belum selesai dengan pekerjaannya." Ucapan tersebut cukup menohok, tetapi Andara tidak ingin termakan emosi, ia sadar jika sekarang dalam mode menjalankan misi yang diperintahkan oleh Maria. Jika bukan dari sekarang belajar menebalkan rasa sabar lantas kapan lagi? Misi ini penting sekarang, demi sebuah hutang yang menggunung, ia mengesampingkan segalanya. "Jadi, saya harus bagaimana?" "Pendek sekali akalmu. Kenapa hal sekecil ini pun kamu harus bertanya? Tetaplah di sini sampai saya selesai dengan pekerjaan ini." "Oh, dalam tanda kutip ingin ditemani?" "Lancang!" Ernest melotot tidak terima, sebelum akhirnya memalingkan wajah dari tatap mata Andara yang menyebalkan. "Duduk dan jangan berisik." Ernest mengatakan dengan sungguh-sungguh. Andara melakukan apa yang dikatakan oleh pria tersebut, menghempaskan pantatnya di sofa sebelah pintu keluar, dan menyadarkan punggung di sana. Ah, tidak buruk juga jika hanya sekadar duduk dan memperhatikan pria tidak jauh dari jangkauannya itu. Setidaknya dengan begini Andara bisa bersantai ria. Lima belas menit berlalu, matanya masih setia mengawasi Ernest, memerhatikan dengan cukup saksama kontur wajah Ernest dari samping. Andara mengangguk pelan, Ernest setampan pangeran berkuda putih yang diturunkan dari langit. Wajahnya bersinar dan bersih bak porselen. Hidungnya mancung dan bagian ujungnya runcing, kemudian turun sedikit ke bawah, bibir pria itu pink muda, tidak tebal dan tidak tipis. Di bagian dagunya, teramat bersih karena tak aja sedikit saja jambang yang tersisa, setelah kemarin dicukur. Astaga ... jika Andara terus-terusan terpesona pada pria ini, bisa dipastikan bukan Ernest yang lebih dulu menjatuhkan hati melainkan dirinya. Berbeda dengan Andara yang sibuk menggambarkan sosok Ernest, pria itu jutsru sibuk pada lembar-lembar dokumen yang harus diselesaikan. Ernest bukan tipe pemimpin yang malas, tak suka menunda-nunda pekerjaan. Maka dari itu, tak heran meski sudah lama duduk di ruang kerjanya–selagi belum menyelesaikan pekerjaan itu–Ernest tak kan beranjak. Tiba-tiba Andara menarik kedua sudut bibirnya kala melihat Ernest memijit pelipis. Andara tahu, mungkin sekarang Ernest sedang sakit kepala mengingat kerap terlambat tidur karena sering lembur. Kata siapa jadi bos itu enak? Buktinya, Ernest sendiri lebih sengsara daripada karyawannya. Ernest terpaksa tidur terlambat demi menuntaskan masalah yang terjadi pada kantor anak cabang tempat perakitan senjata api sekaligus amunisi yang biasa diperjual belikan secara ilegal miliknya. Karena, selain berstatus sebagai CEO Crown Corporation, diam-diam sejak lama pria itu merangkap menjadi Mafia perdagangan segala jenis senjata api lengkap. Ingat, profesi ganda ini tidak diketahui awak media. Karena cukup berbahaya. *** Andara mengerjap berkali kali, ia menguap lebar dan merentangkan kedua tangan. "Sudah bangun?" Seketika itu, ia terhenyak. Buru-buru membenarkan posisinya ketika baru sadar jika dia tidak di tempat tidurnya. "Tu–tuan? Anda masih di sini?" "Menurutmu bagaimana? Hmm?" Andara mengigit bibir bawahnya, merasa tidak enak hati. "Jangan terlalu dekat, Tuan." "Kenapa?" "Nanti ada yang lihat." Andara berusaha mendorong d**a bidang Ernest meski jarak mereka tidak terlalu dekat. Gadis itu hanya rikuh mendapati posisinya seperti ini, padahal ia sudah terbiasa memandikan Ernest–lebih dari sekadar berdekatan semata. "Tidak ada siapa pun yang berani masuk ke sini, Andara. Jangan cemas!" Ernest menyeringai membuat jantung Andara seperti hendak lompat dari tempatnya. Sedangkan ditempat lain, Maria tengah berada di kamarnya sambil termenung. Meratapi setiap jengkal kehidupan yang terjadi dari masa lampau hingga saat ini. Dia tidak ingin bermertamorfosis sebagai wanita licik seperti sekarang, tetapi karena sebuah keadaan. Ia berubah menjadi sosok mengerikan. Ernest dan Savannah, dua orang yang telah tega menghabisi nyawa seorang wanita tanpa memikirkan bagaimana nasib seorang anak yang membutuhkan sosok ibu dan tengah menunggu kepulangan ibunya ke rumah. Memasung dan menyiksa wanita itu, hingga terakhir menembak kepalanya dengan beringas. Entah apa salah wanita itu sampai harus mati dalam keadaan ironis. Mengingat kejadian tujuh tahun silam, rasa dalam d**a Maria kembali sesak dan bergemuruh. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat dengan jelas saudara sepersusuannya di tembak mati tanpa hati oleh kawanan anak buah suruhan Ernest. Ernest yang terlalu buta akan cinta, tak peduli siapa yang menjadi tawanannya. Meski wanita itu meraung memohon hingga menangis menjerit pilu,namun tak sedikitpun ada rasa iba yang mengetuk pintu hati pria yang menjadi anak sambungnya itu. Menyaksikan insiden tersebut, ia meremas dadanya sendiri dalam isak tangis dalam diam. Jeritan terakhir terdengar menyayat hati, tak kuasa membuat Maria yang mendengar lantas menutup kedua telinga pedih. Nyawa sudah hilang tertelan, bersamaan itu, Maria menjauhkan tangannya. Mengepal kuat hingga buku-buku memutih. Dari jarak jauh, ia melihat sosok saudaranya, saudara yang begitu dicintai karena telah banyak berkorban untuknya. "Aku tidak bersalah, Tuan." "Aku tidak bersalah!" "Tolong! Lepaskan aku!" Lolongan sebelum nyawa itu tercabut, kembali terngiang di telinga. Kontan Maria kembali menutup telinga. Menyembunyikan pekikan agar tak dapat didengar siapa-siapa. Ingat posisinya sedang bersembunyi sekarang, tak ingin membuat mereka menjadikannya sasaran berikutnya, Maria bungkam tangisnya. "Biadab kamu Ernest. Tega kamu," gumamnya tak percaya. Maria terus menangis, meratapi mayat yang tak dapat di sentuh padahal sangat ingin. "Elsa ... maafkan aku, maaf karena terlambat menolongmu," ujarnya penuh rasa sesal. "Jangan khawatir. Putrimu selalu ada dalam pengawasanku sekarang dia yang akan membalas semua perbuatan mereka yang telah membunuhmu," janjinya penuh percaya diri. Setelah berucap demikian, Maria memutar kepala kebelakang ,melihat sang suami tertidur pulas di sana. "Maaf, aku harus memberi pelajaran pada anak kita bagaimana rasanya bertanggung jawab atas perbuatan kejinya pada wanita tak berdosa," lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN