Menghapus kesedihan Andara

1245 Kata
Maria kembali menyambangi kediaman Ernest. Setelah beberapa hari dirinya absen, wanita tua itu kembali menginjakkan kaki ke rumah besar yang mirip seperti sebuah mansion, apa lagi tujuannya kalau bukan untuk melihat keadaan sang putra tersayang. Begitu sosoknya sampai di pintu utama, para pelayan bersejajar rapi menyambut kedatangan nyonya besar seperti biasa, menundukkan pandangan sebagai bentuk hormat padanya ketika lewat di hadapan mereka. Sungguh, mereka sangat memuliakan ibu dari majikan mereka. Meski tidak pernah menunjukkan rasa senang pada sang ibu, tetapi Ernest rupanya memerintah pada pelayan mereka untuk bersikap hormat pada Maria. "Di mana Ernest?" tanyanya seraya melempar pandangan pada satu persatu pelayan yang berdiri tegap di sana. "Ada di dalam, Nyonya," sahut Ririn menjadi perwakilan dari sekian banyak pelayan yang tidak berani membuka suara atas pertanyaan itu. Tak dapat dipungkiri, situasi sedikit mencekam. Hawa dingin seolah menusuk menggerayangi seluruh tubuh mereka semua ketika Maria bertandang. Percayalah, Maria terlihat lebih menyeramkan daripada Ernest. Hanya di saat-saat tertentu saja, karena pada harfiahnya, Maria orang yang tak pernah sedikitpun menyusahkan mereka. "Mari, saya antar," usul salah satu pelayan yang sedikit memajukan tubuh, berinisiatif mengantar Maria ke lantai atas. "Tidak usah repot-repot, biar saya sendiri!" tolak tegas perempuan itu, lalu kembali mengayunkan kaki menjauh dari para pelayan yang mendadak beku. Percayalah saat ini frekuensi detak jantung mereka seirama, bertalu-talu tak menentu. Semoga saja kedatangan Maria ke sini tidak untuk menceramahi Ernest lagi seperti biasa. Maria melangkah cepat menuju pintu lift, perempuan tua yang merupakan ibu sambung Ernest semenjak masih balita, sangat khawatir dengan keadaan putranya yabg sedang sakit. Sejak mengalami kelumpuhan, kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh pria berusia tiga puluh tahun itu tidak seperti dulu, tubuhnya mudah sekali terserang sakit setahun belakangan ini.Jika lelah sedikit maka bisa dipastikan ke esok harinya Ernest akan tumbang. Setibanya di lantai atas, kedua tungkai kaki langsung menuju ranjang Ernest. Di sana, ia melihat Ernest sedang diperiksa oleh dokter, dan ada Andara yang menemani tak jauh dari mereka berdua. Maria langsung menuju ke arah Andara, dan menanyakan apa yang terjadi sehingga Ernest jatuh sakit. Dan secara gamblang, Andara menceritakan tanpa hambatan. Dari mimik serius saat bercerita, Maria bisa melihat sejuta kecemasan yang terpatri di sana. "Ini pertama kalinya Tuan Ernest sakit, Madam." "Sebetulnya sudah sering, setiap kali kelelahan, Ernest akan mengalami drop." Andara mengangguk, memindahkan kembali atensinya pada Ernest yang tampak tenang ketika dokter melakukan serangkaian pemeriksaan. "Sejak kapan dia sakit?" "Pagi tadi, saat saya bangun tidur, beliau mengigau. Begitu saya menyentuh keningnya, ternyata panas tinggi. Saya langsung melakukan mengompres beliau sebelum akhirnya mengabari dokter dan Anda." Maria mengangguk dua kali, cukup sakit oleh kecakapan yang dilakukan oleh Andara saat tahu Ernest sedang tidak baik-baik saja. "Kalau caramu seperti ini, Ernest akan mudah jatuh cinta padamu." Kembali Andara diingatkan oleh misinya. Di saat Ernest sakit seperti ini, mengapa Maria masih memikirkan tentang ambisi itu? "Bagaimana dokter?" "Tekanan darah Anda meningkat, tolong untuk obat hipertensinya diminum. Jangan terlalu banyak pikiran dulu!dan terakhir istirahatlah yang cukup, Tuan." Ernest mengangguk singkat, memahami serta mencerna dengan baik nasihat dokter langganan keluarga. "Oke, terima kasih," sahutnya lemah. Benar-benar tidak punya tenaga untuk bicara dengan nada tinggi. Jangankan untuk menyahut, membuka mata lebih lama saja pun tak mampu. Setelah mendapat ucapan terima kasih dari Ernest, dokter tampan dan masih terlihat muda itu bergegas berkemas, memasukkan perangkat alat medis ke dalam tas. "Mari, saya antar." Andara melangkah sedikit maju, mendekati dokter, menjauh dari Maria yang sejak tadi berdiri tepat di sisinya. Sebagai seorang pelayan, tentu saja dia harus bersikap baik pada semua orang termasuk yang berhubungan dengan Tuannya. "Kamu tetap di sini, Dara!" Bukan suara Ameer. Tetapi perintah dari Ernest, di mana pria itu masih sempat memerhatikan interaksi antara Andara dan Ameer dengan rasa tidak suka. Melihat senyum dan nada bicara Andara yang lembut, hatinya mendadak panas–mengingat ia tak pernah mendapatkan kelembutan dari perempuan itu terkecuali di momentum tertentu. Menurutnya, Andara terlalu berlebihan, untuk apa berinisiatif menawarkan diri untuk mengantar dokter yang biasa akan datang dan pergi sendiri tanpa didampingi? Dasar! "Tapi–" Hendak menimpali, kedua bola mata Ernest lebih dulu melotot membuat Andara urung melanjutkan kalimatnya. "Saya bisa sendri, Nona. Terima kasih." Ameer paham dengan sikap Ernest yang sedikit posesif. Maka dari itu, lebih baik segera mengambil keputusan, yaitu; pergi sendiri. "Hati-hati, dokter. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak." Mengalihkan tatapan dari Ernest, Andara melempar senyum manis pada Ameer. "Sama-sama, Nona. Kalau ada apa-apa dengan Tuan Ernest, Anda bisa langsung menghubungi saya." Ernest berdecak pelan, selain kesal pada Andara, ia pun kesal pada Ameer yang bertingkah sama saja. Melihat ketiganya, Maria tersenyum kecil. Sepertinya dalam waktu dekat ini, rencana pertamanya akan berhasil. ***** Andara sibuk berjibaku di dapur, membuat bubur ayam sebagai menu makan siang Ernest yang sejak pagi belum makan sama sekali, setelah tadi menemani Maria berbincang banyak mengenai perkembangan dirinya selama bekerja di sini, gadis itu segera beranjak untuk memasak. Dalam kegiatannya memasak, tiba-tiba saja perasaannya kembali bergelayut gundah, ia menatap kosong bubur yang sedang diaduk agar tidak lengket dan hangus. Jujur saja, setiap kali bertemu dengan Maria, Andara terus saja mengalami ketakutan. Bagaimana tidak, wanita yang telah menariknya masuk dalam lingkar kehidupan Ernest tersebut tak pernah lelah menekannya untuk segera menyelesaikan misi itu. Andara menghela napas, dia masih sangat polos untuk hal menggila ini, menjerat, membuat pria otoriter seperti Ernest jatuh dalam pesonanya, apakah itu mungkin terjadi? Ya Tuhan, jika bukan karena hutang menjerat hidupnya, Andara tidak akan mau berada di posisi ini. Waktumu tidak banyak, hanya cukup sebulan. Andara kembali membuang napas setelah mengingat ucapan Maria di detik terakhir sebelum pergi dari rumah. Tak berselang lama, akhirnya bubur dalam panci sudah matang dan siap disajikan. Gadis itu mengenyampingkan sebentar lamunannya guna melanjutkan kegiatannya. Andara mematikan kompor, lalu mengambil mangkok di rak stainless, dengan sangat telaten menghias mangkuk berisi bubur yang mengepulkan asap ke udara dengan secantik dan semenarik mungkin. Tidak lupa diberikan topik agar lebih menggoda untuk dinikmati. Semoga Tuan Ernest suka, ungkapnya dengan penuh harapan. Dibawanya mangkuk berisi penuh bubur ayam di tangannya, tetapi begitu sampai di kamar Ernest, langkahnya berhenti. Ia dilanda gamang–apakah tetap masuk, atau lebih baik balik badan. Tapi, jika diamati cukup saksama, sepertinya Ernest sedang tidak ingin diganggu, terbukti kedatangannya di perbatasan pintu tak sama sekali menarik perhatiannya. Andara menghela napas, membiarkan matanya terus menatap pada dua sejoli di sana. Di mana, Ernest sedang disupai oleh teman wanitanya yang bernama Naya itu. Kedua matanya beralih ke arah mangkok yang dibawanya, ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Kalau saja Andara tahu Naya datang kemari dan membawakan makan siang untuk Ernest, tentu saja ia tak mau repot-repot memasak. Andara bisa menghemat energi pun waktu. Hah ... mau disesali pun rasanya percuma saja. "Hei, kenapa murung?" Andara berjingkat manakala Miko bersuara, menditraksi Andara yang sedang memangku tangan di atas meja sambil menatap bubur utuh di depannya. Ia bergegas menoleh ke belakang dan melempar senyum hangat, mengubah ekspresi yang semula kusut masai menjadi sangat ceria. "Mas Miko? Duduk, Mas." Andara mempersilakan Miko duduk di kursi kosong. "Oke, terima kasih, omong-omong kamu kenapa? Saya lihat tadi sedang melamun?" "Memikirkan tentang bubur ini." Tunjuknya pada mangkuk putih di atas meja, ujung telunjuk itu pun membuat Miko mengarahkan tatapan yang sama dengan arah telunjuk Andara. "Kenapa dengan buburnya?" "Mau memakannya tidak? Aku memasak untuk Tuan Ernest, tetapi sepertinya beliau sedang tidak ingin diganggu karena kedatangan teman wanitanya. Aku takut buburnya jadi mubazir." "Kenapa tidak kamu yang makan?" "Aku sudah kenyang, Mas. Sudah makan tadi." Miko tersenyum, menarik mangkuk yang tak jauh dari jangkauannya. "Kita makan semangkuk berdua. Bagaimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN