Berdua?

1008 Kata
Satu mangkuk berdua? Rasanya sedikit aneh. Serasa mimpi dan skeptis berada dalam posisi ini, karena siapa sangka jika Miko menawarkan sesuatu di luar dugaan, di luar kepala. Meski sebetulnya perutnya masih terasa kenyang, tetapi apabila pria yang dikagumi menawarkan makan berdua apa boleh buat? Andara menerima tanpa banyak tapi, tak ada bantahan selain mengangguk excited. Andara bergegas mengambil satu buah sendok dan mulai menikmati bubur buatannya itu berkongsi dengan Miko. Satu suapan pertama masuk di rongga mulut, dicecap oleh lidah dan seketika itu Andara takjub, rasanya sangat nikmat. Bahkan lebih enak daripada ketika dicicipi tadi. Apakah ini ada kaitannya dengan keberadaan Miko yang membersamai? Entahlah. Andara kembali menyendok bubur untuk kembali dimasukkan ke mulut. "Eum, ini rasanya sangat enak, lebih enak daripada yang biasa saya beli," papar Miko setelah menelan habis diduaoan pertama. Andara mengangkat pandangan lalu tersenyum. "Oh, ya?" Netranya berpendar, sedikit tersanjung mendapati pujian dari Miko padanya. "Iya, sungguhan. Terima kasih, ya, sudah mau berbagi makanan seenak ini." Tidak hanya pipi, kedua telinganya mendadak panas sekarang. Menurutnya Miko terlalu berlebihan dalam memberikan pujian, sehingga tanpa tedeng aling-aling, Andara serasa melambung tinggi ke langit menembus kumulus. "Kamu mau coba ayamnya." Secara spontan, Miko mengarahkan sendoknya pada Andara. Andara pun tertegun menatap sendok itu mengambang tepat di depan bibir yang terkatup rapat. "Aku bisa sendiri, Mas," sahutnya malu-malu. "Sekali ini saja, ayo buka mulut!" Andara tak kuasa menolak, ia pun setuju untuk membuka mulutnya demi menerima suapan dari Miko. Andara tersenyum kembali mengunyah, pun Miko tertular oleh senyum itu. "Sendoknya mau diganti?" "Kenapa harus diganti?" Miko menaikkan sebelah alis, menatap heran atas pertanyaan tersebut. "Bekas mulutku." "Oh. Tidak perlu, saya tidak keberatan meski harus makan pakai sendok yang sama dengan kamu." Bolehkah Andara menenggelamkan diri ke dalam sumur? Sungguh, tak henti ia dibuat melayang tinggi oleh ucapan manis Miko yang semanis madu ini. Buru-buru Andara membuang wajah ke arah lain. Menghindari tatap mata Miko yang terlihat semakin intens menatapnya, jantungnya tidak sehat ketika harus dihadapkan oleh Miko dalam jarak sedekat ini. Kalau tahu efeknya akan seperti ini, dia tidak akan pernah menawarkan bubur ini pada Miko tadi. Lihat! Jantungnya terus berdegup di luar frekuensi normal. Diam-diam Andara menatap dadanya, berusaha melonggarkan rongga d**a yang mendadak sesak, tak lucu kan kalau tiba-tiba ia pingsan karena tak kuat menahan kegugupan ini. "Dara. Hei, are you okay?" Andara yang sadar akan tindakan impulsif dsn reflek tersebut, lekas menurunkan tangannya dari d**a dan membawa tatapannya pada Miko. "Oh, Maaf. Aku baik-baik saja, Mas. Hanya sedikit grogi saja," sahutnya tak berkilah. Miko tersenyum kecil menanggapi sahutan tersebut. Andara benar-benar tulus dan polos, bahkan hal sekecil ini ia tidak membohongi diri sendiri. Miko semakin melebarkan senyum seraya menatap wajah Andara. "Seberuntung apa nanti laki-laki yang bisa mendapatkan kamu, Dara." "Ya, Mas?" "Ah, tidak. Ayo, kita habiskan buburnya, nanti takutnya malah tidak enak." Di meja makan, di ruang yang kini sepi karena penghuni yang lain sibuk pada pekerjaan masing-masing. Dua sejoli yang sedang kasmaran telah menghabiskan waktu berdua di sana. Menikmati momentum yang tak tahu apakah bisa dirasakan kembali di masa mendatang atau tidak. **** Ernest membuka mata, keadaannya masih sama seperti tadi pagi, siang dan sore, hanya saja ini lebih baik karena tidak lagi merasa pusing–sedikit lemas. Ia menarik selimutnya menutupi d**a sedang tubuhnya dibawa mundur bersandar pada kepala ranjang. Sejak sore, Andara belum masuk kamar, ke mana kiranya gadis itu pergi? Ernest merasa tidak enak pada gadis itu, gadis yang dia temukan berdiri bersama nampan di tangannya itu pergi berbalik badan tanpa menemuinya terlebih dahulu. Apakah ia terlalu jahat karena telah mengabaikan makanan dari Andara? Padahal Ernest sendiri yang sebelumnya meminta Andara menyiapkan makan siang. Ernest menghela napas dan menggeleng pelan. Tak perlu repot-repot ia memikirkan perasaan orang lain, dia hanya harus fokus pada kesembuhannya sendiri. Klek ... Andara masuk membawakan air minum dan obat-obatan. Obat-obatan itu sengaja di simpan di kotak obat di luar kamar, Ernest yang meminta hak tersebut. Mungkin sengaja Ernest melakukan itu agar membuat pekerjaan Andara semakin bertambah, alih-alih ringkas. Tanpa berkata apa-apa, Andara menyimpannya dengan baik di atas meja. Ia pun mundur beberapa langkah kemudian berbalik badan menuju ranjangnya sendiri. Ernest heran, ia tak berkedip saat menatap punggung gadis yang kini menjauh dari tatap matanya. Ada yang aneh di sini, Andara tak sama sekali memandang wajahnya. Ada apa dengan gadis itu? "Dara ..." Andara yang awalnya hendak mengabaikan seruan dari Ernest pun terpaksa menoleh ke belakang. "Ya, Tuan?" "Ada apa? Sikapmu mendadak aneh." Andara tersenyum samar, kembali ingat pada kejadian usai makan siang bersama Miko tadi. Banyak hal yang terjadi setelah itu, yang membuat Andara dibuat badmood oleh salah satu insidennya. "Saya hanya mengantuk, Tuan." Tidak menimpali apa-apa lagi, Ernest hanya bungkam. Membiarkan Andara kembali melangkah pergi ke ranjangnya. Tidak hilang akal, Ernest membuka tablet dan memeriksa cctv. Ia merasa perlu tahu, apa penyebab Andara mendadak bisu padahal biasanya gadis itu banyak sekali bicara atau bersikap menyebalkan. Kedua matanya fokus pada rekaman cctv-nya. "Naya? Sedang apa dia menghampiri Andara?" Ernest memutar kembali rekaman setelah beberapa saat lalu menjedanya. Ernest penasaran, apa yang dibicarakan oleh Naya pada gadis pelayanannya. Sekejap ia alihkan panaanagnnya dari layar sebesar sepuluh inci itu lalu meminta agar Andara mengambilkan earphone miliknya. "Ini, Tuan," ujar Andara menyerahkan sepasang earphone yang diminta. Setelah akhirnya kembali ke tempat semula. Ernest segera memasangnya di telinga masing-masing dan kembali memutar video rekaman cctv menggunakan volume normal. "Kamu cuci!" Andara terhenyak, ketika kotak makan berbahan melamin itu di lempar mengenai tangannya. "Saya rasa mencuci barang milik orang lain di luar penghuni rumah ini bukan tugas saya." "Dasar tidak tahu diri! Berani kamu bicara begitu sama saya? Kamu tidak tahu siapa saya?" Andara menatap sengit wanita berbadan langsing tersebut. "Tahu. Lalu kenapa kalau saya tahu Anda?" "Benar-benar kelewatan." Naya mulai termakan emosi, ia menggebrak meja membuat Andara yang duduk di sana terkejut. "Saya adalah teman dekat Tuan kamu, yang menggaji kamu sebagai babu di rumah ini. Jangan bersikap ketus jika masih butuh pekerjaan dan uang untuk bertahan hidup. Kamu itu miskin, jangan belagu!" Andara jelas tidak terima, ia berdiri dari posisinya dan menatap tanpa takut Naya di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN