Andara bersembunyi di kamar tempat para maid berkumpul. Sudah lama ia rindukan tempat di mana biasanya saling bersenda gurau dengan mereka dan bertukar cerita seru. Tetapi, semenjak Ernest memerintahkannya tinggal di kamar utama–satu ruangan dengan Ernest– membuat perempuan itu kehilangan satu sisi keceriaan. Waktu di mana bisa dihabiskan dengan saling berbagi kini lenyap tertelan kesendirian.
Biar saja seandainya Ernest marah besar padanya, dia tak peduli sama sekali. Mengibaskan tangan di depan wajah, Andara enggan memikirkan sesuatu yang bisa memicu kesehatan.
Hendak merebahkan tubuh di atas kasur berukuran kecil, tak sebesar tempatnya di kamar Ernest, suara dari luar kamar menjerit, menyerukan namanya.
Andara menghela napas, ia tarik kembali tubuhnya menegak, kemudian beranjak dari kasur susun tersebut.
"Kenapa, Bi?" Knop pintu sudah dibuka lebar, dan kini Andara berhadapan dengan kepala pelayan yang selama ini bersikap baik padanya.
"Sudah satu jam kamu di sini, tidak kembali ke kamar Tuan?" Andara menggeleng kecil, tidak ada niat tidur di kamar itu, Andara ingin sekali ini saja berada di kamar yang ramai.
"Tapi, Tuan mencari dirimu. Ekspresinya sangat buruk. Apa sebelumnya kalian terlibat masalah?"
Andara membasahi bibir bawah yang mendadak kering, ragu-ragu ia pun menjawab singkat, "Seperti biasa. Kami selalu berdebat."
Tangan Ririn terulur, menyentuh permukaan bahu Andara. Dan mendapatinya, Andara pun menoleh ke arah tangan keriput itu bertengger.
"Kalau apa yang kutanyakan itu benar, maka kamu harus sabar, Dara. Ingat, tujuanmu ke sini untuk membebaskan diri dari jerat hutang, bukan? Jika kamu tidak menjalani kewajibanmu dengan benar, entah sampai kapan kamu menganggap rumah ini neraka?" Andara terhenyak dengan penuturan tersebut. Benar! Dia harus melakukan semuanya dengan hati yang ikhlas dan tulus, tetapi jika ini berkaitan dengan Ernest, maka semuanya terasa sulit untuk dilalui dengan mudah.
Ernest selalu saja memerintah dan menghardik seenak jidat, seperti Andara tak ada hak untuk menolak apa pun yang tak sanggup dilakukan.
"Bi Ririn." Fokus keduanya pecah manakala ada suara lain menepi di telinga, itu suara Ana–bagian keuangan dapur dan segala kebutuhan rumah yang perlu di re-stock.
Dua kepala itu mengarahkan tatapan pada satu titik yang sama, yakni; perempuan berseragam hitam dan putih.
"Ada apa?" Ririn menyahut alakadarnya.
"Sudah bicara pada Andara?"
"Aku sedang membujuknya," tukas Ririn di depan Andara. Hal tersebut membuat Andara menjadi tidak enak, karena di sini tidak hanya Ririn, tetapi Ana pun juga mendapat titah dari Ernest. Jika begitu, artinya sesegera mungkin Andara harus pergi menemui laki-laki lumpuh tersebut sebelum kemarahan yang mungkin sangat besar terjadi di rumah ini. Meski sudah payah menekan diri agar tidak perlu peduli, ternyata Andara tidak bisa semudah itu mengabaikan perintah Ernest karena jika Andara berani melakukan itu, semua penghuni akan kena imbasnya.
"Bibi jangan khawatir. Aku segera ke sana. Terima kasih, Bi. Terima kasih, Ana."
Setelah mengatakan hal tersebut, Andara pergi menjauhi ambang pintu kamar belakang.
Sepeninggal gadis berambut pirang tersebut, Ana mendekat pada Ririn. Ia tak mengalihkan sedikit saja tatapan pada Andara yang kini telah hilang di balik partisi menuju elevator.
"Untuk pertama kali, aku menemukan Tuan Ernest begitu senang merepotkan pelayanan pribadinya."
"Itu memang tugas Andara, Na."
"Tapi, sebelum ini ada dua belas lebih pelayan yang tidak pernah seberat ini dalam melayani Tuan Ernest." Ana menoleh ke arah Ririn, melontarkan aksi protes akibat kekeliruan dari ucapan kepala pelayan tersebut.
"Aku juga berpikir demikian, ada apa dengan Tuan Ernest? Tetapi, sudahlah, kita tidak usah ikut campur. Kita punya tugas sendiri dan jangan mengurusi tugas orang lain."
Ana mengangguk, meski sebetulnya belum puas dengan obrolan mereka.
****
Andara menahan napas untuk sepersekian detiknya, pintu kamar Ernest sudah ada di depan mata, siap diketuk jika dirinya siap. Tetapi, pada nyatanya, Andara belum ada keberanian untuk hal tersebut karena ia tahu, Ernest sedang bersama wanita di dalam sana. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Naya. Dari mana ia tahu? Seseorang memberitahunya baru saja.
Tangan kanannya hanya terkepal kuat di sisi tubuh, tidak sedikitpun berniat mengangkat ke udara dan menyentuh permukaan daun pintu.
"Mau ke mana, Dar?"
"Kamar Tuan Ernest. Kata bibi beliau memanggilku."
"Ya, kamu benar. Tetapi, baru saja Nona Naya masuk kamar beliau."
"Oh, baiklah. Berarti aku kembali."
"Jangan, Dara! Tetaplah datang ke kamar Tuan. Mana tahu beliau memerlukan bantuanmu."
Andara mengingat kembali sepenggal kejadian beberapa detik sebelum kakinya berdiri tegap di sini.
"Masuk, Dar!" Andara tersentak, Ernest menyadari keberadaannya.
Setelah menelan kelat saliva, ia pun buru-buru menekan tuas pintu.
Tatapannya langsung tertuju pada dua sejoli yang baru saja melepaskan pelukan, tidak hanya itu, Naya tanpa tahu malunya menyematkan satu kecupan singkat pada pipi Ernest membuat Andara spontan memindahkan atensi.
Apa-apaan ini? Batin Andara menggerutu kesal.
"Kita bertemu lagi besok, selamat malam, Ernest," tukas perempuan itu seraya mengusap dagu tanpa jambang tersebut.
"Hmm, pulanglah. Hati-hati di jalan." Naya tersenyum, ia mengedipkan sebelah mata sebelum akhirnya berbalik badan.
Tepat berada di hadapan Andara, senyum Naya berubah, wajahnya mendadak keruh dan menunjukkan kesan antagonis pada Andara.
"Dari mana saja kamu?"
"Maaf, Tuan. Saya ada di kamar belakang." Posisi mereka tanpa Naya, karena Naya sudah pergi dari sana.
"Sedang apa di kamar belakang?" Tatap mata Ernest mulai menajam, Andara tak berani membalas tatapan itu karena tahu, Ernest sedang benar-benar marah sekarang.
"Berniat tidur di sana, Tuan. Maaf."
"Jangan jadi perempuan labil! Hanya karena perdebatan sore tadi, kamu berniat meninggalkan tanggung jawabmu? Sadar diri, Andara! Sudah berapa kali kamu melakukan pelanggaran? Di sini, di rumah ini, tidak boleh ada yang jadi pembangkang."
Andara mengangguk, ia tidak benar-benar menyesali perbuatannya, hanya saja ia berpura-pura patuh saja karena mengambil posisi aman.
Andara terlanjur kesal pada laki-laki itu, untuk bisa memenuhi semua yang Ernest inginkan, sangat sulit bagi Andara untuk patuh dengan tulus.
"Pergilah ke ranjangmu! Jangan pernah berniat melakukan apa pun di luar perintah saya. Ingat! Posisimu di sini tidak lebih dari seorang hamba sahaya yang butuh banyak biaya hidup."
Pernyataan itu, benar-benar melukai harga dirinya sebagai seorang wanita.
Ernest Benar-benar keterlaluan, tidak bisakah pria itu menyaring dan memilah-milah kalimat mana yang harus digunakan untuk berbicara?
Kedua mata Andara mengembun, hingga berakhir, bulir-bulir bening itu terjatuh dari pelupuk. Ernest tak akan tahu itu karena pria itu lebih dulu memunggungi posisi Andara yang belum sama sekali beranjak.