Maju sakit, mundur sulit.

1013 Kata
Andara memandangi lalu lalang orang-orang yang berjalan di depannya. Hiruk pikuk sekeliling, tak lantas membuatnya merasa muak dan dijejali bosan. Meski dalam kasus saat ini ia sedang menunggu. Menunggu? Ya, Andara sedang menunggu seseorang yang dihubungi setelah cukup lama mengambil pertimbangan, dan penuh hati-hati. Siapa lagi kalau bukan Maria. Di siang hari penuh kesibukan ini, Andara telah membuat janji dengan perempuan separuh baya tersebut. Meski sedikit tidak enak. Setengah jam menunggu, akhirnya tibalah sosok Maria dari arah pintu utama. Ditegakkan tubuhnya, menegang manakala langkah kaki tersebut kian mendekat.Dari jarak beberapa meter, Andara melihat betapa paripurnanya seorang Maria. Sangat cocok menjadi ibu dari Ernest Atmajaya. Tungkai kaki jenjang berbalut heels hitam mengkilap berhenti di hadapan Andara, mengharuskan gadis berpakaian kontradiksi dengan perempuan itu pun berdiri dan mengangguk hormat. "Duduk, Dar." Andara mengangguk, membenahi rok di bawah lutut sebelum kembali mendaratkan p****t. "Kamu benar-benar mengganggu kesibukan saya," tukas Maria sembari membuka kaca mata pun melakukan hal serupa Andara. "Maaf, Madam. Saya benar-benar butuh bicara secepatnya dengan Anda." Maria melipat kedua tangan di d**a, menancapkan tatapan padanya. "Oke, silakan bicara. Kamu hanya punya waktu dua puluh menit sebelum akhirnya pertemuan kita selesai. Kamu paham?" "Ya, Madam. Saya mengerti." "Bicaralah!" "Ini mengenai Tuan Ernest–" "Oh, kamu membawa kabar baik untuk saya, Dar?" Cepat-cepat bibir berwarna merah itu memotong pembicaraan Andara yang belum usai. "Bukan, Madam. Tetapi ini–" Andara melirik sedikit sebelum akhirnya kembali mengalihkan tatapan. "Justru kabar buruk," imbuhnya dengan nada lirih. "Kabar buruk apa? Ernest masih suka main perempuan? Membawa perempuan yang berbeda-beda meski sudah mendapatkan peringatan?" "Itu salah satunya. Saya belum bisa mengendalikan beliau." "Bodoh kamu! Lalu apa saja yang kamu lakukan selama ini di sana? Hanya hal sepele seperti itu saja kamu tidak becus melakukannya." Andara memejamkan kedua mata erat. Membiarkan Maria mencecar habis dirinya. Andara yakin, banyak pasang mata yang melihat kejadian ini, tetapi apa boleh buat. Dia tak ada hak sedikit saja untuk membantah apa pun yang dikatakan Maria sekarang. "Pokoknya saya mau dalam waktu dekat ini kamu tuntaskan misi itu! Titik." Ujung telunjuk Maria menekan-nekan permukaan meja. Seakan menegaskan kalimatnya tidak boleh dianggap remeh dan main-main. "Kalau boleh, saya lebih baik mundur. Madam." Andara, dengan segenap perimbangan yang matang, pada akhirnya mengutarakan tujuan. Ya, dia sudah sangat tidak sanggup mendapat tekanan begini. Menghadapi Ernest, sama halnya mengikis kewarasan Andara. "Oh, Mundur? Oke, Tidak masalah. Memang sudah punya uang untuk bayar hutang sampai kamu memilih mundur dari semua ini? Hmm?" Andara terdiam. Uang? Dari mana ia uang sebanyak itu? Tentu saja dia tidak punya uang karena selama berkerja Ernest tidak memberikan upah kepadanya, karena Andara pikir upah selama bekerja langsung dibayarkan oleh Ernest kepada Maria. Dan untuk segala kebutuhan pribadi, Ernest sudah menanggungnya. "Kenapa diam? Berikan sekarang jika uangnya kamu bawa." "Saya belum ada sepeserpun uang, Madam." "Lantas kenapa dengan lantangnya kamu berkata jika ingin mundur? Kamu ini bagaimana? Tahu sikap profesional tidak?" Lagi! Maria kembali mencecarnya di saat jawaban itu tak sesuai dengan ketinggian Maria sendiri. Tak lama, sesungging senyum penuh cemooh tertuju pada Andara yang sibuk menundukkan kepala. "Lihat saya, Dara." "Iya, Madam." "Dengarkan dan perhatian ini baik-baik. Kalau belum punya uang. Tidak perlu sok ingin mundur dari kesepakatan kita. Kecuali kamu menjatuhkan pilihan mendekam di penjara." Andara terhenyak, ia membelalakkan mata kemudian nyaris menangis di sana. "Hapus segera air mata itu sebelum jatuh. Saya muak melihat kamu menangis. Dasar cengeng!" "Saya tidak ingin di penjara, Madam. Saya ingin tetap menjalani hari-hari saya di tempat bebas. Saya mohon, tolong setujui pengajuan saya untuk berhenti bekerja pada Tuan Ernest. Saya mau melakukan apa pun asal tidak berada di rumah itu." Mendapati Andara meraung, memohon seperti ini, terbesit rasa tidak tega yang tiba-tiba menjalar dari lubuk hati terdalam. Tetapi sayangnya Maria tidak bisa memakai perasaannya demi kelangsungan misi ini. Jika ia bersimpati, percayalah, segala yang sudah direncanakan matang selama bertahun-tahun–dari mulai Andara masih menjadi seorang bocah–akan berakhir sia-sia belaka. "Saya tidak berkenan menyetujui apa pun keinginan kamu, Dara! Tetaplah bekerja di rumah Ernest, sampai hutangmu lunas pun sampai laki-laki yang kamu rawat itu sembuh. Jangan lupakan, misi dari saya," tukas Maria, mengeja kata demi kata agar dapat dipahami dengan baik oleh Andara. Takkan ia biarkan gadis ini lepas dari kawasan dsn lingkar hidup Ernest. Karena Maria, harus menuntaskan dulu segalanya dengan benar. "Tapi–" "Bayar hutang sekarang, masuk penjara atau lebih baik mengurus Ernest? Pilihan ada tiga." Maria kembali memberi penegasan, mengacungkan tiga jarinya ke udara. Pupus sudah harapan Andara. Terlepas dari belenggu Sean nyatanya tidak mudah, hanya uang yang bisa memudahkan dia lepas dari genggaman dan kendali keluarga itu. **** Andara mengakhiri perjumpaannya dengan Maria, setelah perempuan itu mengatakan waktu telah habis. Ia berjalan gontai keluar dari restoran sembari merasai sesak yang tiasa batas. Matanya memanas, hingga pada detik selanjutnya dia tidak menyadari air mata itu pun luruh. Awalnya hanya setetes, dua tetes. Hingga lama kelamaan menjadi banyak. Andara berhenti melangkah, ia jatuhkan tubuhnya bersimpuh, tergugu pilu seolah telah kehilangan benda paling berharga di dunia ini. Tangannya bergerak naik, menutup wajahnya yang mungkin sudah kacau karena banyak air mata di sana. Apatis terhadap mereka yang mungkin mengejeknya sekarang. "Dara." Kedatangan seseorang secara tiba-tiba, mengejutkan aksi Andara yang tengah menangis di tengah-tengah ingat bingar jalanan. Tangan laki-laki itu menepuk pundaknya, merasakan cemas dari ekspresi wajahnya. "Mas Miko?" Andara buru-buru bangkit, dan membawa tubuhnya menghadap pada pria itu. Mengusap habis air mata hingga hanya menyisakan jejak-jejak di area pipi. "Kamu kenapa? Ada masalah? Asa yang menyakitimu? Bilang sama saya." Andara menatap dalam mimik wajah Miko yang tampak resah. Ia buru-buru menggeleng. Tak ingin apa yang terjadi padanya, harus diceritakan pada pria baik sepertinya. Miko tidak perlu tahu apa masalahnya. "Bawa aku pulang, Mas." "Oke, ayo! Saya antar pulang sekarang. Apa Tuan Ernest tahu kamu ada di sini?" "Dia nggak tahu, dan tolong jangan bilang apa-apa padanya," Andara memohon pada tatapan teduh yang sedang memandangi saat ini. Miko menghela napas, ia pun mengangguk kemudian bergerak menggiring punggung Andara pergi dari sana. Tidak sampai di sana, Miko menurunkan tangannya untuk menggenggam erat tangan Andara. Gadis itu spontan menoleh tetapi tak membuat Miko lantas melepaskan genggaman itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN