bc

Obsesi Gila Nona Muda

book_age18+
141
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
fated
opposites attract
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
city
office/work place
childhood crush
enimies to lovers
secrets
affair
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Bagi Selina, jodoh itu harus dikejar.Selina tahu Sadewa punya pacar. Dia tahu tindakannya salah. Tapi setiap kali menatap mata pria tampan itu, dunia rasanya berhenti berputar.Selina sudah jatuh cinta terlalu dalam dan dia nggak tahu bagaimana caranya berhenti.Sementara bagi Sadewa, Selina adalah mimpi buruk yang nyata.Gadis yang muncul di rumahnya tanpa diundang itu, bahkan berani memeluk dan menciumnya tanpa rasa bersalah.Sadewa benci Selina. Tapi setiap kali gadis itu tersenyum, rasa benci itu jadi malah kabur entah ke mana.“Mas boleh benci sama aku, tapi aku nggak peduli dan akan tetap terus mencintaimu. Karena aku yakin, suatu saat, Mas bakalan bucin sama aku.”“Jangan mimpi, Selina! Dasar cewek gila! Sekarang dan selamanya, aku akan tetap benci sama kamu!”Di antara keduanya, siapa yang pada akhirnya akan menyerah lebih dulu? Selina atau Sadewa?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1. Suara Hati Selina 1
POV SELINA Mobilku berhenti di depan rumah sederhana bercat putih dengan pagar hitam setengah terbuka. Jantungku berdebar begitu kencang sampai tangan ini gemetar memegang kotak kecil berisi hadiah. Aku tersenyum, bisa disebut senyum bodoh yang mungkin kalau Ko Lucien lihat, sudah pasti dia akan bilang adiknya sudah gila. Tapi nggak apa-apa. Karena hari ini, aku akan ketemu sama dia. Dewangga Aksara. Penulis yang selama tiga bulan bikin aku nggak bisa tidur nyenyak karena aku membaca semua karya-karyanya, baik di novel cetak ataupun novelnya yang tayang di platform novel online. Aku masih ingat saat pertama kali dengar namanya waktu Ko Lucien lagi Zoom sama teman-teman penulisnya. Suara Dewangga Aksara tuh terdengar yang paling cool, tenang, dalam, dan entah kenapa bikin aku ingin tahu semua karya-karya novelnya. Dari cuma penasaran, jadi kagum. Dari kagum, jadi candu. Dan sekarang … malah jadi obsesi. Aku keluar dari mobil dengan langkah yang terasa melayang di atas tanah. “Yey, akhirnya mau ketemu Dewangga Aksara,” bisikku sambil menatap rumah di depanku. Tanganku mengetuk pintu perlahan dan jantungku semakin berdebar kencang. Pintu terbuka, dan seorang ibu berusia, em ... mungkin sekitar lima puluhan tahun muncul dengan wajah ramah. “Kamu nyari siapa, Nak?” tanyanya lembut. Aku gugup sejenak, lalu tersenyum lebar. “Em ... saya ... saya nyari Dewa.” Asal nyebut aja sih, soalnya kan aku nggak tahu siapa nama aslinya. “Dewa?” Ia mengulang sambil tersenyum. “Owh ... Sadewa. Ayo masuk!” "Terimakasih, Bu." Aku menunduk sopan dan melangkah masuk. "Jadi nama aslinya Sadewa," batinku merasa senang. Aku mengamati interior rumah sederhana itu. Dindingnya dicat warna krem lembut yang sudah agak pudar, tapi justru memberi kesan tenang. Di salah satu sudut ada lemari kaca berisi piala-piala dan bingkai foto keluarga yang tampak sudah lama dipajang. Lantainya bukan marmer mengilap seperti di rumahku, hanya ubin polos yang sedikit retak di beberapa sisi, tapi bersih dan berkilau karena aku yakin lantainya rajin dipel. “Kamu siapanya Sadewa, Nak?” tanya ibu itu lagi, matanya menatapku dengan rasa ingin tahu. “Saya teman sekolahnya Mas Dewa, Bu. Lebih tepatnya adik kelasnya,” jawabku asal. "Eh ...?" Alisnya terangkat. “Yang bener nih, kamu beneran adik kelasnya Sadewa? Tapi kok wajah kamu masih imut-imut. Malah kayak masih SMA.” Aku tertawa kecil. “Ah, Ibu bisa aja.” Ibu itu akhirnya mengangguk sambil tersenyum. “Ya sudah, tunggu sebentar ya. Bentar lagi pasti Sadewa datang. Ibu buatin kamu minum dulu.” "Baik, Ibu. Terimakasih." Aku duduk di sofa, menggenggam kotak hadiah erat-erat. Jantungku terasa hampir meledak setiap kali aku bayangin wajah Dewangga Aksara yang selama ini cuma bisa kulihat dari foto profilnya. Yah, aku emang gila! Bisa-bisanya aku datangin rumah author cowok idolaku. Tapi, cinta itu kan harus dikejar. Pokoknya apa yang aku inginkan harus aku dapatkan. Kalau Dewangga Aksara setampan yang ada di foto profilnya, aku akan menjadikan dia pacarku. “Nak, ini tehnya,” suara lembut ibu Dewa memecah lamunanku. "Terimakasih, Ibu. Maaf saya merepotkan." Aku tersenyum, menerima cangkir itu. Kami sempat ngobrol sebentar, tentang hal-hal kecil yang sebenarnya sama sekali nggak aku dengarkan dan hanya menjawab asal karena pikiranku cuma satu, yaitu kapan sih dia datang? Dan seolah semesta mendengar harapanku, suara pintu terbuka terdengar. “Assalamu’alaikum,” suara berat itu membuat jantungku berhenti berdetak sepersekian detik. Aku menatap ke arah pintu. Di sana, ada cowok bertubuh tinggi, yang tingginya bahkan melebihi Ko Lucien dengan rambut yang agak berantakan dan tas ransel tersampir di bahu. Oh my God, dia benar-benar tampan, setampan yang ada di foto profilnya, aku sangat terpesona. Aku 1000% yakin dia adalah Dewangga Aksara. Ekspresinya tampak terkejut begitu melihatku. “Dia siapa, Bu?” Ibunya berdiri, menghampiri menepuk bahunya. “Loh, masak sama adik kelasmu sendiri lupa. Ya udah, karena Ibu mau belanja buat makan malam, sana kamu gantian temenin dia!” Setelah ibunya pergi, dia berjalan mendekatiku. “Kamu siapa?” Aku berdiri dan tersenyum manis. “Aku Selina.” Matanya menyipit. “Selina?” “Iya. Mas Dewa nggak ingat? Kita sering komunikasi lewat messenger Instagram.” Aku mengangkat kotak kecil di tanganku. “Aku ke sini mau kasih hadiah ini ke Mas.” Dia tampak makin bingung. “Astaga … kamu Selina yang itu? Tapi ... rumah kamu kan ada di—” ia menyebut nama kota yang jaraknya hampir satu jam dari kota ini, “—bisa-bisanya kamu di sini?” Aku tersenyum semakin lebar memperlihatkan gigiku. “Nggak apa-apa, Mas. Kan aku cinta banget sama Mas. Jadi aku pengen ketemu dan kasih langsung hadiah ini ke Mas.” Aku sodorkan kotak itu dengan kedua tangan. “Semoga Mas suka sama hadiah ini.” Tapi Mas Dewa hanya mematung, matanya bergeser dari wajahku ke hadiah itu. Senyumku tetap mengembang, ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa meledak. Campuran rasa antara gugup, haru, bahagia, dan sekaligus lega karena hari ini aku akhirnya bertemu langsung dengan pria yang selama ini hanya bisa aku ciumi di layar ponselku. Dan aku tahu, ini baru permulaan dari kisah cintaku dengan dia. Aku maju selangkah, tanganku masih terulur memegangi kotak kecil berpita merah. “Ayo diterima, Mas! Kok Mas malah melamun?” Mas Dewa bukannya tersenyum atau menerima hadiahku, dia justru menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. “Selina, kamu beneran ke sini cuma buat kasih hadiah ini?” Aku mengangguk cepat. “Iya. Aku udah lama pengen ketemu sama Mas. Aku suka banget sama karya-karyanya Mas, aku—” “Selina!” Suaranya meninggi sedikit, membuatku terdiam. Tatapannya sekarang dingin, jauh dari ekspresi hangat yang sering kulihat di foto-fotonya. “Kamu sadar nggak, kamu udah kelewat batas?” Kata-kata itu seperti tamparan keras. Aku memaksakan diri untuk tertawa. “Kelewatan gimana sih, Mas? Aku kan penggemar kamu. Aku pengen—” “Datang ke rumah orang tanpa izin, pura-pura jadi adek kelas di depan ibuku itu nggak wajar!” potongnya cepat, nada suaranya tajam, membuat hatiku bergetar. “Kamu pikir semua yang DM aku, bisa semaunya datang ke rumah aku?” "Maaf ...." Aku menunduk, menurunkan tanganku yang membawa kotak hadiah. “Aku cuma pengen ngasih sesuatu buat Mas. Aku nggak ada maksud buruk, kok.” “Selina ... dengerin aku baik-baik!” Ia menghembuskan napas berat, lalu mendekat satu langkah. “Aku nggak marah kalau kamu suka tulisanku. Tapi ini bukan seperti ini caranya. Kamu nggak bisa datang seenaknya ke rumah orang yang bahkan belum kamu kenal.” Aku mendongak pelan, menatap wajahnya yang super tampan. “Tapi aku kan kenal sama Mas. Kita sudah sering balas-membalas pesan di inbox i********:. Dan lewat tulisan-tulisan Mas, aku merasa sudah sangat kenal sama Mas lebih dari siapa pun!” Ekspresi Dewa semakin tegas. “Itu cuma imajinasimu.” Lalu dengan nada yang lebih dingin ia berkata, “Sekarang pergi dari rumahku, Selina!” Kata itu terasa seperti belati yang mengurus hatiku. “Mas ...?” Suaraku serak. “Mas ngusir aku?” "Iya, cepat pergi sana!" Suaranya kali ini keras, tegas, dan tak terbantahkan. "Dasar gadis gila!" Aku menggigit bibir bawahku. Mataku panas, tapi aku masih memaksa tersenyum. “Baik, aku pamit ya, Mas. Tapi tolong terima dan buka hadiahnya nanti, ya!” Aku letakkan kotak kecil itu di atas meja, lalu melangkah ke arah pintu. Dan saat aku hendak keluar dari rumah itu, aku menoleh ke belakang. Mas Dewa masih berdiri di tempat, dia menatapku datar, tanpa kata. Aku mematung beberapa detik, berharap ia akan memanggilku. Tapi tidak. Angin sore menerpa wajahku saat aku keluar dari rumah itu. Dan saat aku membuka pintu mobil, air mataku akhirnya jatuh juga. Gila, Selina. Kamu beneran diusir sama dia! Tapi anehnya, aku nggak menyesal, karena untuk pertama kalinya, aku melihat wajah Dewangga Aksara secara nyata. Dan aku mau dia menjadi milikku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
315.6K
bc

Too Late for Regret

read
324.6K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
145.6K
bc

The Lost Pack

read
443.3K
bc

Revenge, served in a black dress

read
154.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook