"Sial." Begitu suara mobil Selina menjauh, aku akhirnya tersadar. Buru-buru aku menarik napas panjang dan berbalik cepat menuju rumah.
Begitu masuk ke kamar, aku berlari ke kamar mandi, menyalakan keran dan menatap pantulan wajahku di cermin. Bibirku jadi berwarna pink, terasa sedikit lembap, dan entah kenapa, saat aku melihat pantulan wajahku di cermin, wajah Selina yang nyengir tadi juga ikutan muncul di cermin.
“Astaga!” Aku spontan mengusap bibirku pakai tangan, rasanya jijik banget. “Sialan memang Selina itu! Dia beneran gila! Nekat banget cium aku di depan rumah!”
Air mengalir deras dari keran, sementara aku buru-buru ambil sabun cuci muka dan menggosok bibirku keras-keras.
Busa sabun sampai masuk ke mulut, tapi aku tetap terus gosok. “Cewek itu bener-bener sinting!”
Setelah puas dengan ritual cuci bibir paling brutal dalam sejarah hidupku, aku menatap pantulan wajahku yang ada di cermin. Bibirku sekarang malah perih, bengkak dan agak merah keunguan. “Bagus, Dewa! Kamu sukses nyiksa bibir sendiri.”
Aku menyandarkan kepala ke dinding kamar mandi, menghembuskan napas panjang. "Ah ...
ciuman pertamaku malah diambil sama gadis paling gila yang pernah aku temui!"
“Padahal aku belum pernah nyium bibir Kinara,” gumamku lirih. “Kenapa harus Selina yang duluan cium bibirku, sih?”
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut. Rambut acak-acakan, bibir perih, dan perasaan campur aduk. Rasanya seperti habis kalah perang melawan pasukan satu orang bernama Selina.
Aku menjatuhkan tubuh ke ranjang. Kasur langsung menjerit halus menahan berat badanku. Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba menenangkan diri, tapi percuma. Setiap kali mataku terpejam, bayangan Selina muncul lagi — senyumnya, suaranya, dan … ciuman itu.
“Astaga, Dewa! Tolong deh, jangan diinget-inget!” Aku membanting bantal ke muka, lalu teriak kecil dari baliknya.
Tapi otak ini nggak bisa kompromi.
Suara Selina terus terngiang.
“Aku cinta banget sama Mas Dewa.”
“Sekarang kamu boleh benci sama aku, tapi besok kamu bakal cinta sama aku.”
Dan yang paling menyebalkan, adalah hatiku fakta bahwa detik waktu dia nyium aku … aku malah diam. Aku nggak dorong dia, nggak marah, nggak teriak. Aku cuma … berdiri kaku.
“Gila, jangan-jangan aku kena guna-guna tuh cewek,” gumamku sambil memejamkan mata.
Beberapa detik kemudian, aku malah tersenyum miring sendiri. “Tapi emang hebat juga sih, seberani itu dia peluk dan nyium cowok di rumah orang tuanya.”
Aku buru-buru menampar pipiku ringan. “Hei, Dewa! Fokus! Jangan ikut-ikutan gila kayak dia!”
Aku berbalik di atas ranjang, menarik selimut menutupi wajah. Tapi tetap aja, di balik gelapnya kain, bayangan Selina tetap ada. Malah lebih liar hingga bikin jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan cuma bayangan ciuman tadi yang keinget. Tapi juga ... mimpi sore itu. Bayangan tubuh Selina yang aduhai itu makin lama semakin jelas di kepalaku. Semakin aku berusaha lupain, malah semakin kuat dia muncul.
Aku refleks bangun setengah duduk. “Sial! Kayaknya beneran dia itu guna-gunain aku.”
Tapi otakku semakin meliar. Kilasan mimpi itu datang begitu detail — terlalu detail. Sentuhan, bisikan, bahkan detik waktu dia mendesah sambil nyebut namaku dengan suara yang membukan.
Semua terasa nyata.
Terlalu nyata.
“Gila!” Aku menepuk pelipis sendiri, frustasi. “Itu cuma mimpi, Dewa! Mimpi! Tapi ... kenapa kok kayak kejadian beneran, ya?”
Aku masih inget, biasanya kalau aku mimpi kayak gitu, wajah ceweknya itu blur, samar, nggak pernah jelas. Tapi baru hari ini, wajahnya jelas banget. Tatapannya, senyumnya, bahkan suaranya, dan parahnya, aku bangun waktu itu dengan perasaan yang lemas tapi ada rasa nikmat.
Aku menunduk, menekan kepala dengan kedua tangan. “Aduh, ini otakku beneran rusak kayaknya.”
Aku bangkit dari ranjang, jalan mondar-mandir di kamar. “Nggak bisa nih! Ini harus dialihin! Aku harus ngelakuin sesuatu.”
Mataku langsung tertuju ke laptop di meja belajar yang ada di ujung kamarku. “Iya, nulis! Aku harus nulis biar lupa sama cewek gila itu!”
Aku buka laptop, layar putih muncul, dan tanpa pikir panjang, jari-jariku mulai ngetik cepat. Apa aja yang keluar di kepala langsung kutulis. Cerita, dialog, ide absurd — semuanya tumpah begitu aja.
Pokoknya setiap kali bayangan Selina muncul, aku ngetik lebih cepat lagi.
“Lupain dia, Dewa! Fokus! Ayo nulis, nulis, nulis yang banyak!” Aku ngomel ke diri sendiri.
Nggak sadar, waktu udah lewat lebih dari satu jam. Mataku mulai berat, jari-jariku mulai lelah, tapi jantung masih deg-degan entah kenapa.
Aku memutuskan berhenti menulis, mengangkat kedua tangan untuk merenggangkan badan, lalu menyandarkan punggungku di kursi.
“Capek banget!” gumamku sambil menguap.
Kupencet tombol save, terus aku ambil ponselku. Aku membuka salah satu medsos buat sekadar nyari hiburan. Scroll-scroll timeline, tapi nggak ada yang menarik.
Sampai ... satu berita lewat di beranda.
"Kecelakaan tunggal di tol arah B— malam ini. Sebuah mobil putih menabrak pembatas jalan. Pengemudi perempuan dilarikan ke IGD RS Sejahtera."
Aku menatap layar tanpa ekspresi beberapa detik.
“Mobil putih? Perempuan?”
Jempolku refleks meng-klik berita itu.
Di kolom komentar, orang-orang yang tadi lewat TKP ramai ngomongin kejadian itu :
"Ceweknya katanya cantik banget loh, cindo gitu, dan masih muda."
"Memang cantik banget. Aku lihat di TKP tadi. Cewek itu pakai mini dress warna pink, rambutnya yang panjang itu netesin darah pas dinaikin ambulance. Kayaknya ada luka parah di kepala."
"Ya Tuhan. Kasihan banget dia ... semoga aja nyawanya terselamatkan."
Aku membeku.
Mobil putih.
Mini dress pink.
Cewek cindo.
Rambut panjang.
Itu ... itu kan ciri-ciri Selina banget.
“Enggak mungkin!” bisikku, menatap layar ponselku lekat-lekat.
Tanganku refleks menggulir ke atas, lihat jam kejadian di berita. Sekitar pukul delapan malam.
Jam segitu, Selina baru aja ninggalin rumahku.
Tenggorokanku kering.
Aku coba menertawakan pikiran buruk itu. “Nggak, itu pasti bukan Selina. Iya ... nggak mungkin dia.”
Tapi semakin aku berusaha menyangkal, semakin cepat jantungku berdetak.
Perasaanku benar-benar terasa tidak enak.
Aku berdiri dari kursi, menatap jendela gelap di luar, refleksi wajahku sendiri terlihat samar di kaca itu — pucat, dengan expresi tegang.
“Selina …?” bisikku pelan.
Aku berusaha meyakinkan diri. “Nggak ... itu pasti bukan dia. Banyak orang punya mobil putih kayak gitu, kan? Minu dress pink juga umum. Cewek cindo juga banyak di Indonesia. Ini semua pasti cuma kebetulan.”
Tapi logikaku nggak bisa mengalahkan perasaan khawatir di dadaku yang terasa sangat sesak.
Dan entah kenapa, kalimat terakhir di berita itu terus terngiang di kepala. "Pengemudi perempuan tidak sadarkan diri saat dievakuasi."
Aku menelan ludah.
Suara di dalam kepala mulai berbisik pelan, menembus segala penolakan yang kubangun. “Jangan-jangan …? Itu beneran ... Selina ...?”