Part 3

1109 Kata
Keduanya sepakat untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pergi ke toko emas. Dika memilih restoran yang dekat dengan tujuan mereka. Mereka berdua makan dalam keheningan. Bahkan dentingan garpu dan sendok pun hampir tidak terdengar di meja mereka. Setelah selesai dan membayar bill di restoran. Dini dan Dika berjalan menuju ke toko emas yang memang sudah Dika pesan sebelumnya. Keduanya disambut ramah oleh pegawai toko dan langsung diarahkan ke tempat yang dipenuhi dengan etalase berisi berbagai macam jenis cincin. "Kamu pilih cincin yang kamu dan suka," ujar Dika tiba-tiba yang membuat Dini terperangah saking terkejutnya. "Ini serius, Kak Dika mau beliin aku cincin, tapi untuk apa?" batinnya. Ia tidak ingin melambung tinggi karena kesenangan sesaat tersebut, tetapi tidak dapat dipungkiri hatinya kini dipenuhi bunga bermekaran. Dini hanya mengangguk lalu sibuk melihat-lihat cincin yang sekiranya bagus dibantu oleh pelayan yang ada di seberang etalase. Beberapa menit kemudian setelah sibuk memilah, mata Dini tertuju pada sebuah cincin berlian yang terlihat sederhana tetapi juga elegan. Ia meminta pelayan toko untuk mengambilkannya. Ia amati sebentar sebelum pada akhirnya ia kenakan. Cincin itu seolah dibuat khusus untuknya karena sangat pas di jari manis. Terlihat indah dan berkilauan. "Cincinnya cocok sekali untuk pasangan Anda, Pak, dan ukurannya pun pas," kata si pelayan toko dengan tulus dan senyum ramah. Dini bersemu mendengar kata pasangan yang terlontar dari bibir si pelayan toko. Dika terkekeh mendengarnya. "Dia ini adik saya, bukan pasangan saya, Mba." "Ah, maaf. Kalian terlalu serasi untuk disebut sebagai adik dan kakak. Yang cowok ganteng dan yang cewek pun cantik serta anggun. Sangat cocok jadi pasangan." Lagi-lagi Dini tersipu. Ia bahkan berulang kali beristigfar kepada Allah dalam hatinya agar kepalanya tidak membesar setelah mendengar ucapan si pelayan toko. "Cincinnya bagus. Saya ambil yang ini, Mba." Dika memberikan credit card miliknya pada si pelayan. "Kamu ambil satu lagi cincin yang bagus, Kakak tunggu di luar. Kakak mau nelpon orang dulu." Dika langsung berjalan keluar meninggalkan Dini yang masih mematung di tempat. "Satu lagi? Untuk apa beli dua cincin?" lirihnya. Namun, ia tidak terlalu memedulikan hal itu dan kembali memilih cincin. Sekali lagi sebuah cincin berlian membuatnya jatuh hati, berbeda dengan cincin yang tadi. Cincin kedua itu sangat polos seperti cincin kawin, terdapat satu berlian sedang di tengahnya dan di kedua sisi diapit oleh dua berlian yang ukurannya lebih kecil. Terdapat ukiran yang cukup rumit di samping kedua berlian kecil tersebut. "Mba, saya ambil yang itu juga ya." Dini menunjuk cincin yang masih terpajang apik di etalase kaca. Pelayan tadi mengangguk lalu mengambil cincin yang dipilih oleh Dini. Membungkus kedua cincin tadi dan memberikannya pada Dini beserta credit card milik Dika tadi. Ia tersenyum lalu keluar dari toko. Berniat menghampiri Dika, tetapi ia urungkan ketika tanpa sengaja mendengar percakapan Dika dengan seseorang di telepon. Wajah cerah dan berseri miliknya yang sedari tadi terpancar indah di dalam toko seketika menjadi suram, seperti awan mendung. Ia berjalan dengan gontai dan memberikan tas tempat cincin kepada Dika tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan berjalan mendahului kakaknya. Berkata ingin cepat pulang karena lelah, meski sebenarnya Dini berbohong untuk hal itu. "Ya Allah, ampunilah dosaku karena telah berbohong pada Kakak. Engkau yang Maha Tahu akan segala perasaanku saat ini," batinnya sambil terus berjalan keluar dari area mall. Dika yang melihat perubahan drastis adiknya pun sedikit bingung. Namun, ia tidak bertanya apa pun dan hanya mengekor di belakang Dini. Lagipula tujuannya mengajak Dini keluar sudah tercapai. Jadi, sama seperti adiknya, ia ingin segera pulang juga. Setelah berkendara selama belasan menit, akhirnya mereka berdua sampai di basement apartemen Dini. Dini langsung keluar dari mobil masih dalam keadaan bungkam. Dika pun ikut keluar dan mencekal lengan sang adik. Dini berbalik dan menatap sang kakak dengan tatapan bertanya. "Barang kamu ketinggalan." Dika memberikan satu tas kecil pada Dini. Gadis itu menunduk untuk melihat isinya. Cincin kedua yang ia beli tadi. Setelahnya ia sedikit mendongak untuk memandang wajah sang kakak. "Makasih udah mau nemenin Kakak beli cincin, karena kakak gak tau selera cewek itu yang seperti apa." Dini menghela napas. "Yaudah, Kakak balik ya. Sana masuk, udah malem." Dini mengangguk lalu berlalu dari sana. Ia bersembunyi di balik dinding untuk melihat kepergian sang kakak. Dika, lelaki itu tersenyum sambil memandangi satu tas kecil yang juga berisi cincin. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari basement. Lagi-lagi Dini menghela napas kasar. Ia masuk ke dalam lift dan menekan angka 8, tak lama kemudian lift bergerak naik. Satu air mata Dini lolos tanpa bisa ia duga. Ia langsung mengusapnya dengan kasar. "Dasar bodoh! Makanya jadi orang jangan terlalu percaya diri!" rutuknya pada diri sendiri. "Udah cukup, Din! Kamu jangan terlalu banyak berharap pada manusia kalau gak mau menelan kecewa," nasihatnya lagi. Sampai di dalam kamar apartemennya, Dini menangis sejadi-jadinya karena mengingat kejadian di depan toko emas tadi. Di sana Dika berdiri sambil menggenggam telepon pintarnya dan menempelkan benda itu ke sebelah telinga. Masih jelas terngiang di otaknya percakapan lelaki itu dengan seseorang di seberang telepon. "Halo, Mel? Iya, aku masih di toko buat beli cincinnya." "Kamu gak mau diajak ke sini, jadinya aku sama Dini. Cincin buat lamaran resmi kamu udah aku beli, Dini yang pilihkan, semoga kamu suka ya. Selera Dini selalu bagus, tenang aja." Air mata kembali mengalir mengetahui jika cincin yang tadi ia coba ternyata adalah untuk Amelia, calon istri Dika. Betapa bodohnya dia karena mengira cincin itu dibelikan untuknya? Kenapa meskipun ia telah melihat berbagai keharmonisan hubungan kakaknya dengan sang kekasih tak membuat perasaannya memudar? Dering ponsel miliknya berbunyi, tanda seseorang mengirimkan pesan. Dini meraih ponsel yang masih berada di dalam tas lalu membukanya, takut jika itu sesuatu yang penting. Ternyata dari Dika. pesan tersebut berisi ungkapan terima kasih karena telah menemani dirinya untuk memilih cincin lamaran. Amelia bilang jika ia menyukai model cincin yang ia pilihkan. Dini hanya bisa tersenyum pahit membaca pesan tersebut. Kemudian ia melirik tas kecil dan mengambil isinya. Sebuah kotak cincin berwarna biru dengan bahan beludru. Ia buka dan ambil cincin tersebut dari kotaknya. "Bodoh!" Ia memandangi cincin itu selagi mengatakannya. "Ya Allah, aku selalu berdoa pada Engkau untuk menjauhkanku dengan Kak Dika jika ia memang bukanlah jodohku. Apakah ini salah satu caranya? Jika iya, maka kuatkan hati hamba. Buat hati dan pikiran hamba melupakan sosoknya." Dini mengembalikan cincin tadi ke tempatnya. Mengganti pakaian dan menghapus riasan tipis miliknya. Sekali lagi, ia memohon pada Allah akan kegelisahan hatinya. Karena saat ini dirinya memiliki dua masalah. Masalah pertama adalah Dika dan masalah kedua adalah lamaran yang diajukan oleh Hendery terhadapnya. Sebelum tidur, Dini meraih jam weker di atas nakasnya dan mengatur alarm pukul 3 pagi. Ia memutuskan untuk melakukan sholat malam dan meminta petunjuk pada Yang Kuasa agar ia dapat memilih keputusan yang tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN