"Dini. Bangun, Sayang." Sebuah tepukan pelan di lengan Dini membuat tidur gadis itu sedikit terusik.
"Bagun, Sayang. Udah subuh, katanya mau sholat berjamaah. Ayo, keburu telat nanti!" Terdengar lagi suara merdu yang mencoba membangunkannya.
Akhirnya dengan berat hati, Dini membuka perlahan kedua matanya. Dilihatnya sesosok lelaki yang wajahnya tidak terlalu jelas karena terhalau sinar matahari yang berasal dari jendela.
Seketika Dini tersadar. Itu bukan kamar apartemennya, dan lagi seorang lelaki membangunkannya di kamar.
Dini lantas berteriak dan melempar bantal ke arah lelaki itu. "Kamu siapa? Kenapa aku bisa tidur di sini sama kamu? Ini di mana?" paniknya.
Lelaki itu malah terkekeh, ia berbalik dan mengambil bantal yang tadi dilempar oleh Dini ke lantai.
"Kita udah nikah, jadi wajar kamu tidur sama aku di kamar yang sama."
Dini terkesiap mendengar jawaban sang lelaki. "Nikah? Sejak kapan aku udah nikah? Baru semalem aku pulang kerja karena lembur di kantor, kenapa sekarang udah nikah dan jadi istri orang?"
Lirihan Dini masih terdengar di telinga lelaki yang mengaku suaminya tersebut. Ia berjalan mendekat dan meletakkan bantal tadi kembali ke tempatnya.
"Iya, kita udah nikah. Kamu udah jadi makmum aku, sama seperti yang kamu impikan selama ini," bisik sang lelaki.
Sedikit lagi Dini bisa melihat wajahnya, hanya perlu menunggu lelaki itu berbalik dan ia dapat melihat siapa sebenarnya orang yang mengaku sebagai suaminya.
Namun, suara alarm yang menggema di seluruh penjuru kamar membangunkan Dini. Gadis itu terkejut dan buru-buru mematikan alarm setelah tersadar. "Astagfirullah, aku ketiduran."
Dini masih mengenakan mukena dan tertidur di atas sajadah. Ia menghabiskan banyak tenaga untuk menangis semalaman, membuatnya mengantuk setelah sholat subuh tadi pagi.
"Ternyata cuma mimpi, aku kira aku beneran udah nikah!" Dini hanya bisa bersyukur.
Namun, ia masih penasaran dengan sosok yang berada di mimpinya tersebut. Setelah melakukan sholat istiqarah tiga hari berturut-turut, kini ia malah memimpikan hal tersebut.
"Ya Allah, apa ini adalah jawaban dari permohonanku? Jika iya, siapakah lelaki yang ada di mimpiku ya Allah?" batin Dini bertanya-tanya.
Ia jadi teringat akan akan lamaran dari Hendery beberapa hari lalu. Lalu Dini menggabungkan mimpinya dengan hal tersebut.
"Ya Allah, apa engkau bermaksud agar hamba menerima lamaran dari Pak Hendery, atasan hamba? Jika itu memang takdir terbaik bagi hamba, maka hamba siap menerimanya."
Dini melirik jam yang belum sempat ia kembalikan ke tempatnya. Pukul 6 pagi, ia bergegas melipat mukena dan bersiap mandi. Ia harus ke kantor hari ini untuk bekerja.
Alasan lain adalah, ia akan menjawab lamaran dari Hendery. Dini akan mencoba menerimanya. Meski ia masih belum terlalu yakin dengan keputusannya karena Hendery bukanlah orang yang ia cintai.
Namun, cinta bisa datang setelah terbiasa. Setelah menikah nanti Dini akan mencoba membuka perasaan untuk Hendery dan melupakan segalanya tentang Dika.
Menurut Dini, ini adalah keputusan terbaik daripada terus menggantungkan Hendery dalam ketidakpastian yang menyakitkan dan berharap pada sosok yang sudah jelas tidak akan pernah bisa ia miliki.
"Selamat tinggal Ali ku. Meski pada akhirnya kisah cintaku tidak seperti Ali dan Fatimah bersamamu, tapi aku yakin keputusan yang Allah buat adalah yang terbaik untukku."
Sedikit sakit, hati Dini rasanya seperti tersayat ketika mengingat bahwa Dika tidak akan pernah menjadi imamnya, bahwa Dika tidak akan pernah menjabat tangan wali dan mengucap qobul atas nama dirinya.
Dini tersenyum kecut. Ia gelengkan kepalanya dan beristighfar dalam hati. Ia harus yakin akan keputusannya. Allah tahu yang terbaik bagi umat-Nya.
***
"Dini, boleh minta tolong kasih ini ke Pak Hendery? Ini laporan keuangan bulan lalu yang diminta beliau." Dewi menyerahkan map kepada Dini yang baru saja sampai.
Ia memang terlambat karena mengurus sesuatu atas perintah Hendery mengenai kontrak dengan Gwen.
Gwen sudah setuju dan menandatangani kontrak perjanjian dengan perusahaan tempatnya bekerja.
"Kenapa gak kamu sendiri aja yang ngasih? Beliau ada di ruangannya, 'kan?" tanya Dini heran.
"Pokoknya kamu aja yang anterin ke ruangan Pak Hendery, oke? Makasih." Dewi langsung berlari kecil meninggalkan Dini yang kini melongo karena tingkah rekan kerjanya tersebut.
Ia mengambil map yang ditinggal di atas meja dan melangkah menuju ruangan Hendery.
Mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa mengetahui keadaan di dalam ruangan itu seperti apa.
"Maaf, Pak. Ini laporan keuangan bulan lalu yang Bapak min–" Dini tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat seorang perempuan duduk di kursi kerja Hendery.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Pak Hendery tidak ada di ruangan." Dini berbalik dan bergegas keluar dari ruangan.
"Tunggu! Kamu sekretarisnya Hendery, 'kan?" tanya perempuan tersebut.
Dini memutar tubuhnya dan tersenyum seramah mungkin. "Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hendery ke mana? Tadi aku ke rumahnya tapi orang rumah bilang dia udah ke kantor, tapi kenapa ruangan ini kosong? Kamu sembunyikan di mana Hendery?"
Dini menatap perempuan itu agak sinis meski hanya sekejap. Ia kembali memasang senyum sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Maaf, saya baru datang ke kantor jadi saya tidak tahu beliau ada di mana. Kenapa tidak coba hubungi saja nomornya?"
Dini meletakkan map yang dibawa ke meja Hendery lalu bergegas keluar. Ia tidak ingin berurusan dengan perempuan itu.
Setelah keluar dari ruangan atasannya. Dini menggerutu dalam hati, ia mengutuk Dewi yang tidak memberitahukan hal ini sebelumnya padanya.
"Pantes aja dia gak mau masuk ke ruangannya Pak Hendery, ternyata ada singa betina di dalam. Dasar temen nyebelin."
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia menatap nama yang tertera di layar, atasannya menelepon.
Dini segera mengangkatnya. "Halo, Bapak ke mana? Kenapa tidak ada di ruangan?"
"Dini, bisa bantu saya kali ini? Saya mohon malam ini kamu mau menemani saya bertemu kedua orang tua saya."
Permintaan mendadak dari Hendery membuat Dini mengerutkan dahi. "Kenapa, Pak? Bukannya jadwal bertemu dengan orang tua Bapak masih tiga hari lagi?"
"Kamu lihat sendiri bukan di dalam ruangan saya ada Jessi? Dia datang karena suruhan Mama saya. Mama mau saya memperkenalkan calon istri saya malam ini, jika tidak saya benar-benar harus menikah dengan gadis itu."
Dini menghela napas dan Hendery dapat mendengarnya. "Inget, saya atasan kamu selama kamu masih di kantor. Perintah saya adalah mutlak!"
Belum sempat Dini memprotes, sambungan itu telah diputus secara sepihak. "Dasar Pak Hendery, kebiasaan sejak kuliah masih saja selalu dibawa!"
Pada akhirnya ia harus menyanggupi permintaan sang atasan. Dini memantapkan hatinya sekali lagi. "Oke, jangan malu-maluin Pak Hendery, Dini. Kamu pasti bisa!"
Setelahnya Jessi keluar dari ruangan Hendery, ia terlalu bosan menunggu lelaki idamannya yang tak kunjung datang.
"Kamu, sekretarisnya Hendery." Ia menunjuk Dini. "Nanti kalau Hendery udah dateng, bilang ke dia kalau tadi saya ke sini, ngerti?"
Dini mengangguk. "Baik, akan saya sampaikan pada beliau jika sudah datang nanti."
Dengan langkah kesal, Jessi pergi meninggalkan kantor, sementara Dini hanya tersenyum.
"Pantas saja Pak Hendery menolak gadis itu terus-menerus. Aku sebagai sesama perempuan juga eneg liat tingkahnya."
Setelah kepergian Jessie, 30 menit kemudian Hendery datang. Sebelum masuk ke ruangannya, ia memberi isyarat pada Dini untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Hendery masuk diikuti oleh Dini di belakangnya.
"Saya mau bicara sama kamu!"
"Saya mau bicara sama Bapak."
Keduanya berkata secara bersamaan. Membuat suasana di ruangan itu menjadi hening setelah keduanya terdiam.
"Bapak duluan aja, ada hal yang mau dibicarakan?" Hendery menggeleng. "Kamu duluan, Dini."
Dini ingin memprotes, tapi lagi-lagi Hendery menyalahgunakan hak nya sebagai atasan dan membuat Dini tidak bisa mengelak.
"Saya sudah punya jawaban atas lamaran Bapak pada saya. Semoga Bapak tidak kecewa nantinya."