"Dini."
Mendengar panggilan dari arah pintu, Dini yang semula tengah duduk di sofa menoleh. Ia tersenyum saat melihat sahabatnya datang, dengan senang hati menerima pelukan hangat dari sang sahabat.
"Ceritain sama aku, kenapa tiba-tiba mau pasang CCTV?"
Dini tersenyum kecut, menoleh ke arah pintu terlebih dahulu untuk memastikan kalau Mila tidak keluar dari sana. Yakin pembantunya itu tidak keluar, Dini kembali menatap ke arah sang sahabat.
"Tadi malam mas Naren membawa seorang perempuan dari kampung halaman ibunya, perempuan itu bernama Mila, penampilannya seksi dan terlihat sangat akrab dengan mas Naren." Dini menjelaskan, tapi sebelum menyelesaikan ucapannya ia sengaja menjeda untuk menarik nafas karena rasa sesak tiba-tiba terasa.
"Terus," lanjut sang sahabat cukup pensaran.
Membasahi bibirnya sekilas, Dini melanjutkan perkataannya. "Sayangnya aku tidak bisa mempercayai begitu saja apa kata mas Naren yang mengatakan kalau Mila itu pembantu, apa lagi masuk ke rumah ini jadi pembantu atas rekomendasi ibu mertuaku."
"Masuk akal," tanggapan sang sahabat sambil mengangguk setuju.
"Voka, tadi pagi agak siangan Mila dapat kiriman paket dan isinya adalah lingerie merah menyala. Mau mencoba berpikir positif, tapi susah tatkala mendapati mas Naren salah kirim pesan menanyakan tentang paket--,"
"Gilaaaa," Sebelum sempat Dini menyelesaikan ucapannya, Voka sudah lebih dulu memotong perkataan Dini. Perempuan dengan rambut terurai panjang itu mendelik, berdecak sebal. "itu sih fix si Mila adalah selingkuhan suami kamu yang berpura-pura jadi pembantu."
"Aku masih mau berfikir positif, makanya butuh bukti nyata dengan memasang CCTV agar bisa merekam kelakuan mereka di belakang." Dini menggenggam tangan Voka, "please Voka, bantu aku. Tubuhku masih lemah usai keguguran kemarin, jadi tak akan bisa menyiapkan perangkap itu sendirian."
Voka langsung mengangguk sanggup, "pasti, aku akan bantu kamu."
Melirik kanan dan kirinya, Voka menyipitkan mata dan langsung berdiri. "Aku haus, mau ambil minum dulu."
"Voka--," Dini menelan kembali ucapannya saat melihat Voka sudah masuk dapur, padahal tadinya ia akan memanggil Mila bila Voka ingin minum.
Ya sudahlah, toh Voka memang terbiasa semau dia bila lagi datang ke rumahnya.
Saat masuk dapur, Voka melipat tangan di depan d**a sambil menyenderkan pinggung pada pinggir wastafel memperhatikan Mila yang kini tengah memainkan ponsel sambil tertawa sendiri.
Pandangan Voka dari atas turun ke bawah, balik lagi ke atas memindai penampilan Mila yang lebih cocok di sebut jalang dari pada seorang pembantu. Pantas Dini langsung merasakan firasat buruk.saat kedatangannya, bila itu dirinya juga sama akan berpikir sama dengan Dini.
"Pembantu 'kan? Ini piring kotor dan gelas, kenapa belum di cuci?" Sindir Voka sambil melewati Mila begitu saja, menjangkau gelas dan sengaja mengambil air panas dari dispenser.
"Eh?" Mila menoleh terkejut, matanya mengerjap pelan saat mendapati seorang perempuan tengah berdiri di belakangnya. "Kamu siapa?"
"Algojomu," jawab Voka nyeleneh.
"Gak jelas," samar Mila berucap.
Diam-diam Mila mendengkus kesal, terpaksa mematikan layar ponsel dan mulai mencuci piring. Gerakan tangan Mila terlihat tak suka saat menyentuh sabun dan piring, tapi mau gimana lagi ini memang pekerjaannya.
"AAHH, PANAS." Mila meraung sambil mengibaskan lengannya, buru-buru membasuh lengan pada air dingin di keran.
"Ups, sorry, gak sengaja." Voka menutup mulut menggunakan salah satu telapak tangannya tatkala air dalam gelas yang ia bawa menyiram lengan Mila, buru-buru Voka mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tas dan mengasongkannya pada Mila. "Lebih baik kamu bawa lenganmu itu ke dokter kulit, takutnya meninggalkan bekas."
Ingin marah, tapi Mila terlalu sibuk mengipasi lengannya. Pada akhirnya ia menerima uang yang disodorkan Voka, melengos pergi dengan hati jengkel luar biasa.
"Sempurna," gumam Voka dengan seringai yang tersungging di bibirnya.
Saat Voka kembali ke ruang tengah di mana saat ini Dini berada, ia tersenyum sambil mengedipkan mata. Ia tertawa pelan, mendudukkan diri dengan perasaan senang.
"Ada apa dengan Mila?" Tanya Dini, tatapannya menyipit menatap Voka curiga. "Kamu gak sengaja menyiramnya menggunakan air panas bukan?"
"Aku sengaja," jawab Voka dengan wajah dibuat sepolos mungkin.
"Voka," Dini mengeluh tak beradaya atas kelakuan sahabatnya ini.
Dengan santai tak mempedulikan keluhan Dini, Voka mengeluarkan alat kecil berbentuk segi empat seperti potongan coklat, ia tertawa bangga dan menyimpannya di atas tangan Dini. "Ini kamera CCTV yang kamu mau, bisa memantau lewat ponsel bahkan jarak jauh. Mau kamu pasang di mana? Biar aku bantu pasang, mumpung pembantu rasa pelakormu itu lagi gak ada di rumah."
Dini mengembalikan kamera CCTV itu ke tangan Voka, "Kamu bawa berapa?"
"Dua."
"Satu di kamar Mila, satu lagi di ruang tengah." Intruksi Dini.
Sesuai instruksi dari Dini, segera Voka melakukan pekerjaannya. Usai memasang CCTV di tempat yang sekiranya tak akan ketahuan oleh Mila dan Naren, barulah Voka pulang ke rumahnya.
Malam hari saat Dini berpura-pura tidur, ia merasakan kasur di sampingnya bergerak perlahan. Walau tahu saat ini Naren tengah pergi menyelinap ke luar dari kamar, Dini tetap bertahan pada posisinya.
Baru setelah mendengar bunyi pintu tertutup, barulah Dini membuka mata dan bangun duduk. Ia menatap nanar pintu kamarnya, seakan pintu itu adalah suaminya yang tengah berselingkuh dengan pembantunya.
"Mas Naren," gumam Dini dengan hati yang mulai perih.
Melihat ponselnya yang ada di atas nakas, Dini mengambilnya dan mulai membuka kamera dari CCTV yang menjadi alat pemantaunya sekarang. Jujur hatinya berdebar, takut bila Naren dan Mila memang benar-benar memiliki affair di belakangnya.
Terlihat Naren melangkah ke ruang tengah, lalu masuk ke dapur. Tidak lama Naren datang kembali, tapi tujuannya tidak seperti akan masuk ke dalam kamar.
"Jangan ke kamar Mila! Jangan, Mas!" gumam Dini dengan penuh permohonan.
Naren melirik pintu kamar Mila beberapa saat, sebelum kemudian membelokkan langkahnya menuju kamar dia bersama Dini. Melihat hal itu Dini langsung bernafas lega, senang sebab kemungkinan ia yang terlalu berpikir negatif pada suaminya itu.
ceklek
Mendengar pintu terbuka, buru-buru Dini menyimpan ponsel dan kembali berpura-pura tidur. Terdengar Naren melangkah, lalu ada bunyi gelas ditaruh ke atas nakas.
"Eung, Mas. Dari mana?" Dini pura-pura seperti orang yang habis bangun, menatap Naren yang kini duduk di sampingnya.
"Ambil minum, kamu kan suka minum saat terbangun tengah malam." Jawab Naren santai, ada senyum tanpa makna yang tersungging di bibirnya. "Mau minum sekarang?"
"Boleh," Dini menerima gelas yang Naren sederhana, meminumnya hingga sisa setengah. Usai harusnya hilang, kembali meresahkan diri dengan Naren yang menyelimuti tubuhnya hingga batas d**a.
huaaah
Dini menguap lebar, mendadak rasa ngantuk berat menggelayuti matanya setelah meminum air yang diberikan Naren. Dini menatap gelas di atas nakas dengan pandangan sayu, mengernyit curiga kalau suaminya ini telah mencampuri air itu dengan sesuatu.
"Mas, kenapa mataku jadi berat?" Ucap Dini lirih, berlomba dengan matanya yang berusaha ia buka.
Naren tersenyum manis, membaringkan tubuh di samping Dini. "Tentu saja mengantuk, bukankah sekarang memang sudah malam? Tidurlah, mimpi yang indah Istriku."
Perlahan mata Dini memberat, lalu tidak lama ia jatuh terlelap tanpa bisa membuka mata lagi. Dalam hati Dini memaki Naren, sebab sangat yakin kalau suaminya ini yang sudah membuat ia ngantuk berat hingga membuatnya jatuh tertidur.
Walau kamu membuatku tidur malam ini, tapi lihat pada akhirnya siapa pemenang dalam permainan ini. Kamu keterlaluan Mas, aku membencimu! Aku semakin yakin kamu punya hubungan dengan Mila yang disembunyikan di belakangku. Ucap Dini secara internal, sebelum kemudian benar-benar terlelap masuk ke alam mimpi.
Melihat Dini yang sudah benar-benar tidur, Naren mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri. Ia menyeringai senang sambil berbisik pelan, "tidurlah, mimpimu pasti indah sayangku."
***