tok
tok
tok
Mendengar suara pintu diketuk, Dini yang semula tengah duduk santai di sofa menoleh. Saat ia akan berdiri, Mila keburu melewatinya dengan senyum sumringah di wajah.
Melihat hal itu, Dini ikut penasaran kenapa sampai Mila sesenang itu hanya karena ada yang mengetuk pintu. Namun, sekejap kemudian baru ia paham, ternyata yang mengetuk pintu tadi bukan tamu melainkan seorang kurir saat melihat Mila kembali datang dengan Paket di tangannya.
"Paket siapa?"
Saat hendak melewati Dini, Mila menoleh karena majikannya ini bertanya. "Paket aku, Bu."
Dini mengangguk mengerti.
"Permisi," Mila mengangguk hormat, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Terdiam sebentar, entah kenapa Dini jadi merasa ingin tahu apa isi paket yang Mila terima hingga membuat pembantu barunya itu sampai sesenang itu. Diam-diam Dini mengikuti Mila dari belakang, sampai di depan kamar Mila kebetulan pintu tidak tertutup rapat.
"Wah, cantik banget." Sorak Mila sambil mengeluarkan isi dari Paket miliknya.
Melihat isi paket milik Mila, Dini mengernyit bingung lantaran isinya ternyata sebuah lingerie berwarna merah menyala. Ia membalik badan, saat ia akan pergi Mila keburu keluar dari kamar dan malah memergoki dirinya yang berada di depan kamar.
"Loh, Bu Dini?" Mila terkejut saat menjumpai ada Dini di depan kamarnya. Mengerjap pelan, Mila tersenyum kikuk sambil matanya sedikit bergerak gelisah. "Ibu ngapain di depan kamarku?"
"Kebetulan lewat," Dini mencari alasan.
"Oh," Mila tersenyum mengerti.
Dini melipat tangan di depan d**a, menatap Mila penuh penilaian. "Aku mau tanya, sebenarnya kamu ini sudah menikah apa belum?"
"Ke-kenapa Ibu bertanya seperti itu?" Mila tergagap balik bertanya, ia berdehem pelan untuk menyembunyikan kecanggungan pada nada suaranya.
"Tadi aku lihat isi paket kamu, lingerie merah menyala. Kalau tak punya suami, apa kamu memang senang mengoleksi barang seperti itu?" Dini mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya, kecurigaan membuat Dini tidak bisa menahan diri. "Padahal lingerie tadi harganya sangat mahal, gaji kamu enam bulan pun mana cukup membelinya. Jadi, dari mana kamu dapat isi paketmu itu?"
"Apa Bu Dini menuduhku jadi wanita simpanan?" Mila menimpali dengan wajah yang dibuat terluka, bibirnya menipis tersinggung akan ucapan Dini yang membuatnya berpikir ke arah sana. Dengan kesal Mila membuang wajah, menunjukkan sikap kalau ia tak suka dengan ucapan Dini walau dia adalah majikannya.
Tertawa tak percaya, Dini menatap Mila yang memperlihatkan sikap merajuknya. "Apa ada dari perkataanku tadi yang mengatakan kalau kamu bisa membeli lingerie itu karena menjadi wanita simpanan?" Mendapati keterdiaman Mila, Dini melanjutkan ucapannya. "Tidak bukan, jadi jangan merambat ke mana-mana! Aku hanya bertanya, dari mana kamu mendapatkan barang mahal seperti itu dengan keadaan kamu yang sekarang."
"Sudahlah," Mila mengibaskan tangan tak peduli. "Dari awal aku datang, Bu Dini memang sudah terlihat jelas tak menyukaiku. Aku akan katakan dari siapa lingeri ini, lingeri ini adalah pemberian kekasihku."
Dini terdiam melihat kepergian Mila usai menjelaskan dari mana dia mendapatkan lingerie-nya, mengernyit heran karena sikapnya tak ada sopan-sopannya pada majikan. Memang benar manusia sama derajat mau pembantu atau majikannya, tapi jawaban Mila terkesan menyudutkannya padahal Dini cuma bertanya.
"Hanya kekasih tapi sampai memberikan lingerie," dengus Dini tak habis pikir. "Pacaran seperti apa yang Mila dan kekasihnya itu jalankan? Jangan-jangan keduanya malah suka melakukan hubungan tak seharusnya."
"Astagfirullah, kenapa aku jadi suudzon." guman Dini sambil menggeleng pelan.
Dengan langkah pelan Dini kembali ke ruang tengah, duduk santai menikmati cemilan dan acara televisi yang dari tadi ia tonton. Dini bukannya tidak bekerja, tapi saat ini ia tengah masa pemulihan usai keguguran yang dialaminya.
"Ya Allah, kenapa setiap hamil aku selalu keguguran? Tolong hamba, hamba juga ingin merasakan hamil dan jadi seorang ibu." Ucap Dini dengan suara lirih, mengusap perut ratanya dengan sayang.
Tiga kali keguguran berturut-turut.
Sudah tiga kali hamil, tapi selalu keguguran. Konsultasi ke dokter, dokter mengatakan tak ada masalah dengan rahimnya. Semua sehat, subur, bahkan dokter pun pernah heran karena di saat kandungannya sangat kuat malah bayi yang ada dalam kandungannya tak pernah bisa bertahan.
Pernah satu kali dokter mengatakan kalau kesalahan ada pada dirinya, Dini heran saat dokter mengatakan kalau ia keguguran karena memakan sesuatu yang menyebabkan kandungannya bermasalah. Padahal Dini merasa tak pernah memakannya, jadi hal itu membuat perempuan berusia 25 tahun itu keheranan.
"Mungkin Allah SWT. belum mempecayakan seorang anak untukku," hibur Dini pada dirinya sendiri.
Keguguran kali ini adalah yang ketiga, Dini harus kembali kehilangan kehamilannya. Saat diperiksa ke rumah sakit, dokter hanya menjelaskan kalau ia terlalu kecapean.
Sangat tidak masuk akal, keseharian Dini setelah tahu dirinya hamil tidak pernah melakukan pekerjaan berat dan tak pernah pergi ke mana-mana.
"Kak Dini."
Mendengar ada suara perempuan yang memanggil dari arah pintu, Dini berdiri dan melangkah menghampiri. Saat sudah sampai di ambang pintu, Dini melihat seorang perempuan dengan rambut terikat satu tengah berdiri menunggunya.
"Silvi, ada apa?" Dini bertanya pada gadis remaja itu. Namanya Silvi, adik dari Satria--musuh masa kecilnya yang paling menyebalkan.
"Aku dan bang-Sat baru pindah, kebetulan kita tetanggaan lagi kayak dulu, ini ada sedikit hadiah dari kami." Silvi mengulurkan tangannya, memberikan sebuah kue makaroni dalam satu wadah.
Melihat makanan manis di depannya, kedua mata Dini langsung berbinar cerah. Ia menerima kue makaroni pemberian Silvi, mencium aroma dengan ekspresi senang. "Wah, kue kesukaan aku. Tahu aja kamu, terima kasih."
Mendengar kata 'terima kasih' yang Dini ucapkan, diam-diam Silvi meringis sambil menatap rumah di sebelah. Ia merotasikan mata saat pandangannya bertemu dengan sang abang yang kini tengah nyengir ke arahnya, lalu buru-buru kembali menatap ke depan sebelum Dini sempat menyadari kalau ada Satria yang sekarang tengah mengintip memprihatinkan.
"Sama-sama, kapan-kapan Kak Dini main ke rumah." Silvi mengingatkan, ia baru pergi begitu mendapat anggukan dari Dini.
Hubungan Dini dan Silvi memang tidak sekacau hubungannya dengan Satria, bisa dibilang Dini lumayan akrab dengan Silvi mungkin karena sama-sama perempuan jadi bisa saling memahami satu sama lain.
ting
Baru saja Dini mendudukkan diri ke atas sofa, ponselnya berbunyi menandakan ada notifikasi dari chat masuk. Ia menyimpan makaroni ke atas meja, lalu mengambil ponsel dan membukanya.
Mas Naren
'Sayang, bagaimana paketnya--,'
Pesan telah dihapus
"Loh, pesannya baru saja masuk, bahkan aku belum membaca semuanya, tapi mas Naren malah sudah menghapusnya lagi." gumam Dini sambil menatap ponsel di tangannya dengan pandangan bingung, tapi satu yang tadi Dini tangkap dari pesan Naren adalah kata 'paket'.
"Paket?" Dini memiringkan sedikit kepalanya, mengulang kata 'paket' dengan pemikiran curiga. "Apa baru saja mas Naren salah kirim pesan yang seharusnya bukan untukku? Lalu paket itu, jangan-jangan paket yang Mila terima?"
Dengan cepat mengetikkan sesuatu, Dini mengirim pesan pada sahabatnya. Dengan keadaan tubuhnya yang masih lemah, jelas Dini tak akan bisa menjalankan rencananya seorang diri. Jadi meminta bantuan sahabatnya adalah jalan paling mudah.
Lihat saja, akan Dini jebak suami dan pembantu barunya itu. Bila keduanya tak memiliki hubungan seperti apa yang ia pikirkan, maka tak akan ada apapun. Namun, bila pemikirannya benar, jelas Dini tak akan tinggal diam dan pastinya akan membalas pengkhianatan keduanya.
"Aku masih berharap kamu tidak mengkhinatiku, Mas." guman Dini sambil menyenderkan belakang kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata mencoba membuat dirinya tenang.
ting
Dini membuka mata saat ada notifikasi masuk, begitu melihat ternyata itu adalah dari sahabatnya.
'untuk apa CCTV?'
***