06. Masa Lalu Dino

1338 Kata
Satu hal yang juga aku ingat darinya adalah ekspresinya. Pipi chubby gadis kecil itu akan bersemu merah setiap kali menatapku. Aku tak tahu mengapa dia terlihat seperti orang yang sedang demam. Mungkin karena anak itu terlalu aneh dan aku anti terhadap orang aneh. Kepindahan keluarganya ke seberang rumahku tak pernah kusangka awalnya. Namun seperti kebanyakan anak seusiaku yang lain, aku tak peduli dengan gadis kecil berambut cokelat itu. Tak kusangka dia memiliki wajah yang cukup manis, tapi aku tidak pernah mau mengajaknya berbicara. Tidak sampai dia berhenti bersikap aneh di depanku. Semenjak itulah hari-hariku mulai terganggu dikarenakan kehadirannya. Pertemuan pertama kami adalah siang hari di Minggu pertengahan bulan Juni yang pada waktu itu banyak orang lebih memilih berada di dalam rumah daripada harus 'membakar diri' di luar. Musim panas tahun itu terasa begitu panas, dan begitu menyengat. Melebihi musim panas yang sudah pernah kulewati di tahun-tahun sebelumnya. Panas sekali, sehingga ada banyak orang yang tidak sanggup berdiri lama-lama di luar rumah lebih dari sepuluh sampai lima belas menit. Apalagi jika orang itu tak merasa kehausan sama sekali. Waktu itu, aku dan kakak laki-lakiku, Rei sedang asyik memakan buah semangka dengan kipas angin yang bertiup tepat di depan wajah kami. Kegiatan yang mengharuskan kami melahap dua potong semangka dalam satu menit itu harus terganggu saat terdengar suara ketukan dari pintu depan. Awalnya samar-samar dan tak kupedulikan, namun ketukan itu semakin bertambah cepat di tiap detiknya. Ada seseorang yang membutuhkan bantuan, pikirku saat itu. Aku melirik Kak Rei, dia tetap tenang dan sepertinya tak mau beranjak sedikit pun dari tempatnya. Mungkin karena aku yang paling muda dan sebagai bentuk sopan santun terhadap orang yang bertamu saat itu, maka akulah yang disuruh oleh Rei-aniki* untuk membukakan pintu depan. Ayah dan ibuku sedang berada di samping rumah, sehingga mereka berdua tak ada di rumah utama. Di sini, hanya ada aku dan kakakku yang pemalas itu. Ayahku adalah seorang dokter yang membuka klinik kecil di sebelah rumah, dan ibuku adalah seorang perawat yang ikut membantu di klinik kami yang sederhana itu. Klinik itu tak terlalu besar, tapi ayah sangat menyayangi tempat itu. Orang tuaku tak selalu berada di rumah, walau klinik dan rumahku itu hanya bersebelahan dinding saja. Aku pun mengalah. Jadi, dengan langkah kaki kecil yang asal-asalan dan cenderung malas, aku terpaksa berjalan menuju pintu, sebab Rei-aniki* jelas tak mau menjeda waktu bersantainya demi membuka pintu untuk seseorang yang masih berdiri di luar sana. Aku sebagai adik yang sayang padanya pun menerima permintaan tak langsungnya itu dengan baik. "Ha, anak baik, Dino-chan," ejek kakakku sambil mengerling jail. Aku merengut sebal. "Akan kuadukan pada Otou-san," kataku sambil mengentakkan kaki di lantai. Rei tertawa keras dan membuat gestur dengan tangannya, menyuruhku bergegas membuka pintu. Kemudian dia berkata, bahwa aku tidak boleh mengganggu waktu bersantainya. Juga, karena aku adalah adiknya, maka aku harus mau dimintai tolong. Tidak adil. Padahal dia punya dua kaki yang panjang. Menurutku, apa yang dia lakukan ini terlihat seperti pemaksaan daripada sebuah permintaan tolong. Yang kulihat pertama kali ketika membuka pintu adalah seorang gadis kecil seusia denganku, tengah berdiri dengan keadaan yang bisa dibilang sedikit 'kacau', oh maaf, aku keliru. Dia sangat, sangatlah kacau, dengan air mata yang terlihat masih menganak di kedua kelopak mata berwarna cokelatnya. Gadis itu sedang berdiri tepat di depan pintu rumahku. Dan akhirnya setelah cukup lama terdiam, aku baru menyadari kalau gadis yang kutemui ini adalah tetangga baru seberang rumah yang bernama Lisa Hogward. Gadis yang seringkali mengikutiku ke sekolah. Ini pertama kalinya aku dan Lisa bertatapan mata secara langsung, berhadap-hadapan. Lisa menatapku hampa dengan wajah yang basah karena air mata. Hidungnya memerah, tubuhnya bergetar pelan dan lutut serta telapak kakinya berlumuran darah. Aku mengernyitkan wajah saat melihat penampilannya. Aku tak bisa melupakan ekspresi putus asanya saat ia berkata lirih kepadaku. "Apa Mogi-ji-san*nya ada di rumah, Dino-kun?" Entah apa yang terjadi dengan pendek itu, seingatku aku hanya mengangguk pelan dan segera berbalik menuju pintu yang berhubungan langsung dengan klinik samping rumah, meminta ayah yang untungnya sedang tidak ada pasien itu untuk segera menemui si pemilik bola mata kecokelatan. Aku lalu berjalan kembali menemui Lisa tepat di belakang ayah, mengekor di belakangnya. Seolah menemukan malaikat penyelamatnya, wajah Lisa langsung berubah berseri-seri, aku bahkan tak pernah sekalipun melihat ekspresinya yang seperti itu. Sebab aku selalu berpikiran jika Lisa itu pendiam yang aneh. Lisa yang aku tahu sangat pemalu itu tiba-tiba saja menarik jas kerja ayahku, bahkan di mataku dia terlihat memeluk ayah dengan tangan bergetar. Dengan susah payah, ia seret kembali telapak kakinya yang terluka dan mengeluarkan darah. Lisa mengajak ayah agar mengikutinya menuju rumahnya yang berada tepat di seberang rumah kami. Aku tak tertarik dan tak berniat mengikuti mereka berdua. Jadi, aku hanya terdiam sambil memandang ayah serta Lisa yang menghilang di balik pagar rumah. Kemudian aku menutup pintu, semangka manis dengan embusan sejuk dari kipas angin, bagiku lebih menggoda daripada membuntuti ayah ke rumah gadis aneh yang selalu menatapku penuh minat. Dan, aku bahkan tak pernah berkenalan secara resmi dengannya, tapi dia sudah mengetahui namaku. Yah, untuk jaga-jaga aku pun tahu dengan namanya. Lisa Hogward, gadis yang selalu mengikutiku. *** Pada pembicaraan ibu dan Eiko-baa-san* yang kadang terdengar olehku (bukan berarti aku ada maksud menguping pembicaraan mereka), aku jadi tahu jika Lisa itu hanya tinggal dengan seorang ayah dan Imouto-nya* tanpa adanya seorang ibu yang merawat tumbuh kembang mereka. Pada pembicaraan itu juga aku tahu bahwa ibu Lisa meninggalkan keluarga kecilnya itu demi seorang pria dari masa lalunya. Wanita itu memilih mencampakkan pria yang dijodohkan dengannya, meski si pria—yaitu ayahnya Lisa—sangat mencintai wanita itu. Dia malah menelantarkan dua kecil yang masing-masing masih berumur delapan dan empat tahun kala itu. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Lisa dan adik perempuannya sendiri, Mira. Kadang ibu menceritakan anak bersurai pendek kecokelatan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Betapa tersentuhnya hati seorang wanita ketika melihat kemalangan yang menimpa seorang anak. Ibu sering mengutuk wanita yang telah meninggalkan dua orang anak perempuan semanis Lisa dan adiknya. Padahal ibu sedari dulu sangat mendambakan kelahiran seorang putri di tengah keluarga kami, tapi ibu Lisa justru menyia-nyiakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Indah itu. Puncaknya, ibu menangis sesenggukan ketika pada malamnya ayah menceritakan apa yang terjadi pada keluarga Lisa siang tadi, saat kesedihan menderanya. Melalui cerita ayah yang kudengar, aku tak bisa membayangkan betapa paniknya seorang anak berumur delapan tahun, seperti halnya Lisa saat mendapati ayahnya sedang meregang nyawa dengan tangan yang berlumuran darah. Lisa hanya bertiga saja dengan ayah dan adik perempuannya yang kala itu sedang menangis sesenggukan. Sama sekali tak ada seorang pun yang akan membantunya pada kejadian yang tak terduga seperti itu. Jadi, entah bagaimana, Lisa berinisiatif berlari ke rumahku, untuk meminta pertolongan. Meski hati si sulung Hogward itu tengah dilanda rasa ketakutan yang luar biasa, karena memikirkan jiwa ayahnya yang mungkin bisa saja melayang karena terlambatnya pertolongan pertama. Jadi saat itu, ia pun terpontang-panting mencari bantuan. Berharap seseorang bisa menyelamatkan nyawa ayahnya yang tak berdaya karena cinta telah menghancurkan segala harapannya. Membuat hidup tak lagi bermakna untuknya. Lisa dan adiknya tentu tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, sudah cukup ibunya memilih pergi dengan pria lain, mereka tak ingin ayah mereka juga pergi dari sisi keduanya. Lisa dan adiknya masih bisa hidup bahagia bersama ayah mereka, tanpa kasih sayang seorang ibu yang berani menelantarkan mereka. Untuk itu, dia akan berdoa lebih banyak lagi kali ini, agar ayahnya bisa diselamatkan. Agar dia mendapat kebahagiaan yang tidak disangka-sangka. Dia hanya ingin hidup bersama orang yang disayangi, kehidupan yang damai dan tak ada seorang pun yang berani mengusik. *** Pojok kata yang akan ditemui. Tou-san* = Ucapan untuk menyebut atau memanggil ayah dalam bahasa Jepang. Sebutan lainnya dalam formal yaitu Chichi-ue. Kaa-san* = Ucapan untuk menyebut atau memanggil ibu dalam bahasa Jepang. Sebutannya dalam formal yaitu Haha-ue. Kami-sama* = Ucapan untuk menyebut Tuhan atau dewa dalam bahasa Jepang. Aniki* = Abang, tapi dalam bahasa Jepang. Nani o kangaeteruno*?: "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kalimat dalam bahasa Jepang. Ck. Ima wa nani mo hanashi o shitaikunai. Mou unzari*: "Ck. Aku sedang tak ingin bicara sekarang. Aku lelah." Kalimat dalam bahasa Jepang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN