Janji itu harus ditepati, tapi bagaimana jika keadaan tidak memungkinkan kita untuk menepatinya?
***
Rupanya, Doran Hogward, ayahnya Lisa sedang berusaha menghabisi dirinya sendiri karena tak bisa mengenyahkan bayangan wanita yang telah berkhianat dari dalam hidupnya. Pria itu berpikir pendek, tak peduli pada trauma yang mungkin saja akan dialami kelak oleh kedua putri kecilnya.
Masih menurut cerita ayah, Lisa menangis histeris sambil berulangkali mengucapkan terima kasih saat ayahnya telah berhasil menyelamatkan nyawa Doran yang malang itu.
Anak kecil itu memeluk pinggang Mogi karena memang tingginya hanya sampai di situ—tetap dengan air mata haru. Lisa sangat bersyukur, karena itu jelas tidak bisa membayangkan hidupnya dan adik perempuannya nanti, jika sang ayah juga pergi meninggalkannya.
Dan sesaat sesudah cerita ayah selesai, ibu lantas menatap serius ke arahku, tatapan yang tak pernah ditunjukkan oleh ibuku sebelumnya. "Kau harus jadi teman baik untuk Lisa-chan, Dino-kun." Ibu berkata dengan suara pelan.
Aku diam, tak mencoba untuk membantah maupun memotong sedikit pun perkataannya. "Dan baik-baiklah selalu pada itu."
Aku mengangguk patuh, padahal aku sama sekali tak mengerti kenapa harus aku yang diberi 'amanat' oleh ibu? Kenapa tidak Rei-niisan saja yang disuruh untuk menjaga anak itu?
Daripada mengelak dan justru dimarahi ibu, meski sejujurnya aku tak paham apa maksudnya, tapi aku tetap setuju-setuju saja dengan usulan ibu.
Toh, cuma jadi temannya saja, kan? Aku cuma jadi temannya Lisa. Jadi pasti tidak apa-apa.
***
Langkah kaki kecil milik Lisa membawanya menuju ke suatu tempat. Tempat yang terkadang akan ia datangi ketika gelisah sedang melandanya. Gadis itu menelusuri jalan setapak dengan pusara yang berderet di sisi kiri dan kanannya dalam keheningan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Suasana di sekitarnya begitu hening dan terasa damai, seperti itulah area pemakaman. Khas dengan keheningan yang menenangkan. Di tempat itu, tak terdengar bunyi lain seperti deru kendaraan bermotor ataupun mobil. Di sana hanya terdengar suara derap langkah kaki seorang gadis bermarga Hogward dan gemeresak daun di pepohonan yang diterpa angin sehingga tertangkap oleh indra pendengaran. Seolah semua itu hanyalah sapaan kehidupan pada mereka yang telah ditelan oleh keabadian.
Lisa berjalan pelan, menuju ke sebuah makam di ujung paling kanan barisan ketiga dari gerbang masuk, dan setelah sampai di depan sebuah pusara berwarna putih dengan beberapa ikat bunga lily di atasnya, ia pun berjongkok. Lalu memperhatikan makam itu dengan saksama.
Tak menghiraukan rok seragamnya yang menyapu tanah berdebu, dan lututnya yang menekan batu di bawah kakinya, pemilik mata kecokelatan yang senada dengan warna rambutnya itu pun tampak merogoh tas jinjing yang ia bawa. Kemudian mengeluarkan sebatang bunga lily putih untuk diletakkan di atas pusara Mogi Leckner, ayahnya Dino.
Lisa mulai menangkupkan kedua tangannya, berdoa sejenak untuk orang yang paling berjasa dalam hidupnya, mengharapkan pria itu mendapatkan tempat terbaik di alam sana.
Sudah lewat beberapa tahun sejak kematian sang kepala keluarga Leckner. Namun, ingatan tentang orang itu masih membekas dalam ingatan setiap orang. Termasuk bagi Lisa dan keluarga kecilnya. Bagi mereka, jasa-jasa Mogi begitu besar dalam hidup mereka yang sempat berada di ujung tanduk.
Dan jujur, semua orang begitu merindukan sosok dokter yang baik hati itu. Kebaikannya telah membekas dan tertanam dengan baik di dalam benak setiap orang yang pernah ditolong olehnya. Seseorang bijak pernah berkata kepada Lisa, "Jika tak ada rindu, maka tidak akan ada kenangan."
Namun, semakin besar kenangan, maka yang ada hanyalah rasa rindu yang tak tertahankan. Lisa telah menganggap Mogi seperti ayahnya sendiri. Baginya, Mogi adalah penyelamat sekaligus malaikat penolong.
Jika orang berkata jika tak ada rindu, maka tidak akan ada kenangan. Justru Lisa berkata sebaliknya. Tetaplah merindu dalam diam, sebab kadang itulah yang terbaik untuk semuanya.
Untuk mereka yang ditinggalkan.
Untuk mereka yang meninggalkan.
"Ji-san? Aku kembali lagi." Monolog dalam kesunyian makam pun mulai terbentuk. Lisa tersenyum tipis sembari membersihkan makam Mogi dengan tangan kecilnya. Ketika tempat peristirahatan terakhir itu telah bersih, ia pun menaruh bunga lily putih segar yang ia bawa dari rumah. Menempatkannya di tengah-tengah malam.
"Ini yang ketiga kalinya dalam minggu ini aku mengunjungi Ji-san. Tolong jangan bosan dengan kunjunganku, ya." Lisa terkekeh geli. Ia tahu jika ia mungkin terlihat konyol sekarang, karena sudah berbicara dengan makam. Secara, makam itu adalah benda mati yang tak bisa bergerak, tapi ia terlihat tak peduli sama sekali. Toh, takkan ada yang melihatnya di pemakaman yang sepi itu.
"Em, Ji-san. Hari ini aku senang sekali, sepertinya tou-san* sudah mempunyai wanita pengganti kaa-san*. Semoga saja, dia adalah wanita yang tepat, wanita pilihan yang Kami-sama* turunkan untuk tou-san. Jadi, tou-san tidak akan kesepian lagi seperti dulu."
Lisa tersenyum tulus mengingat ayahnya yang sekarang. Betapa bahagianya dia dan Mira, ketika melihat ayahnya tersenyum cerah di setiap pagi. Ayahnya memancarkan rona kebahagiaan yang sebelumnya pernah hilang di wajahnya.
"Ah, ya! Di sekolah, lagi-lagi Dino-kun berhasil meraih peringkat pertama seangkatan kami, loh, Ji-san," cerita Lisa sembari menatap langit biru berawan di atas sana.
Angin melambaikan beberapa helai rambut indah miliknya, membuat pandangan Lisa seketika tertutup oleh anak-anak rambutnya yang panjang.
Senyum manis terukir di wajah cantiknya. Lisa lalu menyisipkan helaian rambutnya yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga, ia pun kembali berkata, "Dia memang pintar dari dulu, dan Ji-san tahu hal itu."
Lisa memasang wajah sendu, mengingat-ingat kenangan yang selama beberapa waktu terakhir terjadi dalam hidupnya.
Dialah saksi yang melihat sendiri perkembangan Dino, dan dia pulalah yang melaporkan setiap perkembangan laki-laki itu kepada Mogi.
"Aku yang sudah belajar mati-matian saja, hanya bisa menempati posisi delapan di kelas. Huh, aku rasa, aku harus belajar lebih giat lagi. Juga harus lebih bersungguh-sungguh seperti Dino-kun. Aku benarkan, Ji-san?"
Lisa tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja, air mata menyela di antara kata yang selanjutnya diucapkan olehnya. "Dan lagi, Dino-kun ... masih menyukai Rosa-chan. Dia masih menyukai sahabat baikku, Ji-san."
Lalu isakan kecil menyusul kemudian dengan pelan. Meski ia sudah sangat mencoba untuk menahan air matanya agar tidak tumpah dan membuatnya terlihat menyedihkan, tetapi tetap saja air matanya tak berhenti mengalir.
"Apa aku boleh seperti ini, Ji-san? Aku tak bisa membuat Dino-kun bahagia seperti yang Ji-san inginkan. Aku malah mengekangnya dengan hubungan yang sama sekali tak dia inginkan, tapi ... aku juga tak bisa begitu saja melepaskan Dino-kun."
"Dia ... begitu berarti bagiku," bisik Lisa lirih, dan akhirnya pertahanannya runtuh dan berubah menjadi tangisan seperti biasa. Seperti yang sudah terlalu sering ia lakukan selama ini. Menangis tersedu-sedu dengan kepala yang ia tundukkan dalam-dalam.
Lisa menangis, di depan pusara Mogi Leckner. "Karena aku mencintainya, Ji-san. Aku sangat mencintai Dino-kun, dan karena itulah ... pasti aku akan menjadi sangat egois," ucapnya lirih, mengakhiri curahan hatinya di depan makam itu.
***
Mencintai seseorang itu sulit, apalagi jika orang yang kita cintai tak mempunyai perasaan yang sama seperti kita. Jadi, jika boleh ... apa aku bisa memilih untuk tidak mencintaimu saja? Ini terlalu menyakitkan.
***
Rasanya sudah hampir satu jam Lisa berdiri menunggu di depan gerbang sekolahnya, bahkan lingkungan sekolah saja sudah sepi dari siswa-siswi yang menunggu jemputan orang tua mereka di sana, tapi kenapa orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi tak muncul juga?
Lapangan parkir sepeda pun sudah terlihat sepi, hanya menyisakan beberapa buah sepeda saja. Mungkin sepeda-sepeda itu milik mereka yang mengikuti kegiatan organisasi. Kebetulan, kegiatan organisasi biasanya memang dilaksanakan setiap sore, setelah pulang sekolah. Jadi, tak heran jika masih ada yang belum pulang ke rumah.
Kaki jenjang milik Lisa sudah terasa pegal karena harus berdiri terus sedari tadi. Apa sebaiknya, dia menyusul ke kelas Dino saja?
Mungkin bukan ide yang buruk, pikir Lisa. Maka dengan langkah kaki yang pendek, Lisa berjalan masuk kembali ke gedung sekolah, melewati tangga lantai satu dan dua demi menuju kelas 3-1 yang terletak di lantai tiga.
la sedikit berlari-lari kecil agar segera sampai di kelasnya Dino. Begitu sampai di depan kelas 3-1, gadis itu lalu membuka pintu itu sedikit dan melongokkan kepalanya ke dalam. Memeriksa keberadaan kekasihnya.
Sunyi dan sepi, tak ada seorang pun di kelas itu.
Dino tidak ada. Di kelasnya Dino tidak ada sama sekali. Ke mana dia? Lisa mengigit bibir bawahnya sedikit. Apa mungkin dirinya kembali ditinggal seperti kemarin lusa Dino lakukan terhadapnya? Bukankah Lisa tidak terlambat kali ini? Apa Dino memang sengaja meninggalkannya? Dan berbagai pertanyaan dengan jumlah yang banyak, mulai mendesak pikirannya sampai membuat dadanya sesak.
"Pulang saja, Dino-kun. Aku tidak apa-apa ditinggal sendirian di sini kok."
Samar-samar Lisa seperti mendengar suara Rosa yang merupakan teman baiknya dari kelas sebelah, yang itu berarti kelasnya Lisa, yaitu di kelas 3-2.
Dengan berjalan sepelan mungkin, gadis bersurai cokelat panjang yang kadang rambutnya dikepang itu mengintip sedikit melalui kaca jendela kelasnya yang cukup transparan. Kemudian didapatinya orang yang sedari tadi ia tunggu sedang duduk di salah satu meja dekat jendela, seraya memperhatikan Rosa yang ternyata mendapat tugas piket hari ini.
Lisa lupa, jika hari itu Rosa memang piket membersihkan kelas. Sendirian.
"Lisa-chan pasti menunggumu, Dino-kun, aku sungguh tidak apa ditinggalkan sendirian," ucap gadis Manoban itu lagi sembari menyapu lantai kelas. Gadis yang sangat menyukai warna merah muda itu jelas merasa tidak enak berduaan saja di satu ruangan yang sama. Terlebih lagi dengan pria yang faktanya adalah kekasih sahabatnya sendiri.
"Lisa bisa menunggu," elak Dino dengan cepat. Pemuda dari keluarga Leckner itu lalu memutar bola matanya, bosan. Ia kemudian melirik sekilas pada papan tulis kelas 3-2 yang masih belum dibersihkan.
Rosa memandang ragu pada Dino. "Tapi, Dino-kun—"
"Berhenti membicarakannya di depanku, Rosa. Aku bosan ketika kau sudah mulai menyebutkan namanya di depanku," ucap Dino seraya mendesis tajam.
Mata jelaganya lalu menatap langit sore dari jendela kelas, lalu kemudian ia mendengkus kecil. Jujur, ia hanya ingin menemani gadis Manoban saja hari ini, tak perlu diingatkan lagi dengan Lisa Hogward, membuat moodnya langsung tak enak saja.
Lagipula, kenapa dia harus peduli dengan gadis itu?
Mendengar semuanya, Lisa yang bersembunyi hanya bisa tersenyum pahit. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia berbalik pergi, mencoba menunggu kembali di gerbang sekolah sama seperti sebelumnya.
Ia akan bersikap seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Bersikap seolah tak pernah mendengar ucapan Dino yang tadi ia dengar, dia akan bersikap seakan ia baik-baik saja. Toh, sudah terlalu biasa pemuda itu melakukan hal ini padanya.
Juga Lisa, akan mengikuti setiap alur yang ada.