08. Lagi-lagi Terbiasa

1151 Kata
Dino memandang malas pada sosok di depannya, pada seorang gadis yang sedang berdiri diam di depan gerbang sekolah, menunggu pemuda dengan mata sekelam malam itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Lisa. "Kau mau minum? Hari ini panas sekali, bukan?" tawar Lisa sambil menyodorkan sebotol air minum kemasan kepada Dino yang berjalan mendekatinya. Gadis itu tersenyum tipis saat menatap dalam mata Dino. Pemuda itu menatapnya sekilas lalu menggeleng malas. "Tidak usah. Ayo pulang." Lisa kembali tersenyum hampa, perlahan ia tarik lagi tangannya yang terulur, kemudian mendekap botol minum itu ke pelukannya. Menatap ekspresi cemberut Dino yang terlihat jelas sekali bahwa pemuda Leckner itu sedang kesal, dan hal itu berhasil membuat Lisa bertanya-tanya. Bukankah Dino dan Rosa tadi bersama? Pasti keduanya senang sekali. Sesaat sebelum Lisa melangkah ke arah Dino yang membawa sepeda hitam miliknya, Lisa memberanikan dirinya untuk bertanya. "Nani o ... kangaeteruno*?" tanyanya dalam bahasa Jepang. Gadis Hogward itu menunduk dalam, enggan menatap wajah Dino. Dadanya terasa sesak, dipenuhi berbagai hal yang sulit ia jelaskan. Dino hanya mendengkus kesal saat mendengar pertanyaan dari sang gadis Hogward. Ia pun memutar matanya dengan cepat. Kenapa harus memakai bahasa Jepang saat berbicara dengannya? "Hng, ima wa nani mo hanashi o shitaikunai. Mou unzari*," jawab Dino dengan datar. Mata hitamnya kemudian menatap lurus ke depan selama beberapa saat. Lalu memberikan gestur 'cepat naik' pada Lisa dengan kepalanya. Tanpa ekspresi. Hanya tampang datar khas pemuda Leckner. Lagi, Lisa hanya bisa tersenyum hampa sembari menelan pil kekecewaan yang kembali menyesakkan d**a. Yang dilakukannya kemudian hanyalah menaiki boncengan sepeda Dino, walau hatinya tetap merasa kecewa dengan sikap si bungsu Leckner yang tak pernah bisa berubah lebih baik kepadanya. Kita bersama, tapi tak pernah benar-benar bersama. Benar begitu kan, Dino-kun? Batin Lisa pilu. *** Cinta? Sebenarnya apa itu cinta? Apa semua cinta yang ada di dunia akan berakhir bahagia? Jika bisa memilih, tentu aku ingin hidup penuh cinta dan bahagia. *** Dulu, dulu sekali. Lisa pernah mendambakan kisah cinta yang manis dan bahagia. Kisah cinta yang saling berbalas, saling membutuhkan dan saling menyayangi satu sama lainnya dengan perasaan yang tulus. Ia yang pada waktu itu berumur lima tahun, sering bertanya-tanya kepada apa pun yang bisa ia temui. Baik kepada bunga-bunga, ataupun kepada angkasa biru yang membentang luas di langit. Apa itu kasih sayang dan apa itu cinta? Lisa jelas tak tahu arti dari kedua hal itu. Dia masih anak-anak yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia sering mendengar kosa kata itu dari orang-orang di lingkungannya berada. Namun, tak pernah ada seorang pun yang mau menjelaskan kepada anak perempuan berusia lima tahun sepertinya. Membuat Lisa berusaha mencari tahu makna cinta dan kasih sayang yang sebenarnya dari sebuah buku yang tak sengaja ia temukan di perpustakaan sekolah. Cukup mengherankan, buku seperti itu tiba-tiba ada di sebuah sekolah dasar. Namun, Lisa tak mempertanyakan hal itu, karena dia memang ingin tahu makna sebenarnya dari cinta ataupun kasih sayang. Kemudian, ia pun menjadi tahu jika cinta itu merupakan perasaan indah yang dirasakan oleh setiap makhluk Tuhan di dalam hatinya. Cinta adalah perasaan hakiki yang suci dan murni. Perasaan mutlak yang juga dilandasi oleh kasih sayang satu sama lainnya. Lisa pernah tak sengaja mendengar dari pembicaraan orang lain, dan mereka saat itu mengatakan bahwa cinta itu juga berarti memberi dan menerima dengan seikhlas hati. Seperti yang sering Lisa saksikan dalam sebuah drama percintaan, cinta itu adalah ketika menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai. Suatu momentum yang dipenuhi dengan kebahagiaan yang mewarnai setiap detiknya. Lantas, mengapa ayah dan ibunya tak terlihat seperti itu? Tak ada raut wajah kebahagiaan yang terlihat di antara mereka saat menghabiskan waktu bersama. Tak ada waktu untuk berjalan keluar rumah berdua. Walau sekadar bersantai bersama keluarga. Tak ada kalimat pujian yang terlontar kepada satu sama lainnya. Tak ada kalimat penuh cinta di antara keduanya. Tak ada, sama sekali tak terlihat ada di antara ayah dan ibunya. Yang hanya terlihat di setiap harinya hanyalah pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran saja di antara keduanya. Tak ada juga sebutan keluarga harmonis yang juga sangat didambakan oleh Lisa, sang gadis kecil yang kala itu berumur 6 tahun. Bahkan ketika kehadiran seorang malaikat kecil yang telah Tuhan titipkan ke tengah-tengah keluarga mereka—yaitu Mira—saja tak mampu menyatukan dua hati yang ternyata saling membenci ini. Ya, alasan apa lagi yang membuat mereka bertengkar jika bukan karena kebencian kepada satu sama lainnya? Bukankah mereka menikah karena sebuah perjodohan yang tak diinginkan? Dan tentu saja, perjodohan dengan orang asing yang sama sekali tak dicintai oleh keduanya. Lisa tak habis pikir, setahun setelahnya, di umurnya yang beranjak memasuki angka tujuh di tahun ini, ia sama sekali tak melihat adanya perkembangan perasaan dari kedua orang tuanya. Tak ada tanda-tanda mereka akan berbaikan dan menyimpan asa seperti pasangan suami istri lainnya. Tidak ada. Dan yang terlintas dalam pikiran Lisa kala itu hanya satu, yaitu perasaan tidak suka. Bagaimana tidak? Di catatan harian yang ditulis oleh ibunya dulu—yang sering Lisa baca secara diam-diam, tanpa sepengetahuan sang ibu—tertulis di sana bahwa ibunya tak mempunyai perasaan apa-apa kepada pria yang kini menjadi suaminya. Tulisan itu ditulis menggunakan tinta merah, seakan sebuah kutukan. Ibunya bahkan cenderung membenci Doran, ayahnya Lisa. Dan ayahnya juga terlihat seperti itu, walau ia tidak pernah mencurahkan isi hatinya ke dalam tulisan seperti halnya yang Meiko lakukan. Akan tetapi, tetap saja, sorot mata sang ayah hanya menunjukkan rasa tidak suka dan amarah bahkan setelah tujuh tahun berlalu di dalam keluarga mereka. Lalu, keluarga Hogward pun pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Dan ternyata, jarak rumah itu tak terlalu jauh dari rumah lama mereka. Mungkin hanya berbeda komplek saja. Lisa, gadis kecil itu hanya membantu sebisanya saat kedua orang tuanya memindahkan barang ke rumah baru mereka. Sambil sesekali ia menjaga adiknya yang masih berumur 3 tahun. Di saat ia tengah menjaga adiknya itulah, Lisa melihat laki-laki itu. Melihat yang akan selalu dikenangnya kelak dengan sepenuh hati. Tatapan mata keduanya pun bertemu. Lisa langsung tersenyum hangat sebagai sapaan yang ia tujukan kepada sang tetangga, tetapi dengan mata berwarna hitam itu hanya menatapnya dengan dingin dan dengan raut wajah kurang ramah. Lisa tersipu malu, menganggap ekspresi itu sebagai bentuk apaan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lisa merasa sangat senang saat bertemu dengan orang baru. Apalagi, orang baru itu merupakan seorang anak laki-laki yang berwajah cukup tampan. Dan Lisa pun, bermimpi dapat berteman baik dengan itu. Ya, dia ingin sekali berteman baik dengan laki-laki itu. Karena dia tahu, tak akan mudah jika tak mempunyai seorang teman pun di dunia ini. Lagipula, sepertinya anak itu cukup baik walau penyambutannya kurang ramah terhadap Lisa. Gadis kecil itu akan berusaha sebaik mungkin agar keberadaannya bisa diterima oleh anak laki-laki bernama Dino itu. Ya, harus, sebab dia ingin memiliki seorang teman pertama yang bisa diajak bicara apa saja, lalu yang ia pilih sebagai temannya adalah anak laki-laki yang tinggal di seberang rumahnya. Anak itu adalah Dino Leckner, kekasih masa depannya yang sama sekali tidak pernah menyukainya sebagai seorang perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN