Melupakan itu mudah, yang sulit itu membiasakan diri dengan hal yang berbeda. Mengubah sandaran kemudian beradaptasi untuk menemukan zona nyaman. Berjuang memang tidak pernah semudah yang direncanakan.
***
Perjalanan dilanjutkan dengan berdoa ke kuil, seperti yang selalu Lisa lakukan, dia akan memasukan beberapa koin, menepuk tangannya tiga kali dan mulai berdoa secara khidmat. Banyak keinginan yang ia panjatkan pada tuhan, karena dia ingin semuanya berjalan baik-baik saja.
Jika tak sesuai dengan keinginannya, setidaknya Lisa tahu, kalau yang ia panjatkan itu tepat di sisi Tuhan. Lisa masih terdiam cukup lama, meski doa yang ia tujukan pada Kami-sama telah selesai hampir lima belas menit yang lalu. Kemudian dia pun menyingkir ke pohon besar dekat kuil yang menawarkan kesegaran di bawah terik matahari yang bisa membakar siapa saja dan duduk bersandar pada batangnya.
Si pemilik lensa mata cokelat itu merogoh ponsel merah di saku rok seragamnya, melihat sebentar pada wallpaper ponsel yang menampilkan sesosok wajah dari seorang pemuda yang sedang membaca buku dengan raut wajah serius. Saat itu, dia mengambil foto ini secara diam-diam di perpustakaan.
"Aku sangat menyukaimu, Dino-kun," ucap sang gadis sambil menahan napas. Kesadarannya mulai melayang jauh, gadis itu terbaring sendirian di bawah pohon dekat kuil karena kelelahan. "Aku sangat ... menyukaimu."
***
"Apa tak apa-apa jika aku pulang bersama denganmu, Dino-kun? Bagaimana dengan Lisa?"
Si gadis bersurai hitam memandang ragu pada pemuda yang ada di depannya, pada pemuda yang tengah menunggunya dengan sepeda yang berada di samping ia berdiri.
"Kau selalu memikirkan dia," geram Dino tak suka. Ia berdecak lidah beberapa kali dengan ekspresi kesal. "Memangnya aku perlu izin dia dulu untuk membawamu pulang?"
"T-tapi, aku rasa ini terlalu ...." Rosa berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "salah."
Tatapan gadis itu menatap lurus ke langit sore yang hampir menggelap karena menjelang malam. Pulang dengan kekasih orang lain tanpa sepengetahuannya adalah tindakan dosa, dan Rosa sedang melakukan dosa.
"Toh, Lisa sendiri sudah tahu, 'kan? Berhenti memikirkan dia saat sedang bersamaku," jelas Dino pada akhirnya. Pemuda itu mendapati keraguan di wajah Rosa, ia pun memutar matanya bosan. Entah sudah berapa kali ia merasa kesal dengan pertanyaan itu.
Rosa masih menunjukkan keraguannya melalui tatapan mata yang ia arahkan kepada Dino. Jelas dia tak bisa menampik perasaan bahagianya saat ini, sebab bisa pulang berduaan dengan pemuda yang dicintainya, tapi seperti yang sempat ia katakan tadi, ini terlalu salah.
Bukanlah suatu kebenaran jika pulang bersama dengan kekasih sahabatmu. Kekasihnya yang sangat kau cintai, kekasihnya yang juga sangat mencintaimu.
Tapi, apa yang salah dengan ini? Mereka sama-sama mencintai.
Rosa tertunduk sebentar, menggumamkan permintaan maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam untuk Lisa dan berharap tak akan ada keraguan lagi setelah ini. "Untuk kali ini saja, Lisa-chan. Maafkan aku yang telah meminjam Dino-kun walau hanya sebentar," bisiknya bagai melafalkan mantra.
Sesaat kemudian, Rosa mengangguk mantap, ia lalu mendudukkan dirinya pada boncengan sepeda Dino, mengalungkan lengan mungilnya ke pinggang pemuda Leckner itu, dan kali ini tak terlihat adanya penolakan. Tak ada tepisan untuk menjauh.
Ah, berbeda jauh dengan keadaan yang didapat oleh gadis yang menjadi kekasih resmi pemuda itu.
***
Lisa menggerakkan kelopak matanya, tubuhnya pegal semua, tak nyaman tidur dengan posisi duduk bersandar pada sebuah pohon seperti ini, lehernya menjadi kaku. Ditambah lagi, ada semut merah yang menggigit tengkuk belakangnya. Akan menjadi pelajaran bagi Lisa ke depannya, bahwa tidak baik tidur bersandar di sebuah pohon. Karena tidur di bawah pohon dalam kehidupan nyata tidak seperti di anime.
Tepat ketika gadis pemalu itu membuka mata, yang ia lihat pertama kali adalah wajah seorang pemuda bertampang berandalan yang berjarak sekitar satu meter saja darinya. Pemuda itu tengah asyik mengamati Lisa yang masih bersandar pada pohon beringin di belakangnya. Pikiran Lisa jelas belum terkumpul sepenuhnya, sang gadis masih berusaha mengais sisa-sisa kesadaran yang tercecer karena jatuh tertidur tadi.
Butuh waktu semenit penuh untuk Lisa menyadari jika wajah laki-laki di depannya ini bukanlah bagian dari mimpi. Lisa langsung memekik kaget, membuat pemuda di depannya refleks menutup telinga karena merasa terganggu dengan suara keras yang Lisa sebabkan.
"HEH! Hentikan! Kau buat gendang telingaku pecah tahu! Suaramu itu jelek, tak usah pamer nada tinggi segala denganku!" sungutnya jengkel.
Lagi-lagi hanya u*****n yang Lisa terima, jelas menjadikan ekspresi kesal tercetak jelas di wajah cantik gadis itu. Rasanya Lisa mengenal pemuda yang masih sibuk menggerutu padanya ini.
Ah, memorinya seketika membawanya pada kejadian tabrakan tiba-tiba yang ia alami sesaat sebelum ia mengunjungi makam Mogi Leckner beberapa saat yang lalu. Kenapa Lisa harus bertemu dengan pemuda berandalan itu lagi, sih?
Sepertinya dunia tak cukup luas untuk membiarkan Lisa menjauh dari si pemuda aneh yang selalu berkata kasar. Lisa mengerling pada langit biru yang kini berubah warna menjadi jingga. Oh, sudah senja hari, tampaknya sang matahari akan dijemput oleh dewi malam dalam beberapa saat lagi.
Yang Lisa lakukan selanjutnya adalah mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, terkejut melihat jarum pendek yang hampir melewati angka lima. Ah, sudah terlalu sore, pastilah ayahnya khawatir jika dia pulang terlambat. Lagipula, tak baik tidur di bawah pohon beringin, yang ada dia hanya akan ditempeli makhluk halus.
Tanpa menghiraukan pemuda yang masih berjongkok dengan tatapan aneh seraya mengikuti tiap gerakan yang Lisa lakukan, sang pemilik surai panjang kecokelatan itu pun pergi begitu saja seolah tak pernah ada orang yang mengumpatnya tadi.
Pemuda itu tercengang di tempat. "Dasar tak tahu berterima kasih," komentar sang pemuda seraya memandangi punggung Lisa yang berjalan menjauh darinya. "Padahal aku sudah mau repot-repot menunggunya yang bodohnya malah tertidur di tempat sepi seperti ini. Dasar gadis ceroboh."
Ucapan itu menguap begitu saja bersamaan dengan kepergian Lisa yang tak menoleh sama sekali ke belakang.
***
Kita datang pada dunia yang sama, menjalani hidup seperti saudara, tapi seberapa kerasnya pun aku mencoba, takdirku tak akan pernah bertemu denganmu. Kita berdampingan, dan yang paling kusesali adalah kita tak bisa berakhir pada satu titik yang sama.
***
Remaja perempuan yang mempunyai surai panjang sepinggang melangkah dengan berani, berjalan pelan menyusuri jalan kecil di tengah-tengah pagar tinggi rumah warga di desanya.
Sesekali dia akan bersenandung lembut, suaranya mengalun pelan, menyanyikan semua melodi yang mungkin saja bisa mewakili suasana hatinya saat ini. Sampai kemudian dia terdiam ketika sebuah sepeda dengan dua orang penumpang melewatinya begitu saja. Tanpa memedulikan sekitar, sepeda itu terus melaju dan membiarkan Lisa terdiam di jalan itu.
Gadis itu mendadak panas dan dadanya terasa sesak, napasnya sedikit demi sedikit mulai memburu tak terkendali. Panas di hatinya lama-lama merambat naik ke tenggorokan, membuat ia sulit menelan ludahnya sendiri, sulit mengeluarkan suaranya sendiri.
Dia mengenal sepeda itu, dia mengenal siapa si pembonceng yang duduk di depan, dia juga mengenali surai hitam yang selalu beraromakan sampo Rejoice sachetan itu.
Walau Lisa bertekad untuk berubah, ia tetaplah seorang gadis biasa yang tak luput dari kesalahan dan penyesalan. Ia tak kuasa menolak saat rasa panas itu beralih pada kedua matanya, membuat cairan-cairan bening kembali memenuhi kelopak mata, menggantung di pelupuknya, siap terjun kapan saja dengan bebas ke pipi mulus yang ia miliki.
Kenapa?
Kenapa dia harus melihat keduanya bersama-sama? Di saat dia sedang berusaha meneguhkan hati dan pikirannya, mengapa Lisa harus melihat tangan gadis lain memeluk erat kekasihnya?
Ini tak adil, sama sekali tak boleh dibiarkan.