16. Pertemuan Kedua

1330 Kata
Tangan Lisa mengepal erat, kemudian ia mendongakkan wajahnya, ia tak boleh menangis, setidaknya tidak di hari ini. Sekarang dia sudah berubah. Kali ini dia berbeda dengan sebelumnya, jadi tak ada gunanya jika ia menangis seperti yang sering ia lakukan. Setelah dirasa cukup mampu menahan air mata yang ia yakini tak akan mengalir turun, Lisa kembali memandang pada dua sosok di depan sana. Keinginan untuk memakan sesuatu yang manis kembali menghampiri. "Mau es krim lagi," bisiknya lirih. Dengan membeli es krim, mungkin hatinya akan sedikit lebih dingin, setidaknya dapat mengurangi panas yang muncul hatinya. Semoga saja. *** Gadis yang baru saja menginjakkan kakinya ke lantai rumahnya dibuat terheran-heran saat mendengar suara yang ia pikir nyanyian seseorang jika ia abaikan nada salah di mana-mana. Lantunan tembang lama era 70-an dinyanyikan oleh seorang pria dengan sumbang. Lisa menghampiri sumber suara dan yang pertama ia temukan adalah sosok sang ayah yang tengah sibuk memasak di dapur rumah mereka. Sepertinya Doran tak menyadari kehadiran anak sulungnya itu karena disibukkan dengan memotong sayuran—entah apa—di atas talenan. "Tadaima*, Tou-san," sapa Lisa ketika ia sudah berada di dekat sang ayah. Doran berbalik badan, menoleh dan menatap anak gadisnya yang sedang mengamati apa yang sedang dia lakukan. Mendadak pria itu terlihat salah tingkah, meski sudah berusaha untuk setenang sikapnya semula. "Okaerinasai*, baru pulang?" tanyanya sambil menaruh kembali pisau di pinggir talenan, dia akan melanjutkan eksperimen masaknya lagi nanti. "Bagaimana hubunganmu dengan Dino hari ini?" Lisa tersentak ketika nama itu disebutkan, menyunggingkan senyum sedih yang kemudian berganti dengan seulas garis tipis di bibirnya. "Emm, ya, baru saja. Hari ini sedikit terlambat karena aku harus pergi ke kuil dulu untuk berdoa. Tou-san sedang masak apa?" Lisa bukan anak tak tahu sopan santun yang enggan menjawab pertanyaan orang tuanya, tapi rasa penasaran lebih menguasai dirinya sehingga mendorong gadis itu menghiraukan sejenak pertanyaan tentang hubungannya dengan Dino itu. Apalagi ketika tahu Hogward Doran, sang ayah sedang sibuk mengolah sesuatu sendirian. "Entahlah, Tou-san juga bingung hendak masak apa," jawabnya lirih. Doran menatap bingung pada alat masak yang sedang di genggam tangannya. Anak gadisnya menggelengkan kepalanya prihatin, Lisa lalu mendekat, dan memandangi telur, daun bawang, sosis dan bahan makanan lainnya yang tergeletak tak beraturan di atas meja makan. "Apa Tou-san sedang mencoba membuat omelette?" tanya Lisa lagi setelah berhasil mengumpulkan. Doran terlihat ragu sebelum mengangguk. "Mungkin? Ayah pikir mudah membuat omelette saat melihat resepnya di iklan, tapi ternyata praktiknya jauh berbeda," jawab Doran dengan raut wajah yang tampak kecewa. "Ternyata sulit sekali menentukan isian yang pas." Lisa tersenyum, sebuah senyum bahagia yang baru hari itu bisa ia tunjukkan setelah berbagai perasaan sedih yang menerpa. "Kalau begitu, akan Lisa bantu. Apa ini ada hubungannya dengan Tante Melly?" Doran menolak menjawab, pria itu justru memalingkan wajahnya yang bersemu merah, tak berani menatap anak sulungnya. Tanpa suara, Lisa jelas mengerti apa maksud dari tindakan sang ayah yang terlihat salah tingkah, meski dia tak diberitahu sekalipun oleh ayahnya, tapi itu sudah cukup menjadi bukti jika memang benar ayahnya sedang berusaha membuatkan sesuatu untuk seorang wanita. Senangnya, ayahnya sudah menjadi seorang pria yang bahagia ketimbang dirinya di masa lalu. Suara bel rumah menginterupsi pelajaran masak yang sedang ayah dan anak itu lakukan. Bel kembali berbunyi dan membuat si gadis bersurai panjang kecokelatan dengan segera bergegas menghampiri pintu utama rumahnya, masih dengan celemek yang menempel di tubuhnya yang mungil. Begitu pintu terbuka lebar, alangkah terkejutnya Lisa. "Ah! Dino-kun! Sedang apa?" Pertanyaan bernada riang terlontar dari mulut gadis itu ketika mendapati yang tengah berdiri di balik pintu rumahnya dengan menampilkan wajah datar adalah sang pujaan hati, Dino Leckner. Pemuda itulah yang telah menekan bel rumahnya beberapa kali. "Hm, untukmu," ucap Dino sembari menyerahkan kotak berbungkus kain kepada Lisa, yang jelas diterima dengan sukacita oleh gadis cantik itu. Dino kembali melanjutkan, "Kue ini buatan Kaa-san." "Terima kasih—eh, maksudku arigatou gozaimasu*," ucap Lisa dengan tulus meski sempat salah mengucapkan. Sang gadis kemudian menatap Dino dengan tatapan penuh makna. Dino baru saja akan berbalik pergi saat tangan Lisa menarik cepat belakang kaosnya, membuat pergerakannya tertahan di tempat. "Em, itu ... tadi Dino-kun pulang dengan siapa?" Dino yang terhenti karena tarikan Lisa di punggungnya berbalik dan memandang kesal sang gadis. Ia menatap gadis yang sedang menatapnya dengan raut muka penasaran. Lisa yakin, pemuda itu tak akan bicara jujur berhubung lamanya suara yang keluar dari mulut si bungsu keluarga Leckner itu. Namun, dengan ketenangan yang selalu Dino tunjukkan di mana pun ia berada dan dengan siapa pun ia berhadapan, Dino memandang Lisa tepat di manik cokelatnya, seolah menantang sang gadis pemalu untuk membalas tatapannya. "Aku hari ini pulang dengan Rosa. Apa kau senang mendengarnya?" Dino tersenyum miring, tetapi malah terlihat seperti sebuah seringai tipis ketika dia menunggu reaksi yang Lisa tampilkan, berharap gadis itu akan tersentak karena kaget mendengarnya. Lisa tahu jika Dino sedang mencoba menghasut dan menggoyahkan perasaannya. Oleh karena itu, Lisa pun mempererat genggaman tangannya pada kotak berisi kue yang baru saja Dino berikan padanya. Kedua mata Lisa tak bisa ia alihkan sama sekali dari pemuda yang terkenal memiliki ekspresi yang minim itu. Lisa sebenarnya tak menduga jika Dino akan berkata sejujur ini padanya, tapi, tak apa. Toh, tak ada gunanya tersentak karena kaget sekarang, dia juga harus mengutarakan semua hal yang ada di pikirannya saat ini juga kepada Dino. Jika tidak hari ini, masih ada hari besok dan besoknya lagi. Keheningan yang biasa menyelimuti mereka berdua kembali menyapa, Lisa masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Sementara Dino menunggu dengan perasaan sebal luar biasa, sebab absennya suara gadis di depannya ini membuatnya tak bisa pulang ke rumah secepat yang dia inginkan. Dia bosan menunggu apa yang hendak dilakukan oleh gadis Hogward yang masih saja diam membisu di tempat. "Kalau tak ada yang akan kau katakan lagi, aku mau pulang," imbuh Dino pada akhirnya setelah bosan menunggu Lisa angkat bicara. Pemuda itu berdecak pelan saat tak mendapati reaksi apa pun dari gadis di depannya. Dino kemudian balik badan setelah tak ada lagi tangan yang menahan kepergiannya. Satu langkah lebar berhasil Dino lakukan, tapi ketika dia hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba saja dia bisa mendengar kalimat yang nyaris terdengar mirip gumaman keluar dari mulut seorang gadis yang terkenal introvert. "K-kau beruntung mempunyai aku di sisimu, Dino-kun," bisik gadis itu dengan lirih. Dino ingin tertawa keras begitu mendengar gumaman sang gadis tadi. Lalu dengan langkah lebar yang jarang ia perlihatkan, Dino pun berbalik lagi dan menuju ke arah Lisa. Tanpa merasa bersalah, Dino mencengkeram kuat dagu mungil si pemilik suara lembut itu, membuat Lisa merasa akan ada bekas merah di kulitnya, sesaat setelah Dino melepas cengkeramannya yang kuat itu. "Tidak, kau salah," ralat Dino dengan suara yang dingin dan menusuk. Seakan masuk menembus ke alam pikiran. "Aku akan merasa beruntung jika kau menghilang dari hidupku." Perkataan menusuk itu diucapkan dengan pelan oleh Dino, menekan pada setiap kata, menusuk telinga sang gadis Hogward dengan kata yang dapat menciutkan nyali seseorang dan segera saja meruntuhkan pendirian dari seorang gadis yang menyimpan perasaan cinta yang besar untuknya. Kali ini, Dino benar-benar meninggalkan rumah sang kekasih. Pemuda itu berjalan cepat masuk ke rumahnya yang berada tepat di depan kediaman keluarga Hogward. Lalu menghilang di balik pagar rumah keluarga Leckner yang cukup tinggi. Tepukan pelan di bahu kirinya membuyarkan Lisa yang tengah melamun bagaikan patung seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Gadis itu lalu menatap si penepuk yang ternyata adalah sang ayah. Mau tak mau, ia pun memperlihatkan cairan bening yang kembali merayapi kelopak matanya yang terasa panas. Gadis itu mulai menangis dan memeluk ayahnya dengan erat. Tersedu-sedu dalam pelukan hangat seperti ketika ia masih sangat kecil dulu. Apa aku masih bisa bertahan jika tetap seperti ini? Bisakah aku? Lisa membatin dengan sisa-sisa kesedihan yang ada. **** Pojok kata yang muncul dan akan muncul. Tadaima*: Ucapan yang berarti 'aku pulang dalam bahasa Jepang. Ini merupakan sebuah ucapan ketika memasuki rumah dalam budaya Jepang. Diucapkan oleh orang yang baru tiba di rumahnya. Okaeri*: Ucapan yang berarti 'selamat datang di rumah' dalam bahasa Jepang. Biasa diucapkan oleh orang rumah ketika menyambut anggota keluarga yang datang. Arigatou gozaimasu*: "Terima kasih banyak" dalam bahasa Jepang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN