Kehadiran Ariana

1487 Kata
Hanna menangis semalaman sementara Max tertidur pulas setelah puas bermain-main semalam. Hanna tak menyangka kalau hidupnya akan hancur seperti ini. Dia menangis perih di samping pria tampan yang telah merenggut keperawanannya itu. Tapi sekali lagi, sisi positifnya adalah, Hanna bisa kabur dari lingkar gelap prostitusi itu. Hanna beranjak perlahan, dia ingin membersihkan tubuhnya yang lelah. Hanna pikir, dia bisa meminjam kamar mandi Max sebentar, lagi pula Max masih terlihat begitu nyenyak. Hanna punguti mini dress dan celana dalam yang berserakan di lantai kamar luas itu. "Aah, sobek! Terus aku harus pakai apa?" gumamnya kesal setelah mendapati pakaiannya robek. Hanna memicingkan wajahnya ke arah Max. 'Semalam dia begitu menakutkan! Apakah itu memang sifat aslinya? Ya Tuhan, bebaskan aku setelah ini!' batin Hanna lalu dia berdo'a berharap Max akan membiarkannya pergi pagi ini. Hanna masuk ke dalam kamar mandi. Dia juga takjub dengan kamar mandi seorang Max Jerome. Kamar mandinya mewah dan nyaman. Hanna nyalakan air dan mengguyur sekujur tubuhnya di bawah shower. Segar sekali rasanya. Selesai itu, Hanna menarik sebuah bathrobes atau handuk kimono di meja di dekat wastafel. Hanna kenakan saja itu, walau kebesaran tapi setidaknya dia tak telanjang lagi saat ini. Saat masuk dan kembali dari dalam kamar mandi, dia mendapati Max sudah mulai tersadar dari tidur panjanganya. Hanna cukup kaget, apalagi dia masuk ke kamar mandi tanpa permisi. "Ma-maaf, Tuan! Saya pinjam kamar mandi dan ... handukmu ini!" ucapnya sembari tertunduk malu. Max diam saja lalu minum segelas air yang selalu tersedia di nakas di samping tempat tidurnya. Max pandangi gadis lugu itu, gadis yang memuaskan hasratnya semalam. "Hey! Kenapa gak cepat-cepat pakai lagi pakaianmu! Kamu mau saya melakukannya lagi?" tanya Max. "A-anu, Tuan! Pakaian saya robek! Sudah tak bisa dipakai lagi!" ucapnya masih gugup saja. "Huh!" Max hanya mendengus, dia juga bangkit dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Hanna jadi kikuk, dia tak tahu harus berbuat apa setelah ini. Mana mungkin Hanna keluar ke dalam ruang utama rumah hanya dengan memakai bathrobes saja. Sementara itu, Max mandi dengan cepat, dia merasakan perih pada beberapa bagian wajahnya. Saat dia bercermin di wastafel, ternyata pelipisnya mengalami luka robek dan pipinya juga sedikit lebam. "Sialan! Gue harus cari tikus-tikus jalanan itu! Gue akan kuliti mereka satu-satu!" rutuk Max kesal. Setelah itu dia keluar dari dalam kamar mandi. Dan Hanna yang kala itu hanya berdiri bengong di dekat jendela kamar sampai terkaget lagi saat Max datang hanya dengan bertelanjang d**a. "Hey! Tolong obati luka saya!" kata Max lalu meletakan kotak obat di meja di dekat Hanna berdiri. "I-iya, Tuan!" Hanna menurut lalu membuka kotak obat itu. Max berdiri di hadapan Hanna. Hanna harus berjinjit kaki untuk bisa meraih wajah Max. Dan adegan ini membuat Max kembali bisa memandangi wajah cantik alami Hanna. 'Boleh juga perempuan ini! Apa gue pelihara aja?' batin Max dengan pikiran liar dan gilanya. "Maaf, bisa sedikit menunduk, Tuan? Kamu tinggi sekali!" pinta Hanna dengan sopan. Max agak membungkukkan tubuh jangkung sehingga Hanna akhirnya bisa membubuhkan obat merah di luka Max itu. Lalu setelahnya memasangkan plester untuk menutupinya. "Selesai!" gumamnya. Max kembali menegakkan tubuhnya. Tak lama, tiba-tiba mata Max terbelalak. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat dua mobil masuk dan dia tahu kalau itu adalah mobil orang tuanya. Apakah orang tuanya sudah kembali dari luar negeri? "Ah, sial!" gerutu Max dan Hanna tak mengerti. "Ada apa, Tuan? Bisakah saya pulang sekarang?" tanya Hanna belum mengerti apa yang terjadi. "Kamu harus tetap disini! Jangan sekali-kali keluar dari kamar ini!" kata Max tegas lalu dia berjalan menuju lemari besarnya. "Sementara, pakai ini!" kata Max lalu melempar t-shirt yang cukup besar untuk Hanna. Mungkin t-shirt itu bisa jadi semacam terusan di atas lutut untuk tubuh mungilnya. 'Ada apa ya? Kok perasaanku jadi gak enak!' batin Hanna, dia hanya melihat Max begitu panik dan terburu-buru memakai pakainannya. "Ingat! Jangan bersuara! Atau coba-coba lari lewat jendela!" kata Max dengan nada mengecam lalu dia pergi ke luar kamar serta mengunci Hanna di dalamnya. "Huh, aku kan harus cepat-cepat pergi! Kenapa dia malah kurung aku disini!" gerutunya kesal. Ya! Max memang langsung mengunci Hanna di dalam kamarnya itu. Dia segera turun untuk menemui keluarganya yang baru datang dari berlibur. Max benar-benar tak ingin ketahuan kalau dirinya membawa perempuan asing masuk ke dalam kamarnya. Max sedang malas menerima hujatan dan omelan. "Max ... sayaaang! Coba lihat Mami bawa siapa sekarang!" seru Nyonya Andini, mami-nya Max. Max muncul dari lantai atas dan entah kenapa, dia tiba-tiba terpaku untuk beberapa saat melihat sosok gadis cantik yang datang bersama orang tuanya. Nyonya Andini dan Tuan Alex Jerome memang baru saja melakukan kunjungan dan liburan ke negeri Paman Sam alias Amerika. Disana ada banyak sahabat keduanya. "Hai, Max ...." sapa gadis blasteran itu, cantik sekali. "Ariana ...." Gadis itu bernama Ariana. Dia adalah putri dari sahabat sekaligus parner bisnis Tuan Alex Jerome. Ariana sudah lama tinggal di Amerika dan jujur saja, Ariana adalah cinta pertama Max. Selama ini, Max hanya bermain-main dengan hati perempuan. Hatinya hanya ia simpan untuk Ariana. "Max ... long time no see! I miss you so! (Max ... lama tak jumpa! Aku sangat merindukanmu!)" kata Ariana lalu berjalan mendekat ke arah Max yang masih berdiri mematung di tengah-tengah anak tangga. Tap tap tap, Ariana semakin mendekat dan sampai akhirnya tiba juga di dekat Max. Ariana berdiri satu tingkat di bawah Max yang merasa berdebar. "Kenapa diam saja, Max? Apa kamu sama sekali gak merindukan aku?" tanya Ariana. Max segera tersadar. Dia harus segera kembali jadi Max yang seperti biasanya. "Apa kabar, Ariana?" tanya Max dengan sikap dinginnya. "Baik! Tapi ... kadang aku tersiksa karena merindukanmu!" kata Ariana manja, sikap manja ciri khasnya. Max hanya tersenyum hambar. Ada apa dengan Max? Kenapa dia bersikap begitu dingin, padahal Max begitu memuja dan mengagumi sosok gadis dengan tinggi 170 cm itu. Ternyata, Max sempat kecewa pada Ariana karena dia lebih memilih untuk pergi ke Amerika dibanding bertahan di Jakarta dengan dirinya. "Max ... ayo kita mengobrol di kamarmu!" ajak Ariana. Max agak kelabakan. Ke kamarnya? Saat ini kan Max sedang menyembunyikan sosok Hanna. "No, heum ... kita duduk disana saja!" kata Max lalu berjalan melewati Ariana menuju ruang utama kediamannya, Ariana heran dan juga kecewa. Dia tak menyangka kalau Max akan bersikap begitu dingin padanya. Max duduk bersama orang tuanya. Dan Ariana pun pasrah, dia kembali memutar langkah dan duduk bersama disana. "Max, Ariana akan menetap di Jakarta! Dia akan membuka usaha butik sendiri!" kata Nyonya Andini. "Kalau butuh bantuan, kamu bisa meminta bantuan Max!" kata Tuan Alex kali ini. "Oh iya, wajahmu kenapa sayang?" tanya Nyonya Andini, baru menyadari luka lebam di wajah putra semata wayangnya itu. "Iya lhoo, aku juga belum sempat nanya, wajahmu kenapa, Max? Kamu masih suka berantem?" tanya Ariana kali ini. "Nggak kok, cuma salah faham!" jawab Max tenang. "Ya ampun, kamu berantem lagi di club, huh?" omeli Nyonya Andini. "Sudahlah, dia kan anak lelaki, sayang!" Tuan Alex malah membela Max. "Huh, Papi ini gimana sih, masa anaknya hobi berantem malah didukung begitu!" 'Gimana gue bisa membawa perempuan itu keluar?' Max malah memikirkan cara untuk mengeluarkan Hanna dari dalam kamarnya. Max selama ini memiliki image dingin dan cuek, dia tak ingin merubah citra itu kalau nanti ketahuan oleh orang tuanya, ditambah lagi saat ini ada Ariana. "Selamat datang kembali ke rumah Tuan, Nyonya ... selamat datang Nona Ariana," sapa Ester. Ester adalah kepala pelayan di kediaman ini. "Ya, Ester! Bagaimana keadaan rumah selama kami pergi? Baik-baik saja, kan?" tanya Nonya Andini. "Aman terkendali Nyonya!" jawabnya sigap. "Syukurlah!" "Mau saya buatkan minuman dingin?" tawarkan Ester. "Boleh, buatkan empat minuman dingin ya!" pinta Tuan Alex. "Baik, Tuan!" "Ini, ambil lah! Oleh-oleh untuk seluruh pegawai! Bagikan olehmu, ya!" kata Nyonya Andini sembari menyodorkan satu koper besar, pasti itu isinya seabreg oleh-oleh dari Amerika. "Waah, terima kasih banyak, Tuan, Nyonya!" ucap Ester. Lalu Ester melirik ke arah Max. Pasti Ester tahu betul kalau dia memang harus tutup mulut soal kejadian semalam dimana Max memasukan seorang perempuan seksi ke dalam kamarnya. 'Pelayan, ya! Itu dia!' Dan Max malah mendapat ide brilian. Saat melihat Ester dan seragam hitam putihnya, Max jadi punya ide untuk membuat Hanna menyamar juga sebagai pelayan. Pelayan di rumah Max banyak sekali, kehadiran Hanna tak akan membuat orang tuanya curiga. Ester pergi menuju bagian belakang rumah, disana ada ruang luas yang berisi mes para pegawai. Sejenak Max menghela nafas .... "Aku ke belakang dulu! Ada bagian kamarku yang harus dibersihkan! Aku lupa memberitahukan Ester!" Max bangkit lalu pamit untuk mengikuti langkah Ester. "Oke!" Orang tuanya menyetujuinya. Max cepat-cepat menyusul langkah Ester dan dia berhasil menahan langkah Ester di satu lorong menuju mes para pegawai. "Eh, Tuan muda Max! Ad-ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ester cukup gugup berhadapan dengan Tuan muda-nya itu. "Ya! Tolong bawakan seragam pelayan ke kamar saya! Berikan pada gadis yang ada di kamar saya itu!" kata Max cepat-cepat. "Ma-maksudnya ... pada gadis yang semalam?" "Ya! Cepat lakukan! Jangan biarkan Mami dan Papi curiga!" perintah Max dengan tegas. Dan dengan perintah singkat itu, Ester sudah sangat mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN