Ester melaksanakan permintaan Max dengan cepat. Dia pura-pura akan membereskan kamar Max padahal dia menyembunyikan sebuah seragam untuk Hanna.
Ester masuk dengan kartu akses yang Max berikan. Max berharap Ester melakukan tugasnya dengan baik tanpa membuat kedua orang tuanya dan Ariana curiga.
Ha ... Hanna cukup kaget saat Ester masuk. Dia pikir yang masuk adalah Max. Hanna sangat malu, dia yang awalnya duduk segera bangkit berdiri tegak karena merasa malu dengan Ester.
"Santai saja, Nona! Saya datang disuruh sama Tuan Muda Max, kok!" kata Ester membuat Hanna tenang.
"Oh ya? Terima kasih kalau begitu!"
"Di bawah, sedang ada Tuan dan Nyonya Jerome! Juga ada Nona Ariana! Kamu pasti gak akan bisa keluar dari rumah ini dengan keadaan seperti ini!"
"Oh, begitu ya? Jadi ... saya akan terkurung di kamar ini untuk waktu yang lama?" tanya Hanna dengan mimik cemas.
"Semoga ini berhasil! Coba kamu pakai ini!" kata Ester lalu memberikan seragam hitam putih itu.
"Ini ...."
"Seragam pelayan di kediaman ini! Pelayan disini berjumlah belasan, kalau kamu memakai seragam ini, mereka pasti akan menyangka kalau kamu adalah pelayan juga di rumah ini!"
Hanna tersenyum cerah. Solusi dari Ester adalah yang paling masuk akal saat ini.
"Baiklah, saya akan pakai ini, Bu! Terima kasih banyak ya!" Hanna cepat-cepat mengambil kesempatan itu. Hanna mengambil seragamnya lalu pergi ke kamar mandi untuk menggantinya. Hanna harap dia benar-benar bisa pulang kepada keluarganya di kota Bandung.
Hanna memang seorang gadis desa yang awalnya ditawari untuk bekerja di sebuah cafe. Tapi, saat tiba di Jakarta, Hanna nyatanya malah dipekerjakan di sebuah Club malam. Itu lah awal dari bencana sampai akhirnya dia harus kehilangan keperawanannya. Tapi walau begitu, Hanna setidaknya bisa lepas dari lingkar kelam prostitusi yang ada di club malam itu.
Hanna sudah memakainya. Kemeja putih berenda di bagian depannya dengan rok span hitam dan apron putih di bagian depannya. Hanna sudah seperti pelayan di kediaman Jerome ini.
Tiba-tiba ....
Hanna ingat ibunya yang ada di kampung.
"Hanna, bekerja lah dengan giat! Biar kamu bisa cepat-cepat ngirimi ibu uang!" kata ibunya Hanna saat Hanna akan pergi kala itu.
"Iya, Bu! Begitu gajian, Hanna pasti kirimkan uangnya sama ibu!" sahut Hanna optimistis.
"Ibu do'akan semoga kamu juga menemukan jodohmu disana! Bekerja lah dengan baik! Supaya kita bisa melunasi hutang-hutang peninggalan almarhum ayahmu, Hanna!"
"Iya, Bu! Pasti!"
Itu lah yang kini tiba-tiba terngiang di kepala Hanna. Wajahnya murung dan jadi merasa dosa pada ibunya. Selain tak jadi bekerja, Hanna juga telah kehilangan mahkota yang selama ini selalu diwanti-wantikan oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa ini jadi kacau begini? Kalau aku pulang ke kampung ... pasti ibu akan sangat kecewa ...." gumam Hanna, dia kini kembali merasa dilema.
"Non, apa sudah selesai?" suara Ester dari luar kamar mandi menyadarkan Hanna.
"Su-sudah, Bu!" jawab Hanna lalu merapikan penampilannya. Sejenak dia tatap dirinya di depan cermin, dan dia jadi terlintas untuk meminta pekerjaan pada Max.
"Apa aku minta pekerjaan saja jadi pelayan disini? Keluarga ini sangat kaya, sepertinya bukan masalah menambah satu pegawai sepertiku!" pikir Hanna. Dia segera keluar dari sana dan menemui Bu Ester.
"Nah, kalau begini mudah-mudahan Nyonya dan Tuan tak akan curiga dengan kamu!" kata Ester.
"Iya, Bu! Terima kasih banyak atas bantuannya!" kata Hanna sambil membungkukan badannya tanda hormat.
"Heum ... kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi semalam?" tanya Ester penasaran. Hanna jadi malu. Dia tak lekas menjawab.
"Apa ... Tuan Muda Max ... menyakiti kamu?" tanya Ester lagi.
"Heum, nggak kok, Bu! Semalam ... hanya salah faham!" jawab Hanna berbohong.
"Aaah, syukurlah! Kamu ...."
"Sudah selesai?" Tiba-tiba Max hadir begitu saja, memotong pertanyaan Ester.
"Su-sudah, Tuan Muda Max!" jawab Ester.
Max menatap Hanna dengan penampilan barunya. Max terus mentapanya sampai beberapa detik dan Hanna jadi risih.
"Tu-tuan ... apa ... di rumah ini kekurangan pelayan?" tanya Hanna memberanikan diri.
"Kenapa memangnya?" tanya Max dengan sikap dinginnya. Tak seperti semalam, hot dan ganas.
"Saya ... apa saya bisa bekerja disini? Untuk sementara ... sampai saya dapat pekerjaan lain?" Hanna langsung to the point. Dia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.
Max melirik ke arah Ester. "Apa ada posisi yang kosong?" tanya Max pada Ester.
"Rumah ini sudah memiliki 13 pelayan, Tuan ... sebenarnya sudah cukup!" jawab Ester. Hanna terlihat putus asa.
"Dengar itu? Rumah ini sudah kelebihan pelayan!" kata Max dingin dan tegas.
"Tapi ... kita bisa membantu Hanna, sepertinya dia sangat membutuhkan pekerjaan, Tuan!" usul Ester kembali memberi harapan untuk Hanna.
"Saya mohon! Tak peduli kalau saya digaji rendah! Yang penting ... saya bekerja!" Hanna mencoba meyakinkan Max.
Max berpikir, Hanna bisa selalu dekat dengannya. Dimana Max membutuhkan asupan, dia bisa meminta pelayanan plus-plus pada Hanna. Dasar Max, pikirannya sedang ada dalam mode m***m.
"Baiklah!" setujui Max.
"Benarkah! Terima kasih! Terima kasih banyak, Tuan!" Karena replect, Hanna langsung meraih tangan Max lalu menggenggamnya dengan erat.
"Cukup! Kamu lupa ... sekarang ini saya adalah Tuan kamu!" kata Max dengan gaya arogannya, bahkan dia menghempaskan tangan Hanna. Max benar-benar lupa kalau semalam Hanna membuatnya puas di atas ranjang.
"Maaf, Tuan!"
"Ya sudah! Ester ... tinggalkan dia disini, saya ingin lihat bagaimana dia bisa bekerja sebagai pelayan di kediaman ini!" kata Max menguji.
"Baik, Tuan!" Ester beranjak. Dia meninggalkan Hanna dan Max berdua saja di dalam kamar itu.
"Bukannya kamu ingin segera pergi dari rumah ini?" tanya Max serasa meng-interview Hanna.
"Iya, Tuan! Tapi ... tujuan saya pergi dari kampung adalah untuk bekerja! Ibu saya sudah menaruh harapan yang besar untuk saya, kalau saya pulang dengan tangan kosong dan ibu saya tahu kisah pilu yang saya alami, pasti dia akan sangat sedih dan kecewa!" Hanna mengemukakan alasannya dengan jelas dan jujur.
"Oke, kalau begitu, bekerja lah dengan baik!"
"Tentu saja, Tuan! Tapi ...."
"Apa lagi?"
"Tas dan barang-barang saya masih teringgal di mess club itu! Kartu identitas dan handphone saya juga ketinggalan disana ... apa ... kamu bisa membantu saya sekali lagi, Tuan?"
"Huh, kamu merepotkan sekali!" gerutu Max.
"Maaf ...."
"Baiklah, nanti saya ambilkan!"
"Benarkah? Terima kasih banyak sekali lagi, Tuan!"
"Ikut saya!" ajak Max.
"Bukankah saya harus membereskan kamarmu ini?" tanya Hanna heran.
"Lupakan saja! Saya tunjukkan dimana mess-mu!" kata Max lalu berjalan keluar, berjalan santai dengan kedua tangan yang ia masukan ke saku celana, cool sekali! Hanna mengikutinya dari belakang dengan peran barunya.
"Apa ... Tuan dan Nyonya besar masih ada di bawah?" tanya Hanna.
"Mereka sudah masuk ke kamar mereka!" jawab Max tanpa menoleh.
"Oh, syukur lah!"
Hanna terus mengikuti Max. Hanna juga tak henti-hentinya berdecak mengagumi interior dan luasnya kediaman Jerome ini. Tak lupa Hanna juga mencoba menghapal setiap bagian ruangan yang dia lewati.
Dan setelah sampai di area para pelayan, semua pelayan langsung berdiri tegak dan berbaris rapi kala Max datang bersama Hanna di balik punggungnya.
"Ada pelayan baru! Bersikap baiklah padanya!" kata Max lugas.
"Baik, Tuan Muda Max!" jawab mereka serentak.
"Bimbing dia!"
"Baik, Tuan!"
"Berbaurlah!" perintah Max pada Hanna. Hanna menurut lalu berjalan ke sisi dimana para pelayan berbaris.
Setelah memastikan Hanna bergabung dengan para pelayan, Max pergi lagi meninggalkan pelayan yang melayaninya semalam itu.
Max tak tahu apakah keputusannya untuk menerima Hanna adalah keputusan baik atau buruk Aah sudahlah! Max yakin kalau Hanna tak akan menuntut atau berbuat yang macam-macam. Lagian Max juga tak tega melihat nasib buruk Hanna.
***
Malam harinya, Max mengunjungi club Diamond, club tempat Hanna bekerja.
Saat ia datang, semua night club ladies langsung tebar pesona berharap Max membooking dan memakai jasa mereka. Tapi, Max sama sekali tak tertarik. Semalam, Max mabuk dan terjebak oleh pesona Hanna, hanya Hanna, dan Hanna memang memberikan pelayanan terbaik semalam.
"Selamat datang, Bos! Mau duduk dimana?" sambut Rocky, manager club malam itu.
"Gue gak akan lama! Gue cuma mau ngambil barang-barang perempuan yang semalam kabur dari sini!" kata Max santai sembari menghisap batang rokoknya sesekali.
"Makasudmu, Bos? Hanna?"
"Ya!"
"Apa dia masih bersamamu, Bos?"
"Ya!"
"Kami sudah membayar mahal pada makelarnya, dia harus menyelesaikan tugasnya disini, Bos!"
"Lo mau bantah gue?" tanya Max dengan tajam, wajahnya agak menyeringai dan itu cukup menakuti Rocky.
"Bukan gitu, Bos!"
"Berapa harganya? Gue bayar!" tantang Max.
"Apa ... Bos suka? Kalau suka ambil saja, Bos!" Akhirnya Rocky pasrah, Max adalah salah satu orang yang punya hak istimewa di club malam itu. Karena perusahaan keluarganya adalah penanam modal yang cukup dominan di club itu.
"Kalau begitu cepat ambilkan barang-barangnya!"
"Baik, Bos!" Dengan sigap, Rocky mengisyaratkan beberapa pegawainya untuk membawakan barang-barang milik Hanna yang masih tertinggal di mess.
"Siapa makelarnya?" tanya Max serius.
"Rado, Bos! Dia memang sudah biasa memasok gadis-gadis desa untuk dipekerjakan di beberapa club di wilayah kami, Bos!"
"Suruh dia menemui gue kalau dia datang kesini!" perintah Max, entah apa rencananya.
"Baik, Bos!"
Setelah menunggu beberap menit, akhirnya barang-barang pribadi milik Hanna sudah datang. Max memerintahkan para pegawai itu untuk membawanya ke dalam mobilnya.
Setelah rapi di dalam mobil, Max segera tancap gas dari club itu. Akhirnya, selesai juga urusannya yang satu ini. Setidaknya, Max sudah sedikit membantu Hanna untuk benar-benar terlepas dari belenggu club. Max ingin membayar kesalahannya semalam saat dia memperdaya Hanna di atas ranjang.
Ya! Dan kini Hanna memiliki pekerjaan baru pula! Hanna merasa lebih baik sekarang. Hanna harap, pekerjaan barunya sebagai pelayan adalah jalan terbaik untuknya.