Max sampai di depan kediamannya. Dia pastikan tak ada orang di sekitarnya kecuali para security yang berjaga di pos pengamanan.
Clap clap! Max memberi kode dengan dua kali tepukan tangan dan saat salah satu security menoleh Max langsung melambaikan tangannya sebagai kode untuk datang menghampirinya. Security itu mengerti dan langsung berlari sigap ke hadapan Max.
"Iya, Tuan ... ada yang bisa dibantu?" tanya Amin, salah satu security di kediaman Jerome ini.
"Keluarkan tas besar yang ada di jok belakang mobil dan bawa ke mes para pelayan! Kamu harus mengendap-endap! Jangan sampai orang tua saya menyadari!" perintah Max.
"Oke, Tuan!" ucapnya sigap.
Max tengak tengok kanan kiri lagi. "Oke, sekarang! Berikan pada pelayan bernama Hanna!" kata Max.
"Baik, Tuan! Mengerti!"
Setelah dipastikan aman, Max langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia lelah dan dia juga sudah cukup merasa lega karena setidaknya dia sudah memberi kebaikan pada Hanna. Anggap saja itu sebagai bayaran karena semalam Max sudah merenggut harta paling berharga dari diri Hanna.
Max berjalan, butuh waktu lama hanya hanya untuk sampai di kamarnya. Kediaman Jerome terlampau luas. Dan saat sampai di depan kamarnya, Max melihat sesosok gadis tinggi semampai dengan rambut panjang bersandar di dinding di samping pintu kamarnya, apakah Max takut? Tentu saja tidak.
"Ariana ...." sapa Max. Ternyata itu adalah Ariana.
"Kamu kemana aja sih? Aku kan sedang ada di rumahmu tapi kamu malah pergi-pergi terus!" tanya Ariana dengan ketus plus manja.
"Tidurlah! Ini sudah malam!" kata Max lalu membuka akses kamarnya.
"Aku gak bisa tidur!" rengek Ariana, manja sekali. Max menoleh lalu menatapnya beberapa saat.
"Minta pelayan buatkan kamu s**u coklat! Setelah itu tidurlah!" kata Max lalu hendak melangkah melewati pintu kamarnya tapi GAP! Tiba-tiba Ariana mendekap lengannya.
"Kemana Max-ku yang hangat! Kenapa kamu dingin begini sih?" Ariana masih bermanja-manja. Sejujurnya Max senang, tapi, luka yang Ariana tinggalkan beberapa tahun lalu masih membuat Max masih kecewa pada Ariana.
"Max ... apa kamu marah karena aku nolak pernyataan cintamu 8 tahun yang lalu?" tanya Ariana membuat Max salah tingkah.
"Kita kan masih belum dewasa kali itu! Lagi pula aku kan harus pergi, di usia itu mana mungkin kita bisa menjalani long distance relationship!" lanjut Ariana.
"Aku gak marah! Sana kamu ke kamar kamu lagi!" kata Max.
"No! Aku mau ngobrol sama kamu sampai ngantuk! Aku benar-benar gak bisa tidur Max!" Ariana malah merekatkan dekapan tangannya.
"Huh!" Max hanya mendengus dan alhasil dia tak bisa menolak kedatangan Ariana. Ariana terlihat sangat senang. Mereka memutuskan untuk duduk bersama di balkon kamar Max. Menikmati dinginnya malam sembari mengamati bintang-bintang.
"Uuh, dingin yaa!" kata Ariana sembari mendekap tubuhnya sendiri, dia memang hanya mengenakan piyama tipis berlengan pendek. Max segera melepaskan coat tebalnya lalu memakaikannya pada Ariana. Memang begitu lah Max. Walau terlihat cuek tapi sebenarnya dia begitu peduli.
"Thank's ...." ucap Ariana bangga.
"Mau minuman hangat?" tawarkan Max.
"Heum, boleh!"
Max menghubungi area dapur yang ada di bawah sana dengan sebuah radio yang menempel di dinding kamarnya, alat itu adalah alat untuk memberi perintah pada para pelayan dengan cepat.
"Bawakan segelas s**u coklat hangat ke kamar saya!" ucap Max, alat itu langsung menghubungkan suara Max ke alat yang sama di area dapur.
"Baik, Tuan!" ada yang menjawab. Pelayan yang jumlahnya belasan itu memang memakai sistem applaus. Ada yang istirahat dan ada yang berjaga. Max kembali pada Ariana.
"Max, apa kamu mulai ikut mengurusi bisnis Om Alex?" tanya Ariana memulai topik pembicaraan.
"Heum," jawabnya enteng. Sikapnya maaih agak dingin.
"Lihat dirimu ini, Max! Kamu berubah lebih mature lagi! Jaman dulu, kamu sudah keren dan popouler di seantero sekolah! Dan sekarang, pesona kamu seperti gak pernah habis! Kamu semakin dan semakin cool saja!" akui Ariana, Max sama sekali tak tersanjung. Cara Ariana meninggalkan Max di masa lalu masih lekat dan membuat Max sedih.
"Max ... tolong jangan bersikap begini!" protes Ariana.
"Aku harus bersikap bagaimana?"
"Kamu beku sekali! Kayak gunung es!" gerutu Ariana lalu memalingkan wajahnya.
"Heh," Max hanya tersenyum masam.
"Pasti ... kamu sudah punya pacar! Iya, kan? Kamu sudah benar-benar melupakan aku!" Ariana masih merajuk.
"Aku melupakan kamu sama seperti kamu melupakan semuanya!" sahut Max, Ariana menoleh lagi ke arah Max.
"Jadi kamu mau balas dendam? Aku terlalu sibuk dengan study-ku! Aku juga sibuk dengan karirku, Max!"
"Ya, sampai kamu gak pernah sempat membalas pesanku!" Max mulai membalas protes Ariana.
"Max ...."
"Lupakan saja! Kita sudah dewasa! Kita sudah punya kehidupan masing-masing!"
"Max ... jadi benar kamu sudah punya pacar? Apa saat ini kamu benar-benar unavailable?"
"Kamu? Kamu hampir gak pernah jomblo, kan?"
"No, aku baru saja putus dari Lucas! Dia lebih memilih karir bermusiknya dan terlalu sibuk sampai melupakan aku!"
"Itu sebabnya kamu pulang ke Jakarta, kan? Kamu sedang mencari media untuk bisa move on dari pacar rock n roll-mu itu!" Max menyentil Ariana.
Ya, Max memang memuja Ariana. Tapi sikap Ariana kadang membuatnya kesal, marah dan kecewa. Sejak dulu, Ariana adalah cewek populer, banyak yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Dan saat Ariana sakit hati dengan para pacarnya itu, baru lah dia datang mendekat dan curhat pada Max. Selalu seperti itu siklusnya.
"Ya ampun, Max ...."
"Jangan berlarut-larut! Teruskan hidup dan karirmu!" sambar Max. Max benar-benar tak ingin terlibat dengan obrolan itu.
Tok tok, sejurus dengan itu pintu kamar berbunyi, ada yang yang mengetuknya. Itu pasti pelayan yang membawakan s**u coklat hangat pesanan Max. Max langsung berjalan ke arah pintu dan membukakannya.
CKTT, saat pintu terbuka, yang datang adalah Hanna. Hanna menyambut Max dengan senyum hangat.
"Selamat malam, Tuan! s**u coklat panasnya ... mau saya letakan dimana?" Hanna begitu mahir. Dia seperti sudah cukup lama menjadi seorang pelayan.
"Heh, kamu mulai kerasan?"
"Saya akan terus belajar untuk bisa menjadi pelayan yang baik, Tuan! Terima kasih untuk pekerjaan ini!" ucap Hanna.
"Bawa susunya kemari!" kata Max lalu melangkah masuk dan terus sampai ke balkon. Hanna mengikuti dan dia cukup terkejut saat mendapati seorang gadis cantik berpiyama ada disana. Sejenak Hanna memicingkan matanya ke arah Max.
'Heh, dasar playboy! Maniak!' rutuknya dalam hati. Pasti Hanna merasa jealous karena baru saja semalam Max tidur dengannya, malam ini malah ada gadis lain di dalam kamarnya.
Setelah Hanna meletakkan gelasnya di atas meja, dia bersiap untuk pergi.
"Hey kamu!" panggi Max saat Hanna berbalik.
"Iya, Tuan!"
"Pijat saya!" perintah Max. What? Apa lagi sih maunya? Pikir Hanna, tapi, bagaimanapun juga saat ini Max adalah majikannya, lagi pula seluruh perintah Max adalah kewajiban untuknya. "Oh, ba-baik, Tuan!"
Hanna letakkan nampannya di bawah meja dan berdiri di belakang Max yang masih duduk santai bersama Ariana. Ariana memicingkan matanya ke arah Max yang minta dipijat oleh Hanna.
"Heh, manja sekali kamu!" cibir Ariana tanpa tahu kalau Hanna juga melayani Max di atas ranjang semalam. Ariana masih santai, tak merasa kalau Hanna adalah saingannya.
"Oh iya Max! Bagaimana kalau besok kita pergi! Kamu gak ngantor kan besok?" ajak Ariana membangun topik pembicaraan lain.
"Kemana?"
"Kemana saja, pengennya sih lihat pepohonan, kayak ruang terbuka hijau! Aku pengen menghirup udara segar!"
"Di Jakarta gak ada tempat begitu!" jawab Max enteng.
"Huh, menyebalkan!"
"Kalau di dekat tempat tinggal saya banyak, Tuan! Hamparan kebun teh, kawah-kawah, danau buatan, pemandian air panas!" Hanna ikut mengobrol. Ariana malah memandang sinis ke arahnya.
"Lancang! Sejak kapan seorang pelayan diperkenankan ikut mengobrol dengan obrolan Tuannya!" cibir Ariana, sinis sekali membuat Hanna jadi malu.
"Ma-maaf ...." ucap Hanna pelan lalu menunduk lugu, dia meneruskan pekerjaannya, memijat pundak Max.
"Dia kan hanya memberi tahu kalau dia tinggal di lingkungan seperti yang kamu inginkan!" Max membela, Hanna merasa tersanjung.
"Ya tapi tetap saja itu gak sopan!"
"Kamu memang gak pernah berubah!" gerutu Max. Max tahu kalau Ariana memang sosok yang arogan dan ternyata sampai sekarang pun sikapnya itu tak berubah.
"Hey, kamu! Memangnya kamu tinggal dimana?" tanya Ariana semena-mena pada Hanna.
"Sa-saya berasal dari Bandung, Nona!" jawab Hanna masih tak berani mengangkat wajahnya.
"Bandung? Oh, iya sih ... disana kan banyak objek wisata alamnya! Max, jadi pengen kesana deh! Besok kita kesana, yuk! Kita pergi pagi-pagi agar gak kejebak macet!" Ariana kembali merengek, Hanna tetap memajang senyum walau dalam hati dia gedek juga pada sikap Ariana.
'Idiiiih, kok nyebelin banget sih nih perempuan! Pacarnya kali ya ... heum, cocok sih buat Tuan muda tampan ini!' batin Hanna agak mengomel, lalu dia juga tak lupa menatap Max dari posisinya saat ini, Hanna masih bisa melihat wajah Max dari atas, tetap terlihat tampan dan sempurna.
"Mau ya Max, ke Bandung! Ayo lah! Aku butuh inspirasi nih!" Ariana masih membujuk.
"Oke! Kita ajak dia!" putuskan Max dan memutuskan untuk mengajak Hanna. Hanna senang bukan main, tapi tidak dengan Ariana.
"Mengajak pelayan ini?" yakinkan Ariana.
"Ya! Dia bisa jadi tour guide untuk kita!"
'Asyiiik, aku bisa ketemu ibu dulu dong! Huh, aku bener-bener cemas, takut ibu tahu kalau aku bekerja di club! Aku harus meyakinkan ibu kalau aku baik-baik saja disini!' batin Hanna lagi.
"Baiklah! Aku akan segera tidur, agar kita bisa pergi pagi-pagi buta!" putuskan Ariana lalu bangkit setelah meminum setengah gelas s**u coklatnya.
"Cukup! Kamu juga sana cepat istirahat! Besok kita akan pergi pagi-pagi sekali!" kata Ariana pada Hanna, bahkan Ariana menarik tangan Hanna secara paksa. Mungkin saja Ariana cemburu dan tak suka ada yang menyentuh Max sekali pun itu hanya pelayan.