Layani Saya!

1494 Kata
Max mewujudkan keinginan Hanna. Dia mengantar Hanna menemui ibunya dan Rado yang awalnya mengancam kini malah sigap memberikan pengawalan. Ya, Hanna memang kembang desa yang diperebutkan oleh para kumbang di desanya itu. Bahkan tak sedikit para Tuan tanah yang rela mengorbankan apa pun untuk menjadikan Hanna istri muda mereka. Tapi, ibunya tak pernah tergiur dengan tawaran itu. Max berhenti di sebuah halaman rumah sederhana, rumah panggung yang dipagari oleh pohon bidara, asri sekali. Bunga mawar bermekaran di halaman rumah Hanna yang tak lebih luas dari kamar Max itu. "Mau masuk dulu?" tanya Hanna penuh suka cita. "No! Turun dan cepatlah! Aku pengen cepat-cepat sampai di Jakarta!" jawab Ariana ketus. "Baiklah! Tunggu sebentar ya!" Hanna turun, dia menginjakkan kakinya di halaman rumah yang sekitar seminggu yang lalu ia tinggalkan. "Hanna ... Hanna ...." sambut ibunya begitu melihat ada mobil bagus terparkir di rumahnya, dia langsung keluar rumah. "Ibu ...." Hanna semakin mendekat lalu memberi salam pada ibunya. "Lhoo, kamu udah pulang lagi? Bukannya kamu tèh kerja, neng?" tanya sang ibu dengan logat sundanya yang terasa masih kental. "Iya, Bu! Hanna udah kerja ... ini, kebetulan aja, bos Hanna lagi liburan di Bandung, lalu Hanna diajakin! Sekalian aja Hanna nengokin ibu!" jawab Hanna. "Oh, tapi kamu betahkan disana?" "Betah Bu, jangan cemas ya! Do'akan saja, moga-moga Hanna sukses di Jakarta, biar bisa nebus sertifikat tanah yang Bos Toro sita!" "Iya, ibu selalu mendo'akan kamu!" Hanna menoleh, dia rasa Max dan Ariana pasti tak bisa menunggu lebih lama. Hanna segera keluarkan uang yang tadi pagi Max berikan saat di rest area. "Hayu atuh masuk dulu, ajakin bos kamu biar ibu buatkan nasi liwet buat kalian!" ajak Ibu. "Gak Bu, Hanna gak bisa lama-lama!" "Lho, kasian siapa tahu bos kamu teh mau minu. dulu!" Hanna memberikan uang itu sampai ibu terdiam saat menerima sejumlah uang dari Hanna. "Simpan ini Bu! Buat kebutuhan ibu, kalau ada sisa, ibu simpan ya, buat nyicil hutang-hutang kita! Nanti, kalau Hanna gajian lagi, Hanna langsung kirimkan sama Ibu!" kata Hanna. "Lho, Neng, kamu kan baru seminggu kerja di Jakarta! Kok udah dapat uang banyak begini, Neng?" tanya ibunya tak mengerti. "Pokoknya simpan aja, Bu! Itu uang bukan hasil nyuri kok!" 'Walau sebenarnya uang bayaran karena malam itu aku menyerahkan keperawananku sama Tuan muda Max! Maafkan aku ibu ....' batin Hanna penuh sesal. "Ya ampun, Neng ...." Hanna menoleh lagi ke belakang, pasti Max dan Ariana semakin tak bisa menunggu. "Aku pergi lagi ya, Bu! Secepatnya aku pulang lagi kesini!" pamit Hanna. "Lho, gak masuk dulu? Belum lima menit kamu sampai Neng ...." "Iya, tapi aku cuma mau pastikan kalau ibu baik-baik aja!" "Ibu mah baik, justru kamu yang harus jaga diri disana ya!" "Iya, Bu!" Ibu mengantar langkah putri semata wayangnya itu sampai ke dekat mobil Max. Max membuka setengah jendela mobilnya. "Makasih banyak Bos, maaf ya kalau anak ibu kerjanya belum cekatan! Makasih sudah mau diantar kemari!" kata Ibu penuh basa-basi. "Ya," jawab Max singkat. Dia memang begitu. "Aku pergi ya, Bu! Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku!" "Siap, Neng!" Hanna masuk ke dalam mobil di jok belakang. Rasanya berat. Rasa rindu yang ia simpan selama seminggu tak dapat tercurah sepenuhnya. Mereka pulang. *** Hanna melanjutkan peran barunya sebagai pelayan di kediaman Jerome. Dia lega karena Rado sudah tak berani mengancamnya lagi. Bahkan Rado berjanji akan menjaga dan mengawasi ibunya Hanna di kampung. Lalala, dia benar-benar menikmati pekerjaannya itu. Sembari membersihkan rak kaca di ruang tengah dia asyik bersenandung. Saat ini Hanna membersihkan area itu bersama salah satu teman pelayannya, panggil saja dia Miya, Miya salah satu yang bersikap baik pada Hanna, beda dengan sebagian besar dari mereka yang iri dan dengki pada Hanna. "Han ...." panggil Miya. "Iya, kenapa Mi?" tanya Hanna. "Hati-hati ya, si Eva lagi merencanakan sesuatu yang buruk sama kamu!" kata Miya agak berbisik. "Oh ya? Apa itu?" tanya Hanna antusias. "Pokoknya kamu hati-hati aja! Dia emang begitu! Udah terlanjur sirik sama kamu!" "Heum, aku harus gimana, Mi? Padahal sekuat hati aku selalu berusaha menghormati dia!" "Kamu tenang saja! Orang yang jahil gak akan selamanya berhasil sih!" "Huh!" Hanna hanya mendengus. Tadinya dia bersenandung riang, kini dia malah ketakutan. "Hanna!" Ester datang menghampiri dan langsung mendekat pada Hanna. "Iya, Bu! Kenapa?" tanya Hanna. "Tuan muda Max manggil kamu!" kata Ester. Tuan Muda Max? Memanggil? Aaah, ini lah yang sebenarnya membuat orang-orang sirik pada Hanna. Tapi Hanna tak bisa membantah keinginan dan perintah Max, karena bagaimana pun juga Max adalah penyelamatnya dari jerat dunia prostitusi itu. "Cepat Hanna, jangan biarkan dia menunggu lama!" kata Ester. "I-iya Bu!" jawabnya. Hanna segera meletakkan lap yang tadi dia pegang itu di troli dan segera beranjak ke ruangan Max yang ada di lantai atas. Hanna bergegas walau hatinya masih meragu. Hanna takut Max meminta sesuatu yang aneh-aneh lagi yang di luar tugasnya sebagai pelayan. 'Huh, mau ngapain lagi ya? Pelayan kan banyak, kok Tuan Max manggil aku terus sih! Kan gak enak teman-teman yang lain malah berpikir aku yang genit dan kegatelan!' pikir Hanna di sepanjang langkah menuju kamar Max di ujung lorong lantai dua. Hanna sudah sampai di depan pintu kamar Max. Hanna rapikan penampilannya dan siap untuk mengetuk pintu. Tok tok tok, Hanna mengetuk dengan lantang. Hanna harus menunggu dengan sabar, sudah lewat satu menit dan belum ada jawaban. Tok tok tok, dia mengetuk pintu lagi lebih kencang. "Laah, kemana sih nih orang! Katanya manggil, tapi kok gak nyahut-nyahut!" gerutunya kesal. Karena menunggu adalah satu hal yang sangat mengesalkan, untuk siapa pun. Ternyata eh ternyata, Max menunggu kedatangan Hanna di kolam renang di belakang mansion. Hanna tak fokus dengan permintaan Ester sehingga terjadi miss komunikasi seperti ini. Satu menit, dua menit bahkan sampai 10 menit lamanya Hanna tetap menunggu disana. "Asem banget nih Tuan muda, masa aku disuruh nunggu selama ini! yang benar saja!" Hanna masih menggerutu kesal. "Ya ampun Hanna!" Seseorang datang dan mengagetkannya. Itu adalah Bu Ester. "Bu, udah saya ketuk pintunya belasan kali tapi gak ada jawaban!" kata Hanna mengeluh. "Ya karena Tuan muda Max memang gak ada di kamarnya!" jawab Ester gemas. "Lho ... lalu?" "Dia menunggu kamu di area kolam renang di belakang sana! Huh, gak kebayang bagaimana marahnya dia karena menunggu lama! Sana cepat pergi!" "Lah, tadi kan Bu Ester gak bilang kalau Tuan Max ada di kolam renang!" "Soalnya kamu gak nanya!" "Oh, hehe ...." "Jangan ketawa dulu! Kamu sudah tahu kan bagaimana marahnya dia kalau panggilannya gak cepat-cepat dipenuhi!" "Iya iya, Bu!" Hanna bergegas kembali, di setengah berlari menuju kolam renang yang ada jauh di lantai bawah dan di belakang mansion mewah itu. Sudah ratusan langkah terpacu dan akhirnya Hanna menemukan dimana tuan mudanya itu berada. Max sedang rebahan di dipan kayu di pinggir kolam. Sekujur tubuhnya basah, membuat penampakannya semakin seksi. Hanna mendekat lalu menghadap. "Maaf, Tuan! Maaf sudah membuatmu menunggu lama ...." ucap Hanna. "Kemana saja kamu?" tanya Max kesal. "Saya kira Tuan Max menunggu di kamar, sekitar 10 menit yang lalu saya menunggu disana!" dalih Hanna. "Nanti malam saya akan menunggu di kamar!" kata Max dengan wajah liciknya. "Na-nanti malam? Maksudnya Tuan?" tanya Hanna tak mengerti. "Layani saya lagi!" Hanna murung. Ini lah yang Hanna takutkan. Ternyata Hanna tak bisa bebas begitu saja. Max memang tega sekali. Dia malah terkesan menjadikan Hanna sebagai b***k nafsunya. Hanna tak siap, benar-benar tak siap. "Saya sudah lunasi hutang-hutang orang tuamu!" kata Max. Kata-katanya semakin menarik perhatian Hanna. "Benarkah, Tuan?" "Ya! Oleh sebab itu kamu harus membayarnya!" 'Ya Tuhan! Haruskah aku melakukannya lagi? Bagaimana bisa ini jadi seperti ini? Aku sudah melanggar janjiku pada mendiang ayah untuk menjaga kehormatan ini!' Hanna hanya mampu mengeluh pada dirinya sendiri. Dia sangat menyesal ada dalam situasi ini. "Kenapa diam saja?" tanya Max. "Tuan ...." gumam Hanna. "Kenapa? Kamu mau menolak?" tanya Max sinis. "Bisakah ... saya membayarnya dengan cara yang lain? Maksud saya ... saya akan membayar semua kebaikanmu tapi bukan dengan ...." "Tubuhmu? Saya hanya menginginkan tubuhmu!" tegas Max sembari menyambar kalimat yang hendak Hanna teruskan. Hanna hanya bisa diam, tak mampu membantah. "Kalau begitu ....." Hanna hendak mengajukkan syarat lagi, tapi masih dia tahan karena terlihat ragu-ragu. "Kenapa? Kamu masih mau protes!" "Nikahi saya, Tuan!" cetus Hanna tapi kemudian dia memejamkan matanya. Dia pasti tak siap dan tak ingin melihat reaksi Max. Bagaimana reaksi Max saat Hanna meminta Max untuk menikahinya. "Lancangnya dirimu meminta saya untuk menikahi kamu!" kata Max terdengar tak suka. Hanna sudah menduganya. Hanna jadi takut sekaligus malu karena sudah lancang meminta hal itu pada Max. Sebenarnya, Hanna hanya menginginkan sebuah hubungan badan yang tak dibentengi oleh rasa bersalah. Hanna cukup realistis, dia ingin menikah karena dia takut kalau suatu hari dirinya hamil maka anaknya tak akan menjadi anak di luar ikatan pernikahan. "Pokoknya jangan membantah! Nanti malam jam 9 kamu datang ke kamar saya! Itu perintah! Mutlak!" kata Max lalu bangkit dan meninggalkan Hanna sendiri dengan rasa dilemanya di tepi kolam renang yang sangat luas itu. 'Tuhan ... bagaimana bisa aku menghadapi situasi ini?' batinnya penuh sesal. Hanna hanya bisa meratapi nasibnya sebagai b***k nafsu seorang pria super power seperti Max.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN