One More Time

1499 Kata
Hanna merenung .... Sebagian rekan-rekannya sudah ada yang istirahat dan sebagian lagi ada yang berjaga piket kalau-kalau Tuan Muda Max membutuhkan sesuatu. Saat ini di rumah Max lebih sering tinggal sendiri. Orang tuanya sangat sibuk, pulang pergi dari Jakarta ke berbagai kota di luar negeri. Hanna masih melamun, ini sudah jam 8 lewat 45 menit. Waktunya untuk berpikir hanya tinggil 15 menit lagi. Haruskah Hanna kembali menyerahkan tubuhnya pada pria yang telah menjadi pahlawannya itu? Hanna sungguh dilema. "Malam ini Tuan muda Max gak keluar rumah?" tanya salah satu rekan Hanna yang sedang berbincang santai di belakang Hanna. "Sepertinya nggak! Mobilnya masih terparkir di depan rumah." Salah satu teman lainnya menjawab. "Heum, belakangan Tuan Muda Max lebih banyak diam di rumah ya! Biasanya dia keluyuran, lalu pulang tengah malam dalam keadaan mabuk!" "Iya, sejak Nona Ariana pulang dari Amerika, Tuan Muda Max mulai mengurangi kebiasaan buruknya!" "Iya, mereka cocok banget ya! Semoga mereka cepat-cepat berjodoh deh biar gak ada pelayan yang terus menghalu mengharapkan Tuan Muda menjadi jodohnya!" Hahahaha! Hanna mendengarkan perbincangan itu walau sebagian dari teman-temannya terus menertawakan dan menyindirnya.Padahal pada kenyataannya Max memang selalu ingin dekat dengannya. Soal tadi siang Hanna meminta Max untuk menikahinya, Hanna hanya ingin menghindari maksiat, itu saja! "Hey Hanna! Sebenarnya apa sih yang Tuan muda Max lakukan padamu malam itu?" tanya salah satu teman Hanna, Hanna diam saja. "Pasti disuruh bersihin kamar mandi, kan? Hahaha!" Lagi dan lagi, tertawaan dan cemoohan terus Hanna terima. Hanna mencoba tak peduli. "Hanna, Tuan muda memanggilmu!" Ester datang dan kembali mengingatkan Hanna akan permintaan Max tadi siang. Seketika rekan-rekan Hanna yang tertawa terdiam. "Heh, apa lagi sekarang?" cibir mereka lagi. "Palingan minta bersihin kamar mandi lagi!" Aah, Hanna pergi saja. Saat ini rasanya tak ada sejengkal pun ruang yang bisa membuatnya nyaman. Hanna pasrahkan nasibnya malam ini. Entahlah, entah apa lagi yang akan mungkin dia terima malam ini. Hanna sudah sampai di depan pintu kamar Max. Hanna menghela nafas dalam-dalam. Tok tok tok, Hanna mengetuk pintu, to the point. Cktt, kali ini hanya butuh belasan detik sampai akhirnya pintu kamar itu terbuka. Siapa lagi yang membuka kan pintu kalau bukan Max yang seudah terlihat begitu segar penampilannya. "Masuklah!" kata Max. Hanna pun masuk. Saat ini Hanna masih mengenakkan seragamnya, terlihat lugu sekali. Tapi kecantikannya tak mampu disembunyikan. Walau dia seorang pelayan tapi Hanna tetaplah Hanna, kembang desa dambaan para lelaki seantero kampung. Bahkan, Tuan muda kaya raya sekelas Max juga terjerat pesonanya. "Hari ini orang tua saya sedang tak ada di rumah! Semua kendali rumah ini ada di tangan saya!" kata Max semena-mena. "Tuan ...." panggil Hanna. "Ada apa? Mau protes?" "Saya gak akan protes, kamu boleh melakukan apapun pada saya ... kita cuma perlu menyiapkan dokumen untuk administrasi! Saya akan tetap menjadi pelayanmu disini, berseragam seperti ini! Tapi ... setidaknya kita tak melakukan dosa lebih banyak lagi!" Max mengerutkan dahi, penuturab Hanna cukup berbelit-belit walau Max mengerti apa maksudnya. "Bicara lah dengan jelas!" "Kalau kamu selalu ingin melakukannya dengan saya ... nikahi lah saya! Saya gak akan menuntut apapun! Saya hanya takut kalau dosa ini akan terus terjadi! Saya tahu ini naif! Tapi ... kalau memang di luaran sana kamu memiliki kekasih, itu bukan masalah untuk saya! Saya hanya ingin melayanimu sebagai istrimu ... bukan sebagai pelayanmu seperti ini!" jelaskan Hanna. Max masih saja mengangap permintaan Hanna ini hal yang sepele. "Heh, kamu benar-benar naif!" cibir Max lalu berkali-kali melempar senyum kecut ke arah Hanna. "Maaf, Tuan ...." "Lepaskan pakaianmu!" titah Max. Hanna .asih berdiri mematung, berharap kalau Max akan menarik kembali perintah gilanya. "Hey Hanna ... lepaskan pakaianmu!" Max mengulangi perintahnya. Perlahan Hanna melepaskan kancing kemejanya. Hanna takut, Hanna pasrah. Ternyata kebaikan Max memang hanyalah jebakan untuknya. Hanna benar-benar terjebak dengan Tuan muda yang semena-mena ini. 'Ini yang terakhir Hanna! Setelah ini kamu harus pergi dari sini! Ini sudah tak sehat! Tuanmu ini memang baik, tapi ini tak bisa terjadi terus menerus! Ini harus segera berakhir!' batin Hanna sembari merelakan mata liar Max kembali menikmati tubuh ranumya. "Huh, lama!" gerutu Max lalu dia mempercepat gerakan Hanna. Dia melepas kemeja Hanna dengan kasar, Hanna juga membuka resleting span Hanna dengan bernafsu. Sampai Hanna hanya meninggalkan two piece saja! "Kemari lah!" setelah Hanna selesai, Max menarik tangannya mendekat ke arah tempat tidur. "Buka sisanya!" Hanna hanya mampu meratapi nasibnya. Ternyata kecantikannya memang harus berakhir di tangan lelaki bastard yang tak ingin mengikatnya dalam ikatan suci pernikahan, Hanna sangat menyesalinya. Satu, dua, Hanna lepaskan semuanya. Hingga kini dia benar-benar telanjang bulat membuat mata Max terpuaskan. Max duduk di ujung tempat tidurnya lalu menarik tubuh Hanna untuk berdiri tepat di depan matanya. 'Hanna ... you make me going crazy!' akui Max dalam hatinya. Dia mainkan lidah liarnya tepat di pucuk keindahan yang Hanna suguhkan saat ini. Sampai lama-lama Hanna tak kuasa dan hanya bisa berpegangan di pundak Max. "Kamu adalah pelayan saya! Hanya saya yang boleh menyentuh ini semua!" kata Max saat dia jeda. Hanna tak menjawab, dia diam saja. 'Gak! Ini adalah yang terakhir, Tuan! Setelah ini aku akan pergi! Maaf!' batinnya. "Huh, tubuhmu ... mungkin tak akan bisa saya lupakan untuk waktu yang lama!" kata Max lagi meracau lalu dia memainkan lagi dua buah keindahan candunya itu dengan tangannya. "Tuan ...." gumam Hanna. "Apa? Apa kamu mau saya menikahimu, itu lagi?" "Ba-bagaimana kalau saya hamil?" "Heh, kita bisa melenyapkannya! Kita akan melakukannya lagi! Terus menerus sampai saya bosan!" 'Keterlaluan! Ya! Aku harus benar-benar pergi dari dia! Setelah ini! Ini sudah tak sehat! Tak akan mungkin bisa aku bertahan lebih lama lagi dengan srigala lapar ini! Walau pun dia sudah berjasa menyelamatkanku dan melunasi hutang-hutang almarhum ayah, tapi tetap saja ... tindakannya ini sangat keterlaluan!' batin Hanna di antara ketakutan, kegetiran dan deburan hasrat yang semakin terpancing. Dia tak munafik kalau dia menikmati sentuhan Max, tapi hatinya tetap menolak karena Hanna tahu kalau ini adalah sebuah dosa. "Huh ... Hanna ...." Max semakin tenggelam, dia remas-remaskan tangannya d**a Hanna. Ouch! Hanna hanya bisa mendesah. "Kamu benar-benar ...." Max merubah posisinya, Max kini membiarkan Hanna terbaring dengan setengah kaki yang menjuntai di lantai. Max memaksa Hanna membuka lebar-lebar kaki mulusnya itu, membuka sampai sesuatu yang ingin ia masuki terbuka dan semakin menggoda. Max menunduk dan melakukan yang lebih gila lagi. Dia menjilatinya sampai sang mpunya lebih tak kuasa lagi dan meronta-ronta. "Aah, Tuan ... jangan ... Tuan ... cukup!" itulah yang terlontar dari mulut Hanna, tapi bahkan Max semakin asyik bermain-main di bawah sana, dia masukkan lidahnya ke dalam lubang surga itu lalu meliuk-liuk di dalamnya memberikan sensasi luar biasa yang baru saja Hanna rasakan dalam seumur hidupnya. Max sudah memberi banyak pengalaman erotis dalam hidup Hanna. Satu hal yang sangat diinginkan para gadis liar di luaran sana. "Cukup Tuan ... saya mohon, cukup!" Hanna meronta dan setengah bangkit, menyaksikan seraut wajah rupawan itu sedang menggila di bawah pangkal kakinya. Tapi Max malah semakin melebarkan ruang terbatas itu dengan meletakan kedua telapak tangannya di paha mulus Hanna sampai Hanna tak bisa menutupnya dengan leluasa. Sungguh adegan yang sangat erotis. "Tuan ...." ratap Hanna, dia sudah sangat geli. "Baiklah Hanna! Kita akan segera selesaikan ini!" kata Max lalu dia buka pakaiannya, satu persatu sampai tertanggal semuanya. Milik Max sudah menegang dan mengeras sejak tadi. Sudah siap bertualang dan memuntahkan isinya di dalam sana. Begitu lah, sekali lagi Max menumpahkan sel-selnya tanpa pengaman. Sudah pasti yang sekarang akan berhasil membuahi sel telur dalam dinding rahim si kembang desa. Hanna memang malang. Walau terlihat menyenangkan dan memuaskan, tapi tindakan Max ini kini semakin membuatnya ketakutan. *** Sarapan pagi .... Max makan sendiri di meja makan karena orang tuanya memang tak ada. Saat ia makan, beberapa pelayan berdiri di belakangnya. Termasuk disana ada Hanna yang siap menuangkan minuman kalau gelas di depan Max kosong. Max bersikap biasa seolah dia tak melakukan apapun pada Hanna. Max memang kadang bersikap sweet but he is the true bastard! Sweet bastard! Sikapnya ini semakin melukai hati Hanna. 'Aku akan benar-benar pergi! Aku harus cepat-cepat pergi!' batin Hanna bertekad sembari memikirkan cara terbaik untuk pergi dari rumah yang dijaga ketat keamanannya ini. "Tuangkan airnya!" perintah Max, tapi Hanna malah bengong saja, Hanna benar-benar sedang memikirkan cara untuk kabur dari penjara nafsu seorang Max Jerome. "Psttt Hanna!" Miya mencoba menyadarkan Hanna dari lamunannya. Hanna pun akhirnya tersadar. "Hanna, tuangkan airnya ke dalam gelas Tuan muda Max!" Ester mengulangi perintah Max. Hanna segera bergerak. "Ba-baik, Tuan!" ucapnya gugup. Lalu dia menuangkan air ke gelas Max. Cuuuur, Hanna lakukan dengan hati-hati, walau tangannya begitu bergetar. "Nanti kita akan melakukannya lagi!" bisik Max pelan sekali saat Hanna ada di sampingnya ketika menuang air. Deg, sudah Hanna duga kalau Max pasti akan semakin intens memintanya lagi dan lagi. 'Gak akan lagi! Hari ini aku akan pergi! Jauh!' batin Hanna menjawab. Hanna tak menanggapi kata-kata Max dengan jelas. Tak mengiyakan atau sekedar menganggukkan kepala. Apalagi saat ini para pelayan lain juga ada di ruangan itu. Mampukah Hanna melarikan diri dari penjara seorang Max Jerome? Hanna tahu ini tak akan mudah, tapi nyatanya dia benar-benar sudah bertekad untuk mengakhiri kegilaan Max hati ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN